<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>kata berkata tentang kata-kata</title>
	<atom:link href="http://kataberkata.com/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kataberkata.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Wed, 28 Dec 2011 11:12:07 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>Prosa</title>
		<link>http://kataberkata.com/?p=289</link>
		<comments>http://kataberkata.com/?p=289#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Nov 2011 10:00:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lentera Sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?p=289</guid>
		<description><![CDATA[Karangan prosa ialah karangan yang bersifat menerangjelaskan secara terurai mengenai suatu masalah atau hal atau peristiwa dan lain-lain. Pada dasarnya karya bentuk prosa ada dua macam, yakni karya sastra yang bersifat sastra dan karya sastra yang bersifat bukan sastra. Yang bersifat sastra merupakan karya sastra yang kreatif imajinatif, sedangkan karya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Karangan prosa ialah karangan yang bersifat menerangjelaskan secara terurai mengenai suatu masalah atau hal atau peristiwa dan lain-lain. Pada dasarnya karya bentuk prosa ada dua macam, yakni karya sastra yang bersifat sastra dan karya sastra yang bersifat bukan sastra. Yang bersifat sastra merupakan karya sastra yang kreatif imajinatif, sedangkan karya sastra yang bukan astra ialah karya sastra yang nonimajinatif.</p>
<p><strong>Macam Karya Sastra Bentuk Prosa</strong></p>
<p>Dalam khasanah sastra Indonesia dikenal dua macam kelompok karya sastra menurut temanya, yakni karya sastra lama dan karya sastra baru. Hal itu juga berlaku bagi karya sastra bentuk prosa. Jadi, ada karya sastra prosa lama dan karya sastra prosa baru.</p>
<p>Perbedaan prosa lama dan prosa baru menurut Dr. J. S. Badudu adalah:</p>
<p><strong>Prosa lama:</strong></p>
<p>1.     Cenderung bersifat stastis, sesuai dengan keadaan masyarakat lama yang mengalami perubahan secara lambat.</p>
<p>2.     Istanasentris ( ceritanya sekitar kerajaan, istana, keluarga raja, bersifat feodal).</p>
<p>3.     Hampir seluruhnya berbentuk hikayat, tambo atau dongeng. Pembaca dibawa ke dalam khayal dan fantasi.</p>
<p>4.     Dipengaruhi oleh kesusastraan Hindu dan Arab.</p>
<p>5.     Ceritanya sering bersifat anonim (tanpa nama)</p>
<p>6.     Milik bersama</p>
<p><strong>Prosa Baru:</strong></p>
<p>1.     Prosa baru bersifat dinamis (senantiasa berubah sesuai dengan perkembangan masyarakat)</p>
<p>2.     Masyarakatnya sentris ( cerita mengambil bahan dari kehidupan masyarakat sehari-hari)</p>
<p>3.     Bentuknya roman, cerpen, novel, kisah, drama. Berjejak di dunia yang nyata, berdasarkan kebenaran dan kenyataan</p>
<p>4.     Terutama dipengaruhi oleh kesusastraan Barat</p>
<p>5.     Dipengaruhi siapa pengarangnya karena dinyatakan dengan jelas</p>
<p>6.     Tertulis</p>
<p><strong>1.     </strong><strong>Prosa lama  </strong></p>
<p>Prosa lama adalah karya sastra daerah yang belum mendapat pengaruh dari sastra atau kebudayaan barat. Dalam hubungannya dengan kesusastraan Indonesia maka objek pembicaraan sastra lama ialah sastra prosa daerah Melayu yang mendapat pengaruh barat. Hal ini disebabkan oleh hubungannya yang sangat erat dengan sastra Indonesia.  Karya sastra prosa lama yang mula-mula timbul disampaikan secara lisan. Disebabkan karena belum dikenalnya bentuk tulisan. Dikenal bentuk tulisan setelah agama dan kebudayaan Islam masuk ke Indonesia, masyarakat Melayu mengenal tulisan. Sejak itulah sastra tulisan mulai dikenal dan sejak itu pulalah babak-babak sastra pertama dalam rentetan sejarah sastra Indonesia mulai ada.</p>
<p>Bentuk-bentuk sastra prosa lama adalah:</p>
<p>a.     Mite adalah dongeng yang banyak mengandung unsur-unsur ajaib dan ditokohi oleh dewa, roh halus, atau peri. Contoh Nyi Roro Kidul</p>
<p>b.     Legenda adalah dongeng yang dihubungkan dengan terjadinya suatu tempat. Contoh: Sangkuriang, SI Malin Kundang</p>
<p>c.     Fabel adalah dongeng yang pelaku utamanya adalah binatang. Contoh: Kancil</p>
<p>d.     Hikayat adalah suatu bentuk prosa lama yang ceritanya berisi kehidupan raja-raja dan sekitarnya serta kehidupan para dewa. Contoh: Hikayat Hang Tuah.</p>
<p>e.     Dongeng adalah suatu cerita yang bersifat khayal. Contoh: Cerita Pak Belalang.</p>
<p>f.      Cerita berbingkai adalah cerita yang di dalamnya terdapat cerita lagi yang dituturkan oleh pelaku-pelakunya. Contoh: Seribu Satu Malam</p>
<p><strong>2.     </strong><strong>Prosa Baru </strong></p>
<p>Prosa baru adalah karangan prosa yang timbul setelah mendapat pengaruh sastra atau budaya Barat. Prosa baru timbul sejak pengaruh Pers masuk ke Indonesia yakni sekitar permulaan abad ke-20. Contoh: <em>Nyai Dasima </em>karangan G. Fransis, <em>Siti mariah </em>karangan H. Moekti.</p>
<p>Berdasarkan isi atau sifatnya prosa baru dapat digolongkan menjadi:</p>
<p>1.     <em>Roman</em> adalah cerita yang mengisahkan pelaku utama dari kecil sampai mati, mengungkap adat/aspek kehidupan suatu masyarakat secara mendetail/menyeluruh, alur bercabang-cabang, banyak digresi (pelanturan). Roman terbentuk dari pengembangan atas seluruh segi kehidupan pelaku dalam cerita tersebut. Contoh: karangan Sutan Takdir Alisjahbana: Kalah dan Manang, Grota Azzura, Layar Terkembang, dan Dian yang Tak Kunjung Padam</p>
<p>2.     <em>Riwayat</em> adalah suatu karangan prosa yang berisi pengalaman-pengalaman hidup pengarang sendiri (otobiografi) atau bisa juga pengalaman hidup orang sejak kecil hingga dewasa atau bahkan sampai meninggal dunia. Contoh: <em>Soeharto Anak Desa </em>atau <em>Prof. Dr. B.I Habibie </em>atau  <em>Ki hajar Dewantara. </em></p>
<p>3.     <em>Otobiografi</em> adalah karya yang berisi daftar riwayat diri sendiri.</p>
<p>4.     <em>Antologi</em> adalah buku yang berisi kumpulan karya terplih beberapa orang. Contoh <em>Laut Biru Langit Biru</em> karya Ayip Rosyidi</p>
<p>5.     <em>Kisah</em> adalah riwayat perjalanan seseorang yang berarti cerita rentetan kejadian kemudian mendapat perluasan makna sehingga dapat juga berarti cerita. Contoh: <em>Melawat ke Jabar – </em>Adinegoro,<em> Catatan di Sumatera – </em>M. Rajab.</p>
<p>6.     <em>Cerpen</em> adalah suatu karangan prosa yang berisi sebuah peristiwa kehidupan manusia, pelaku, tokoh dalam cerita tersebut. Contoh:<em> Tamasya dengan Perahu Bugis </em>karangan Usman. <em>Corat-coret di Bawah Tanah</em> karangan Idrus.</p>
<p>7.     <em>Novel</em> adalah suatu karangan prosa yang bersifat cerita yang menceritakan suatu kejadian yang luar biasa dan kehidupan orang-orang. Contoh: <em>Roromendut </em>karangan YB. Mangunwijaya.</p>
<p>8.     <em>Kritik </em>adalah karya yang menguraikan pertimbangan baik-buruk  suatu hasil karya dengan memberi alasan-alasan tentang isi dan bentuk dengan kriteria tertentu yangs ifatnya objektif dan menghakimi.</p>
<p><em>9.     </em><em>Resensi</em> adalah pembicaraan/pertimbangan/ulasan suatu karya (buku, film, drama, dll.). Isinya bersifat memaparkan agar pembaca mengetahui karya tersebut dari ebrbagai aspek seperti tema, alur, perwatakan, dialog, dll, sering juga disertai dengan penilaian dan saran tentang perlu tidaknya karya tersebut dibaca atau dinikmati.</p>
<p>10.   <em>Esei </em>adalah ulasan/kupasan suatu masalah secara sepintas lalu berdasarkan pandangan pribadi penulisnya. Isinya bisa berupa hikmah hidup, tanggapan, renungan, ataupun komentar tentang budaya, seni, fenomena sosial, politik, pementasan drama, film, dll. menurut selera pribadi penulis sehingga bersifat sangat subjektif  atau sangat pribadi.</p>
<p><strong>A.     </strong><strong>Puisi</strong></p>
<p>Puisi adalah bentuk karangan yang terkikat oleh rima, ritma, ataupun jumlah baris serta ditandai oleh bahasa yang padat. Unsur-unsur intrinsik puisi adalah</p>
<p>a.     tema adalah tentang apa puisi itu berbicara</p>
<p>b.     amanat adalah apa yang dinasihatkan kepada pembaca</p>
<p>c.     rima adalah persamaan-persamaan bunyi</p>
<p>d.     ritma adalah perhentian-perhentian/tekanan-tekanan yang teratur</p>
<p>e.     metrum/irama adalah turun naik lagu secara beraturan yang dibentuk oleh persamaan jumlah kata/suku tiap baris</p>
<p>f.      majas/gaya bahasa adalah permainan bahasa untuk efek estetis maupun maksimalisasi ekspresi</p>
<p>g.     kesan adalah perasaan yang diungkapkan lewat puisi (sedih, haru, mencekam, berapi-api, dll.)</p>
<p>h.     diksi adalah pilihan kata/ungkapan</p>
<p>i.      tipografi adalah perwajahan/bentuk puisi</p>
<p>Menurut zamannya, puisi dibedakan atas puisi lama dan puisi baru.</p>
<p>a.     puisi lama</p>
<p>Ciri puisi lama:</p>
<p>1.     merupakan puisi rakyat yang tak dikenal nama pengarangnya</p>
<p>2.     disampaikan lewat mulut ke mulut, jadi merupakan sastra lisan</p>
<p>3.     sangat terikat oleh aturan-aturan seperti jumlah baris tiap bait, jumlah suku kata maupun rima</p>
<p>Yang termausk puisi lama adalah</p>
<p>1.     mantra adalah ucapan-ucapan yangd ianggap memiliki kekuatan gaib</p>
<p>2.     pantun adalah puisi yang bercirikan bersajak a-b-a-b, tiap bait 4 baris, tiap baris terdiri dari 8-12 suku kata, 2 baris awal sebagai sampiran,  2 baris berikutnya sebagai isi. Pembagian pantun menurut isinya terdiri dari pantun anak, muda-mudi, agama/nasihat, teka-teki, jenaka</p>
<p>3.     karmina adalah pantun kilat seperti pantun tetapi pendek</p>
<p>4.     seloka adlah pantun berkait</p>
<p>5.     gurindam adalah puisi yang berdirikan tiap bait 2 baris, bersajak a-a-a-a, berisi nasihat</p>
<p>6.     syair adalah puisi yang bersumber dari Arab dengan ciri tiap bait 4 baris, bersajak a-a-a-a, berisi nasihat atau cerita</p>
<p>7.     talibun adalah pantun genap yang tiap bait terdiri dari 6, 8, ataupun 10 baris</p>
<p>b.     puisi baru</p>
<p>Puisi baru bentuknya lebih bebas daripada puisi lama baik dalam segi jumlah baris, suku kata, maupun rima.Menurut isinya, puisi dibedakan atas</p>
<p>1.     balada adalah puisi berisi kisah/cerita</p>
<p>2.     himne adAlah puisi pujaan untuk Tuhan, tanah air, atau pahlawan</p>
<p>3.     ode adalah puisi sanjungan untuk orang yang ebrjasa</p>
<p>4.     epigram adalah puisi yang berisi tuntunan/ajaran hidup</p>
<p>5.     romance adalah puisi yang berisi luapan perasaan cinta kasih</p>
<p>6.     elegi adalah puisi yang berisi ratap tangis/kesedihan</p>
<p>7.     satire adalah puisi yang berisi sindiran/kritik</p>
<p><strong>Membaca Puisi</strong></p>
<p>Adapun faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam membaca puisi antara lain:</p>
<p>1.     jenis acara: pertunjukkan, pembuka acara resmi, performance-art, dll.,</p>
<p>2.     pencarian jenis puisi yang cocok dengan tema: perenungan, perjuangan, pemberontakan, perdamaian, ketuhanan, percintaan, kasih sayang, dendam, keadilan, kemanusiaan, dll.,</p>
<p>3.     pemahaman puisi yang utuh,</p>
<p>4.     pemilihan bentuk dan gaya baca puisi, meliputi poetry reading, deklamasi, dan teaterikal</p>
<p>5.     tempat acara: indoor atau outdoor,</p>
<p>6.     audien,</p>
<p>7.     kualitas komunikasi,</p>
<p>8.     totalitas performansi: penghayatan, ekspresi( gerak dan mimik)</p>
<p>9.     kualitas vokal, meliputi volume suara, irama (tekanan dinamik, tekanan nada, tekanan tempo)</p>
<p>10.   kesesuaian gerak,</p>
<p>11.   jika menggunakan bentuk dan gaya teaterikal, maka harus memperhatikan:</p>
<p>a)     pemilihan kostum yang tepat,</p>
<p>b)     penggunaan properti yang efektif dan efisien,</p>
<p>c)     <em>setting</em> yang sesuai dan mendukung tema puisi,</p>
<p>d)     musik yang sebagai musik pengiring puisi atau sebagai musikalisasi puisi</p>
<p><strong>B.    </strong><strong>Drama/Film</strong></p>
<p>Drama atau film merupakan karya yang terdiri atas aspek sastra dan asepk pementasan. Aspek sastra drama berupa naskah drama, dan aspek sastra film berupa skenario. Unsur instrinsik keduanya terdiri dari tema, amanat/pesan, plot/alur, perwatakan/karakterisasi, konflik, dialog, tata artistik (make up, lighting, busana, properti, tata panggung, aktor, sutradara, busana, tata suara, penonton), casting (penentuan peran), dan akting (peragaan gerak para pemain).</p>
<p><strong>C.    </strong><strong>Periodisasi Sastra Indonesia</strong></p>
<p>Periodisasi sastra adalah pembabakan waktu terhadap perkembangan sastra yang ditandai dengan ciri-ciri tertentu. Maksudnya tiap babak waktu (periode) memiliki ciri tertentu yang berbeda dengan periode yang lain.</p>
<p>1.     Zaman Sastra Melayu Lama</p>
<p>Zaman ini melahirkan karya sastra berupa mantra, syair, pantun, hikayat, dongeng, dan bentuk yang lain.</p>
<p>2.     Zaman Peralihan</p>
<p>Zaman ini dikenal tokoh Abdullah bin Abdulkadir Munsyi. Karyanya dianggap bercorak baru karena tidak lagi berisi tentang istana danraja-raja, tetapi tentang kehidupan manusia dan masyarakat yang nyata, misalnya Hikayat Abdullah (otobiografi), Syair Perihal Singapura Dimakan Api, Kisah Pelayaran Abdullah ke Negeri Jedah. Pembaharuan yang ia lakukan tidak hanya dalam segi isi, tetapi juga bahasa. Ia tidak lagi menggunakan bahasa Melayu yang kearab-araban.</p>
<p>3.     Zaman Sastra Indonesia</p>
<p>a.     Angkatan Balai Pustaka (Angkatan 20-an)</p>
<p>Ciri umum angkatan ini adalah tema berkisari tentang konflik adat antara kaum tua dengan kaum muda, kasih tak sampai, dan kawin paksa, bahan ceritanya dari Minangkabau, bahasa yang dipakai adalah bahasa Melayu, bercorak aliran romantik sentimental.</p>
<p>Tokohnya adalah Marah Rusli (roman Siti Nurbaya), Merari Siregar (roman Azab dan Sengsara), Nur Sutan Iskandar (novel Apa dayaku Karena Aku Seorang Perempuan), Hamka (roman Di Bawah Lindungan Ka’bah), Tulis Sutan Sati (novel Sengsara Membawa Nikmat), Hamidah (novel Kehilangan Mestika), Abdul Muis (roman Salah Asuhan), M Kasim (kumpulan cerpen Teman Duduk)</p>
<p>b.     Angkatan Pujangga Baru (Angkatan 30-an)</p>
<p>Cirinya adalah 1) bahasa yang dipakai adalah bahasa Indonesia modern, 2) temanya tidak hanya tentang adat atau kawin paksa, tetapi mencakup masalah yang kompleks, seperti emansipasi wanita, kehidupan kaum intelek, dan sebagainya, 3) bentuk puisinya adalah puisi bebas, mementingkan keindahan bahasa, dan mulai digemari bentuk baru yang disebut soneta, yaitu puisi dari Italia yang terdiri dari 14 baris, 4) pengaruh barat terasa sekali, terutama dari Angkatan ’80 Belanda, 5)aliran yang dianut adalah romantik idealisme, dan  6) setting yang menonjol adalah masyarakat penjajahan.</p>
<p>Tokohnya adalah STA Syhabana (novel Layar Terkembang, roman Dian Tak Kunjung Padam), Amir Hamzah (kumpulan puisi Nyanyi Sunyi, Buah Rindu, Setanggi Timur), Armin Pane (novel Belenggu), Sanusi Pane (drama Manusia Baru), M. Yamin (drama Ken Arok dan Ken Dedes), Rustam Efendi (drama Bebasari), Y.E. Tatengkeng (kumpulan puisi Rindu Dendam), Hamka (roman Tenggelamnya Kapa nVan Der Wijck).</p>
<p>c.     Angkatan ’45</p>
<p>Ciri umumnya adalah bentuk prosa maupun puisinya lebih bebas, prosanya bercorak realisme, puisinya bercorak ekspresionisme, tema dan setting yang menonjol adalah revolusi, lebih mementingkan isi daripada keindahan bahasa, dan jarang menghasilkan roman seperti angkatan sebelumnya.</p>
<p>Tokohnya Chairil Anwar (kumpulan puisi Deru Capur Debu, kumpulan puisi bersama Rivai Apin dan Asrul Sani Tiga Menguak Takdir), Achdiat Kartamiharja (novel Atheis), Idrus (novel Surabaya, Aki), Mochtar Lubis (kumpulan drama Sedih dan Gembira), Pramduya Ananta Toer (novel Keluarga Gerilya), Utuy Tatang Sontani (novel sejarah Tambera)</p>
<p>d.     Angkatan ’66</p>
<p>Ciri umumnya adalah tema yang menonjol adalah protes sosial dan politik, menggunakan kalimat-kalimat panjang mendekati bentuk prosa.</p>
<p>Tokohnya adalah W.S. Rendra (kumpulan puisi Blues untuk Bnie, kumpulan puisi Ballada Orang-Orang Tercinta), Taufiq Ismail (kumpulan puisi Tirani, kumpulan puisi Benteng), N.H. Dini (novel Pada Sebuah Kapal), A.A. Navis (novel Kemarau), Toha Mohtar (novel Pulang), Mangunwijaya (novel Burung-burung Manyar), Iwan Simatupang (novel Ziarah), Mochtar Lubis (novel Harimau-Harimau), Mariannge Katoppo (novel Raumannen).</p>
<p><strong>D.    </strong><strong>Identifikasi Moral, Estetika, Sosial, Budaya Karya Sastra</strong></p>
<p>1.     Identifikasi Moral</p>
<p>Sebuah karya umumnya membawa pesan moral. Pesan moral dapat disampaikan oleh pengarang secara              langsung maupun tidak langsung. Dalam karya satra, pesan moral dapat diketahui dari perilaku tokoh-        tokohnya atau komentar langsung pengarangnya lewat karya itu.</p>
<p>2.     Identifikasi Estetika atau Nilai Keindahan</p>
<p>Sebuah karya sastra mempunyai aspek-aspek keindahan yang melekat pada karya sastra itu. Sebuah puisi,                        misalnya: dapat diamati aspek persamaan bunyi, pilihan kata, dan lain-lain. Dalam cerpen dapat diamati                      pilihan gaya bahasanya.</p>
<p>3.     Identifikasi Sosial Budaya</p>
<p>Suatu karya sastra akan mencerminkan aspek sosial budaya suatu daerah tertentu. Hal ini berkaitan                          dengan warna daerah. Sebuah novel misalnya, warna daerah memiliki corak tersendiri yang                                       membedakannya dengan yang lain. Beberapa karya sastra yang mengungkapkan aspek sosial budaya:</p>
<p>Pembayaran karya Sunansari Ecip mengungkapkan kehidupan di Sulawesi Selatan.</p>
<p>Bako Karya Darman Moenir mengungkapkan kehidupan Suku Minangkabau di Sumatera Barat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>(Totalwin College. 2004. Modul Bahasa Indonesia Kelas XII. Untuk kalangan sendiri. Malang: Diterbitkan secara Mandiri.)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kataberkata.com/?feed=rss2&#038;p=289</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Majas (Gaya Bahasa)</title>
		<link>http://kataberkata.com/?p=287</link>
		<comments>http://kataberkata.com/?p=287#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Nov 2011 09:59:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasan Bahasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?p=287</guid>
		<description><![CDATA[Majas adalah cara menampilkan diri dalam bahasa. Menurut Prof. Dr. H. G. Tarigan bahwa majas adalah cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis. Unsur kebahasaan antara lain: pilihan kata, frase, klausa, dan kalimat. Menurut Goris Keraf, sebuah majas dikatakan baik bila mengandung tiga dasar, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Majas adalah cara menampilkan diri dalam bahasa. Menurut Prof. Dr. H. G. Tarigan bahwa majas adalah cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis.<strong> </strong>Unsur kebahasaan antara lain: pilihan kata, frase, klausa, dan kalimat. Menurut Goris Keraf, sebuah majas dikatakan baik bila mengandung tiga dasar, yaitu: kejujuran, sopan santun, dan menarik.</p>
<p>Gaya bahasa dapat dikelompokkan menjadi empat kelompok, yaitu</p>
<p>1.     Gaya bahasa perulangan</p>
<p>2.     Gaya bahasa perbandingan</p>
<p>3.     Gaya bahasa pertentangan</p>
<p>4.     Gaya bahasa pertautan</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>1.        </strong><strong>Gaya Bahasa Perulangan</strong></p>
<p>A.     Aliterasi</p>
<p>Aliterasi ialah sejenis gaya bahasa yang berwujud perulangan konsonan pada suatu kata atau beberapa kata, biasanya terjadi pada puisi.</p>
<p>Contoh:  Kau keraskan kalbunya</p>
<p>Bagai batu membesi benar</p>
<p>Timbul telangkai bertongkat urat</p>
<p>Ditunjang pengacara petah pasih</p>
<p>B.     Asonansi</p>
<p>Asonansi ialah sejenis gaya bahasa refetisi yang berjudul perulangan vokal, pada suatu kata atau beberapa kata. Biasanya dipergunakan dalam puisi untuk mendapatkan efek penekanan.</p>
<p>Contoh: Segala ada menekan dada</p>
<p>Mati api di dalam hati</p>
<p>Harum sekuntum bunga rahasia</p>
<p>Dengan hitam kelam</p>
<p>C.    Antanaklasis</p>
<p>Antanaklasis ialah sejenis gaya bahasa yang mengandung perulangan kata dengan makna berbeda.</p>
<p>Contoh: Karena buah penanya itu menjadi buah bibir orang.</p>
<p>D.    Kiasmus</p>
<p>Kiasmus ialah gaya bahasa yang berisikan perulangan dan sekaligus merupakan inversi atau pembalikan susunan antara dua kata dalam satu kalimat.</p>
<p>Contoh: Ia menyalahkan yang benar dan membenarkan yang salah.</p>
<p>E.     Epizeukis</p>
<p>Epizeukis ialah gaya bahasa perulangan yang bersifat langsung. Maksudnya kata yang dipentingkan diulang beberapa kali berturut-turut.</p>
<p>Contoh: Ingat kami harus bertobat, bertobat, sekali lagi bertobat.</p>
<p>F.     Tautotes</p>
<p>Tautotes ialah gaya bahasa perulangan yang berupa pengulangan sebuah kata berkali-kali dalam sebuah konstruksi.</p>
<p>Contoh: Aku adalah kau, kau adalah aku, kau dan aku sama saja.</p>
<p>G.    Anafora</p>
<p>Anafora ialah gaya bahasa repetisi yang merupakan perulangan kata pertama pada setiap baris atau kalimat.</p>
<p>Contoh:          Kucari kau dalam toko-toko.</p>
<p>Kucari kau karena cemas karena sayang.</p>
<p>Kucari kau karena sayang karena bimbang.</p>
<p>Kucari kau karena kaya mesti diganyang.</p>
<p>H.    Epistrofa (efifora)</p>
<p>Epistrofa ialah gaya bahasa repetisi yang berupa perulangan kata pada akhir baris atau kalimat berurutan.</p>
<p>Contoh: Ibumu sedang memasak di dapur ketika kau tidur.</p>
<p>Aku mencercah daging ketika kau tidur.</p>
<p>I.      Simploke</p>
<p>Simploke ialah gaya bahasa repetisi yang berupa perulangan awal dan akhir beberapa baris (kalimat secara berturut-turut).</p>
<p>Contoh:          Ada selusin gelas ditumpuk ke atas. Tak pecah.</p>
<p>Ada selusin piring ditumpuk ke atas. Tak pecah.</p>
<p>Ada selusin barang lain ditumpuk ke atas. Tak pecah.</p>
<p>J.     Mesodiplosis</p>
<p>Mesodiplosis ialah gaya bahasa repetisi yang berupa pengulangan kata atau frase di tengah-tengah baris atau kalimat secara berturut-turut.</p>
<p>Contoh:          Pendidik harus meningkatkan kecerdasan bangsa.</p>
<p>Para dokter harus meningkatkan kesehatan masyarakat.</p>
<p>K.     Epanalepsis</p>
<p>Epanalepsis ialah gaya bahasa repetisi yang berupa perulangan kata pertama pada akhir baris, klausa, atau kalimat.</p>
<p>Contoh: Saya akan berusaha meraih cita-cita saya.</p>
<p>L.     Anadiplosis</p>
<p>Anadiplosis ialah gaya bahasa repetisi yang kata atau frase terakhir dari suatu kalimat atau klausa menjadi kata atau frase pertama pada klausa atau kalimat berikutnya.</p>
<p>Contoh:          Dalam raga ada darah</p>
<p>Dalam darah ada tenaga</p>
<p>Dalam tenaga ada daya</p>
<p>Dalam daya ada segalanya</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>2.        </strong><strong>Gaya Bahasa Perbandingan</strong></p>
<p>a.     Perumpamaan</p>
<p>Perumpamaan ialah padanan kata atau simile yang berarti seperti. Secara eksplisit jenis gaya bahasa ini ditandai oleh pemakaian kata: seperti, sebagai, ibarat, umpama, bak, laksana, serupa.</p>
<p>Contoh: Seperti air dengan minyak.</p>
<p>b.     Metafora</p>
<p>Metafora ialah gaya bahasa yang membandingkan dua hal secara implisit.</p>
<p>Contoh: Aku adalah angin yang kembara.</p>
<p>c.     Personifikasi</p>
<p>Personifikasi ialah gaya bahasa yang melekatkan sifat-sifat insani pada barang atau benda yang tidak bernyawa ataupun pada ide yang abstrak.</p>
<p>Contoh: Bunga ros menjaga dirinya dengan duri.</p>
<p>d.     Depersonifikasi</p>
<p>Depersonifikasi ialah gaya bahasa yang melekatkan sifat-sifat suatu benda tak bernyawa pada manusia atau insan. Biasanya memanfaatkan kata-kata: kalau, sekiranya, jikalau, misalkan, bila, seandainya, seumpama.</p>
<p>Contoh: Kalau engkau jadi bunga, aku jadi tangkainya.</p>
<p>e.     Alegori</p>
<p>Alegori ialah gaya bahasa yang menggunakan lambang-lambang yang termasuk dalam alegon antara lain:</p>
<p>Fabel, contoh: Kancil dan Buaya</p>
<p>Parabel, contoh: Cerita Adam dan Hawa</p>
<p>f.      Antitesis</p>
<p>Antitesis ialah gaya bahasa yang mengandung gagasan-gagasan yang bertentangan.</p>
<p>Contoh: Dia gembira atas kegagalanku dalam ujian.</p>
<p>g.     Pleonasme dan Tautologi</p>
<p>Pleonasme adalah penggunaan kata yang mubazir yang sebesarnya tidak perlu. Contoh: Capek mulut saya berbicara.</p>
<p>Tautologi adalah gaya bahasa yang menggunakan kata atau frase yang searti dengan kata yang telah disebutkan terdahulu. Contoh: Apa maksud dan tujuannya datang ke mari?</p>
<p>h.     Perifrasis</p>
<p>Perifrasis ialah gaya bahasa yang dalam pernyataannya sengaja menggunakan frase yang sebenarnya dapat diganti dengan sebuah kata saja.</p>
<p>Contoh: Wita telah menyelesaikan sekolahnya tahun 1988 (lulus).</p>
<p>i.      Antisipasi (prolepsis)</p>
<p>Antisipasi ialah gaya bahasa yang dalam pernyataannya menggunakan frase pendahuluan yang isinya sebenarnya masih akan dikerjakan atau akan terjadi.</p>
<p>Contoh: Aku melonjak kegirangan karena aku mendapatkan piala kemenangan.</p>
<p>j.      Koreksio (epanortosis)</p>
<p>Koreksio ialah gaya bahasa yang dalam pernyataannya mula-mula ingin menegaskan sesuatu. Namun, kemudian memeriksa dan memperbaiki yang mana yang salah.</p>
<p>Contoh: Silakan Riki maju, bukan, maksud saya Rini!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>3.        </strong><strong>Gaya Bahasa Pertentangan</strong></p>
<p>a.     Hiperbola</p>
<p>Hiperbola ialah gaya bahasa yang mengandung pernyataan yang berlebih-lebihan baik jumlah, ukuran, ataupun sifatnya dengan tujuan untuk menekan, memperhebat, meningkatkan kesan dan pengaruhnya.</p>
<p>Contoh: Pemikiran-pemikirannya tersebar ke seluruh dunia.</p>
<p>b.     Litotes</p>
<p>Litotes ialah majas yang berupa pernyataan yang bersifat mengecilkan kenyataan yang sebenarnya.</p>
<p>Contoh: Apa yang kami berikan ini memang tak berarti buatmu.</p>
<p>c.     Ironi</p>
<p>Ironi ialah gaya bahasa yang berupa pernyataan yang isinya bertentangan dengan kenyataan yang sebenarnya.</p>
<p>Contoh: Bagus benar rapormu Bar, banyak merahnya.</p>
<p>d.     Oksimoron</p>
<p>Oksimoron ialah gaya bahasa yang berupa pernyataan yang di dalamnya mengandung pertentangan dengan menggunakan kata-kata yang berlawanan dalam frase atau dalam kalimat yang sama.</p>
<p>Contoh: Olahraga mendaki gunung memang menarik walupun sangat membahayakan.</p>
<p>e.     Paronomosia</p>
<p>Paronomasia ialah gaya bahasa yang berupa pernyataan yang berisi penjajaran kata-kata yang sama bunyinya, tetapi berlainan maknanya.</p>
<p>Contoh: Bisa ular itu bisa masuk ke sel-sel darah.</p>
<p>f.      Zeugma dan Silepsis</p>
<p>Zeugma ialah gaya bahasa yang menggunakan dua konstruksi rapatan dengan cara menghubungkan sebuah kata dengan dua atau lebih kata lain. Dalam zeugma kata yang dipakai untuk membawahkan kedua kata berikutnya sebenarnya hanya cocok untuk salah satu dari padanya.</p>
<p>Contoh: Kami sudah mendengar berita itu dari radio dan surat kabar.</p>
<p>Dalam silepsis kata yang dipergunakannya itu secara gramatikal benar, tetapi kata tadi diterapkan pada kata lain yang sebenarnya mempunyai makna lain.</p>
<p>Contoh: Ia sudah kehilangan topi dan semangatnya.</p>
<p>g.     Satire</p>
<p>Satire ialah gaya bahasa sejenis argumen atau puisi atau karangan yang berisi kritik sosial baik secara terang-terangan maupun terselubung.</p>
<p>Contoh:     Jemu aku dengan bicaramu.</p>
<p>Kemakmuran, keadilan, kebahagiaan</p>
<p>Sudah sepuluh tahun engkau bicara</p>
<p>Aku masih tak punya celana</p>
<p>Budak kurus pengangkut sampah</p>
<p>h.     Inuendo</p>
<p>Inuendo ialah gaya bahasa yang berupa sindiran dengan mengecilkan kenyataan yang sebenarnya.</p>
<p>Contoh: Dia memang baik, cuma agak kurang jujur.</p>
<p>i.      Antifrasis</p>
<p>Antifrasis ialah gaya bahasa yang berupa pernyataan yang menggunakan sebuah kata dengan makna kebalikannya. Berbeda dengan ironi, yang berupa rangkaian kata yang mengungkapkan sindiran dengan menyatakan kebalikan dari kenyataan, sedangkan pada antifrasis hanya sebuah kata saja yang menyatakan kebalikan itu.</p>
<p>Contoh Antifrasis: Lihatlah sang raksasa telah tiba (maksudnya si cebol).</p>
<p>Contoh ironi: Kami tahu bahwa kau memang orang yang jujur sehingga tak ada satu orang pun yang percaya padamu.</p>
<p>j.      Paradoks</p>
<p>Paradoks ialah gaya bahasa yang mengandung pertentangan yang nyata dengan fakta-fakta yang ada.</p>
<p>Contoh: Teman akrab adakalanya merupakan musuh sejati.</p>
<p>k.     Klimaks</p>
<p>Klimaks ialah gaya bahasa yang berupa susunan ungkapan yang makin lama makin mengandung penekanan atau makin meningkat kepentingannya dari gagasan atau ungkapan sebelumnya.</p>
<p>Contoh: Hidup kita diharapkan berguna bagi saudara, orang tua, nusa bangsa dan negara.</p>
<p>l.      Anti klimaks</p>
<p>Antiklimaks ialah suatu pernyataan yang berisi gagasan-gagasan yang disusun dengan urutan dari yang penting hingga yang kurang penting.</p>
<p>Contoh: Bahasa Indonesia diajarkan kepada mahasiswa, siswa SLTA, SLTP, dan SD.</p>
<p>m.    Apostrof</p>
<p>Apostrof ialah gaya bahasa yang berupa pengalihan amanat dari yang hadir kepada yang tidak hadir.</p>
<p>Contoh: Wahai dewa yang agung, datanglah dan lepaskan kami dari cengkraman durjana.</p>
<p>n.      Anastrof atau inversi</p>
<p>Anastrof<strong> </strong>ialah gaya bahasa retoris yang diperoleh dengan membalikkan susunan kata dalam kalimat atau mengubah urutan unsur-unsur konstruksi sintaksis.</p>
<p>Contoh: Diceraikannya istrinya tanpa setahu saudara-saudaranya.</p>
<p>o.     Apofasis</p>
<p>Apofasis ialah gaya bahasa yang berupa pernyataan yang tampaknya menolak sesuatu, tetapi sebenarnya justru menegaskannya.</p>
<p>Contoh : Sebenarnya saya tidak sampai hati mengatakan bahwa anakmu kurang ajar.</p>
<p>p.     Histeron Proteran</p>
<p>Histeron Proteran ialah gaya bahasa yang isinya merupakan kebalikan dari suatu yang logis atau kebalikan dari sesuatu yang wajar.</p>
<p>Contoh : Jika kau memenangkan pertandingan itu berarti kematian akan kau alami.</p>
<p>q.     Hipalase</p>
<p>Hipalase ialah gaya bahasa yang berupa sebuah pernyataan yang menggunakan kata untuk menerangkan suatu kata yang seharusnya lebih tepat dikarenakan kata yang lain.</p>
<p>Contoh: Ia duduk pada bangku yang gelisah.</p>
<p>r.       Sinisme</p>
<p>Sinisme<strong> </strong>ialah gaya bahasa yang merupakan sindiran yang berbentuk kesangsian yang mengandung ejekan terhadap keikhlasan atau ketulusan hati.</p>
<p>Contoh: Anda benar-benar hebat sehingga pasir di gurun sahara pun dapat Anda hitung.</p>
<p>s.     Sarkasme</p>
<p>Sarkasme ialah gaya bahasa yang mengandung sindiran atau olok-olok yang pedas atau kasar.</p>
<p>Contoh: Kau memang benar-benar bajingan.</p>
<p><strong>4. Gaya Bahasa Pertautan </strong></p>
<p>a.     Metonimia</p>
<p>Metonimia ialah gaya bahasa yang menggunakan nama barang, orang, hal, atau ciri sebagai pengganti barang itu sendiri.</p>
<p>Contoh: Parker jauh lebih mahal daripada pilot.</p>
<p>b.     Sinekdoke</p>
<p>Sinekdoke<strong> </strong>ialah gaya bahasa yang menyebutkan nama sebagian sebagai nama pengganti barang sendiri.</p>
<p>Contoh Sinekdoke pars pro toto: Lima ekor kambing telah dipotong pada acara itu.</p>
<p>Contoh Sinekdoke totem pro parte: Dalam pertandingan itu Indonesia menang satu lawan Malaysia.</p>
<p>c.     Alusio</p>
<p>Alusia ialah gaya bahasa yang  menunjuk secara tidak langsung ke suatu pristiwa atau tokoh yang telah umum dikenal/ diketahui orang.</p>
<p>Contoh: Apakah peristiwa Madiun akan terjadi lagi di sini?</p>
<p>d.     Eufimisme</p>
<p>Eufimisme ialah ungkapan yang lebih halus sebagai pengganti ungkapan yang dirasa lebih kasar yang dianggap</p>
<p>merugikan atau yang tidak menyenangkan.</p>
<p>Contoh: Tunasusila sebagai pengganti pelacur.</p>
<p>e.     Eponim</p>
<p>Eponim ialah gaya bahasa yang menyebut nama seseorang yang begitu sering dihubungkan dengan sifat tertentu</p>
<p>sehingga nama itu dipakai untuk menyatakan sifat itu.</p>
<p>Contoh: Dengan latihan yang sungguh saya yakin Anda akan menjadi Mike Tyson.</p>
<p>f.      Antonomasia</p>
<p><strong> </strong>Antonomasia ialah gaya bahasa yang berupa pernyataan yang menggunakan gelar resmi atau jabatan sebagai</p>
<p>pengganti nama diri.</p>
<p>Contoh: Kepala sekolah mengundang para orang tua murid.</p>
<p>g.     Epitet</p>
<p><strong> </strong>Epitet<strong> </strong>ialah gaya bahasa yang berupa keterangan yang menyatakan sesuatu sifat atau ciri yang khas dari</p>
<p>seseorang atau suatu hal.</p>
<p>Contoh: Putri malam menyambut kedatangan remaja yang sedang mabuk asmara.</p>
<p>h.     Erotesis</p>
<p><strong> </strong>Erotesis ialah gaya bahasa yang berupa pertanyaan yang tidak menuntut jawaban sama sekali.</p>
<p>Contoh: Tegakah membiarkan anak-anak dalam kesengsaraan?</p>
<p>i.      Paralelisme</p>
<p><strong> </strong>Paralelisme ialah<strong> </strong>gaya bahasa yang berusaha menyejajarkan pemakaian  kata-kata atau frase-frase yang</p>
<p>menduduki fungsi yang sama dan memiliki bentuk gramatikal yang sama.</p>
<p>Contoh: + Bukan saja perbuatan itu harus dikutuk, tetapi juga harus diberantas.</p>
<p>- Bukan saja  perbuatan itu harus dikutuk, tetapi juga harus memberantasnya (Ini contoh yang tidak baik).</p>
<p><strong>j.      </strong>Elipsis</p>
<p>Elipsis ialah gaya bahasa yang di dalamnya terdapat penanggalan atau penghilangan salah satu atau beberapa</p>
<p>unsur penting dari suatu konstruksi sintaksis.</p>
<p>Contoh: Mereka ke Jakarta minggu lalu (perhitungan prediksi).</p>
<p>Pulangnya membawa oleh-oleh banyak sekali (Penghilangan subyek).</p>
<p>Saya sekarang sudah mengerti ( Penghilangan obyek).</p>
<p>Saya akan berangkat (penghilangan unsur Keterangan).</p>
<p>Mari makan!(penghilangan subyek dan obyek).</p>
<p>k.     Gradasi</p>
<p>Gradasi ialah gaya bahasa yang mengandung beberapa kata (sedikitnya tiga kata)  yang diulang dalam konstruksi itu.</p>
<p>Contoh: Kita harus membangun, membangun jasmani dan rohani, rohani yang kuat dan tangguh, dengan ketangguhan itu kita maju.</p>
<p>l.      Asindeton</p>
<p>Asindenton ialah gaya bahasa yang berupa sebuah kalimat atau suatu  konstruksi yang mengandung kata-kata yang sejajar, tetapi tidak dihubungkan dengan kata-kata penghubung.</p>
<p>Contoh: Ayah, ibu, anak merupakan inti dari sebuah keluarga.</p>
<p>m.    Polisindeton</p>
<p>Polisindenton ialah gaya bahasa yang berupa sebuah kalimat atau sebuah konstruksi yang mengandung kata-kata yang sejajar dan dihubungkan dengan kata-kata penghubung.</p>
<p>Contoh: Pembangunan memerlukan sarana dan prasarana juga dana serta kemampuan pelaksana.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>(Totalwin College. 2004. Modul Bahasa Indonesia Kelas XII. Untuk kalangan sendiri. Malang: Diterbitkan secara Mandiri.)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kataberkata.com/?feed=rss2&#038;p=287</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Frase dan Klausa</title>
		<link>http://kataberkata.com/?p=283</link>
		<comments>http://kataberkata.com/?p=283#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Nov 2011 09:55:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasan Bahasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?p=283</guid>
		<description><![CDATA[A.     Frase Frase adalah satuan gramatik yang terdiri dari dua kata atau lebih yang tidak melampaui batas fungsi. Misalnya: akan datang, kemarin pagi, yang sedang menulis. Dari batasan di atas dapatlah dikemukakan bahwa frase mempunyai dua sifat, yaitu a.     Frase merupakan satuan gramatik yang terdiri dari dua kata atau lebih. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>A.     </strong><strong>Frase</strong></p>
<p>Frase adalah satuan gramatik yang terdiri dari dua kata atau lebih yang tidak melampaui batas fungsi. Misalnya: akan datang, kemarin pagi, yang sedang menulis.</p>
<p>Dari batasan di atas dapatlah dikemukakan bahwa frase mempunyai dua sifat, yaitu</p>
<p>a.     Frase merupakan satuan gramatik yang terdiri dari dua kata atau lebih.</p>
<p>b.     Frase merupakan satuan yang tidak melebihi batas fungsi unsur klausa, maksudnya prase itu selalu          terdapat dalam satu fungsi unsur klausa yaitu: S, P, O, atau K.</p>
<p>Macam-macam frase:</p>
<p>A.     Frase endosentrik</p>
<p>Frase endosentrik adalah frase yang mempunyai distribusi yang sama dengan unsurnya. Frase endosentrik dapat dibedakan menjadi tiga golongan yaitu:</p>
<p>1.     Frase endosentrik yang koordinatif, yaitu: frase yang terdiri dari unsur-unsur yang setara, ini dibuktikan oleh kemungkinan unsur-unsur itu dihubungkan dengan kata penghubung.</p>
<p>Misalnya:       kakek-nenek                         pembinaan dan pengembangan</p>
<p>laki bini                                  belajar atau bekerja</p>
<p>2.     Frase endosentrik  yang atributif, yaitu frase yang terdiri dari unsur-unsur yang tidak setara. Karena itu, unsur-unsurnya tidak mungkin dihubungkan.</p>
<p>Misalnya:       perjalanan panjang</p>
<p>hari libur</p>
<p>Perjalanan, hari merupakan unsur pusat, yaitu: unsur yang secara distribusional sama dengan seluruh frase dan secara semantik merupakan unsur terpenting, sedangkan unsur lainnya merupakan atributif.</p>
<p>3.     Frase endosentrik yang apositif: frase yang atributnya berupa aposisi/ keterangan tambahan.</p>
<p>Misalnya: Susi, anak Pak Saleh, sangat pandai.</p>
<p>Dalam frase Susi, anak Pak Saleh secara sematik unsur yang satu, dalam hal ini unsur anak Pak Saleh, sama dengan unsur lainnya, yaitu Susi. Karena, unsur anak Pak Saleh dapat menggantikan unsur Susi. Perhatikan jajaran berikut:</p>
<p>Susi, anak Pak Saleh, sangat pandai</p>
<p>Susi, &#8230;., sangat pandai.</p>
<p>&#8230;., anak Pak Saleh sangat pandai.</p>
<p>Unsur Susi merupakan unsur pusat, sedangkan unsur anak Pak Saleh merupakan aposisi (Ap).</p>
<p>B.     Frase Eksosentrik</p>
<p>Frase eksosentrik ialah frase yang tidak mempunyai distribusi yang sama dengan unsurnya.</p>
<p>Misalnya:</p>
<p>Siswa kelas 1A sedang bergotong royong di dalam kelas.</p>
<p>Frase di dalam kelas tidak mempunyai distribusi yang sama dengan unsurnya. Ketidaksamaan itu dapat dilihat dari jajaran berikut:</p>
<p>Siswa kelas 1A sedang bergotong royong di &#8230;.</p>
<p>Siswa kelas 1A sedang bergotong royong &#8230;. kelas</p>
<p>C.    Frase Nominal, frase Verbal, frase Bilangan, frase Keterangan.</p>
<p>1.     Frase Nominal: frase yang memiliki distributif yang sama dengan kata nominal.</p>
<p>Misalnya: baju baru, rumah sakit</p>
<p>2.     Frase Verbal: frase yang mempunyai distribusi yang sama dengan golongan kata verbal.</p>
<p>Misalnya: akan berlayar</p>
<p>3.     Frase Bilangan: frase yang mempunyai distribusi yang sama dengan kata bilangan.</p>
<p>Misalnya: dua butir telur, sepuluh keping</p>
<p>4.     Frase Keterangan: frase yang mempunyai distribusi yang sama dengan kata keterangan.</p>
<p>Misalnya: tadi pagi, besok sore</p>
<p>5.     Frase Depan: frase yang terdiri dari kata depan sebagai penanda, diikuti oleh kata atau frase sebagai                aksinnya.</p>
<p>Misalnya: di halaman sekolah, dari desa</p>
<p>D.    Frase Ambigu</p>
<p>Frase ambigu artinya kegandaan makna yang menimbulkan keraguan atau mengaburkan maksud kalimat. Makna ganda seperti itu disebut ambigu.</p>
<p>Misalnya: Perusahaan pakaian milik perancang busana wanita terkenal, tempat mamaku bekerja, berbaik hati mau melunaskan semua tunggakan sekolahku.</p>
<p>Frase perancang busana wanita dapat menimbulkan pengertian ganda:</p>
<p>1.     Perancang busana yang berjenis kelamin wanita.</p>
<p>2.     Perancang yang menciptakan model busana untuk wanita.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><br clear="all" /> </strong></p>
<p><strong>B.        </strong><strong>Klausa </strong></p>
<p>Klausa adalah satuan gramatika yang terdiri dari subjek (S) dan predikat (P) baik disertai objek (O), dan keterangan (K), serta memilki potensi untuk menjadi kalimat. Misalnya: banyak orang mengatakan.</p>
<p>Unsur inti klausa ialah subjek (S) dan predikat (P).</p>
<p>Penggolongan klausa:</p>
<p>1.     Berdasarkan unsur intinya</p>
<p>2.     Berdasarkan ada tidaknya kata negatif yang secara gramatik menegatifkan predikat</p>
<p>3.     Berdasarkan kategori kata atau frase yang menduduki fungsi predikat</p>
<p>(Totalwin College. 2004. Modul Bahasa Indonesia Kelas XII. Untuk kalangan sendiri. Malang: Diterbitkan secara Mandiri.)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kataberkata.com/?feed=rss2&#038;p=283</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Problematika Pragmatika Linguistik</title>
		<link>http://kataberkata.com/?p=278</link>
		<comments>http://kataberkata.com/?p=278#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Nov 2011 09:53:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasan Bahasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?p=278</guid>
		<description><![CDATA[A.      Deskripsi Paul Pierce memberikan sumbangan berartibagi pragmatik linguistik melalui beberapa tema. Di antara tema-tema tersebut yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah tindak tutur (speech act) kesopanan (politeness), dan presuposisi (presupposition). &#160; 1.       Tindak Tutur: Karakteristik Tindak Tutur J.L. Austin (1962) mengemukakan gagasan tindak tutur dalam “How to Do [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>A.      </strong><strong>Deskripsi </strong></p>
<p>Paul Pierce memberikan sumbangan berartibagi pragmatik linguistik melalui beberapa tema. Di antara tema-tema tersebut yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah tindak tutur (<em>speech act</em>) kesopanan (<em>politeness</em>), dan presuposisi (<em>presupposition)</em>.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>1.       </strong><strong>Tindak Tutur: Karakteristik Tindak Tutur</strong></p>
<p>J.L. Austin (1962) mengemukakan gagasan tindak tutur dalam “How to Do Things with Words” untuk menjelaskan bahwa melakukan sesuatu bisa dinyatakan dengan kata-kata, seperti meresmikan sesuatu dengan kata-kata “Saya resmikan&#8230;”, melakukan janji juga dengan kata-kata semisal “Saya berjanji akan membayar hutangku minggu depan, …”, dst.</p>
<p>John R. Searle (1969) mengembangkan gagasan tindak tutur ini melalui karyanya “Speech Acts: An Essay in the Philosophy of Language. ” Searle membagi tindak tutur ini ke dalam 3 jenis, yaitu (1) tindak lokusi, yaitu tindak untuk mengatakan sesuatu (the act of saying something), (2) tindak ilokusi, yaitu tindak melakukan sesuatu (the act of doing something), dan (3) tindak perlokusi, yaitu tindak membujuk seseorang (the act of persuading someone).</p>
<p>Pada contoh terakhir di atas, “Saya berjanji akan membayar hutangku minggu depan”, merupakan tindakan <em>melakukan</em> sesuatu daripada <em>mengatakan</em> sesuatu. Ucapan ini dilaporkan sebagai “DIa berjanji akan membayarku minggu depan”, dan bukan “DIa mengatakan janji untuk membayarku minggu depan”. Contoh kalimat ini disebut Austin sebagai performatif.</p>
<p>Fraser (1974) membuat perbedaan antara tindak tutur <em>vernacular </em>dan <em>ceremonial. </em>Tindak tutur <em>vernacular </em> adalah tindak tutur yang bisa dilakukan oleh setiap anggota masyarakat dalam interaksi normal sehari-hari. Tindak tutur ceremonial dapat dicontohkan melalui kegiatan mentahbiskan, memvonis, menikahkan orang sebagai suami istri, dll.</p>
<p>Bach dan Harnish (1979) juga membuat perbedaan antara tindak tutur <em>conventional </em>dan <em>nonconventional.</em> Tindak tutur <em>conventional </em>Bach dan Harnish pada hakikatnya sama dengan tindak tutur ceremonial Fraser. Teori mereka tentang skema tindak tutur dimaksudkan hanya berlaku untuk tindak tutur <em>nonconventional</em> , yaitu tindak tutur vernacular.</p>
<p>Gordon dan Lakoff (1971/1975) mengusulkan hubungan kondisi tindak tutur dengan cara mengatakan tindak yang sama secara tidak langsung. Misal seorang penutur dapat menyampaikan tindak ilokusi “Saya yakin Anda lebih baik lagi makan makanan berkolesterol rendah” daripada mengatakan “Saya menasehati Anda agar makan makanan berkolesterol rendah”.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>2.       </strong><strong>Sopan Santun: Kaidah Sopan Santun</strong></p>
<p>Konsep utama yang lain dalam pragmatik linguistik adalah sopan santun. R. Lakoff (1972,1973, 1977), Brown dan Levinson (1978), dan Leech (1980, 1983) menyatakan bahwa sopan santun merupakan tingkat interaksi percakapan di samping kaidah prinsip kooperatif. Robin Lakoff melihat kaidah Grice sebagai kaidah penjelas (<em>rules of clarity)</em>dan mengusulkan dua kaidah awal kompetensi pragmatik; a) buatlah perkataan Anda jelas, dan b) sopanlah. Kaidah sopan santun lebih lanjut terdiri dari</p>
<ol>
<li>formalitas: jangan menyela, tetaplah bersabar</li>
<li>kebebasan pilihan: berlah pesapa pilihannya sendiri</li>
<li>kesederajatan: bertindaklah seolah-olah Anda dan pesapa sama, buatlah agar dia merasa nyaman.</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>Leech (1983) menyatakan bahwa sopan santun mencakup seperangkat maksim sopan santun , yaitu</p>
<ol>
<li>maksim kepedulian: perkecil kerugian pada orang lain, tingkatkan keuntungan pada orang lain</li>
<li>maksim kebaikan hati: perkecil keuntungan pada diri sendiri, tingkatkan keuntungan pada orang lain</li>
<li>maksim penghargaan: perkecil kekurangpenghargaan pada orang lain, tingkatkan penghargaan pada orang lain.</li>
<li>maksim kesahajaan: perkecil pujian pada diri sendiri, tingkatkan pujian pada orang lain.</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sopan santun ini dapat diungkapkan melalui kata penghubung. Schiffin (1987), melalui hasil penelitiannya, menemukan bahwa ‘atau’ merpakan pemarkah wacana yang menunjukkan dengan jelas bahwa ‘atau’ berfungsi sebagai penawaran pilihan oleh penutur kepada pendengar. Dalam ujaran yang menggunakan konjungsi ‘atau’ secara ekslusif menguntungkan pendengar saja, tetapi sebenanrya penutur juga bias mendapatkan keuntungan dengan adanya pilihan itu. Dengan memberikan dua alas an yang digubungkan dengan ‘atau’, penutur meningkatkan peluang supaya pendapatnya diterima.</p>
<p>Bertindak untuk menguntungkan diri sendiri dianggap tidak sopan dan bertindak untuk keuntungan orang lain merupakan hal sopan.  Hal ini menimbulkan problematik, meskipun tindakan itu memberikan pilihan. Brown dan Levinson menyatakan bahwa sopan santun mengarah pada upaya tiap orang untuk memperbesar penyelamatan muka secara saling menguntungkan. Salah satu strateginya adalah dengan menghindari ketidaksepakatan.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>3.       </strong><strong>Presuposisi</strong></p>
<p>Presuposisi merupakan proposisi yang harus benar untuk beberapa kalimat atau ujaran agar bias bermakna atau mungkin tepat. Pencarian definisi presupoisi di dalam semantic yang didasarkan pada kebenaran bebas konteks tampak gagal. Sekarang tampak bahwa semua presuposisi duhubungkan dengan konteks, dalam pengertian bahwa presuposisi itu tergantung pada apa yang diketahui dan dipercayai orang mengenai dunia. Presuposisi mempunyai karakteristik yang menarik dan berpengaruh. Presuposisi tampak memiliki potensi untuk meyakinkan pendengar mengenai kebenaran proposisi secara lebih efektif daripada pernyataan.</p>
<p>Berikut ini contoh susunan yang mengandung preposisi.</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="121">
<p align="center"><strong>Label</strong></p>
</td>
<td valign="top" width="265">
<p align="center"><strong>Contoh</strong></p>
</td>
<td valign="top" width="246">
<p align="center"><strong>Yang dipresuposisi</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="121">Predikat faktif</td>
<td valign="top" width="265">Harold <em>menyesal </em>melukai Sandra</td>
<td valign="top" width="246">Harold melukai Sandra.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="121">Perubahan verba</td>
<td valign="top" width="265">Sally <em>berhenti </em>merokok.</td>
<td valign="top" width="246">Sally telah merokok.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="121">Iterative</td>
<td valign="top" width="265">Penyakit Hubert kambuh <em>lagi.</em></td>
<td valign="top" width="246">Hubert sebelumnya pernah sakit.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="121">Klausa waktu</td>
<td valign="top" width="265"><em>Setelah Samntha meninggalkannya, </em>Humphrey menjadi putus harapan</td>
<td valign="top" width="246">Samantha meninggalkan Humphrey.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="121">Konstruksi <em>cleft</em></td>
<td valign="top" width="265">Harrsionlah yang mencium Sigrid.</td>
<td valign="top" width="246">Seorang mencium Sigrid.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="121">Klausa relative Nonrestriktif</td>
<td valign="top" width="265">Ahli matematika <em>yang berusaha membuktikan Konjektur Goldberg</em>gagal.</td>
<td valign="top" width="246">Ahli matematika mencoba membuktikan Konjektur Goldberg.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Keenan (1971) dan McCawley (1981) mengemukakan adanya dua jenis presuposisi, yaitu</p>
<p>a.       presuposisi semantik yang bias terpengaruh tes seperti penelaahan kandungan pernyataan (assertion) dan penegatifan (negation)</p>
<p>b.      presuposisi pragmatik yang didsarkan pada konsep penggunaan yang benar.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Preposisi semantik agaknya menemui masalah pada contoh “<em>Homer has come before” (</em>Homer telah dating sebelumnya). Kalimat ini tidak bias dipresuposisi menjadi “<em>Homer is coming again</em>” (Homer dating lagi) sebab mungkin sekali untuk membayangkan bahwa preposisi “<em>Homer has come before” </em> bisa salah.</p>
<p>Untuk menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan konsep presuposisi semantic ini, harus ditambahkan dengan masalah proyeksi (<em>projection problem). </em>Sebuah<em> </em>kalimat sederhana memiliki presuposisi. Sebuah kalimat sederhana dapat dikatakan memiliki presuposisi. Tetapi bagaimanan bila kita menambahkan pada kalimat itu sebuah kalimat yang lain, untuk mendapatkan kalimat yang kompleks. Tampaklah bahwa kadang-kadang presuposisi kalimat sederhana menjadi bagian seperangkat presuposisi kalimat kompleks.</p>
<p>Jika presuposisi dianggap sebagai masalah pragmatic, adakah cara-cara yang berbeda untuk menginterpretasikannya? Tampaknya ada. Salah satu ide linguistik teoretis adalah terdapat perbedaan antara kompetensi dan performansi (Chomsky, 1965).</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Isu Lintas Budaya dalam Pragmatik</strong></p>
<p>Ketika<strong> </strong>pragmatik memengaruhi kebudayaanselain kebudayaan Barat diteliti, isu itu menjadi berkembang. Perbedaan dalam implikatur antara orang Malagasi Madagaskar dan kebudayaan Barat sangat tajam sehingga Elinor Ochs Keenan (1973/1983) menyimpulkan bahwa submaksim kuantitas Grice “Buatlah percakapan Anda seinformatif mungkin sebagaimana yang diperlukan” tidak berlaku. Contoh: jika orang desa Malagasi yang telah pergi ke pasar dan kembali ke desa itu dan ditanya “Ada yang baru di pasar?”, dia bisa menjawab “Banyak orang di sana“. Jawaban ini bisa dipandang kasar karena menyampaikan informasi yang basi dan diketahui oleh penanya, juga bisa dipandang bahwa orang yang kembali dari desa itu menemui pengalaman yang tidak mengenakkan di pasar, juga bisa sebagai sarana kooperatif dengan menjawab pertanyaan itu walaupun suasana hatinya tidak enak.</p>
<p>Perbedaan sejenis juga tampak pada penggunaan bahasa Inggris dibandingkan bahasa Polandia yang dibahas oleh Wierzbicka (1985). Contohnya untuk mengatakan “<em>Why don’t you close the window?”</em>  (Tutuplah jendela itu!) dlam bahasa Inggris mengimplikasikan saran lembut. Namun dalam bahasa Polandia bisa menghasilkan implikatur yang berbeda. “Saya menyesalkan kau tak menutup pintu itu sejak tadi”.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Ruang Lingkup Hakiki Pragmatik</strong></p>
<p>Charles Morris membagi semiotik ke dalam sintaksis, semantik, dan pragmatik, dan menambahkan motivasi H. Paul Grice untuk mengembangkan teori percakapanya. Apakah pragmatik dapat dipandnag sebagai kajian makna tentang apa yang dikatakan penutur dalam konteks? Pada akhirnya struktur bahasa yang digunakan atau yang tidak digunakan orang akan menjadi semantik.</p>
<p>Ralp Fasold menyatakan bahwa banyak hal yang tercakup luas dalam pragmatik. Terdapat pendekatan Kontinental yang lebih luas (termasuk para peneliti Inggris dan Amerika) yang membentuk Asosiasi Pragmatik Internasional (IPRA). Pembahasan pragmatik mengundang gagasan dari sudur pandang penelitian Kontinental yang diberikan oleh Jef Verschueren (1987).</p>
<p>Verschueren menghendaki kembalinya pandangan pragmatik yang dikemukakan oleh Charles Morris bahwa pragmatik adalah mengenai segala sesuatu yang manusiawi dalam proses psikologis, biologis, dan sosiologis. Pragmatik tidak bisa dipandang sebagai lapisan atas hierarkhi fonologi-morfologi-sintaksis-semantik yang merupakan komponen teori bahasa. Pragmatik bukan juga ditempatkan pada lapisan yang mengandung sosiolinguistik, linguistic antropologi, psikolinguistik, neurolinguistik, dll. Pragmatik lebih tepat dianggap sebagai <em>perspektif</em> pada aspek bahasa yang berpusat di sekitar adaptabilitas bahasa, karakteristik bahasa yang fundamental yang membantu kita untuk terlibat dalam aktvitas berbicara yang mengandung pembuatan pilihan secara konstan, pada tiap tingkatan struktur linguistic, secara selaras sesuai dengan keperluan manusia, kepercayaan, keinginan, dan maksud manusia, dan situasi dunia nyata tempat mereka berinteraksi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>B.      </strong><strong>TELAAH KRITIS</strong></p>
<p>Paul Pierce memberikan beberapa tema pragmatik. Di antaranya  tindak tutur (<em>speech act</em>) kesopanan (<em>politeness</em>), dan presuposisi (<em>presupposition)</em>. <strong>Pertama,</strong> J.L. Austin (1962) mengemukakan gagasan tindak tutur dalam “How to Do Things with Words” untuk menjelaskan bahwa melakukan sesuatu bisa dinyatakan dengan kata-kata. Teori ini kemudian dikembangkan oleh John R. Searle (1969) yang  membagi tindak tutur ini ke dalam 3 jenis, yaitu (1) tindak lokusi, (2) tindak ilokusi, dan (3) tindak perlokusi.</p>
<p><strong>Kedua,</strong> konsep utama yang lain dalam pragmatik linguistik adalah sopan santun. Kaidah sopan santun terdiri atas a) formalitas: jangan menyela, tetaplah bersabar, b) kebebasan pilihan: berlah pesapa pilihannya sendiri, dan c) kesederajatan: bertindaklah seolah-olah Anda dan pesapa sama, buatlah agar dia merasa nyaman. Lain halnya dengan Leech (1983). Sopan santun mencakup seperangkat maksim sopan santun , yaitu a) maksim kepedulian, b) maksim kebaikan hati, c) maksim penghargaan, dan d) maksim kesahajaan.</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, presuposisi merupakan proposisi yang harus benar untuk beberapa kalimat atau ujaran agar bias bermakna atau mungkin tepat. Contoh “Harold <em>menyesal </em>melukai Sandra” maka presuposisinya Harold melukai Sandra. Keenan (1971) dan McCawley (1981) mengemukakan adanyadua jenis presuposisi, yaitu a) presuposisi semantik dan b)  presuposisi pragmatik .</p>
<p>Preposisi semantik agaknya menemui masalah pada contoh “<em>Homer has come before” (</em>Homer telah dating sebelumnya). Kalimat ini tidak bias dipresuposisi menjadi “<em>Homer is coming again</em>” (Homer dating lagi) sebab mungkin sekali untuk membayangkan bahwa preposisi “<em>Homer has come before” </em> bisa salah.</p>
<p>Ketika<strong> </strong>pragmatik memengaruhi kebudayaan selain kebudayaan Barat diteliti, isu itu menjadi berkembang. Perbedaan dalam implikatur antara orang Malagasi Madagaskar dan kebudayaan Barat sangat tajam berdasar peenltiian Elinor Ochs Keenan (1973/1983). Perbedaan sejenis juga tampak pada penggunaan bahasa Inggris dibandingkan bahasa Polandia yang dibahas oleh Wierzbicka (1985). Contohnya untuk mengatakan “<em>Why don’t you close the window?”</em>  (Tutuplah jendela itu!) dlam bahasa Inggris mengimplikasikan saran lembut. Namun dalam bahasa Polandia bisa menghasilkan implikatur yang berbeda. “Saya menyesalkan kau tak menutup pintu itu sejak tadi”.</p>
<p>Charles Morris membagi semiotik ke dalam sintaksis, semantik, dan pragmatik, dan menambahkan motivasi H. Paul Grice untuk mengembangkan teori percakapanya. Ralp Fasold menyatakan bahwa banyak hal yang tercakup luas dalam pragmatik. Verschueren menghendaki kembalinya pandangan pragmatik yang dikemukakan oleh Charles Morris bahwa pragmatik adalah mengenai segala sesuatu yang manusiawi dalam proses psikologis, biologis, dan sosiologis.</p>
<p>Kajian Ralph Fasold sangat tajam dan mendalam. Pragmatik linguistik menjadi bahan kajian yang menarik karena mengalami perkembangan konsep yang luar biasa. Pendapat-pendapat tokoh disampaikan dengan analisis tajam berikut problematikanya.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>C.      </strong><strong>Daftar Rujukan</strong></p>
<p>Arimi, Sailal. 2002. <em>Diktat Sosiolinguistik</em>. (Online)</p>
<p>Drajati, Nur Arifah. 2005.  <em>Tindak Tutur Permintaan Maaf dalam Percakapan Bahasa Inggris</em>. (Online)</p>
<p>Fasold, Ralph. 1990. <em>The Sociolinguistics of Language. </em>New York: Basic Blakwell.</p>
<p>Ibrahim, Abdul Syukur. 1993. <em>Kajian Tindak Tutur.</em> Surabaya: Usaha Nasional.</p>
<p>Mathari, Rusdi. 2007. <em>Perlokusi Peneliti</em>. Penelitian. Jakarta: PPP IISIP Universitas Indonesia</p>
<p>Suyono. 1990. <em>Pragmatik: Dasar-Dasar dan Pengajarannya. </em>Malang: FPBS IKIP Malang.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kataberkata.com/?feed=rss2&#038;p=278</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sikap terhadap Bahasa</title>
		<link>http://kataberkata.com/?p=276</link>
		<comments>http://kataberkata.com/?p=276#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Nov 2011 09:52:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasan Bahasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?p=276</guid>
		<description><![CDATA[A. Deskripsi Penggunaan bahasa oleh penutur menimbulkan sikap yang berbeda-beda. Hal ini terjadi pada seluruh bahasa di dunia. Sikap ini muncul karena adanya anggapan bahwa varian bahasa tertentu dianggap elegan, prestise, ekspresif, hingga vulgar. Sikap terhadap bahasa tentu akan dirasakan oleh penutur dwibahasawan/multibahasa. Penutur ini dapat membandingkan identitas tiap bahasa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>A. Deskripsi</strong></p>
<p>Penggunaan bahasa oleh penutur menimbulkan sikap yang berbeda-beda. Hal ini terjadi pada seluruh bahasa di dunia. Sikap ini muncul karena adanya anggapan bahwa varian bahasa tertentu dianggap elegan, prestise, ekspresif, hingga vulgar.</p>
<p>Sikap terhadap bahasa tentu akan dirasakan oleh penutur dwibahasawan/multibahasa. Penutur ini dapat membandingkan identitas tiap bahasa yang dituturkan. Sikap ini dapat berwujud perasaan yang menyenangkan secara estetik, penggunaan dari bahasa lainnya. Sikap ini tentu berdasar pada identitas yang melekat pada bahasa, meliputi identitas sosial dan identitas budaya.</p>
<p>Dalam konteks pemakaian bahasa Inggris, penggunaan tuturan selain bahasa Inggris dianggap sebagai ancaman dan menunjukkan rasa kurang hormat. Sikap bahasa dapat juga menunjukkan persoalan nasionalisme. Multilingualisme dipandang sebagai sesuatu yang subversif, merusak citra marayarakat yang homogen. Kemunculan gerakan menjunjung bahasa Inggris dapat menimbulkan marginalisasi terhadap varian-varian bahasa lain.</p>
<p>Sikap terhadap varian bahasa tertentu muncul karena varian bahasa tertentu memiliki prestise. Melalui prestise inilah terjadi diskriminasi varian bahasa lain.Misainya The Times selalu menganggap bahwa <em>British English/English English</em> dan <em>American English </em>merupakan dua bahasa yang berbeda.</p>
<p>Bukti lain adanya sikap bahasa ini dapat ditunjukkan melalui kata dan interaksinya. Masalah yang sering dikomentari dan diperdebatkan adalah kata dan makna, care penggunannya, dan siapa yang menggunakannya.</p>
<p>Sikap masyarakat terhadap sebuah kata yang dipandang negatif dapat menjadikan kata tersebut akan musnah karena tidak dipakai lagi oleh masyarakat. Penggunaan frase, sebagai gabungan beberapa kata, jugs mengalami hal yang sama. Ada kelompok tertentu yang lebih suka menggunakan ciri linguistik tertentu karena stigma yang diterapkan pada kelompok sosial masyarakat tertentu.Sikap terhadap perilaku linguistik ini tentu berbeda antarbudaya. Perbedaan ini dapat menimbulkan salah paham.</p>
<p>Bukti adanya sikap terhadap bahasa dapat juga ditunjukkan melalui pengucapan dan aksen. Cara mengatakan sesuatu sama besar pengaruhnya dengan apa yang dikatakan. Di Amerika Serikat seorang wanita dengan aksen selatan selalu dihubungkan dengan tingkat kecerdasan yang rendah. Di Inggris aksen perkotaan justru dianggap rendah oleh masyarakat. Penduduk kota dianggap memiliki kecerdasan dan kompetensi yang rendah. Bunyi `r&#8217; pada aksen New York dianggap sebagai ciri linguistik yang prestise. Di Inggris hal ini justru berlaku sebaliknya. Bunyi &#8216;r&#8217; dianggap sebagai ciri linguistik yang renclahahan.</p>
<p>Adanya sikap bahasa yang dianut konsisten oleh masyarakat bahasa menunjukkan hubungan yang terintegrasi dengan sikap penutur dan sekaligus memberikan informasi identitas penutur bahasa. Kesulitan dalam memahami variasi bahasa tertentu dapat memunculkan penilaian negatif penutur pada varian bahasa yang lain.</p>
<p>Adanya sikap terhadap bahasa ini memberikan dampak. Sikap terhadap bahasa dan varian bahasa sangat terkait dengan identitas sosial dan identitas budaya. Selain itu, sikap inijuga terkait dengankekuasaan, kendali, prestise, solidaritas, dan dipengaruhi oleh streotip tertentu pada sebuah kelompok masyarakat, misalnya:</p>
<ol>
<li>aksen Skotlandia dianggap sebagai varian bahasa yang memiliki days tarik seksual tinggi</li>
<li>aksen Meksiko dianggap sebagai varian yang membuat dagangan tidak laku pada pangsa pasar masyarakat Amerika</li>
<li>aksen Spayol dianggap berbau kriminal di Amerika</li>
<li>aksen regional di AS dianggap memberikan kesan kejujuran</li>
<li>variasi bahasa Hawaian Creole English dinilai negatif dan rendahan</li>
<li>etnis Asia (India) dianggap lebih rendah dari etnis Kaukasia (kulit putih)</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>B. Telaah Kritis</strong></p>
<p>Penggunaan bahasa oleh penutur menimbulkan sikap yang berbeda-beda. Sikap terhadap bahasa tentu akan dirasakan oleh penutur dwibahasawan atau multibahasa.</p>
<p>Konteks pemakaian bahasa tertentu dianggap sebagai ancaman, menunjukkan rasa kurang hormat, menyangkut nasionalisme. Gerakan menjunjung bahasa tertentu dapat menimbulkan marginalisasi terhadap varian-varian bahasa lain.</p>
<p>Bukti lain adanya sikap bahasa ini dapat ditunjukkan melalui kata dan interaksinya. Bukti adanya sikap terhadap bahasa dapat juga ditunjukkan melalui pengucapan dan aksen. Cara mengatakan sesuatu sama besar pengaruhnya dengan apa yang clikatakan. Kesulitan dalam memahami variasi bahasa tertentu dapat memunculkan penilaian negatif penutur pada varian bahasa yang lain. Jadi, penutur jelas memiliki sikap bahasa yang dianut konsisten oleh masyarakat bahasa menunjukkan hubungan yang terintegrasi dengan sikap penutur.</p>
<p>Pembahasan sikap penutur terhadap bahasa oleh Linda Thomas cukup menarik. Kemenarikan ini diberikan melalui contoh-contoh varian bahasa yang diikuti oleh stigma yang berbecla-beds dari aksen Skotlandia, aksen Meksiko, aksen Spanyol, aksen regional di Amerika Serikat, varian bahasa Hawaian Creole English, hingga aksen etnis India.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>C. Daftar Pustaka</strong></p>
<p>Sugono, Dendy. 2005<em>. Perlu Ditumbuhkan Sikap Positif terhadap Bahasa Indonesia</em>. Behta. (diakses dari www.kapanlagi.com/h/0000087818.htmI pada 24 Maret 2009)</p>
<p>Suhardi, Basuki. 1996. <em>Sikap Bahasa.</em> Disertasi. Jakarta: Fakultas Sastra Universitas Indonesia (abstrak diakses dari www.kampusislam.com/index.php?pilih=news&amp;mod=yes&amp;aksi=</p>
<p>lihat&amp;id=239 pada 24 Maret 2009)</p>
<p>Thomas, Linda dan Shan Wareing. Ibrahim, Abdul Syukur (ed). 1999. <em>Bahasa, Masyarakat, dan Kekuasaan.</em>Yogyakarta: Pustaka Pelajar</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kataberkata.com/?feed=rss2&#038;p=276</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perdebatan Mengenai Bahasa Inggris Standar</title>
		<link>http://kataberkata.com/?p=274</link>
		<comments>http://kataberkata.com/?p=274#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Nov 2011 09:51:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasan Bahasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?p=274</guid>
		<description><![CDATA[A. Deskripsi Salah satu dialek bahasa Inggris dikenal dengan &#8220;standard English&#8221; yang memiliki status khusus, berprestise tinggi. Varian ini tidak sepenuhnya dapat diterima oleh penutur varian bahasa yang lain.Yang sering menjadi perdebatan adalah definisi bahasa Inggris standar berdasar konsep tata bahasa, konsep social, dan konsep ideologis. Upaya untuk mendefinisikan bahasa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>A. Deskripsi</strong></p>
<p>Salah satu dialek bahasa Inggris dikenal dengan &#8220;<em>standard English</em>&#8221; yang memiliki status khusus, berprestise tinggi. Varian ini tidak sepenuhnya dapat diterima oleh penutur varian bahasa yang lain.Yang sering menjadi perdebatan adalah definisi bahasa Inggris standar berdasar konsep tata bahasa, konsep social, dan konsep ideologis.</p>
<p>Upaya untuk mendefinisikan bahasa Inggris standar terlihat mudah. Istilah yang sering digunakan adalah aksen dan dialek yang memunculkan bahasa Inggris standar dan non-standar. Namun dibalik kesederhanaan dikotomi ini muncul permasalahan. Bahasa Inggris standar merupakan salah satu dialek bahasa Inggris. Dialek bahasa Inggris ini pun memiliki dua jenis, yaitu <em>British English</em> dan <em>American English</em>. Hal ini diperumit dengan fenomena bahasa yang terjadi, misalnya negasi jamak yang dianggap sebagai bentuk yang distigmatisasi oleh masyarakat.</p>
<p>Bentuk standar bahasa erat kaitannya dengan perkembangan dari identitas nasional dan budaya. Keberhasilan bahasa Inggris menggantikan bahasa Prancis dan Latin dimulai sejak keberhasilan Inggris menguasai raja-raja Normandy. Sejak inilah dimulai proses bahasa meliputi pemilihan varian/dielak tertentu sebagai bahasa standar, kodifikasi yang melibatkan ilmuwan bahasa dan akademisi untuk menganallsis dan menuliskan kosata dan aturan-aturan tata bahasa Berta struktur dari sebuah varian dan mengumpulkannya dalam kamus atau buku tata bahasa.</p>
<p>Proses ini tentu Baja akan memarginalkan varian bahasa tertentu secara tidak langsung. Konflik mulai tumbuh sejak bahasa standar ditetapkan melalui varian bahasa tertentu yang menjadi bahasa standar. Varian bahasa yang tidak terpakai disebut varian tidak standar. Inilah akar konflik varian bahasa standar.</p>
<p>Untuk mendefinisikan bahasa Inggris standar secara linguistik tidaklah mudah. Hal ini dikarenakan bahasa yang selalu berubah-ubah bergantung pada penggunaannya. Perubahan ini sangat bergantung pada situasi atau konteks yang dihadapi.</p>
<p>Secara logika dan ketepatan bahasa, ditemukan adanya anggapan bahwa bahasa Inggris standar merupakan varian yang baik dan bahasa Inggris yang tidak standar merupakan varian yang tidak baik. Anggapan ini ternyata dapat terbantahkan. Beberapa aspek kebahasaan pada varian yang tidak standar justru memiliki logika dan ketepatan bahasa yang lebih baik dari varian standar. Dalam kasus penggunaan &#8220;we was&#8221; pada varian bahasa tidak stanclar tidak sepenuhnya salah, hanya kurang cocok dengan situasi percakapan. Hal ini berbeda dengan &#8220;we were&#8221; yang memang cocok untuk bahasa tulis. Jadi, bentuk standar dan nonstandar hanya merupakan bentuk yang berbeda tanpa bisa dikatakan bentuk yang satu lebih logis dan lebih tepat daripada bentuk yang lain.</p>
<p>Pemilihan bentuk stanclar bahasa Inggris ticlak dapat mengacu pada tata bahasa. Bentuk standar bahasa Inggris lebih banyak ditentukan oleh faktor politik, kental dengan strata sosial masyarakat menengah ke atas.Strata menengah ke atas inilah yang memiliki peluang lebih tinggi dalam mengenyam jenjang pendidikan.</p>
<p>Ticlak ada jaminan bahwa bahasa Inggris standar di lingkungan pendidikan bebas dari masalah. Definisi standar ini pun memiliki dua makna, yaitu ukuran stanclar atau level, standar keunggulan. Penggunaan bahasa standar ini pun semakin kompleks terkait dengan masalah pendidikan yang menggunakan bahasa tulis dan bahasa lisan secara optimal. Oleh karena itu, beberapa kalangan berupaya untuk memajukan varian bahasa standar dan di saat lain juga mengupayakan untuk menerima bentuk nonstandar.</p>
<p>Bahasa Inggris standar juga menimbulkan masalah terkait hubungannya dengan kesetaraan sosial. Penggunaan dalam bahasa lisan selalu lekat dengan konteks pembicaraan,&#8217;meliputi dengan siapa, kapan, dan di mana.</p>
<p>Umumnya, pandangan bahasa Inggris stanclar dianggap sebagai bentuk yang paling benar. Anggapan ini didukung oleh argumen yang logis dengan asumsi bahwa bahasa Inggris nonstandar tidak jelas. Asumsi ini akhirnya menimbulkan diskriminasi terhadap varian bahasa yang lain.Bahkan, bahasa Inggris standar menjadi dialek untuk mencari pekerjaan. Penutur bentuk standar dianggap sebagai orang yang berpencliclikan dan menghormati norma-norma masyarakat. Namun ada juga beberapa kalangan yang justru mengendaki untuk menjadikan bahasa Inggris stanclar agar hidup berdampingan dengan varian bahasa Inggris yang dianggap tidak standar dari sisi kebijakan politis dan strata sosial.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>B. Telaah Kritis</strong></p>
<p>Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yang diterbitkan oleh Balai Bahasa pada tahun 2008, disebutkan bahwa</p>
<p><em>standar 1</em> n ukuran tertentu yg dipakai sbg patokan; 2 n ukuran atau tingkat biaya hidup; 3 n Dag sesuatu yg dianggap tetap nilainya sehingga dapat dipakai sbg ukuran nilai (harga); 4 a baku</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>standardisasi </em>n penyesuaian bentuk (ukuran, kualitas, dsb) dng pedoman (standar) yg ditetapkan; pembakuan</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dengan demikian, bahasa Inggris standar merupakan ukuran bahasa yang dijadikan sebagai patokan, pedoman. Jika tidak sesuai dengan patokan, pedoman, dapat dikatakan tidak standar.</p>
<p>&#8220;Standard English&#8221; dianggap memiliki status khusus, berprestise tinggi. Varian ini menjadi perdebatan dan tidak sepenuhnya dapat diterima oleh penutur varian bahasa yang lain.Bentuk standar bahasa erat kaitannya dengan perkembangan dari identitas nasional dan budaya. Keberhasilan bahasa Inggris menggantikan bahasa Prancis dan Latin merupakan keberhasilan varian bahasa tertentu menggantikan varian bahasa lain. Proses ini tentu saja akan memarginalkan varian bahasa tertentu secara tidak langsung. Konflik mulai tumbuh sejak bahasa standar ditetapkan melalui varian bahasa tertentu yang menjadi bahasa standar. Varian bahasa yang tidak terpakai disebut varian tidak standar. Inilah akar konflik varian bahasa standar.</p>
<p>Definisi bahasa Inggris standar secara linguistik tidaklah mudah karena bahasa selalu berubah-ubah bergantung pada konteks penggunaannya. Dalam penggunaannya bahasa Inggris standar merupakan varian yang baik dan bahasa Inggris yang tidak standar merupakan varian yang tidak baik. Namun beberapa aspek kebahasaan pada varian yang tidak standar justru memiliki logika dan ketepatan bahasa yang lebih balk dari varian standar. Jadi, bentuk standar dan nonstandar hanya merupakan bentuk yang berbeda tanpa bisa dikatakan bentuk yang satu lebih logis dan lebih tepat daripada bentuk yang lain. Pemilihan bentuk standar bahasa Inggris banyak ditentukan oleh faktor politik, kental dengan strata sosial masyarakat menengah ke atas. Oleh karena itu, beberapa kalangan berupaya untuk memajukan varian bahasa standar dan di saat lain juga mengupayakan untuk menerima bentuk nonstandar.</p>
<p>Ulasan Linda Thomas pada terra perdebatan mengenai bahasa Inggris standar menunjukkan adanya kelemahan dibanding varian bahasa lain pada aspek tata bahasa terten*!. Justru tata bahasa pada varian nonstandar malah jauh lebih balk dan dapat diterkna secara logika dan tepat dalam penggunaannya. Hal ini menunjukan bahwa va&#8217;&#8221;an standar yang dianggap baku oleh pusat bahasa sebuah negara sebenarnya lebih banyak ditentukan faktor politik dan faktor strata sosial terkait dengan pendidikan hingga munculnya prestise bahasa. Jadi, jika ditinjau dari sisi kebahasaan benar adanya pendapat beberapa kalangan terkait bahasa standar dan nonstandar yang hidup berdampingan. Memajukan bahasa standar dan di saat lain juga menerima varian bahasa non-standar.</p>
<p>Dalam bahasa Indonesia hal itu berarti memajukan bahasa baku sekaligus menerima varian bahasa yang tidak baku lainya. Dalam praktik penggunaannya akan terjadi gejala sosiolinguistik, yaitu alih kode, campur kode, interferensi, dan integrasi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>C. Daftar Pustaka</strong></p>
<p>Syukur, A. Ibrahim. 1994. Sosiolinguistik. Surabaya: Usaha Nasional</p>
<p>Tim Penyusun. 2008. <em>Kamus Besar Bahasa Indonesia. </em>Jakarta: Balai Bahasa</p>
<p>Thomas, Linda dan Shan Wareing. Ibrahim, Abdul Syukur (ed). 1999. <em>Bahasa, Masyarakat dan Kekuasaan</em>.Yogyakarta: Pustaka Pelajar</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kataberkata.com/?feed=rss2&#038;p=274</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bahasa dan Identitas</title>
		<link>http://kataberkata.com/?p=270</link>
		<comments>http://kataberkata.com/?p=270#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Nov 2011 09:51:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasan Bahasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?p=270</guid>
		<description><![CDATA[A. Deskripsi Cara sederhana untuk menentukan identitas kita dan memengaruhi cara orang lain memandang kita adalah dengan menggunakan bahasa. Bahasa sangat penting bagi pembentukan identitas individu dan identitas sosial. Dengan demikian bahasa memiliki pengaruh yang besar sebagai kendali sosial. &#160; Identitas Linguistiik Cara bicara dan jenis kode sosial menunjukkan identitas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>A. Deskripsi</strong></p>
<p>Cara sederhana untuk menentukan identitas kita dan memengaruhi cara orang lain memandang kita adalah dengan menggunakan bahasa. Bahasa sangat penting bagi pembentukan identitas individu dan identitas sosial. Dengan demikian bahasa memiliki pengaruh yang besar sebagai kendali sosial.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Identitas Linguistiik</em></p>
<p>Cara bicara dan jenis kode sosial menunjukkan identitas sosial. Cara penggunaan bahasa menunjukkan perubahan identitas dan peran, yaitu dengan (1) melihat lingkungan individu dibesarkan pada pemakaian aksen dan variasi tata bahasa tertentu, (2) melihat bagaimana individu menggunakan bahasa.</p>
<p>Bahasa berkaitan erat dengan pembentukan personal. Hal ini dapat ditunjukkan dengan pemakaian nama dan praktik penamaan. Untuk membentuk identitas, seseorang akan memberi dan menggunakan nama.</p>
<p>Praktik penamaan terkadang disertai dengan ritual. Ritual ini tidak sama dengan budaya lain. Perbedaan antarbudaya dalam praktik ritual penamaan memberikan keanekaragaman. Pemberian nama ini dianggap sebagai pertanda diterima dalam kelompok.</p>
<p>Proses pembentukan identitas individu dapat ditentukan cara nama seseorang digunakan/disebutkan. Penggunaan sistem sapaan dapat dilakaukan dengan cara merujuk pada         tingkat formalitas, misalnya Sir, Madam, dan juga tingkat kedekatan, misalnya “(a)nak” yang dapat disertai konteks menghina apabila diberikan pada orang tua, atau disertai konteks menjadi anggota keluarga bersama.</p>
<p>Bahasa digunakan sebagai pembentukan identitas kelompok. Identitas ini diharapkan dapat diajdikan sebagai representasi. Identitas sosial ditentukan oleh kategori diri sendiri/orang lain.  Kategori ini memang ditentukan oleh perilaku individu atas kehendak masyarakat. Selain itu, pilihan varian linguistik juga berperan penting dalam membentuk identitas.</p>
<p>Identitas kelompok biasanya terbentuk melalui sebuah konflik sosial. Konflik ini juga melibatkan konflik linguistik. Konflik linguistik yang dimaksud adalah penggunaan label-label identitas diberikan untuk kelompok sendiri maupun untuk kelompok lain. Akhirnya terbentuknya kelompok dalam dan kelompok luar.</p>
<p>Untuk mengidentifikasi kelompok dalam atau diluar dapat dilihat dari identitasnya. Pembentukan identitas individu tidak bisa membentuk identitas sosial yang diinginkan. Artinya identitas sosial terkait degan cara orang lain memandang dirinya. Identitas sosial sangat bergantung pada kemauan masyarakat. Identitas inilah kemudian terintegrasi dalam identitas kelompok.</p>
<p>Kelompok tertentu memiliki kode sosial yang digunakan orang, misalnya bagaimana cara berpakaian, cara bicara dan juga bagaimana perilaku linguistik (pemakaian itilah tertentu). Labov (1972) menemukan bahwa anggota geng jalanan di New York menggunakan variasi BEV (Black English Vernacular). Karakter khusus inilah yang digunakan sebagai identitas sebuah kelompok.</p>
<p>Bahasa digunakan kelompok ini memiliki kesesuaian dengan aspek lain, yaitu identitas sosial dan keanggotaan kelompok. Penelope Eckert (1980) mencatat dua kategori sosial di kalangan siswa, yaitu golongan siswa aktif yang punya rencana melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi, disebut golongan &#8220;jocks&#8221; dan golongan siswa tidak aktif yang mengisi banyak waktu dengan kegiatan luar sekolah, merasa orang tua tidak mampu, merasa memiliki kemungkinan besar jadi pekerja kasar. Golongan ini disebut golongan &#8220;burnout&#8221;. Identitas ini menjadi identitas pembeda beserta perilaku siswa. Namun ada beberapa siswa yang tidak mau disebut sebagai golongan jocks maupun golongan burnout, mereka lebih memilih sebagai               golongan tengah.</p>
<p>Beth Thomas (1988) mencatata bahwa oleh jemaat dari gereja Kongregasional atau Metodis atau Baptis menggunakan wicara tertentu. Ben Rampton (1995) mencatat bahwa kelompok lain menggunakan bahasa Creol kelompok dalam, disebut &#8220;crossing&#8221;. Hasil penelitian di atas merupakan bukti bahwa memang sebuah kelompok memiliki identitas tertentu.</p>
<p>Variasi dan pembentukan identitas berkaitan erat. Variasi pemilihan bahasa dijadikan sebagai penanda kelompok sosial tertentu yang        memiliki kesamaan sistem representasi bahasa dan kepatuhan norma-norma linguistik. Tuturan sangat bergantung pada konteks dan status lawan bicara. Hal ini berarti bahwa memang ada hubungan antara masalah sosial (kekuasaan dan status)  dengan cara penuturan.</p>
<p>Identitas budaya bertumpu pada bahasa yang digunakan. Hak penentuan bahasa dan pengakuan lewat bahasa melalui konflik sosial dan politik. Bahasa bisa saja mati karena penuturnya beralih ke bahasa lain akibat faktor sosial dan juga intimidasi dari kekuatan yang dominan. Penggunaan bahasa erat kaitannya dengan identitas sosial, etnis, dan nasional.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>B. Telaah Kritis</strong></p>
<p>Keanekaragaman penduduk Indonesia dengan berbagai bahasa, daerah, dan budaya menumbuhkan banyak varian pemakaian bahasa. Varian bahasa yang berbeda-beda menurut pemakai yang berasal dari daerah tertentu/kelompok sosial/waktu kurun tertentu disebut dialek.</p>
<p>Berdasarkan pengertian dialek di atas, Widyartono (2008) membedakannya menjadi 4 (empat), yaitu a) <em>dialek regional</em>, ragam bahasa yang digunakan di daerah tertentu sehingga membedakan dengan ragam bahasa yang dipakai di daerah lain, misalnya <a title="Bahasa Melayu" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Melayu">bahasa Melayu</a> dialek <a title="Ambon" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ambon">Ambon</a>, dialek <a title="Jakarta" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jakarta">Jakarta</a> (<a title="Betawi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Betawi">Betawi</a>), atau bahasa Melayu dialek <a title="Medan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Medan">Medan</a>, b) <em>dialek sosial</em>, yaitu dialek yang digunakan oleh kelompok masyarakat tertentu atau yang menandai tingkat masyarakat tertentu, misalnya dialek wanita dan dialek remaja, c) <em>dialek temporal</em>, yaitu dialek yang digunakan pada kurun waktu tertentu, misalkan contohnya dialek Melayu zaman <a title="Sriwijaya" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sriwijaya">Sriwijaya</a> dan dialek Melayu zaman Abdullah, d) <em>idiolek</em>, yaitu keseluruhan ciri bahasa seseorang.</p>
<p>Identitas seseorang dapat dilihat dari bahasa yang digunakan. Melalui dialek dapat ditebak asal penutur berikut. Jika dapat diketahui asal geografis penutur, kemungkinan besar budayanya dapat dipahami. Penggunaan bahasa tidak bisa dilepas dari budaya yang terintegrasi di dalamnya. Bahasa sangat penting bagi pembentukan identitas individu dan identitas sosial. Dengan demikian bahasa memiliki pengaruh yang besar sebagai kendali sosial.</p>
<p>Individu dapat menunjukkan perubahan identitas dan peran melalui bahasa yang digunakan. Pembentukan bahasa ditunjukkan dengan pemakaian nama dan praktik penamaan melalui ritual yang berbeda antarbudaya. Pemberian nama ini dianggap sebagai pertanda diterima dalam kelompok. Proses pembentukan identitas individu dapat ditentukan cara nama seseorang digunakan/disebutkan.</p>
<p>Bahasa digunakan sebagai pembentukan identitas kelompok. Identitas ini diharapkan dapat diajdikan sebagai representasi. Identitas kelompok biasanya terbentuk melalui sebuah konflik sosial dan konflik linguistik hingga akhirnya terbentuknya kelompok dalam dan kelompok luar. Untuk mengidentifikasi kelompok dalam atau luar dapat dilihat dari identitasnya.</p>
<p>Bahasa digunakan kelompok ini memiliki kesesuaian dengan aspek lain, yaitu identitas sosial dan keanggotaan kelompok. Variasi pemilihan bahasa dijadikan sebagai penanda kelompok sosial tertentu yang memiliki kesamaan sistem representasi bahasa dan kepatuhan norma-norma linguistik.</p>
<p>Hubungan identitas individu/kelompok dan bahasa yang digunakan memunculkan fenomena varian-varian bahasa, misalnya register, aksen, dialek, idiolek, dll. Varian-varian ini dapat dikenali melalui pendekatan geografis.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>C. <strong>Daftar Pustaka</strong></p>
<p>Bell, Roger T. (tanpa tahun). <em>Sociolinguistic Goals, Approaches, and Problem.</em> Terjemahan. Ibrahim, Abdul Syukur. 1995. <em>Sosiolinguistik: Sajian Tujuan, Pendekatan, dan Problem-Problemnya. </em>Surabaya: Usaha Nasional</p>
<p>Chaer, Abdul dan Leonie Agustina. 1995. <em>Sosiolinguistik Suatu Pengantar.</em> Jakarta: PT Rineka Cipta</p>
<p>Thomas, Linda dan Shan Wareing. 1999. <em>Language, Society, and Power.</em> Terjemahan. Ibrahim, Abdul Syukur (ed). 2007. <em>Bahasa, Masyarakat, dan Kekuasaan. </em> Yogyakarta: Pustaka Pelajar</p>
<p>Widyartono, D. 2008. <em>Bahasa Indonesia untuk Penulisan Karya Ilmiah</em>. Handout. Malang: Indus Nesus Private</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kataberkata.com/?feed=rss2&#038;p=270</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bahasa dan Kelas Sosial</title>
		<link>http://kataberkata.com/?p=267</link>
		<comments>http://kataberkata.com/?p=267#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Nov 2011 09:50:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasan Bahasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?p=267</guid>
		<description><![CDATA[A. Deskripsi Widyartono (2008) menyatakan bahwa ditinjau dari penggunaannya, ragam bahasa dapat dipilah menjadi empat, yaitu  ragam beku digunakan dalam khutbah Jum’at, naskah kesejarahan misalnya misalnya teks Proklamasi, Piagam Jakarta, Sumpah Pemuda, Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, dll. ragam formal digunakan dalam situasi formal, misalnya pidato kenegaraan, pidato kepala pemerintahan, sambutan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>A. Deskripsi</strong></p>
<p>Widyartono (2008) menyatakan bahwa ditinjau dari penggunaannya, ragam bahasa dapat dipilah menjadi empat, yaitu</p>
<ol>
<li> <em>ragam beku</em> digunakan dalam khutbah Jum’at, naskah kesejarahan misalnya misalnya teks Proklamasi, Piagam Jakarta, Sumpah Pemuda, Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, dll.</li>
<li><em>ragam formal </em>digunakan dalam situasi formal, misalnya pidato kenegaraan, pidato kepala pemerintahan, sambutan resmi, dll.</li>
<li><em>ragam semiformal </em>digunakan dalam situasi yang semiformal. Situasi ini misalkan dapat ditemukan dalam pengajaran yang menuntut aksi-reaksi dosen/guru dengan mahasiswa/siswa. Dalam situasi pengajaran seorang dosen/guru kurang tepat jika menggunakan ragam bahasa baku.</li>
<li><em>ragam santai</em> digunakan antarteman/saudara dalam situasi yang santai, akrab, hangat, antarteman, sesama anggota keluarga, bukan dalam situasi yang formal.</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>Menurut Imam Syafi’i (2009) bahwa ragam bahasa dapat dibedakan menjadi lima, yaitu ragam beku, ragam baku, ragam formal, ragam kasual, ragam sehari-hari. Masyarakat dalam menggunakan bahasa dilandasi oleh kepentingan. Kepentingan ini dilakukan untuk memperoleh kekuasaan melalui politik dalam menggunakan bahasa. Bahasan ini akan dibahas lebih detil dalam bab bahasa dan politik.</p>
<p>Terjadinya penggunaan bahasa yang berbeda-beda dapat disebabkan oleh berbagai faktor, misalnya geografis, situasi, fungsional, usia, kelas sosial, dll. Perbedaan pemakaian bahasa yang disebabkan oleh faktor kelas sosial memunculkan terjadinya variasi bahasa. Variasi ini muncul akibat pengaruh gaya bicara akibat latar belakang sosial yang berbeda.</p>
<p>Perbedaan tuturan bisa saja terjadi karena pelafalan tiap daerah yang berbeda. Hal ini disebut sebagai aksen regional. Jika perbedaannya disebabkan oleh tata bahasa dan kosakata yang berbeda disebut dialek. Penyebaran dialek dapat terjadi secara regional dan secara sosial. Dialek sosial memunculkan dialek bergengsi seperti yang terjadi di Inggris dan Amerika. Baik buruknya aksen dan dialek sangat dipengaruhi oleh stereotip terhadap kawasan dan orang yang tinggal di tempat, varian itu digunakan. Aksen dan dialek ini memberikan bukti informasi sosial. Melalui aksen memunculkan perbedaan posisi kelas sosial.</p>
<p>Terjadinya posisi kelas sosial yang berbeda memberikan pengaruh terhadap penggunaan bahasa. Gaya bahasa dapat menunjukkan posisi kelas sosial. Jadi, kelas sosial memengaruhi penggunaan bahasa. Contoh ada varian paling bergengsi, yaitu bahasa Inggris standard an ada varian pengucapan yang paling bergengsi, yaitu Received Pronuncie. Aksen kelas sosial tertinggi tersebar bukan berdasarkan varian regional.</p>
<p>Untuk mendefiniskan kelas sosial agaknya rumit. Tinggi/rendah kelas sosial secara umum dapat megacu pada asumsi masyarakat. Asumsi tersebut berdasarkan kriteria kekayaan, orang tua, pendidikan, pekerjaan, jenis kelamin, dll. Namun adakalanya tingkatan asumsi ini berbeda antarmanusia karena memiliki prioritas yang berbeda atas beberapa indikator tersebut. Secara sederhana, kelas sosial dapat dilihat melalui kekayaan yang berasal dari gaji pekerjaan.</p>
<p>Beberapa penelitian menyatakan ada hubungan bahasa dan kelas sosial. Labov (1996) menyatakan bahwa kriteria kelas sosial dapat ditentukan melalui tiga bagian, yaitu pendidikan, pekerjaan, dan pendapatan. la meneliti posisi kelas sosial pada supermarket di New York City pada supermarket yang memiliki pangsa pasar kelas atas, kelas menengah, dan kelas bawah. la menemukan terjadinya pemakaian bunyi &#8216;r&#8217; secara<em> postvocalic</em> pada kelas atas dan distigmatis pada kelas bawah. Sementara itu, pada tahun 1960-1970 Peter Trudgill melihat adanya gaya bicara tertentu dari kaca mata faktor sosial. Hal ini padaakhirnya menciptakan penggunaan gaya bahasa yang khas pada kelas sosial. la melihat penggunaan &#8216;-ing&#8217; secara stagnant pada kelas atas, sedangkan pada kelas bawah &#8216;-ing&#8217; berubah menjadi -in&#8217;, misal pada kata r<em>unning</em> menjadi <em>runnin.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>B. Telaah Kritis</strong></p>
<p>Perbedaan pemakaian bahasa yang disebabkan oleh faktor kelas sosial memunculkan terjadinya variasi bahasa. Variasi ini muncul akibat pengaruh gaya bicara akibat later belakang sosial yang berbeda. Pada akhirnya muncul aksen <em>r</em> dan dialek. Baik buruknya aksen dan dialek sangat dipengaruhi oleh stereotip terhadap kawasan dan orang yang tinggal di tempat varian itu digunakan. Aksen dan dialek ini memberikan bukti informasi sosial. Melalui aksen memunculkan perbedaan posisi kelas sosial.</p>
<p>Terjadinya posisi kelas sosial yang berbeda memberikan pengaruh terhadap penggunaan bahasa. Tinggi atau rendah kelas sosial secara umum dapat mengacu pada asumsi masyarakat. Labov (1996) menyatakan bahwa kriteria kelas sosial dapat ditentukan melalui tiga bagian, yaitu pendidikan, pekerjaan, dan pendapatan. Peter Trudgill (1960,1970) menangkap adanya penggunaan gaya bahasa yang khas pada kelas sosial tertentu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>C. Daftar Pustaka</strong></p>
<p>Ellis, Rod. 1996. <em>Acquisition Second Language</em>. Oxford University</p>
<p>Thomas, Linda dan Shan Wareing. Ibrahim, Abdul Syukur (ed). 1999. <em>Bahasa, Masyarakat, dan Kekuasaan</em>.Yogyakarta: Pustaka Pelajar</p>
<p>Sugiarti, Endang Nina. 1996. <em>Bahasa dan Identitas Tiongkok</em>. Suara Pembaruan, Sabtu, 24 Januari 2009</p>
<p>Syafi’i Imam. 2009. <em>Problematika Pembelajaran Bahasa Indonesia. </em>Ceramah Perkuliahan Magister Pendidikan Bahasa Indonesia. Malang: PPS UM</p>
<p>Widyartono, D. 2008. <em>Bahasa Indonesia untuk Penulisan Karya Ilmiah</em>. Handout. Malang: Indus Nesus Private</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kataberkata.com/?feed=rss2&#038;p=267</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bahasa dan Usia</title>
		<link>http://kataberkata.com/?p=264</link>
		<comments>http://kataberkata.com/?p=264#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Nov 2011 09:49:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasan Bahasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?p=264</guid>
		<description><![CDATA[A. Deskripsi Berbicara tentang bahasa dan usia akan melibatkan hubungan keduanya. Bahasa dan usia memiliki hubungan yang erat. Seorang penutur bahasa dapat menunjukkan identitasnya melalui gaya bahasa yang digunakan. Seorang penutur bahasa memiliki perbedaan dalam gaya bahasa yang digunakan. Perbedaan ini menentukan posisi untuk mengambil peranan seperti spa dan menempatkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>A. Deskripsi</strong></p>
<p>Berbicara tentang bahasa dan usia akan melibatkan hubungan keduanya. Bahasa dan usia memiliki hubungan yang erat. Seorang penutur bahasa dapat menunjukkan identitasnya melalui gaya bahasa yang digunakan. Seorang penutur bahasa memiliki perbedaan dalam gaya bahasa yang digunakan. Perbedaan ini menentukan posisi untuk mengambil peranan seperti spa dan menempatkan diris esuai dengan usia, gender, profesi, kelas sosial, etnis, dll. yang menyebabkan terjadinya variasi bahasa. Tuturan dilakukan menurut usia penutur sehingga ads kosakata yang hanya dipahami oleh anak-anak, remaja, dewasa, dan orang tua, Tuturan bahasa sekaligus menunjukkan budaya, adat istiadat. Teori ini sesuai dengan hipotesis Edward Sapir dan Benjamin Lee Whorf yang menyatakan bahwa bahasa dan budaya adalah ibarat satu keping mata uang.</p>
<p>Tuturan bahasa sebenarnya jugs mencerminkan status dari balita. Usia sebagai kategori budaya yang sangat penting. Melalui usia dapat dijadkan patokan kategori sosial untuk menentukan criteria hak dan kewajiban. Tiap usia memiliki label. Label dari kelompok usia terdiri dari balita, orang berusia 20-60 tahun dan orang di atas usia 60 tahun. Wujud label balita seperti <em>person, child, youngster, boy, girl,</em> dll. Wujud label orang suai 20-60 tahun seperti <em>person, adult, grow up, man, lady</em>, dll. Wujud label untuk usia di atas 60 seperti <em>person, adult, man, woman, lady, oldster</em>, dll. Istilah orang tua dan anak kecil mengacu pada criteria bahwa orang tua selalu bijak, berwibawa, bawel, dan rapuh, sedangkan anak kecil selalu nakal, lucu, lompat-lompat. Ancangan ini berdasarkan paradigms bahwa balita dan manula berada pada tahap kehidupan problematic dan tak berdaya sehingga muncul program khusus bagi balita, misalnya save the children, dokter khusus balita disebut paedatriciam sedang program khusus untuk manula misalnya <em>help the aged,</em> dokter khusus manula <em>geriatrician.</em></p>
<p>Berbicara kepada anak kecil dan manula harus mengetahui karakteristik keduanya. Sebenarnya, kedua gaya bahasanya sama. Gaya bahasa balita bercirikan nada lebih tinggi dari orang dewasa, ucapan kata-kata berbeda dari orang tua karena memang dalam tahap belajar, sedangkan gaya bahasa manula memang sudah berpengalaman tapi manula sudah berada pada tingkat kemampuan komunikasi yang menurun.</p>
<p>Bahasa yang ditujukan kepada anak memiliki karakteristik umum dan karakteristik khusus. Karakteristik umumnya terdiri dari</p>
<p>a.       menyebut anak dengan hama kesayangan</p>
<p>b.      kalimat lebih pendek dan tats bahasa yang sederhana</p>
<p>c.       banyak perulangan</p>
<p>d.      bayak menggunakan penegasan</p>
<p>e.      menggunakan kata-kata tertentu</p>
<p>f.        memperluas atau menyelesaikan kalimat yang dibuat anak</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Karakteristik khususnya terdiri dari</p>
<p>a.       nada yang lebih tinggi</p>
<p>b.      diucapkan lebih lambat</p>
<p>c.       lebih banyak jeda</p>
<p>d.      pengucapannya lebih jelas</p>
<p>e.      penekanan intonasi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bahasa yang ditujukan kepada anak, disebut <em>Child Directed Language</em> (CDL) dan bahasa untuk manula memiliki kesamaan, yaitu lebih sederhana, sering bertanya, mengulang kalimat, panggilan sayang, dll. Mengapa ada kemiripan seperti ini? Awalnya CDL digunakan orang tua dalam mengajar bahasa kepada anaknya, namun perlu diingat bahwa tidak semua budaya melakukan hal itu. Tujuannya adalah untuk memastikan lawan bicara paham. Anak kecil dan manula dianggap memiliki kompetensi berkomunikasi yang rendah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>B. Telaah Kritis</strong></p>
<p>Bahasa dan usia memiliki hubungan erat. Seorang penutur bahasa dapat menunjukkan identitasnya melalui gaya bahasa yang digunakan. Seorang penutur bahasa memiliki perbedaan dalam gaya bahasa yang digunakan. Perbedaan ini menentukan posisi untuk mengambil peranan seperti spa dan menempatkan diri sesuai dengan usia, gender, profesi, kelas sosial, etnis, dll. yang menyebabkan terjadinya variasi bahasa.</p>
<p>Usia sebagai kategori budaya yang sangat penting sebagai acuan menentukan kriteria hak dan kewajiban. Tingkatan usia jugamemiliki label. Pelabelan tersebut berdasarkan paradigms bahwa balita dan manula berada pada tahap kehidupan problematik.</p>
<p>Gaya bahasa balita dan manula memiliki kesamaan. Gaya bahasa balita bercirikan nada lebih tinggi dari orang dewasa, ucapan kata-kata berbeda, dari orang tua karena memang dalam tahap belajar. Tahapan belajar ini merpakan proses pemerolehan bahasa, mulai bidang fonologi, sintaksis, leksikon, pragmatik, dll. Gaya bahasa manula memang sudah berpengalaman dan trampil tapi manula sudah berada pada tingkat kemampuan komunikasi yang menurun.</p>
<p>Mengapa ada kemiripan seperti ini? Awalnya CDL digunakan orang tua dalam mengajar bahasa kepada anaknya, namun perlu diingat bahwa tidak semua budaya melakukan hal itu. Tujuannya adalah untuk memastikan lawan bicara paham. Anak kecil dan manula dianggap memiliki kompetensi berkomunikasi yang rendah.</p>
<p>Simpulannya, bahwa bahasa dan usia memiliki hubungan. Hubungan ini dapat disimak melalui faktor fisik yang sangat kompleks, mental, dan sosial.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>C. Daftar Rujukan</strong></p>
<p>Dardjowijojo, Soenjono.2003. <em>Psikolinguistik: Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia</em>. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia</p>
<p>Pateda, Mansoer. 1990. <em>Aspek-aspek Psikolinguistik</em><strong>.</strong> Flores: Nusa Indah Thomas, Linda dan Shan Wareing. Ibrahim, Abdul Syukur (ed). 1999. Bahasa, Masyaraket, dan Kekuasaan.Yogyakarta: Pustaka Pelajar</p>
<p>Thomas, Linda dan Shan Wareing. Ibrahim, Abdul Syukur (ed). 1999. <em>Bahasa, Masyarakat, dan Kekuasaan</em>.Yogyakarta:  Pustaka Pelajar</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kataberkata.com/?feed=rss2&#038;p=264</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bahasa dan Etnisitas</title>
		<link>http://kataberkata.com/?p=262</link>
		<comments>http://kataberkata.com/?p=262#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Nov 2011 09:49:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasan Bahasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?p=262</guid>
		<description><![CDATA[A.      Deskripsi Banyak sekali definisi etnis dan etnisitas. Secara etimologi, etnis berasal dari ethos (Bahasa Yunani) yang artinya bangsa dan sebuah bangsa didefinisikan berdasarkan kesamaan sejarah, kesamaan tradisi, dan kesamaan  bahasa. Karena tiap orang punya sejarah, budaya, dan bahasa yang terkait dengan kelompok sosial tertentu maka dapat dikatakan bahwa tiap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>A.      </strong><strong>Deskripsi</strong></p>
<p>Banyak sekali definisi etnis dan etnisitas. Secara etimologi, etnis berasal dari <em>ethos </em>(Bahasa Yunani) yang artinya bangsa dan sebuah bangsa didefinisikan berdasarkan kesamaan sejarah, kesamaan tradisi, dan kesamaan  bahasa. Karena tiap orang punya sejarah, budaya, dan bahasa yang terkait dengan kelompok sosial tertentu maka dapat dikatakan bahwa tiap orang punya identitas etnis. Identitas ini sering kali digunakan untuk memberikan label pada diri seorang manusia.</p>
<p>Pembahasan kelompok etnis selalu terdikotomikan menjadi etnis mayoritas dan etnis minoritas. Etnis mayoritas terdiri dari sebagian besar populasi sebuah negara dan merujuk pada kelompok-kelompok etnis yang memegang kekuasaan sosial dan politik. Etnis minoritas sebaliknya.</p>
<p>Segala sesuatu yang berbeda dengan etnis mayoritas dianggap sebagai pinggiran (<em>peripheral). </em>Etnis minoritas seringkali menolak menggunakan bahasa etnis mayoritas. Oleh karena itu, identitas etnis mayoritas seringkali tak tampak karena dominasinya. Sebaliknya, identitas etnis minoritas seringkali tampak karena ketidakdominasiannya. Akhirnya, muncul istilah bertanda untuk menciptakan pembeda antara “kami/kita” dengan “mereka”. Contoh  dari media pers Inggris dan Amerika:</p>
<ol>
<li><em>Presiden Bill Clinton telah membantah bahwa dirinya melakukan hubungan oral seks dengan magang Gedung Putih Monica Lewinsky, yang telah mengunjungi dirinya 37 kali, dan dia juga membantah bahwa dia telah melakukan sumpah palsu. Dia menyebutkan bahwa Monica Lewinsky adalah teman dari sekretarisnya yang berkulit hitam, Betty Currie.</em> (Daily Mail, 12 Maret 1998)</li>
<li><em>Akhirnya, 23 bulan setelah pembunuhan itu, narapidana berkulit hitam berusia 21 tahun di Michigan berkata kepada teman selnya: &#8220;Sayalah yang membunuh Sal Mineo.&#8221;</em> (National Enquirer, 3 Maret 1998)</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pelekatan label negatif pada etnis minoritas terbuka lebar karena ketidakdominasiannya dibanding etnis mayoritas. Karenanya, akan sangat mudah menciptakan atau memeberi penekanan aspek negatif kepada etnis minoritas melalui label-label.</p>
<p>Pemberian label ini dapat dilakukan melalui dua cara. Pertama, dapat dilakukan melalui cara yang menyolok dengan menggunakan istilah-istilah narsis. Kedua, dapat dilakukan melalui cara tanpa perlu menyebutkan istilah rasis sekalipun, yaitu sekedar menyebutkan atau menonjolkan label etnis yang menjurus makna negatif. Demikian juga, ketika identitas etnis dari seseorang terus menerus ditandai, secara otomatis akan memfokuskan pada cirri yang ditandai itu.</p>
<p>Apap penanda identitas etnis? Salah satunya adalah bahasa. Pada tahun 1990 dilaporkan kira-kira terdapat 30 juta orang Afro-Amerika di AS. Kira-kira 80-90% populasi ini menggunakan bahasa yang disebut Ebonics (dari kata “ebony” berarti hitam dan “phonics” berarti suara. Bahasa Ebonics merpakan bahasa yang sistematis sebagaimana layaknya bahasa-bahasa lain tapi masih ada banyak kalangan Afro-Amerika sendiri menganggap bahawa bahasa Ebonics bukan bahasa yang normal/wajar. Salah satu penyebabnya, terjadi kesulitan menerima bahasa Ebonics sebagai varian bahasa Inggris. Bahasa Ebonics memiliki perbedaan dengan bahasa Inggris standar di Amerika dan sebagian besar masyarakat memandang bahasa Ebonics  sebagai bahasa Inggris yang rusak dan dituturkan oleh orang bodoh, tidak berpendidikan. Tahun 1996 terjadi perdebatan secara meluas hingga akhirnya Oklan Board of Education AS mengeluarkan keputusan yang mengakui secara resmi penggunaan bahasa Ebonics di kelas. Hal ini bertujuan untuk mengintegrasikan budaya Afro-Amerika ke dalam budaya mayoritas AS. Namun keputusan ini tidak mendapat dukungan dan akhirnya dibatalkan. Artinya jika bahasa Ebonik diakui, sama saja mengakui adanya budaya Afro-Amerika yang berbeda dari budaya Amerika Serikat. Budaya Afro-Amerika tetap berfungsi normal dan tidak mau menjadi kulit putih.</p>
<p>Sekalipun Inggris dan Amerika dianggap dua negara penutur bahasa Inggris yang berbeda, namun masyarakat dua negara ini banyak juga menggunakan bahasa non-Inggris. Hal ini terjadi karena banyak penduduk dari kedua negara ini merupakan imigran dari benua India yang membawa bahasa Hindi, Punjabi, Bengali, Tamil, dan Gujarati. Ada juga bahasa Hispanik Amerika dari negara Spanyol untuk warga AS keturunan Spanyol). Bahasa-bahasa minoritas ini dilarang dalam kegiatan pembelajaran.</p>
<p>Ada sebuah kasus yang dilakukan kelompok pekerja wanita dari etnis Gujarati untuk mengasingkan supervisor mereka dengan melakukan percakapan dalam bahasa Gujarati. Si supervisor menegur mereka dan meremehkan kemampuan bahasa Inggrisnya. Akibatnya kelompok pekerja wanita dari etnis Gujarati menggunakan bahasa Gujarati meskipun pembicaraan mereka tidak ada artinya. Hal ini dilakukan dengan unsur kesengajaan untuk mengasingkan supervisor tersebut.</p>
<p><strong>B.      </strong><strong>Telaah Kritis</strong></p>
<p>Hubungan bahasa dan etnis sangat vital dan dapat memunculkan sebuah konflik sosial. Pembahasan bahasa dan etnisitas oleh Ishtla Signh sangat gamblang. Melalui contoh-contoh real kasus rasisme yang terjadi diuraikan penggunaan bahasa yang menjadi kasus ras. Etnis mayoritas terdiri dari sebagian besar populasi sebuah negara dan merujuk pada kelompok-kelompok etnis yang memegang kekuasaan sosial dan politik. Etnis minoritas sebaliknya. Segala sesuatu yang berbeda dengan etnis mayoritas dianggap sebagai pinggiran (<em>peripheral). I</em>dentitas etnis mayoritas seringkali tak tampak karena dominasinya. Sebaliknya, identitas etnis minoritas seringkali tampak karena ketidakdominasiannya. Akhirnya, muncul istilah bertanda untuk menciptakan pembeda antara “kami/kita” dengan “mereka”.  Melalui istilah ini pelekatan label negatif pada etnis minoritas terbuka lebar karena ketidakdominasiannya dibanding etnis mayoritas. Karenanya, akan sangat mudah menciptakan atau memeberi penekanan aspek negatif kepada etnis minoritas melalui label-label.</p>
<p>Kasus-kasus menarik tentang pelarangan bahasa Ebonics dan penggunaan bahasa minoritas, misal bahasa Hindi, Punjabi, Bengali, Tamil, Gujarati, hingga Hispanik diuraikan dengan jelas untuk mengetahui eratnya hubungan bahasa dan etnis. Kasus pengasingan seorang warga berkulit putih oleh kelompok pekerja wanita dari etnis Gujarati dengan unsur kesengajaan sangat menarik untuk disimak. Belum lagi puluhan contoh yang lain.</p>
<p>Akhirnya dari pembahasan ini dapat ditarik benag merah bahwa bahasa dapat memunculkan prasangka negatif terkait etnisitas dan rawan akan kasus rasisme. Di balik itu semua, sebenarnya ada maksud dan tujuan etnis mayoritas yaitu mengambil dan mempertahankan kekuasaan dengan memaksakan karakteristik etnis mayoritas yang harus belaku juga pada etnis minoritas.</p>
<p><strong>C.      </strong><strong>Daftar Rujukan </strong></p>
<p>Din, Muhammad. 2009. <em>Rasisme Bahasa. </em>(Online), (diakses dari <a href="http://www.endonesa.wordpress.com/">http://www.endonesa.wordpress.com</a> pada tanggal 11 Maret 2009)</p>
<p>Nopriansah, Yudi, 2004. <em>Media dan Kekuasaan dalam Masyarakat</em>. (dalam <em>Jurnal Sosiologi</em> Vol. 3, No. 2, September 2001)</p>
<p>Thomas, Linda dan Shan Wareing. Ibrahim, Abdul Syukur (ed). 1999. <em>Bahasa, Masyarakat, dan Kekuasaan</em>.Yogyakarta:  Pustaka Pelajar</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kataberkata.com/?feed=rss2&#038;p=262</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bahasa dan Gender</title>
		<link>http://kataberkata.com/?p=259</link>
		<comments>http://kataberkata.com/?p=259#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Nov 2011 09:48:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasan Bahasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?p=259</guid>
		<description><![CDATA[A.      Deskripsi Konsep gender dan seks muncul berdasarkan acuan tertentu. Konsep gender termasuk dalam kategori sosial. Kategori sosial ini terbentuk melalui pola-pola perilaku tertentu dalam kehidupan bermasyarakat. Konsep seks termasuk dalam kategori biologis. Kategori ini bahkan sudah terbentuk sebelum seseorang lahir. Bahasa seksis adalah bahasa yang merepresentasikan pria dan wanita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>A.      </strong><strong>Deskripsi</strong></p>
<p>Konsep gender dan seks muncul berdasarkan acuan tertentu. Konsep gender termasuk dalam kategori sosial. Kategori sosial ini terbentuk melalui pola-pola perilaku tertentu dalam kehidupan bermasyarakat. Konsep seks termasuk dalam kategori biologis. Kategori ini bahkan sudah terbentuk sebelum seseorang lahir.</p>
<p>Bahasa seksis adalah bahasa yang merepresentasikan pria dan wanita secara tidak setara dengan anggota kelompok yang dianggap lebih rendah kemanusiaannya, lebih sederhana, lebih sedikit hak-haknya daripada anggota kelompok yang lain.Bahasa ini melahirkan stereotip-stereotip yang merugikan pria dan banyak merugikan wanita.</p>
<p>Bahasa seksis dapat ditinjau dari dua sudut pandang. Pertama, bahasa seksis dapat ditinjau dari sistem tata bahasa yang menunjang terbentuknya bahasa seksis. Kedua, bahasa seksis dapat ditinjau dari aspek di luar tata bahasa yang juga menunjang terbentuknya bahasa seksis.</p>
<p>Contoh bahasa seksis di Indonesia terdapat pada kata “wanita” dan “perempuan”. Derajat kedua kata ini tidak sama. Kata ”perempuan” dianggap lebih rendah dari kata “wanita” karena secara etimologis “perempuan” berasal dari kata “puan” yang artinya seseorang yang harus menuruti laki-laki.</p>
<p>Penggunaan bahasa Inggris juga termasuk kategori bahasa seksis. Dalam bahasa seksis bahasa Inggris akan muncuk simetris dan asimetris. Secara generik kuda disebut “horse”. Kata ini meliputi simetris kata yang lain, yaitu kuda jantan (stallion), kuda betina (mare), anak kuda (foal) (meliputi kuda jantan/colt dan kuda betika/filly). Kata “man” dapat digunakan secara generik yang berarti semua orang; pria (man), wanita (women), dan anak-anak/child (anak laki-laki/boy dan anak wanita/girl). Penggunaan kata “man” asimetris dengan kata yang lainnya.</p>
<p>Selain simteris dan asimetris, dalam bahasa seksis dikenal juga bertanda dan tak bertanda. Singa (lion) merupakan bentuk tak bertanda karena dapat digunakan untuk menyebut singa jantan dan betina. Untuk menekankan singa jantan tetap menggunakan “lion” dan untuk menekankan singa betina digunakan “lioness. Contoh lain <em>waiter </em>menjadi<em> waitress, host </em>menjadi <em>hostess, actor </em>menjadi <em>actress. </em>Untuk kata profesor, doktor, dan ahli bedah (surgeon)  seolah hanya berlaku untuk pria karena untuk menekankan pada wanita digunakan <em>woman professor, woman doctor, </em>dan<em> woman surgeon.</em>Namun untuk menyebut perawat laki-laki digunakan <em>male nurse</em> karena istilah perawat seolah khusus bagi wanita.</p>
<p>Kalimat “he is my mister” (dia adalah majikan saya” berarti bahwa “dia adalah bos saya”, tapi “she is my mistress” berarti “dia adalah kekasih gelap saya. Kata ganti <em>he</em> dan <em>she</em>memiliki kekuasaan yang berbeda. <em>She </em>dipandang lebih rendah daripada <em>he.</em> Contoh lain  pada penggunaan <em>sir-madam.</em> Kedua kata ini memiliki status sosial tinggi, namun tetap saja ada perbedaan karena m<em>adam</em> bisa digunakan juga menyapa germo ditempat pelacuran sementara <em>sir</em> tidak bisa. Berdasar kedua contoh initelah terjadi sebuah proses yang merujuk pada wainta mendapatkan makna negatif atau mendapatkan konotasi seksua. Hal ini disebut derogasi makna, membuat makna menjadi sesuatu yang lebih rendah.</p>
<p>Seksisme tidak hanya terjadi pada kata, namun juga terdapat dalam wacana. Perhatikan contoh berikut.</p>
<p>Orang merasa berhak untuk mendapatkan mobil, mendapatkan gadis, dan sebagainya. Kalau mereka gagal, mereka akan menyalahkan diri mereka sendiri. (Olliver James, dikutip dari Emma Cook dalam The Independent, 31 Agustus 1997)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pemakaian kata gadis oleh kata ganti mereka (laki-laki yang membutuhkan gadis) menunjukkan bahwa laki-laki memiliki status yang lebih tinggi daripada wanita.</p>
<p>Bahasa seksis dalam bahasa Indonesia tampak pada contoh yang dikutip dari Jupriono (1997) berikut ini.</p>
<p>Saya: Wah gajinya besar dong. Cepet kaya, Bu, nanti.</p>
<p>WK  : Ah, nggak juga. Itu kan menurut situ.</p>
<p>Saya: Gaji segitu besar lho, Bu. Ini kan di atas gaji suami. Hebat.</p>
<p>WK  : Ah, saya kan cuma istri. Jadi, hanya sekadar membantu suami saja.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bahasa seksis yang terdapat dalam bahasa Inggris akan lebih tampak dalam makian yang ditujukan langsung kepada wanita. Makian dan kata-kata kotor ini digunakan John Junor pada tahun 1980 yang dikutip oleh Peter McKay dalam <em>Daily Mail</em> pada 22 September 1997 dengan memaki wanita yang lebih jelek disbanding wanita lain. Sebutan yang digunakan adalah wanita tua yang merajut kaos kaki dan buruk rupa.</p>
<p>Bahasa seksis memang banyak merugikan wanita, tapi juga terkadang merugikan pria. Contoh <em>bimboy </em>(dari kata “bimbo” artinya pelacur, dan “boy” berarti anak laki-laki), <em>studlet </em>(dari kata “stud”=kuda jantan/lambang kejantanan pria, imbuhan “-let” berarti kecil, masih muda), dll.</p>
<p>Apakah pria dan wanita memiliki pola bahasa yang berbeda? Temuan Coates (1993) menyatakan bahwa wanita lebih banyak berbicara daripada pria. Kenyataaan ini juga telah disampaikan dalam penemuan-penemuan sebelumnya, misalnya temuan Fishman (1980), Swan (1989), dan Spender (1990). Wanita juga lebih aktif dalam memberikan dukungan terhadap lawan bicara (Zimmerman dan West: 1975, Fishman: 1983, Coates: 1989, Jenkins dan Cesire (1990). Wanita juga menggunakan bentuk yang diperhalus dengan pengunaan <em>epistemic modal form </em>yang menyiratkan tidak sepenuhnya yakin dengan apa yang dikatakan, misalnya <em>should, would, culd, may, </em>dan <em>might.</em>Walaupun wanita banyak bicara, sering juga memberikan dukungan terhadap lawan bicara, dan menggunakan bentuk yang halus, pria sering melakukan pemotongan pembicaraan wanita (Coates, 1993).</p>
<p>Berbagai konstelasi bahasa di atas dapat dijelaskan dengan teori dominasi yang menyatakan adanya perbedaan wacana antara pria dan wanita karena perbedaan kekuasaan (Fishman:1980 dan DeFransisco:1991). Wanita digambarkan sebagai korban tak berdaya dan pria dipandang sebagai pihak yang merendahkan wanita. Untuk merespon dua kesulitan dominasi ini dapat diajukan teori perbedaan (Deborah Tannen: 1990;1991)  yang menyatakan bahwa perbedaan bahasa pria dan wanita disebabkan adanya pemisahan pria dan wanita pada tahapan-tahapan penting dalam kehidupan mereka.</p>
<p>Analisis gender melalui teori dominasi dan teori perbedaan pada dasarnya memiliki kelemahan. Hal ini tampak pada perlakuan terhadap wanita secara rata padahal sesama wanita juga memiliki perbedaan, misal usia, etnis, agama, kelas, orientasi seksual, regional, dan budaya.</p>
<p>Untuk melihat perbedaan bahasa pria dan wanita dapat dilihat pada cara kita menggunakan bahasa sebagai sarana untuk membangun persepsi kita tentang gender, misal di Inggris ada aturan pakaian dan atribut fisik untuk mengidentifikasikan gender. Bayi laki-laki dilarang diberi pakaian berwarna merah muda.</p>
<p>Perbedaan-perbedaan yang kita temukan tidak memiliki hubungan dengan apa yang dilakukan orang melainkan lebih ditimbukan oleh persepsi gender kita sendiri. Contoh penelitian terhadap interupsi dalam percakapan masih ditemukan kesulitan dalam mendefinisikan interupsi, kapan terjadinya, dan juga sangat bergantung pada konteks tuturan.</p>
<p>Pria dan wanita memiliki pola bahasa yang berbeda. Perbedaan ini tampak karena wanita lebih banyak berbicara daripada pria, wanita juga lebih aktif dalam memberikan dukungan terhadap lawan bicara, wanita juga menggunakan bentuk yang diperhalus, sedangkan pria sering melakukan pemotongan pembicaraan wanita.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>B.      </strong><strong>Telaah Kritis</strong></p>
<p>Pembahasan hubungan bahasa dan gender oleh Shan Wareing sangat tajam. Penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa seksis diulas dengan berbagai contoh, mulai dari adanya kesimetrisan satuan linguistik dengan hadirnya simetris dan asimetris dan istilah bertanda dan tak bertanda gender. Melalui contoh yang konkret ternyata menggugah kesadaran bahwa bahasa Inggris sebenarnya penuh dengan seksisitas yang berpangkal gender. Perubahan makna yang berakibat terjadinya derogasi makna, atau dalam bahasa Indonesia disebut konotasi negatif, juga terjadi dalam kosakata bahasa Inggris. Seksisme juga tidak hanya melanda pada kosakata, melainkan juga terjadi pada wacana melalui makian, kata-kata kotor. Rupanya seksisnya banyak merugikan wanita, namun juga terkadang merugikan pria.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>C.      </strong><strong>Daftar Rujukan </strong></p>
<p>WIdyartono, Didin. 2009. <em>Wanita dan Perempuan. </em>(Online), (diakses dari <a href="http://www.endonesa.wordpress.com/">http://www.endonesa.wordpress.com</a> pada tanggal 11 Maret 2009)</p>
<p>Jupriono, D. 1997. <em>Bahasa Indonesia Bahasa Lelaki? Telaah Ketimpangan Gender dalam Bahasa Indonesia</em>. (Jurnal FSU in the Limelight Vol. 5, No. 1 July 1997)</p>
<p>Thomas, Linda dan Shan Wareing. Ibrahim, Abdul Syukur (ed). 1999. <em>Bahasa, Masyarakat, dan Kekuasaan</em>.Yogyakarta:  Pustaka Pelajar</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kataberkata.com/?feed=rss2&#038;p=259</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bahasa dan Media</title>
		<link>http://kataberkata.com/?p=257</link>
		<comments>http://kataberkata.com/?p=257#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Nov 2011 09:45:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasan Bahasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?p=257</guid>
		<description><![CDATA[A.      Deskripsi Hubungan antara bahasa dan media sangat erat. Penggunaan bahasa dalam media beraneka ragam sesuai dengan kepentingan. Hubungan bahasa dan media seringkali digunakan untuk mencari kekuasaaan guna memenuhi unsur kepentingan dan memberikan pengaruh kepada masyarakat untuk mencapai kepentingan itu. Untuk memenuhi kepentingan yang beraneka ragam dapat digunakan media sebagai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>A.      </strong><strong>Deskripsi</strong></p>
<p>Hubungan antara bahasa dan media sangat erat. Penggunaan bahasa dalam media beraneka ragam sesuai dengan kepentingan. Hubungan bahasa dan media seringkali digunakan untuk mencari kekuasaaan guna memenuhi unsur kepentingan dan memberikan pengaruh kepada masyarakat untuk mencapai kepentingan itu.</p>
<p>Untuk memenuhi kepentingan yang beraneka ragam dapat digunakan media sebagai alat mencari kekuasaan. Kepetingan ini meliputi banyak aspek, di antaranya agama, pendidikan, metabahasa, politik, ekonomi, sosial, budaya, dan pertahanan keamanan. Untuk memperoleh akses informasi ini digunakanlah bahasa sebagai alat komunikasi.</p>
<p>Kekuasaan dapat pula diraih dengan memberikan pengaruh. Pengaruh disampaikan melalui media-media. Banyak sekali bermunculan media yang memiliki tingkat persuasif yang sangat tinggi. Hal ini tidak lain karena dibalik persuasivitas media yang tinggi tersebut dihegemoni oleh faktor kepentingan.</p>
<p>Media komunikasi dapat berupa media cetak (koran, majalah, jurnal, dll.), radio, televisi dengan berbagai alat perantara (antena, kabel, parabola), hingga media online yang berupa website/blog. Semua jenis media ini digunakan atas dasar kepentingan, mulai dari promosi, intimidasi, provokasi, persuasi, romantisme, dll. Jika ditrikotomikan fungsi media digunakan sebagai alat memperoleh informasi, mencari hiburan, dan mencari informasi plus hiburan) infotainment.</p>
<p>Banyak alasan untuk menjelaskan bagaimana media massa memiliki keterkaitan erat dengan cara-cara bagaimana kekuasaan dijalankan. Rezim-rezim yang memerintah di dunia, baik liberal maupun komunis, senantiasa memaknai media massa sebagai salah satu hal penting dalam konstruksi kekuasaannya. Sulit rasanya untuk menafsirkan media massa tanpa mengidentifikasi sederet karakteristiknya yang seringkali dipakai untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan.</p>
<p>Terkait dengan kepentingan dan pengaruh tentu tak luput juga akan kekuasaan. Media massa bergerak dalam masyarakat yang ditandai oleh adanya penyebaran kekuasaan yang diberikan kepada individu, kelompok, dan kelas sosial secara tidak merata. Media massa dalam beberapa hal berkaitan dengan struktur politik dan ekonomi yang ada. Disisi inilah dapat ditelusuri potensi media berhubungan dengan kekuasaan, di saat media dianggap memiliki konsekwensi ekonomis tempat diperebutkannya kontrol dan akses.</p>
<p>Media massa merupakan bagian dari struktur sosial. Dalam hal ini media massa merupakan komponen yang memelihara stabilitas dan harmoni. Dengan kedudukan semacam itu, fungsi media massa sebagai bagian dari mekanisme sosial bertujuan untuk menjaga keseimbangan (equilbrium) antara berbagai komponen dalam masyarakat.</p>
<p>Sebagai bagian dari suatu sistem, sesungguhnya media masa merupakan sarana yang memungkinkan institusi-institusi lain berjalan. Institusi sosial, dalam hal ini, pada dasarnya dapat dikelompokan pada tiga (3) entitas besar: politik, ekonomi, budaya Institusi politik mengambil fungsi dalam proses pengambilan keputusan yang ditandai dengan keikutsertaan dalam kekuasaan politik. Institusi ekonomi mengambil fungsi dalam meningkatkan kesejahteraan material, sementara institusi sosial budaya berfungsi meningkatkan kehidupan masyarakat untuk lebih bermakna (immaterial), sedangkan media massa membantu memberikan ruang yang memungkinkan institusi politik, ekonomi, dan budaya berjalan. Untuk itu media massa, karena terkait dengan informasi sebagai poros aktifitasnya, dapat menjalankan fungsi politik, ekonomi ataupun sosial budaya.</p>
<p>Media massa menjadi pihak yang berperanan penting –sebagai salah satu bangunan intelektual ideologis–dalam menjabarkan, mempertahankan dan menyebarkan versi definisi realitas rezim dan kelas dominan tertentu. Oleh karenanya hubungan media massa, kelompok dominan, dan masyarakat menyiratkan hubungan yang hegemonik. ‘Hegemoni’ berupaya untuk menumbuhkan kepatuhan dengan menggunakan kepemimpinan politis dan ideologis. Hegemoni bukanlah hubungan dominasi dengan menggunakan kekuasaan, melainkan hubungan persetujuan. Hegemoni adalah organisasi konsensus. Dengan demikian media massa ditafsirkan (1) sebagai medium tempat dimana wacana dari kepemimpinan politik dan ideologis disebarkan (2) sebagai arena tempat keragaman praktek wacana dilakukan , dengan tujuan akhir adalah membangun konsensus dengan pihak yang lemah berada dalam posisi patuh. Hasil konsensus ini digunakan kelas yang lemah untuk menafsirkan pengalamannya yang sebelumnya telah diintrodusir oleh pihak yang berkuasa.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> B.      </strong><strong>Telaah Kritis</strong></p>
<p>Penggunaan bahasa dalam media beraneka ragam sesuai dengan kepentingan. Hubungan bahasa dan media seringkali digunakan untuk mencari kekuasaaan guna memenuhi unsur kepentingan dan memberikan pengaruh kepada masyarakat untuk mencapai kepentingan itu. Untuk memenuhi kepentingan yang beraneka ragam dapat digunakan media sebagai alat mencari kekuasaan. Untuk memperoleh akses informasi ini digunakanlah bahasa sebagai alat komunikasi.</p>
<p>Kekuasaan dapat pula diraih dengan memberikan pengaruh. Pengaruh disampaikan melalui media-media sehingga media memiliki tingkat persuasif yang sangat tinggi. Hal ini tidak lain karena dibalik persuasivitas media yang tinggi tersebut dihegemoni oleh faktor kepentingan. Media komunikasi dapat berupa mediacetak (koran, majalah, jurnal, dll.), radio, televisi dengan berbagai alat perantara (antenna, kabel, parabola), hingga media online yang berupa website/blog. Jika ditrikotomikan fungsi media digunakan sebagai alat memperoleh informasi, mencari hiburan, dan mencari informasi plus hiburan) infotainment.</p>
<p>Pembahasan bahasa dan media oleh Joanna Thomborrow terfokus pada hubungan bahasa, media, dan kekuasaan. Tentu di balik terfokusnya kajian tersimpan uraian materi yang mendalam. Hanya saja karena terfokus pada hubungan tiga unsur tersebut, kajian politik kurang tersentuh karena terfokus pada kekuasaan. Namun bisa jadi, ada kajian yang lain yang membahas bahasa, media, dan politik.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>C.      </strong><strong>Daftar Rujukan </strong></p>
<p>Artha, Arwan Tuti. 2002. <em>Bahasa dalam Wacana Demokrasi dan Pers</em>. Yogyakarta: AK Group</p>
<p>Hidayat, Dedy N. 1999. Politik Media, Politik Bahasa Dalam Proses Legitimasi dan Delegitimasi Rejim Orde Baru, dalam Sandra Kartika dan M. Mahendra (Eds), <em>Dari Keseragaman Menuju Keberagaman: Wacana Multikultur Dalam Media.</em> Jakarta: LSSP</p>
<p>Nopriansah, Yudi, 2004. <em>Media dan Kekuasaan dalam Masyarakat</em>. (dalam Jurnal Sosiologi Vol. 3, No. 2, September 2001)</p>
<p>Thomas, Linda dan Shan Wareing. Ibrahim, Abdul Syukur (ed). 1999. <em>Bahasa, Masyarakat, dan Kekuasaan</em>.Yogyakarta:  Pustaka Pelajar</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kataberkata.com/?feed=rss2&#038;p=257</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bahasa dan Politik</title>
		<link>http://kataberkata.com/?p=255</link>
		<comments>http://kataberkata.com/?p=255#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Nov 2011 09:44:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasan Bahasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?p=255</guid>
		<description><![CDATA[A.      Deskripsi Menurut Muridan S Widjojo &#38; Mashudi Noorsalim (2004), Wilhelm von Humboldt (1767-1835) menyatakan bahasa suatu bangsa merupakan jiwa bangsa itu sendiri dan jiwa mereka adalah bahasa mereka. Bahasa merupakan bagian yang tak terpisahkan dari segala aspek kehidupan sosial manusia. Sebagai arena pertarungan politik, bahasa merupakan tempat bertemunya berbagai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>A.      </strong><strong>Deskripsi</strong></p>
<p>Menurut Muridan S Widjojo &amp; Mashudi Noorsalim (2004), Wilhelm von Humboldt (1767-1835) menyatakan bahasa suatu bangsa merupakan jiwa bangsa itu sendiri dan jiwa mereka adalah bahasa mereka. Bahasa merupakan bagian yang tak terpisahkan dari segala aspek kehidupan sosial manusia. Sebagai arena pertarungan politik, bahasa merupakan tempat bertemunya berbagai kepentingan kelompok manusia yang saling tarik menarik, saling mendominasi, hegemoni atau hegemoni tandingan, menguasai atau melawan oleh satu kelompok terhadap kelompok lain.</p>
<p>Bahasa sangat efektif untuk memengaruhi masyarakat. Karenanya, bahasa sering digunakan sebagai alat politik.  Tidak salah bila setiap terjadi pergantian elite penguasa selalu mengandung implikasi pergantian bahasa komunikasi politik (Artha, 2002).</p>
<p>Berbicara tentang bahasa dan politik dapat membentuk dua frase, yaitu politik bahasa dan bahasa politik. Kajian politik bahasa dapat ditinjau dari aktivitas bahasa dan aktivitas politik. Aktivitas bahasa melalui politik bahasa nasional jelas melibatkan hukum. Hukum yang dimaksud adalah legitimasi kedudukan bahasa yang tercantum dalam Sumpah Pemuda pada tahun 1928 dan Undang-Undang Dasar 1945. Bukan dua produk ini saja, melainkan juga diikuti oleh puluhan undang-undang tentang pemakaian bahasa Indonesia.</p>
<p>Kajian politik bahasa dapat juga ditinjau dari aktivitas politik. Bahasa-bahasa yang digunakan orde lama cenderung menggunakan akronim dalam mengungkapkan sesuatu, misal “Nasakom” (nasionalis, agama, dan komunis), “Jasmerah” (jangan melupakan sejarah), “Tritura” (Tiga Tuntutan Rakyat), “Trikora” (Tiga Komando Rakyat), dll.</p>
<p>Pada zaman orde baru, politik bahasa  yang digunakan adalah memanfaatkan majas eufemisme untuk menciptakan stabilitas politik, misal pinjaman/bantuan (padahal hutang), diamankan (padahal diculik, dipenjara), desa tertinggal (sebutan untuk desa miskin), rawan pangan (sebutan untuk kekeringan dan kelaparan), malnutrisi (sebutan untuk kurang makan), dll. Selain itu, digunakan juga ungkapan-ungkapan bahasa Jawa. Penggunaannya disisipkan dalam penggunaan bahasa Indonesia. Misalnya  <em>mikul dhuwur mendhem jero</em>, <em>lengser keprabon madek pandhito ratu</em>, dll. Ungkapan-ungkapan yang sering disampaikan oleh penguasa pada waktu itu cukup efektif untuk memengaruhi sikap atau perilaku masyarakat.</p>
<p>Pilihan kata-kata yang tepat disesuaikan dengan budaya yang hidup dalam masyarakat dianggap efektif untuk menenangkan kegelisahan rakyat. <em>Misalnya pejabat yang diduga bermasalah akan segera diperiksa</em>, <em>semua koruptor akan segera diadili</em>. Kalimat ini cukup efektif untuk menenangkan masyarakat yang tidak puas terhadap proses hukum. Padahal bila dicermati kalimat tersebut lebih bermakna memberi janji. Janji yang bisa ditindaklanjuti bisa juga dilupakan. Hal tersebut menunjukkan bahwa bahasa memang memiliki kekuatan dan dapat digunakan sebagai salah satu alat untuk mencapai tujuan.</p>
<p>Di era reformasi malah terdapat kecenderungan memakai majas hiperbola untuk mengungkapkan sesuatu, misal salah satu headline suratkabar pada Pemilu 1999 “Bila Mega kalah, banjir darah”, “Jihad ke Ambon!” headline lain dengan foto laki-laki berbaju putih mengangkat pedang pada tahun 2000, “Umat Kristen Dibantai”, “Bom Meledak Lagi”, “Madura Harus Nyingkir”, dll.</p>
<p>Untuk meraih kekuasaan, bahasa dan politik menggunakan ideologi kekerasan dan persuasif. Ideologi kekerasan dalam bahasa tampak pada aturan-aturan yang diwujudkan dalam kaidah-kaidah bahasa yang penggunannya diatur oleh hukum. Ideologi persuasif dalam bahasa tampak pada anjuran berbahasa yang baik dan benar.Ideologi kekerasan dalam kegiatan politik tampak pada upaya saling jegal, saling serang, ultimatum, hingga perang. Ideologi persuasif kegiatan politik tampak pada upaya negoisasi/perundingan/pernyataan politis.</p>
<p>Pengejawantahan bahasa politik tampak dari jatuhnya pilihan pada persuasif. PIlihan ini tentu erat kaitannya dengan sisi politis. Mengapa harus persuasif? Jawabannya karena politik bersinggungan dengan kepentingan meraih kekuasaan dengan cara bujukan halus. Bahasa-bahasa politik dapat diwujudkan melalu retorika, implikatur yang mengungkapkan pendapat secara wajar dan masuk akal padahal menipu, hingga bahasa-bahasa muslihat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>B.      </strong><strong>Telaah Kritis</strong></p>
<p>George Orwell (1964) berpendapat bahwa di zaman ini tidak mungkin orang bias lepas dari politik karena semua masalah adalah selalu masalah politik. Pendapat George Orwell ini sangat menarik dan seolah-olah dilakukan dengan sangat serius, padahal pendapat ini disampaikan melalui novel yang berjudul “1984”. Novel ini cukup menarik karena mengandung hubungan bahasa dan politik. Digambarkan pula adanya sebuah bahasa baru yang disebut <em>Newspeak</em> dan bahasa lama yang harus ditinggalkan disebut sebagai <em>Oldspeak.</em></p>
<p>Berbagai pernyataan kritis dalam novel memiliki tujuan implicit terhadap penggunaan bahasa untuk kepentingan politik. Ada lelucon; <em>“Bagaimana caranya agar kita tahu kapan politisi berbohong?”, </em> jawabanya “<em>Setiap kali mereka berbohong mereka selalu menggerakkan bibir mereka</em>”. Lelucon menarik ini dapat dijadikan sebagai representasi bahasa dan politik. Lebih lanjut Orwell mengatakan bahwa bahasa politik adalah pembelaan terhadap sesuatu yang tidak perlu dibela”. Selain itu, juga mencoba menawarkan aturan-aturan dalam penggunaan bahasa untuk tujuan politik.</p>
<p>Kajian Jason Jones dan Shan Wareing tentang bahasa dan politik sangat menarik. Ulasan-ulasan  lugas menghiasi hubungan bahasa dan politik. Berbagai contoh dari pemanfaatan bahasa untuk tujuan politik disampaikan. Kajian terhadap novel Orwell tahun 1964  memberikan contoh terhadap “<em>political correctness”. </em>Retorika politik yang disampaikan dengan maksud sengaja menjadikannya agar sulit dimengerti dapat disimak dalam buku <em>Bahasa, Masyarakat, dan Hubungan.</em> Beberapa contoh retorika politik yang terjadi di luar negeri dapat ditemukan dengan mudah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>C.      </strong><strong>Daftar Rujukan </strong></p>
<p>Ali, Lukman. 2000.  <em>Lengser Keprabon: Kumpulan Kolom tentang Pemakaian Bahasa Indonesia</em>. Jakarta: Pustaka Firdaus.</p>
<p>Atmawai, Dwi. 2006. <em>Memanfaatkan Kekuatan Bahasa sebagai Sarana Pembangun Sikap SDM Berkualitas</em>. (Online). (diakses dari www.pusatbahasa.diknas.go.id/laman/ nawala.php?info=artikel&amp; infocmd=show&amp;infoid=36&amp;row=1 pada 20 Februari 2009)</p>
<p>Artha, Arwan Tuti. 2002. <em>Bahasa dalam Wacana Demokrasi dan Pers</em>. Yogyakarta: AK Group</p>
<p>Widjojo, Muridan S. dan Mashudi Noorsalim. 2004. <em>Bahasa Negara Versus Bahasa Gerakan Mahasiswa: Kajian Semiotik atas Teks-teks Pidato Presiden Suharto dan Selebaran Gerakan Mahasiswa</em>. LIPI Press</p>
<p>Thomas, Linda dan Shan Wareing. Ibrahim, Abdul Syukur (ed). 1999. <em>Bahasa, Masyarakat, dan Kekuasaan</em>. Yogyakarta:  Pustaka Pelajar</p>
<p>Syah, Sirikit. 2005. <em>Bahasa Politik dan Politik Bahasa.</em> (Online), (diakses dari <a href="http://www.lkm-mediawatch.org/mediawatch/index.php?option=com...article&amp;id=145:bahasa-politik...politik-bahasa&amp;catid">www.lkm-mediawatch.org/mediawatch/index.php?option=com&#8230;article&amp;id=145:bahasa-politik&#8230; politik-bahasa&amp;catid</a> pada 20 Februari 2009)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kataberkata.com/?feed=rss2&#038;p=255</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bahasa, Pikiran, dan Representasi</title>
		<link>http://kataberkata.com/?p=253</link>
		<comments>http://kataberkata.com/?p=253#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Nov 2011 09:44:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasan Bahasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?p=253</guid>
		<description><![CDATA[A.      Deskripsi Pemakaian bahasa oleh masyarakat bahasa melibatkan dua unsur, yaitu knowledge dan implication. Hubungan di antara keduanya beberapa di antaranya dinyatakan oleh Ferdinand de Saussure melalui langue dan parole. Dilanjutkan oleh Noam Chomsky melalui competency dan performance yang mirip dan lebih sempurna dibanding langue dan parole. Pendapat Noam Chomsky [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>A.      </strong><strong>Deskripsi</strong></p>
<p>Pemakaian bahasa oleh masyarakat bahasa melibatkan dua unsur, yaitu <em>knowledge</em> dan <em>implication</em>. Hubungan di antara keduanya beberapa di antaranya dinyatakan oleh Ferdinand de Saussure melalui <em>langue</em> dan <em>parole</em>. Dilanjutkan oleh Noam Chomsky melalui<em> competency </em>dan <em>performance</em> yang mirip dan lebih sempurna dibanding <em>langue</em> dan <em>parole.</em> Pendapat Noam Chomsky ini mendapatkan saran dari Dell Hymes yang menyatakan bahwa tidak cukup dengan <em>competency </em>dan <em>performance</em>, melainkan juga sangat penting dalam memperhatikan <em>context of situation.</em> Tidak berhenti di sini, karena duo ilmuwan Edward Sapir dan Benjamin Lee Whorf mendikotomikan dari sisi lain melalui relativitas dan determinasi linguistik.</p>
<p>Ferdinand de Saussure pada dasarnya tidak hanya mendikotomikan bahasa menjadi <em>langue</em> dan <em>parole</em>. Saussure menyatakan beberapa pokok pikiran tentang linguistik, yaitu (1) bahasa lisan lebih utama dari pada bahasa tulis karena tulisan hanya merupakan sarana yang mewakili ujaran, (2) linguistik bersifat deskriptif, bukan preskriptif seperti pada tata bahasa tradisional karena para ahli linguistik bertugas mendeskripsikan bagaimana orang berbicara dan menulis dalam bahasanya, bukan memberi keputusan bagaimana seseorang seharusnya berbicara, (3) penelitian bersifat sinkronis bukan diakronis seperti pada linguistik abad 19 meskipun bahasa terus berkembang dan berubah, penelitian tetap dilakukan pada kurun waktu tertentu, (4) bahasa merupakan suatu sistem tanda yang bersisi dua, terdiri dari <em>signifiant</em> (penanda) dan <em>signifie </em>(petanda) yang keduanya merupakan wujud yang tak terpisahkan, bila salah satu berubah, yang lain juga berubah, (5) bahasa formal maupun nonformal menjadi objek penelitian, (6) bahasa merupakan sebuah sistem relasi dan mempunyai struktur, (7) dibedakan antara bahasa sebagai sistem yang terdapat dalam akal budi pemakai bahasa dari suatu kelompok sosial (<em>langue</em>) dengan bahasa sebagai manifestasi setiap penuturnya (<em>parole</em>), dan (8) dibedakan antara hubungan asosiatif, yaitu hubungan antarsatuan bahasa dengan satuan lain karena ada kesamaan bentuk atau makna dan sintagmatis dalam bahasa, sedangkan hubungan sintagmatis ialah hubungan antarsatuan pembentuk sintagmatis dengan mempertentangkan suatu satuan dengan satuan lain yang mengikuti atau mendahului.</p>
<p>Pemikiran Saussure belum menyentuh pada persoalan neurologi. Noam Chomsky mendikotomikan persis yang dilakukan Saussure, yaitu melalui <em>competency </em> dan <em>performance.</em> Usaha Chomsky tidaklah sia-sia. Hal ini disebabkan sentuhan Chomsky melalui neurologi menjadi penyebab kelahiran kajian makrolinguistik, di antaranya Psikolinguisti. Chomsky menyatakan bahwa <em>competency</em> bukan sekedar <em>langue</em> (konstruksi teoretis bahasa)<em>, </em>melainkan kemampuan bahasa yang tersimpan dalam otak. Untuk mengimplementasikan kemampuan ini dilakukan kegiatan <em>performance</em> yang merupakan representasi dari kemampuan penggunaan bahasa.</p>
<p>Upaya Chomsky ini mendapat masukan dari Dell Hymes. Dell Hymes menyatakan bahwa tidak cukup seorang pengguna bahasa melalui <em>competency</em> dan <em>performance</em>, tetapi juga harus mengetahui <em>context of situation. </em>Konteks ini terjadi melalui <em>psychological mechanism</em> yang terbangun atas <em>knowledge structures (knowledge of the world) </em>dan<em> language competency (knowledge of language).</em></p>
<p>Pernyataan Dell Hymes inilah yang menjadi cikal bakal kelahiran salah satu kajian makrolinguistik, yaitu sosiolinguistik. Berbicara tentang konteks tentu mengacu pada perihal dengan siapa, kapan, di mana, dan untuk kepentingan apa. Hal-hal inilah yang harus diperhatikan dalam melakukan tindak komunikasi. Pembicara harus tahu berbicara dengan “siapa” yang memiliki latar belakang sosio-budaya yang berbeda. Saat terjadinya pembiacaraan juga dapat menjadi penentu tindak komunikasi. Ada saat yang tepat dan ada pula saat yang tidak tepat. Tempat terjadinya pembicaraan dapat menentukan ragam/variasi bahasa yang digunakan. Unsur kepentingan juga tak kalah cermat untuk diperhatikan. Dengan maksud yang baik terkadang dapat ditanggapi orang secara keliru. Maksud yang buruk pun juga dapat ditanggapi orang secara baik. Sekali lagi, faktor kepentingan juga memegang peranan dalam tindak komunikatif.</p>
<p>Duo ilmuwan Edward Sapir dan Benjamin Lee Whorf mendikotomikan bahasa dari sisi yang lain. Kedua imuwan ini memandang dari segi perbedaan bahasa dan falsafah antarbudaya. Dikotomi yang dimaksud adalah relativitas dan determinasi linguistik. Teori relativitas linguistik menyatakan bahwa tiap-tiap budaya akan menafsirkan dunia dengan cara yang berbeda-beda. Perbedaan ini terkodekan dalam bahasa. Istilah “relativitas” merujuk pada ide bahwa tidak ada cara yang mutlak atau “alami” untuk memberikan label pada referen-referen yang diwujudkan dalam rangkaian bunyi. Teori determinasi linguistik menyatakan bahwa bukan hanya persepsi pemakai bahasa terhadap dunia yang memengaruhi bahasa pemakai, melainkan juga bahwa bahasa yang digunakan dapat memengaruhi cara berpikir secara sangat mendalam.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>B.      </strong><strong>Telaah Kritis</strong></p>
<p>Kajian <em>Bahasa, Pikiran, dan Representasi</em> yang dilakukan oleh Ishtla Singh dalam buku <em>Bahasa, Masyarakat, dan Kekuasaan </em>berpijak pada teori dasar yang dilakukan oleh Ferdinand de Saussure, Noam Chomsky, dan duo ilmuwan Erdward Sapir dan Benjamin Lee Whorf. Teori-teori ini memang sebagai landasan pokok dalam membahas <em>knowledge</em> dan <em>implication. </em>Dikotomi <em>langue</em> dan <em>parole</em> Ferdinand de Saussure<em>, competency</em> dan <em>performance</em> Noam Chomsky, serta relativitas dan determinasi linguistik Sapir-Whorf merupakan dua sisi yang berkaitan antara pengetahuan dan penggunaannya atau disebut Carole Swain (1980) maupun Hymes (1972, 1974) sebagai <em>knowledge of competency in language</em> dan <em>the capacity of implementing or using this competence.</em></p>
<p>Masukan-masukan Dell Hymes atas teori Chomsky tentang <em>context of situasion </em>belum sempat tersentuh. Dilihat dari hakikatnya pengetahuan konteks sangat diperlukan dalam implementasi bahasa. Oleh karena itu, konteks tidak dapat dipisahkan dalam implementasi bahasa dan butuh pengetahuan tersendiri.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>C.      </strong><strong>Daftar Rujukan </strong></p>
<p>Chaer, Abdul. 1994. <em>Linguistik Umum</em>. Jakarta: Rineka Cipta.</p>
<p>Othman, Arbak dan Ahmad Mahmod Musanif. 2005. <em>Pengantar Linguistik Umum.</em> Karyanet</p>
<p>Syukur, Ghazali. 2009. <em>Kemampuan Berbahasa</em>. (Slide presentasi perkualiahan PPS UM)</p>
<p>Thomas, Linda dan Shan Wareing. Ibrahim, Abdul Syukur (ed). 1999. <em>Bahasa, Masyarakat, dan Kekuasaan</em>. Yogyakarta:  Pustaka Pelajar</p>
<p><strong> </strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kataberkata.com/?feed=rss2&#038;p=253</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bahasa dan Peranannya</title>
		<link>http://kataberkata.com/?p=251</link>
		<comments>http://kataberkata.com/?p=251#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Nov 2011 09:43:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasan Bahasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?p=251</guid>
		<description><![CDATA[A.      Deskripsi Masyarakat dalam menggunakan bahasa harus memiliki pengetahuan tentang bahasa. Pengetahuan ini berupa sistem bahasa dan konteks. Bahasa merupakan sebuah sistem. Sistem artinya cara atau aturan. Sebagai sebuah sistem bahasa itu sekaligus bersifat sistematis dan sistemis. Sistematis artinya bahasa tersusun menurut suatu pola, tidak tersusun secara acak secara sembarangan. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>A.      </strong><strong>Deskripsi</strong></p>
<p>Masyarakat dalam menggunakan bahasa harus memiliki pengetahuan tentang bahasa. Pengetahuan ini berupa sistem bahasa dan konteks. Bahasa merupakan sebuah sistem. Sistem artinya cara atau aturan. Sebagai sebuah sistem bahasa itu sekaligus bersifat sistematis dan sistemis. Sistematis artinya bahasa tersusun menurut suatu pola, tidak tersusun secara acak secara sembarangan. Sistemis artinya bahasa itu bukan merupakan sistem tunggal tetapi terdiri juga dari sub-sub sistem atau sistem bawahan. Bahasa terdiri dari unsur-unsur atau komponen-komponen yang secara teratur tersusun menurut pola tertentu dan membentuk suatu kesatuan. Jenjang subsistem dalam linguistik dikenal dengan nama tataran linguistik atau tataran bahasa. Kajian linguistik dibagi dalam beberapa tataran yaitu tataran fonologi, tataran morfologi, tataran sintaksis, tataran semantik, dan tataran leksikon.</p>
<p>Kajian linguistik dapat dikotomikan menjadi dua, yaitu kajian mikrolinguistik meliputi teori linguistik, linguistik deskriptif, dan linguistik historis komparatif, sedangkan kajian makrolinguistik fonetik terapan, meliputi bidang interdisipliner (fonetik, stilistika, filsafat bahasa, psikolinguistik, sosiolinguistik, etnolinguistik, semiotika, dll.) dan bidang terapan (pengajaran bahasa, penerjemahan, mekanolinguistik, pembinaan bahasa khusus, dll.).</p>
<p>Masyarakat, khususnya individu sebagai pengguna bahasa harus memiliki pengetahuan terhadap konteks penggunaan bahasa. Konteks ini meliputi <em>knowledge of the world</em> yang berupa <em>knowledge structures</em>, yaitu struktur pengetahuan tentang kehidupan dan <em>knowledge of language</em> yang berupa <em>language competency.</em></p>
<p>Jika pengetahuan tentang kaidah-kaidah bahasa dapat dipahami disertai konteksnya, bahasa dapat digunakan oleh pemakai bahasa yang tergabung dalam masyarakat bahasa. Masyarakat ini sangat berpotensi dalam melakukan perubahan makna atau menciptakan makna baru.</p>
<p>Bahasa memiliki berbagai fungsi.  Munif (2008) menyatakan bahwa Finocchiaro (1974) telah membagi fungsi bahasa menjadi 6 (enam), yaitu (1) fungsi personal, yaitu bahasa digunakan untuk mengekspresikan emosi, kebutuhan kebutuhan, , pikiran, sikap seseorang seseorang, (2) fungsi interpersonal, yaitu bahasa digunakan untuk memelihara relasi relasi-relasi sosial sosial. Contoh sapaan, ucapan selamat , dll. (3) fungsi direktif, yaitu bahasa bisa digunakan untuk mengontrol perilaku orang lain dalam bentuk nasihat, , perintah, ajakan, diskusi, dll. (4) fungsi referensial, yaitu bahasa digunakan untuk membicarakan objek atau kejadian dalam lingkungan atau budaya tertentu tertentu, (5) fungsi imaginatif, yaitu bahasa digunakan untuk melahirkan karya sastra yang berbasis pada kekuatan imaginasi imaginasi. Contoh novel, puisi, cerpen, dll. Lebih lanjut dijelaskan bahwa menurut Halliday fungsi bahasa dibagai menjadi 9 (sembilan), yaitu (1) fungsi instrumental, “<em>I want function</em>”, bahasa digunakan untuk memanipulasi dan mengontrol lingkungan, (2)fungsi regulatori: “<em>Do as I tell you function</em>”; bahasa digunakan untuk memberikan instruksi dan aturan, (3) fungsi interaksional; “<em>Me and you function”; b</em>ahasa digunakan untuk menentukan dan mengkonsolidasi kelompok, (4) fungsi personal, (5) fungsi heuristic, “<em>Tell me why function</em>”; bahasa sebagai alat untuk mempelajari sesuatu, (6) fungsi imaginatif, (7) fungsi informatif; bahasa digunakan untuk menjelaskan dunia nyata, (8) fungsi permainan, dan (9) fungsi ritual.</p>
<p>Untuk mengenali apa itu bahasa atau bukan dapat dilihat melalui karakter bahasa. Banyak para ahli merumuskan karakter-karakter bahasa. Karakter-karakter ini adalah (1) bahasa merupakan seperangkat bunyi, (2) hubungan antara bunyi bahasa dan objek referensinya, (3) bersifat arbitrer, (4) bahasa itu bersistem, (5) bahasa adalah seperangkat lambang, dan (6) bahasa bersifat sempurna (Archibal A Hill dalam Munif, 1998)</p>
<p>Widyartono (2008) menjelaskan bahwa penggunaan bahasa Indonesia diatur melalui politik bahasa nasional. Kedudukan bahasa Indonesia dituangkan dalam Sumpah Pemuda dan Undang-Undang Dasar 1945. Sumpah Pemuda 1928 berisi pengakuan bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa nasional. Undang-undang Dasar 1945 Bab XV Pasal 36  menyatakan bahwa ”Bahasa Negara ialah Bahasa Indonesia”. Sumpah Pemuda 1928 dan Undang-Undang Dasar 1945 memberikan dasar yang kuat bagi pemakaian bahasa Indonesia.</p>
<p>Mengacu pada kedudukan bahasa yang tertuang dalam Sumpah Pemuda 1928, bahasa Indonesia berfungsi sebagai bahasa nasional. Melalui fungsi inilah, bahasa Indonesia menjelma sebagai (1) identitas nasional, (2) lambang kebanggaan nasional, (3) bahasa pemersatu seluruh bangsa Indonesia, dan (4) sarana untuk untuk memelihara, menumbuhkan, mengembangkan, dan melestarikan kebudayaan nasional (dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia).</p>
<p>Lebih lanjut, dijelaskan bahwa selain dalam peristiwa Sumpah Pemuda, kedudukan bahasa Indonesia diperkokoh dengan UUD 1945 sebagai bahasa resmi negara. Fungsi sebagai bahasa resmi negara meliputi (1) sebagai bahasa penyelenggaraan pemerintahan dan administrasi negara, (2) sebagai bahasa komunikasi bagi seluruh warga negara Indonesia, (3) sebagai bahasa pengantar untuk pendidikan dan pengajaran, dan (4) sebagai bahasa pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.</p>
<p>Melalui Undang-Undang 1945 bahasa Indonesia memiliki fungsi politik bahasa nasional. Fungsi politik ini dapat digunakan sebagai  perencanaan serta pengembangan bahasa nasional, meliputi a) fungsi dan kedudukan bahasa nasional dibandingkan dengan bahasa-bahasa lain, b) penentuan ciri-ciri bahasa Indonesia baku, c) tata cara pembakuan dan pengembangan bahasa nasional, d) pengembangan pengajaran bahasa nasional pada semua jenis dan tingkah lembaga pendidikan, mulai dari tingkat sekolah dasar sampai tingkat perguruan tinggi (KBBI).</p>
<p>Melalui fungsi politik di atas, bahasa Indonesia diharapkan menjadi alat komunikasi antardaerah, antarbudaya, antargeografi dalam kesatuan wilayah NKRI. Oleh karena itu, sangat diperlukan pembakuan bahasa Indonesia yang berfungsi sebagai alat pemersatu, berkarakteristik tertentu, berwibawa, dan sebagai acuan bersama. Fungsi pembakuan ini penting untuk mengawal pembakuan bahasa Indonesia dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern yang secara tidak langsung memengaruhi perkembangan bahasa Indonesia. Pertambahan kosakata baru muncul dari pengaruh bahasa asing negara maju. Warga negara Indonesia diharapkan tidak bergantung sepenuhnya pada bahasa-bahasa asing. Oleh karena itu, siapa lagi yang akan menjaga bahasa Indonesia kalau bukan warga negara Indonesia sendiri.</p>
<p>Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005) disebutkan bahwa keanekaragaman penduduk Indonesia dengan berbagai bahasa, daerah, dan budaya menumbuhkan banyak varian pemakaian bahasa. Varian bahasa yang berbeda-beda menurut pemakai yang berasal dari daerah tertentu/kelompok sosial/waktu kurun tertentu disebut dialek.</p>
<p>Berdasarkan pengertian dialek di atas, ragam bahasa ditinjau dari kelompok penuturannya dapat dibedakan menjadi 4 (empat), yaitu a) <em>dialek regional</em>, ragam bahasa yang digunakan di daerah tertentu sehingga membedakan dengan ragam bahasa yang dipakai di daerah lain, misalnya <a title="Bahasa Melayu" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Melayu">bahasa Melayu</a> dialek <a title="Ambon" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ambon">Ambon</a>, dialek <a title="Jakarta" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jakarta">Jakarta</a> (<a title="Betawi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Betawi">Betawi</a>), atau bahasa Melayu dialek <a title="Medan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Medan">Medan</a>, b) <em>dialek sosial</em>, yaitu dialek yang digunakan oleh kelompok masyarakat tertentu atau yang menandai tingkat masyarakat tertentu, misalnya dialek wanita dan dialek remaja, c) <em>dialek temporal</em>, yaitu dialek yang digunakan pada kurun waktu tertentu, misalkan contohnya dialek Melayu zaman <a title="Sriwijaya" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sriwijaya">Sriwijaya</a> dan dialek Melayu zaman Abdullah, d) <em>idiolek</em>, yaitu keseluruhan ciri bahasa seseorang.</p>
<p>Meskipun bahasa yang dipakai bahasa Indonesia, tentu tiap individu memiliki dikotomi Noam Chomsky, yaitu kompetensi dan performansi yang berbeda.  Kompetensi kebahasaan tiap individu berbeda. Karena perbedaan kompetensi ini tiap individu tentu memiliki performansi tata bahasa yang berbeda. Hal ini juga berlaku pada pembentukan artikulator tiap indvidu yang memengaruhi pelafalan dalam berbicara. Begitu juga dengan jumlah perbendaharaan kata tiap individu yang sangat berpengaruh terhadap pemilihan kata (diksi) baik dalam menulis maupun berbicara.</p>
<p>Ditinjau dari media penyampaiannya, ragam bahasa dapat dikotomikan menjadi dua, yaitu ragam lisan dan ragam tulis. Ragam lisan meliputi ragam percakapan, ragam <a title="Pidato" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pidato">pidato</a>, ragam kuliah, dan ragam panggung, sedangkan ragam tulis meliputi ragam teknis, ragam undang-undang, ragam catatan, dan ragam surat-menyurat.</p>
<p>Widyartono (2008) menyatakan bahwa ditinjau dari penggunaannya, ragam bahasa dapat dipilah menjadi empat, yaitu</p>
<ol>
<li> <em>ragam beku</em> digunakan dalam khutbah Jum’at, naskah kesejarahan misalnya misalnya teks Proklamasi, Piagam Jakarta, Sumpah Pemuda, Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, dll.</li>
<li><em>ragam formal </em>digunakan dalam situasi formal, misalnya pidato kenegaraan, pidato kepala pemerintahan, sambutan resmi, dll.</li>
<li><em>ragam semiformal </em>digunakan dalam situasi yang semiformal. Situasi ini misalkan dapat ditemukan dalam pengajaran yang menuntut aksi-reaksi dosen/guru dengan mahasiswa/siswa. Dalam situasi pengajaran seorang dosen/guru kurang tepat jika menggunakan ragam bahasa baku.</li>
<li><em>ragam santai</em> digunakan antarteman/saudara dalam situasi yang santai, akrab, hangat, antarteman, sesama anggota keluarga, bukan dalam situasi yang formal.</li>
</ol>
<p>Menurut Imam Syafi’i (2009) bahwa ragam bahasa dapat dibedakan menjadi lima, yaitu ragam beku, ragam baku, ragam formal, ragam kasual, ragam sehari-hari. Masyarakat dalam menggunakan bahasa dilandasi oleh kepentingan. Kepentingan ini dilakukan untuk memperoleh kekuasaan melalui politik dalam menggunakan bahasa. Bahasan ini akan dibahas lebih detil dalam bab bahasa dan politik.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>B.      </strong><strong>Telaah Kritis</strong></p>
<p>Shan Wareing dalam buku <em>Bahasa, Masyarakat, dan Kekuasaan</em> ini tidak melakukan kajian terhadap hakikat bahasa secara utuh. Kajian yang dilakukan hanya melihat bahasa sebagai sistem. Walaupun fokus kajian hanya mengkorelasikan bahasa, masyarakat, dan kekuasaan tetap dipandang perlu untuk menghadirkan karakter-karakter yang lain.</p>
<p>Fungsi bahasa hanya dijelaskan secara umum. Untuk mengetahui peranan bahasa dipandang perlu untuk menjelaskan fungsi-fungsi bahasa. Melalui fungsi-fungsi ini dapat diperoleh gambaran tentang peranan bahasa. Sebagai pengantar, fokus kajian hanya berdasarkan fungsi referensi yang mengacu pada sesuatu dan fungsi afektif yang mengacu pada siapa yang berhak mengatakan apa, di mana. Hal ini erat kaitannya dengan kekuasaan dan status sosial. Fokus kajian ini tidak berdampak negatif karena kajian yang akandilakukan lebih fokus terkait hubungan bahasa dan peranannya di masyarakat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>C.      </strong><strong>Daftar Rujukan</strong></p>
<p>Chaer, Abdul. 1994. <em>Linguistik Umum</em>. Jakarta: Rineka Cipta.</p>
<p>Munif. 2008. <em>Bahasa: Pengertian, Karakteristik, dan Fungsinya</em>. (Slide Presentasi).</p>
<p>Syafi’i Imam. 2009. <em>Problematika Pembelajaran Bahasa Indonesia. </em>Ceramah Perkuliahan Magister Pendidikan Bahasa Indonesia. Malang: PPS UM</p>
<p>Tim Penyusun dari Depdiknas. 2005. <em>Kamus Besar Bahasa Indonesia.</em> Jakarta: Balai Pustaka</p>
<p>Thomas, Linda dan Shan Wareing. Ibrahim, Abdul Syukur (ed). 1999. <em>Bahasa, Masyarakat, dan Kekuasaan</em>. Yogyakarta:  Pustaka Pelajar</p>
<p>Widyartono, D. 2008. <em>Bahasa Indonesia untuk Penulisan Karya Ilmiah</em>. Handout. Malang: Indus Nesus Private</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kataberkata.com/?feed=rss2&#038;p=251</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pragmatik: Konsep di Luar Berbagai Disiplin Ilmu</title>
		<link>http://kataberkata.com/?p=247</link>
		<comments>http://kataberkata.com/?p=247#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Nov 2011 09:37:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasan Bahasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?p=247</guid>
		<description><![CDATA[ Kajian pragmatik multidispliner dapat dipastikan dengan tindakan penyelidikan disipliner mellaui rangkaian-rangkaian gagasan. Pragmatik bukan lagi seperti konseptual dan definisional pada tahun-tahun pembentukannya. Persoalan konseptual dan definisional pragmatik sudah semakin berkembang. Pragmatik telah mengalami internalisasi ke dalam kecenderungan kognitif, kecenderungan kemasyarakatan, dan sebagainya (Marmaridou, 2001).  Disiplin filsafat, psikologi, inteligensi artifisial, dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong>Kajian pragmatik multidispliner dapat dipastikan dengan tindakan penyelidikan disipliner mellaui rangkaian-rangkaian gagasan. Pragmatik bukan lagi seperti konseptual dan definisional pada tahun-tahun pembentukannya. Persoalan konseptual dan definisional pragmatik sudah semakin berkembang. Pragmatik telah mengalami internalisasi ke dalam kecenderungan kognitif, kecenderungan kemasyarakatan, dan sebagainya (Marmaridou, 2001).  Disiplin filsafat, psikologi, inteligensi artifisial, dan patologi bahasa menambah khazanah terhadap fenomena pragmatik. Berbagai fenomena pragmatik dapat diuraikan misalnya pembahasan filsafat misalnya tentang struktur dan fungsi pikiran. Analisis tindak tutur bahasa juga telah diuraikan oleh ahli teori sosial yang terkenal, Jurgen Habermas. Berbagai titik temu atas penelitian ntopik-topik disiplin pragmatik dengan disiplin lain banyak dikaji oleh Cummings (1999).</p>
<p>Untuk membahas hubungan lebih lanjut konsep pragmatik di luas disiplin ilmu dapat dilakukan penyelidikan secara mendalam. Hubungan filsafat, psikologi, inteligensi artifisial dan patologi bahasa dengan pragmatik diuraikan Cummings (1999). Pandangan-pandangan Hilary Putnam untuk mengkritik Sperber dan Wilson bersifat sangat kritis. Pembahasan filsafat dan psikologis menunjukkan bentuk penalaran yang terlibat dalam penemuan kembali implikatur. Disiplin filsafat memiliki hubungan paling panjang dengan pragmatik. Dorongan konseptual awal bagi ragmatik diberikan oleh refleksi-refleksi filsafat tentang makna, dan khususnya oleh ungkapan –ungkapan ketidakpuasan filsafat dengan berbagai penjelasan semantis terhadap gagasan ini.karakter kedua disiplin ini mengabaikan banyak cara. Filsafat dapat terus membentuk dan memengaruhi pragmatik.</p>
<p>Hubungan pragmatik dengan disiplin ilmu psikologi juga tampak. Para ahli pragmatik sering menggunakan gagasan psikologi. Sejumlah tugas kognitif harus diselidiki pada filsuf untuk mengtahui tipe-tipe pengetahuan yang berbeda. Spelber&amp;Wilson merupakan ahli teori kognisi dan komunikasi dari psikologi kognitif. Konteks implikatur diperoleh bukan diberikan tetapi diciptakan. Hal ini merupakan pernyataan utama teori relevansi. Cruse (2000) berkomentar bahwa konteks yang benar</p>
<p>untuk menginterpretasikan ujaran tidak diberikan sebelumnya, melainkan pendengar memilih konteks dengan sendirinya. Sperber dan Wilson (dalam Cummings, 1999) menyatakan bahwa penemuan kembali implikatur menggunakan inferensi nondemonstratif. Komponen relevansi sangat bergantung pada proses kognitif. Relevansi sangat penting sebagai upaya penuntut komunikasi. Peran pengetahuan kognisi diharapkan mampu untuk mengkonfirmasi hipotesis dalam percakapan. Teori relevansi Sperber dan Wilson pada dasarnya merupakan kritik terhadap empat maksim yang terdapat dalam prinsip kerja sama Grice. Grice (dalam Rahardi, 2005) menyatakan prinsip kerja sama  mencakup maksim kuantitas, maksim kualitas, maksim relevansi, dan maksim pelaksanaan. Sebagai bandingan, Leech (1983) menyatakan prinsip kesantunan mencakup maksim kebijaksanaan, maksim kedermawanan, maksim penghargaan, maksim permufakatan, maksim kesimpatisan. Nadar (2008), menyatakan bahwa Leech (1983) dan Wijana (1996) menyatakan interaksi percakapan tidak hanya dengan prinsip kerja sama, melainkan juga prinsip kesopanan dengan sejumlah maksim, yaitu (1) maksim kebijaksanaan, (2) maksim penerimaan, (3) maksim kemurahan, dan (4) maksim kerendahan hati.</p>
<p>Realitas klaim psikologi pada fenomena pragmatik dan teori pragmatik. Psikologi dapat digunakan untuk mengetes fenomena pragmatik. Fenomena-fenomena pragmatik seperti tindak tutur, konteks, pengetahuan pendengar, maksim-maksim &amp; implikatur percakapan, inferensi, pengetahuan, makna nonharfiah, deiksis, dan analisis percakapan dan wacana mengalami dinamika dalam kajian linguistik klinis.</p>
<p>Pengetahuan dapat diterapkan dalam kegiatan tindak interpretasi pragmatik. Peran pengetahuan sangat penting dalam interpretasi pragmatika antara penutur dan pendengar. Pesan linguistik yang tidak jelas  dapat diinterpretasikan dengan pengetahuan yang dimiliki. Inteligensi artifisial mampu menganalisis konsep-konsep pengetahuan dan sekaligus memberi kontribusi unik pada pragmatik.</p>
<p>Terkait patologi bahasa agaknya para ahli pragmatik enggan pada kajian klinis. Kajian klinis ini memberikan konstribusi kognisi dan bahasa struktural terhadap pragmatik. Kesadaran menghasilkan literatur klinis yang penting tentang sifat dan berbagai konsekuensi gangguan pragmatik. Gangguan-gangguan ini merupakan kendala besar karena dapat menghalangi komunikasi yang efektif. Kendala ini berupa proses-proses pragmatik yang mengalami gangguan atau pengetahuan pragmatik tidak diperoleh secara normal. Secara umum gangguan ini terjadi pada kondisi-kondisi medis, misalnya aphasia pad aorang dewasa yang mengalami stroke atau seperti gangguan semantik pragmatik pada anak-anak. Pada gangguan-gangguan tertentu pragmatik terpengaruh di sepanjang tingkatan-tingkatan struktural bahasa (fonologi, sintaksis, dan semantik).</p>
<p>Hubungan pragmatik dengan disiplin lain tampak dari kontribusi yang diberikan disiplin lain pada kajian pragmatik. Untuk mengetahui lebih dalam, masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk menghasilkan dugaan penelitian muiltisipliner secara lengkap. Misalnya interaksi pragmatik dalam disiplin lanjut, khususnya antropologi kultural. Pragmatik hanya dapat membahas sebagian kecil topik multidisipliner. Pada filsafat dan bidang lain tak banyak yang membahas praanggapan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><br clear="all" /> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Daftar Rujukan</strong></p>
<p>Cummings, Louise. 1999. Pragmatics, A Mutidicplinary Perspective. New York: Oxford University Press. Terjemahan. Ibrahim, Abdul Syukur (editor). 2007. <em>Pragmatik: Sebuah Prespektif Multidispliner.</em> Yogyakarta: Pustaka Pelajar</p>
<p>Marmaridou, Sophia S. A. 2000. <em>Pragmatic Meaning and Cognition. </em>Amsterdam: John Benjamins</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kataberkata.com/?feed=rss2&#038;p=247</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Patologi Bahasa</title>
		<link>http://kataberkata.com/?p=245</link>
		<comments>http://kataberkata.com/?p=245#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Nov 2011 09:36:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasan Bahasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?p=245</guid>
		<description><![CDATA[ Apabila pragmatik tidak berfungsi dengan benar dapat menyebabkan gangguan bahasa pada anak dan orang dewasa. Gangguan-gangguan ini merupakan kendala besar karena dapat menghalangi komunikasi yang efektif. Kendala ini berupa proses-proses pragmatik yang mengalami gangguan atau pengetahuan pragmatik tidak diperoleh secara normal. Secara umum gangguan ini terjadi pada kondisi-kondisi medis, misalnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong>Apabila pragmatik tidak berfungsi dengan benar dapat menyebabkan gangguan bahasa pada anak dan orang dewasa. Gangguan-gangguan ini merupakan kendala besar karena dapat menghalangi komunikasi yang efektif. Kendala ini berupa proses-proses pragmatik yang mengalami gangguan atau pengetahuan pragmatik tidak diperoleh secara normal. Secara umum gangguan ini terjadi pada kondisi-kondisi medis, misalnya aphasia pad aorang dewasa yang mengalami stroke atau seperti gangguan semantik pragmatik pada anak-anak. Pada gangguan-gangguan tertentu pragmatik terpengaruh di sepanjang tingkatan-tingkatan struktural bahasa (fonologi, sintaksis, dan semantik).</p>
<p>Pragmatik bukan lagi seperti konseptual dan definisional pada tahun-tahun pembentukannya. Persoalan konseptual dan definisional pragmatik sudah semakin berkembang. Pragmatik telah mengalami internalisasi ke dalam kecenderungan kognitif, kecenderungan kemasyarakatan, dan sebagainya (Marmaridou, 2001). Para ahli linguistik klinis menggunakan istilah pragmatik dengan cara yang canggih. Banyak kajian-kajian yang menerapkan teori dan kerangka dengan berbagai pendekatan khusus pragmatik untuk mendiagnosis gangguan-gangguan bahasa (Dipper, 1997). Kerangka teori relevansi dalam pragmatik kognitif Spelber &amp; Wilson diadopsi untuk penelitian kerusakan belahan otak kanan pada orang dewasa. Ada dua hal penting literatur linguistik klinis tentang gangguan pragmatik (Cummings, 1999), yaitu (1) literatur linguistik klinis benar-benar bersifat komprehensif, tiap konsep dan proses pragmatik pada tingkat tertentu tidak terlepas dari kajian-kajian linguistik klinis, dan (2) gambaran klinis yang muncul lebih rumit. Persoalan pragmatik dapat bersifat khusus karena satu proses atau fungsi pragmatik tertentu dapat mengesampingkan fungsi-fungsi yang lain.</p>
<p>Fenomena-fenomena pragmatik seperti tindak tutur, konteks, pengetahuan pendengar, maksim-maksim &amp; implikatur percakapan, inferensi, pengetahuan, makna nonharfiah, deiksis, dan analisis percakapan dan wacana mengalami dinamika dalam kajian linguistik klinis.</p>
<ol>
<li>tindak tutur,merupakan fenomena pragmatik yang menonjol. Penggunaan dan pemahaman linguistik pragmatik diselidiki dalam kondisi-kondisi klinis dengan cara sama beragamnya seperti autisme, ketidakmampuan belajar, penyakit Alzheimer, cedera kepala tertutup, dan kerusakah belahan otak kiri. Produksi tindak tutur merupakan indikator terjadi gangguan fungsi pragmatik.</li>
<li>konteks, indikator yang lain dapat berupa konteks, terkait penggunaan konteks oleh penderita gangguan bahasa</li>
<li>pengetahuan, pengetahuan pendengar terkait banyaknya  gangguan pragmatik dan bahasa yang membawa pengaruh pada pendengaran</li>
<li>maksim &amp; implikatur percakapan, terakit dengan kemampuan subjek penuhi kebutuhan dan juga bergantung maksim cara</li>
<li>inferensi, inferensi yang sama beragamnya dengan fenomena pragmatik lain karena berbasis bahasa dan pengetahuan dunia</li>
<li>pengetahuan, terjadinya gangguan bahasa terkait defisit pengetahuan</li>
<li>makna nonharfiah, makna ini dapat digunakan sebagai tes interpretasikan idiom untuk kerusakan otak kiri/kanan</li>
<li>deiksis, termasuk konsep pragmatik, deiksis masuk dalam tes formal komunikasi fungsional,</li>
<li>analisis percakapan dan wacana, untuk melihat kemampuan percakapan pada penderita aphasia</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>Seperti yang dijelaskan sebelumnya, kendala gangguan bahasa dapat berupa proses-proses pragmatik yang mengalami gangguan atau pengetahuan pragmatik tidak diperoleh secara normal . Gangguan pragmatik dapat berupa gangguan perkembangan bahasa, autisme, ketidakmampuan belajar, kerusakan otak belahan kiri, kerusakan otak belahan kanan, cedera kepala tertutup, penyakit Alzheimer, dan Schizofrenia. Gangguan-gangguan ini sangat beragam dan tidak dapat dikatakan dengan satu penyebab.</p>
<ol>
<li>Gangguan perkembangan bahasa dapat terjadi terjadi pada anak, misalnya gangguan semantik pragmatik</li>
<li>Autisme, merupakan gangguan paling heboh linguistik klinis, gangguan ini terkait dengan perkembangan bahasa terlambat dan menyimpang</li>
<li>Ketidakmampuan belajar, dalam hal ini dapat digolongkan kategori kelompok ketelambatan mental, mengalami kesulitan belajar, dan alami <em>syndroma</em> <em>down</em></li>
<li>Kerusakan otak belahan kiri, disebut aphasia/disaphasia, penyebanya antara lain stroke, tumor otak, infeksi, luka otak traumatik, dimentia (Alzheimer)</li>
<li>Kerusakan otak belahan kanan, merupakan gangguan bahasa pada otak kiri dan menyebabkan defisit pengetahuan di otak kanan, memengaruhi perhatian, memori, organisasi, penalaran, dll.</li>
<li>Cedera kepala tertutup, merupakan tipe luka otak traumatik, dapat terjadi karena benturan, dapat menyebabkan defisit komunikasi</li>
<li>Penyakit Alzheimer, penyebab penyakit ini belum bisa ditetapkan, namun ada kecenderungan penyebab faktor genetik, kurangnya koherensi, respon kabur, tidak relevan, dll.</li>
<li>Schizofrenia, mengalami kerusakan bahasa, gangguan pada otak sebelah kiri, kerusakan sifat morfemis sintaksis</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>Berbicara tentang perbedaan pragmatik, dapat dibenangmerahkan bahwa kerusakan otak dapat menyebabkan gangguan bahasa. Namun sayangnya, kalangan ahli pragmatik masih merasa enggan mengkaji linguistik klinis ini (Cumming, 1999). Menurut Cummings bahwa ada hubungan bahasa dan kognisi dan juga adanya hubungan bahasa struktural dan pragmatik.</p>
<p>Penanganan gangguan bahasa salah satunya dapat ditindah dengan <em>Pure Dysphatic</em> <em>Development </em>(van Tiel, tanpa tahun). PDD sebenarnya bukanlah suatu diagnosa, tetapi terminologi yang digunakan bagi sekumpulan gejala atau syndrom dari <em>bentuk  speech and  language disorder</em> yang nampak secara klinis beberapa saat dalam suatu perkembangan seorang  anak  sehingga perkembangan itu terlihat tidak normal.  Maksudnya bahwa  gejala-gejala yang ditampilkan itu tidak akan terdapat pada seorang anak yang normal. Dikatakan bukan diagnosa, karena gangguan perkembangan berbahasa dan bicara adalah suatu gejala ikutan dari suatu kondisi lain yang menjadi diagnosanya.</p>
<p><em>  Pure Dysphatic Development</em> juga berbeda dengan term  <em>dysphasia</em>.  Dysphasia sendiri diambil dari istilah  aphasia.  Aphasia  adalah keadaan dimana seseorang mengalami gangguan kehilangan kemampuan bicara yang disebabkan karena <em>traumatic</em> <em>brain</em> <em>injury</em> atau  <em>cerebral</em> <em>palsy</em> akibat  kecelakaan, tumor, dan pendarahan otak.  Dysphasia adalah bentuk ringan dari  aphasia.  Namun aphasia/dysphasia adalah kondisi yang patologis yang disebabkan karena adanya <em>brain injury</em>, sedang dalam <em>dysphatic development</em> tidak ditemui adanya kondisi yang patologis pada otak yang disebabkan karena  brain injury. Kondisi <em>dysphatic</em> disebabkan perkembangan neurologis yang tidak seperti biasanya, lebih kearah karena genetik,  karena itu digunakan istilah  <em>pure  dysphatic</em>  <em>development</em> (Nyiokiktjien: 1989 dalam van Tiel, tanpa tahun).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Daftar Rujukan</strong></p>
<p>Cummings, Louise. 1999. Pragmatics, A Mutidicplinary Perspective. New York: Oxford University Press. Terjemahan. Ibrahim, Abdul Syukur (editor). 2007. <em>Pragmatik: Sebuah Prespektif Multidispliner.</em> Yogyakarta: Pustaka Pelajar</p>
<p>Dipper, Lucy T, dkk. 1997. <em>Bridging Inference and Relevance Theory: An Account of Right Hemisphere Damage. </em>Clinical Linguistics and Phinetics.</p>
<p>Marmaridou, Sophia S. A. 2000. <em>Pragmatic Meaning and Cognition. </em>Amsterdam: John Benjamins</p>
<p>van Tiel, Julia Maria. Tanpa tahun.<em> Gangguan Perkembangan Bahasa dan Bicara dan Menanganinya pada Pure Dysphatic Development. </em>(ditulis untuk milis anakberbakat@yahoogroups.com)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kataberkata.com/?feed=rss2&#038;p=245</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Inteligensia Artifisial</title>
		<link>http://kataberkata.com/?p=242</link>
		<comments>http://kataberkata.com/?p=242#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Nov 2011 09:36:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasan Bahasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?p=242</guid>
		<description><![CDATA[ Artificial Intelligence (AI) didefinisikan sebagai kecerdasan yang ditunjukkan oleh buatan (non-alami,buatan manusia) entitas. AI membentuk cabang yang sangat penting dari ilmu komputer, berhubungan dengan cerdas perilaku dalam mesin. Ketika sebuah sistem AI diwujudkan dalam kerja lingkungan dan berinteraksi dengan dan belajar dari itu, ia menjadi dikenal sebagai Intelligent Agent (IA) [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong><em>Artificial Intelligence</em> (AI) didefinisikan sebagai kecerdasan yang ditunjukkan oleh buatan (non-alami,buatan manusia) entitas. AI membentuk cabang yang sangat penting dari ilmu komputer, berhubungan dengan cerdas perilaku dalam mesin. Ketika sebuah sistem AI diwujudkan dalam kerja lingkungan dan berinteraksi dengan dan belajar dari itu, ia menjadi dikenal sebagai Intelligent Agent (IA) (wikipedia, 2009).</p>
<p align="center"><a href="http://kataberkata.com/wp-content/uploads/2011/11/Picture1.png"><img class="aligncenter size-full wp-image-243" title="Picture1" src="http://kataberkata.com/wp-content/uploads/2011/11/Picture1.png" alt="" width="244" height="226" /></a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sementara itu, situs sansteknologi.blogspot.com mendefinisikan bahwa kecerdasan artifisial (<em>Artificial Intelligent</em> &#8211; AI) merupakan cabang dari ilmu komputer yang membuat agar komputer menjadi lebih cerdas, dapat melakukan pekerjaan seperti dan sebaik yang pada saat ini dilakukan oleh manusia. Agar komputer dapat melakukan hal itu maka komputer harus diberi pengetahuan dan kemampuan menalar.</p>
<p>Cummings (1999) mengemukakan bahwa alasan mengkaji inteligensia artifisial terletak pada tujuan utama. Tujuan ini adalah untuk menstimulasikan ineteligensi manusia dengan komputer. Komputasi ineteligensi pada manusia secara lengkap belum dapat dipahami, bahkan disiplin ilmu kognitif pun juga belum mampu memahaminya. Cawsey (dalam Cummings, 1999) menyatakan bahwa inteligensi artifisial merupakan pokok pembiacaraan yang sungguh manarik karena ia bertumpang tindah dengan begitu banyak bidang pembahasan yang lain, dan bukan hanya ilmu komputer, bidang-bidang tersebut mencakup psikologi, filsafat, dan linguistik. Orientasi inteligensi artifisial tidak jauh dari pembahasan keterkaitan pragmatik dan inteligensi artifisial.</p>
<p>Posisi pragmatik dalam inteligensi artifisial berada pada posisi yang unik dan memberi pengaruh terhadap inteligensi artifisial. Hal ini dapat disimak dalam implikasi pragmatik yang memberikan model pemrosesan inteligensi artifisial dalam pemrosesan bahasa.</p>
<p>Cummings (1999) menelaah implikatur percakapan dengan tujuan dapat menetapkan ciri pragmatik interpretasi ujaran. Peran aktif pragmatik tampak pada representatif sintaksis dan representatif semantik sebuah ujaran. Dengan menggunakan kriteria pragmatik dapat menetapkan referennya. Kriteria-kriteria pragmatik yang dimaksud terdiri dari empat, yaitu</p>
<ol>
<li>representasi sintaksis dan semantik</li>
</ol>
<p>Setiap karakterisasi komputasi dari representasi harus disebarkan oleh faktor pragmatik terkait ciri konteks, pengetahuan, dan sebagainya.</p>
<ol>
<li>representasi pengetahuan</li>
</ol>
<p>Pengetahuan implisit dalam interpretasi ujaran harus memungkinkan terjadinya representasi dalam istilah komputasional. Representasi ini mengakomodasi tipi dan sejumlah pengetahuan berbeda yang terlibat dalam interpretasi ujaran.</p>
<ol>
<li>Penalaran</li>
</ol>
<p>Proses penalaran berdasar dan memperoleh implikatur dari pengetahuan yang direpresentasikannya. Sifat implikatur menunjukkan sifat proses penalaran dan dipahami tiap model komputasi proses.</p>
<ol>
<li>prinsip rasionalitas</li>
</ol>
<p>Tiap karakterisasi ikomputasi pemrosesan bahasa umumnya, interpretasi ujaran khususnya, mencakup penjelasan tentang alasan penutur berkomunikasi. Prinsip memotivasi rasionalitas ini bisa mengekang fungsi sistem komputasi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Secara mendasar, representasi sintaksis dan semantik memainkan peranan integral dalam menetapkan representasi ujaran. Representasi pengetahuan dilakukan untuk memperoleh implikatur yang sesuai dengan bantuan pengetahuan di luar proposisi. Penalaran diperlukan karena inteligensi artifisia harus mengakomodasi tuntutan model penalaran dari implikatur. Prinsip rasionalitas menyatakan agar penutur dan mitra tutur terkadang mengalami hambatan dalam memproduksi dan menginterpretasi ujaran. Hambatan ini disebabkan adanya prinsip rasionalitas.</p>
<p>Perdebatan filsuf semakin ramai terkait dengan kemungkinan inteligensi artifisial. Apakah tujuan teoretis interligensi artifisial dapat tercapai dan dapat dimengeti? Bagaimana kemungkinan mesin hitung sebagai inteligensi, kesadaran, dan sebagainya dipandang persis seperti manusia. Putnam menjawabnya dengan syarat bahwa inteligensi manusia harus utuh dengan sifat kemanusiaannya dan tidak seorang pun yang memiliki gagasan paling jauh tentang seperti apa wujud formalisasi semacam ini. Cummings (1999) juga menyatakan bahwa tidak ada seorang pun, termasuk para peneliti inteligensi artifisial yang dapat memahami, apalagi menangkap formalisasi gagasanyang paling manusiawi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Daftar Pustaka</strong></p>
<p>Cummings, Louise. 1999. Pragmatics, A Mutidicplinary Perspective. New York: Oxford University Press. Terjemahan. Ibrahim, Abdul Syukur (editor). 2007. <em>Pragmatik: Sebuah Prespektif Multidispliner.</em> Yogyakarta: Pustaka Pelajar</p>
<p>Retno, Ken Ratri. 2009. Inteligensia Artifisial. Diktat. Online. (diunduh dari</p>
<p>http://sansteknologi.blogspot.com/2009/10/diktat-artificial-intelligence-ithb.html pada 24 Oktober 2009)</p>
<p>Wikipedia 2009. <em>Inteligensia</em> <em>Artifisial</em>. <em>Online</em>. Google Translate. (diunduh dari en.wikipedia.org)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kataberkata.com/?feed=rss2&#038;p=242</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Habermas dan Pragmatik</title>
		<link>http://kataberkata.com/?p=240</link>
		<comments>http://kataberkata.com/?p=240#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Nov 2011 09:34:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasan Bahasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?p=240</guid>
		<description><![CDATA[Jürgen Habermas  dilahirkan 18 Juni 1929. Sekolah/tradisi  fokus pada filsafat kontinental . Minat utama  Habermas adalah teori sosial, teori politik, epistemologi, dan pragmatik. Gagasan pentingnya adalah tentang komunikatif rasionalitas, wacana etika, demokrasi deliberatif, pragmatik universal , tindakan komunikatif, dan sphere public (wikipedia, 2009). Cummings (1999) menyatakan bahwa keluasan pemikiran Habermas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jürgen Habermas  dilahirkan 18 Juni 1929. Sekolah/tradisi  fokus pada filsafat kontinental . Minat utama  Habermas adalah teori sosial, teori politik, epistemologi, dan pragmatik. Gagasan pentingnya adalah tentang komunikatif rasionalitas, wacana etika, demokrasi deliberatif, pragmatik universal , tindakan komunikatif, dan <em>sphere public</em> (wikipedia, 2009).</p>
<p>Cummings (1999) menyatakan bahwa keluasan pemikiran Habermas banyak tercermin dalam pragmatik. Konsepsi rasionalistik positivisme tak luput dari pemikiran Habermas. Hebermas memberikan analisis kritis terhadap teori relevansi yang diutarakan Spelber dan Wilson. Pandangan-pandangan teori argumen Perelman tercermin dalam teori konsensus kebenaran Habermas. Pragmatik universal habermas mencerminkan pendekatan metodologis Chomsky terhadap kajian bahasa. Habermas juga menggunakan analisis tindak tutur dalam mencapai tujuan teoretis sosial. Melalui pragmatik, Habermas mengadopsi metodologi yang dapat memberikan contoh sempurna tentang tema multidisipliner pragmatik.</p>
<p>Lebih lanjut, dijelaskan bahwa kajian Habermas tentang positivisme oleh Cummings  dikembangkan alasan-alasannya. Tuduhan reduksionisme ilmiah Putnam terhadap positivisme logis memberikan motivasi bahwa positivisme membatasi pengertian rasionalisme melalui kriteria logika, matematika, dan ilmiah. Identifikasi ilmu dengan pengetahuan tidak membawa bukti dalam periode munculnya positivisme. Hubungan natara pengetahuan dan minat dalam diri manusia membentuk teori kognitif Habermas. Teori ini mengadopsi pengklasifikasian proses penelitian menjadi tiga kelompok, yaitu</p>
<ol>
<li>ilmu empiris analitis, mencakup ilmu pengetahuan alam dan ilmu sosial, bertujuan memperleh pengetahuan nomologis (merumuskan dan membuktikan kebenaranhipotesis tentang hukum yang mengatur berbagai keteraturan empiris, mengembangkan lebih jauh di luar bidang alam teoretis, ke dalampsikologi dan ekonomi, sosiologi dan ilmu politik)</li>
<li> ilmu historis hermeneutika mencakup ilmu-ilmu humanitas dan ilmu-ilmu sejarah dan sosial, bertujuan untuk memperoleh pemahahaman interpretatif terhadap interaksi komunikasi manusia, dan</li>
<li>(3) ilmu yang berorientasi kritis, mencakup psikoanalisis, kritik ideologi (teori kritik sosial) dan filsafat.</li>
</ol>
<p>Pemikiran Habermas tentang bahasa tampak pada pandangannya bahwa “bahasa adalah untuk melaksanakan peran yang sangat penting. Pandangan ini tampak dalam teori sosial kritis Habermas dalam ceramahpengukuhannya pada tahun 2965 di Franfurt University. Dalam pidatonya pemikirannya dikenal dengan teori kompetensi komunikatif. Teori ini mencakup juga teori pragmatik universal, teori konsensus kebenaran, dan situasi tuturan yang ideal.</p>
<p>Teori pragmatik universal Habermas mengandung ciri-ciri universal kompetensi komunikatif penutur mirip  dengan tata bahasa universal kompetensi linguistik penutur Chomsky. Ciri universal kompetensi komunikatif dan kompetensi linguistik penutur dapat diperoleh melalui proses analisis linguistik rekonstruktif. Kedua pendekatan metodologis Habermas dalam kajian komunikasi mirip dengan pendekatan metodologis Noam Chomsky dalam kajian bahasa. Dalam analisisnya, Habermas menggunakan teori tindak tutur dari Austin dan Sealer.</p>
<p>Dari hasil kajiannya, Habermas menyatakan bahwa bahasa memiliki tiga fungsi, yaitu</p>
<ol>
<li>fungsi representatif, menerangkan kapasitas bahasa untuk menggambarkan berbagai keadaan dunia</li>
<li>fungsi ekspresif, menerangkan kapasitas bahasa untuk memberikan ekspresi terhadap pengalaman-pengalaman intensional pada penuturnya</li>
<li>fungsi pragmatik, disebut juga fungsi interaktif, menerangkan kapasitas bahasa untuk menjalin hubungan interpresonal antara para penuturnya. Teori tindak tutur disebut Cummings sebagai bidang kajian tradisional terhadap fungsi bahasa, sedang pragmatik fungsi bahasa mencakup penjelasan kata-kata kerja performatif dan pronomina personal.</li>
</ol>
<p>Cummings (1999) melihat bahwa ada tantangan bagi Putnam untuk memberikan kritik terhadap Habermas dalam mengembangkan konsepsi postivistik rasionalitas. Positivisme logis Putnam dimotivasi dorongan ilmiah yang kuat dalam filsafat.rumusan Putnam merupakan paradoks postivisme logis. Seperti pemikiran Putnam, Habermas juga mmenaruh perhatian terhadap efek positivisme yang membatasi rasionalisme.</p>
<p>Pemikiran Habermas merpakan refleksi teoretis dalam perspektif sosial dan refeleksi toretis dalam sudut pandang metafisik. Mengkritik Habermas menjadi tantangan bagi Putnam.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Daftar Pustaka</strong></p>
<p>Cummings, Louise. 1999. Pragmatics, A Mutidicplinary Perspective. New York: Oxford University Press. Terjemahan. Ibrahim, Abdul Syukur (editor). 2007. <em>Pragmatik: Sebuah Prespektif Multidispliner.</em> Yogyakarta: Pustaka Pelajar</p>
<p>Wikipedia. 2009. <em>Jurgen Habermas. Online. </em>(diunduh dari en.wikipedia.org pada 24 Oktober 2009)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kataberkata.com/?feed=rss2&#038;p=240</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Argumentasi dan Penalaran</title>
		<link>http://kataberkata.com/?p=235</link>
		<comments>http://kataberkata.com/?p=235#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Nov 2011 09:32:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasan Bahasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?p=235</guid>
		<description><![CDATA[Pragmatik memang telah lama dianggap sebagai studi bahasa sangat dikuasai oleh kecenderungan untuk menjelaskan bahasa berdasarkan sistem formalnya, yaitu dengan menurunkan sistem yang terdapat dalam matematika dan logika, dan mengabaikan unsur pengguna bahasa (Yule, 1996). Subuki (2007) melihat pragmatik merupakan satu-satunya tataran yang turut memperhitungkan manusia sebagai pengguna bahasa. Salah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pragmatik memang telah lama dianggap sebagai studi bahasa sangat dikuasai oleh kecenderungan untuk menjelaskan bahasa berdasarkan sistem formalnya, yaitu dengan menurunkan sistem yang terdapat dalam matematika dan logika, dan mengabaikan unsur pengguna bahasa (Yule, 1996). Subuki (2007) melihat pragmatik merupakan satu-satunya tataran yang turut memperhitungkan manusia sebagai pengguna bahasa. Salah satu bagian dalam penggunaan bahasa terdapat kegiatan argumentasi. Di bawah ini akan dijelaskan tentang kajian argumentasi dan kekeliruan penalarannya.</p>
<p>Penalaran terletak sebagai salah satu unsur argumen (Warnick &amp; Inch dalam Dawud, 1998). Penalaran merupakan proses menyusun hubungan rasional antara bukti dan pendirian untuk memperoleh simpulan. Penarikan simpulan  dilakukan denan prosedur bersyarat atau melalui tahap-tahap yang sahih.</p>
<p>Definisi argumen memiliki dua konsep (O’Keefe (1997). Pertama, argumen adalah semacam ujaran atau sejenis tindak komunikatif yang sama dengan janji, perintah, permintaan maaf, peringatan, ajakan, suruhan, dan sebagainya. Argumen dapat dilihat dalam ungkapan-ungkapan yang dapat disangkal, valid, dan keliru. Kedua, argumen adalah jenis interaksi tertentu yang dapat diklasifikasikan dengan jenis-jenis interaksi lain seperti perdebatan sengit, pembicaraan dari hati ke hati (curhat), pertengkaran, diskusi, dan sebagainya.</p>
<p>Cummings (1999) menyatakan ada enam kerangka teoretis dalam mengkaji argumen dan kekeliruan penalaran. Keenam kerangka teoretis tersebut yaitu</p>
<ol>
<li>Kerangka semantik</li>
</ol>
<p>Dalam kerangka ini argumen harus memiliki premis-premis yang benar. Melalui penalaran dari permis ini menurut inferensi yang valid menghasilkan kesimpulan yang benar.</p>
<ol>
<li>Epistemik</li>
</ol>
<p>Dalam kerangka ini orang yang memberikan argumentasi berupaya menghubungkan dengan pengetahuan atau keyakinan yang beralasan dengan proposisi-proposisi sebuah argumen. Orang yang memberikan argumentasi melakukan penalaran dari berbagai proposisi ke satu proposisi (kesimpulan) yang sudah dikenal</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li>Dialektik</li>
</ol>
<p>Dalam kerangka ini pengargumen melakukan penalaran terhadap satu pasangan atau lebih sesuai dengan kaidah-kaidah yang berbeda-beda dengan konteks dialog. Jika melanggar, berarti pengargumen telah membuat kesalahan penalaran dialektik</p>
<ol>
<li>Psikologis</li>
</ol>
<p>Dalam kerangka ini argumen dianggap sebagai fenomena mental. Penalaran melibatkan transisi antara keadaan-keadaan mental yang dapat diberikan berbagai macam karakterisasi sebagai pikiran, keyakinan, pengetahuan, dan sebagainya,</p>
<ol>
<li>Retorika</li>
</ol>
<p>Dalam kerangka ini argumentasi dianggap bagian dari proses argumentasi yang lebih luas di antara orang-orang yang mengajukan argumen. Orang-orang ini mengajukan argumen melalui kegiatan penalaran dari klaim yang dapat diterima hingga ditolak oleh khalayak.</p>
<ol>
<li>Pragmatik</li>
</ol>
<p>Dalam kerangka ini argumen dianggap sebagai jenis wacana. Orang-orang yang beragumentasi dianggap melakukan kegiatan penalaran menurut kriteria-kriteria wacana argumentasi yang masuk akal dari proposisi yang berstatus opini. Jika tidak memenuhi kriteria ini dianggap melakukan kesalahan penalaran.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pragmatik mengalami perkembangan dalam kajiannya. Mey (dalam Gunarwan, 2004) menyatakan bahwa pragmatik tumbuh dan berkembang dari empat kecenderungan atau tradisi, yaitu:</p>
<ol>
<li>kecenderungan antisintaksisme, dimotori George Lakoff dan H. John Robert Ross, menolak pandangan sintaksisme Chomsky: kajian bahasa yang sentral adalah sintaksis, &amp; fonologi, morfologi, dan semantik bersifat peripheral</li>
<li>kecenderungan sosial-kritis, tumbuh di Eropa, tepatnya di Britania, Jerman, dan Skandinavia (Mey , dalam Gunarwan 2004), muncul dari keperluan terhadap ilmu bahasa yang secara sosial relevan, bukan yang sibuk dengan deskripsi bahasa semata-mata secara mandiri.</li>
<li>tradisi filsafat, dipelopori oleh Bertrand Russell, Ludwig Wittgenstein, dan terutama John L. Austin dan John R. Searle, adalah tradisi filsafat,mengkaji bahasa, termasuk penggunaannya, dalam kaitannya dengan logika, pengaruh para filsuf bahasa Austin, Searle, dan Grice, dalam pragmatik lebih besar daripada pengaruh Lakoff dan Ross. Leech (1983)</li>
<li>tradisi etnometodologi, cabang sosiologi yang mengkaji cara para anggota masyarakat tutur (<em>speech community</em>) mangorganisasi dan memahami kegiatan mereka, bahasa dikaji bukan berdasarkan aspek kegramatikalannya, melainkan berdasarkan cara para peserta interaksi saling memahami apa yang mereka ujarkan, ditekankan pada komunikasi, bukan tata bahasa</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>Cummings (1999) menyatakan bahwa karya inovatif Perelman terhadap argumentasi menimbulkan kesadaran potensi kajian pragmatik. Perelman mengkontekstualisasikan argumen. Demikian juga dengan Frans van Emeren dan Rob Grootendoorst mulai mengkaji pragmatik argumentasi. Mereka menganggap bahwa banyak landasan konspetual pendekatan milik mereka sudah ada sebelumnya, namun yang masih harus dikembangkan adalah teori argumentasi. Perelman (1982<em>) </em>memberikan <em> </em>klasifikasi argumen sebagai berikut.</p>
<p>1.       <em>Argumen quasi-logis, </em>argumen yang dapat dipahami dengan membandingkan secara logis, matematis, dan berpikir formal. Dalam hal ini, argumen quaisi-logis ber-beda dengan deduksi formal yang selalu mempersyaratkan adanya tesis nonformal yang dipergunakan untuk menyusun sebuah argumen.</p>
<p>2.       <em>Argumen yang didasarkan struktur realitas, a</em>rgumen yang bergantung pada hubungan yang muncul di antara unsur-unsur realitas. Diyakini dalam keberadaan sejumlah struktur tujuan dapat disampaikan dalam realitas yang bervariasi: hubungan kausalitas, atau esensi fenomena yang diwujudkan.</p>
<p>3.       <em>Argumen yang disusun dengan struktur realita,</em> argumen yang dimulai dari permasalahan pengetahuan yang spesifik, yang dimaksudkan untuk memantapkan suatu <em>acuan peristiwa</em> (<em>precedent</em>), model, atau kaidah umum sebagai penalaran yang dapat diterapkan dengan model atau contoh-contoh.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kemunculan pragma-dialektika membawa hawa segar bagi semua ahli teori argumentasi. Pragma-dialektika mengklaim bahwa pragma-dialektika dapat melarang pola argumentasi tertentu dan pada saat yang sama tetap peka terhadap ciri penggunaan argumen. Untuk menyelidiki tingkat dan keluasan pragma-dialektika dalam mencapai keberhasilan atas klaim ini, teori kesalahan penalaran akan dijadikan sebagai studi kasus pragma-dialektika.</p>
<p>Sejak diterbitkannya buku Hamblin tahun 1970 tentang <em>Fallacies</em> ‘kesalahan penalaran’ para ahli sudah biasa memandang bentuk argumen dan pola-polanya yang sebelumnya dianggap salah. Oleh karena itu, penilaian normatif argumen dalam penelitian kesalahan penalaran pasca-Hamblin dapat dilakukan bila telah diperoleh gambaran konteks terjaidnya argumen tersebut. Van Emeren dan Grootendorst (dalam Cumming, 1999) menganggap bahwa analisis pragma-dialektika lebih sistematis dan lebih baik daripada teori kesalahan penalaran yang dilabeli perlakukan standar oleh Hamblin. Pendekatan ini memilki berbagai kekurangan.</p>
<p><em>Pragma-Dialectic </em>dikembangkan oleh Frans H. van Eemeren dan Rob Grootendorst (1984; 1992; 2004) di Universitas Amsterdam. Emeren dan Grootendorst dianggap pelopor atas masuknya diskusi kritis (secara metateoritis). Pragma-dialektika merupakan teori argumentasi yang digunakan untuk menganalisis dan mengevaluasi argumentasi. Van Emeren dan Grootendorst  menganggap analisis pragma-dialektika lebih sistematis dan lebih baik daripada teori kesalahan penalaran yang dilabeli perlakukan standar oleh Hamblin. Pragma-dialektika dikembangkan untuk mempelajari keseluruhan argumentasi sebagai aktivitas wacana. Emeren dan Grootendorst merumuskan 10 aturan diskusi kritis: (1) kebebasan aturan, (2) bukti beban aturan, (3) sudut aturan, (4) relevansi aturan, (5) terpendam premis aturan, (7) aturan skema argumen, (8) aturan validity, (9) penutupan aturan, (10) aturan penggunaan.</p>
<p>Cumming (1999) dalam buku Pragmatik: Sebuah Perpspektif Multidisipliner menyampaikan kritik bahwa pragma-dialektika, sebagian, merupakan pendekatan normatif terhadap kajian argumentasi, tidak tiap tipe langkah argumentatif menjamin perbedaan opini antara orang yang beragumentasi dapat diselesaikan. Dalam menentukan tipe-tipe tertentu wacana argumentatif melalui aturan pembahasan kritis, pragma-dialektika tidak meningkatkan cita-cita rasionalitas filosofis yang dapat dimanfaatkan manusia. Ahli pragma-dialektika harus menyelidiki argumentasi sesungguhnya jika ingin tahu orang berargumen melakukan penalaran dalam wacana. Pragma-dialektika merupakan usaha ambisius dalam mengkaji argumen dapat ditolak, harus dilihat apakah pendekatan ini berhasil menjodohkan berbagai macam komponennya. Pragma-dialektika memberikan contoh bagaimana instuisi yang baik dapat melahirkan teori yang buruk. Jika pragma-dialektika belum mengungkapkan sifat argumentasi, instuisi pragmatik yang sama dan menghasilkan pendekatan ini dapat diterapkan lebih produktif pada pertanyaan metodologis yang dapat dijawab pragmatik.</p>
<p>Cummings (1999) dalam buku Pragmatik: <em>Sebuah Perspektif Multidispliner</em> menyatakan bahwa pragma-dialektika belum mengungkapkan sifat argumentasi. Cummings mengajukan pertanyaan bahwa (1) Apakah proses pragmatik interpretasi berperan dalam rekonstruksi argumen? (2) Kontribusi apa yang diberikan konteks terhadap proses evaluasi ini?</p>
<p>Orang berargumen dengan menggunakan bahasa ambigu, inferensinya tidak pasti. Oleh karena itu, diperlukan rekontruksi argumen yang merupakan interpretasi pragmatik. Rekontruksi argumen merupakan proses yang lebih kompleks dibanding awal kemunculannya. Argumen dapat disusun berdasarkan analogis (disebut argumen analogis) dan juga berdasar dari ketidaktahuan (disebut argumen kebodohan). Namun untuk lebih dalam lagi, rekontruksi argumen harus terus dikaji dan direvisi di jalur. Tugas-tugas rekontruksi argumen adalah (1) identifikasi wacana, (2) identifikasi argumen, (3) identifikasi premis dan kesimpulan, dan (4) identifikasi makna (Cummings, 1999).</p>
<p>Rekonstruksi argumen hingga kini masih mengalami revisi terhadap prinsip-prinsip dan proses-prosesnya di jalur pragmatik. Pernah muncul juga revisi yang terkait dengan evaluasi argument. Pada 1970, muncul pendekatan untuk mengevaluasi argumen, menggantikan metode tradisional bebas konteks dalam menilai argument. Pergantian ini memunculkan tiga implikasi, yaitu</p>
<p>1.       validitas deduktif tidak lagi dianggap sebagai kriteria universal argumen di pendekatan konstekstual, sekarang tertarik pada evaluasi argumen menurut kriteria pragmatik</p>
<p>2.       faktor-faktor pragmatik seperti tujuan di tengah evaluasi argumen dalam diterima rasional dalam konteks penggunaan tertentu</p>
<p>3.       adanya perbaharuan penekanan pada konteks yang memungkinkan untuk mendeskripsikan dan menganalisis fenomena argumentatif yang baru</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sullivan (daam Dawud, 1998) menyatakan bahwa tindak penalaran merupakan hasil pikiran yang diperoleh melalui operasi prosedural. Tindak penalaran ini memiliki tiga macam, yaitu</p>
<p>1.       pemahaman sederhana, hasil penalarannya berupa konsep/definisi, dan ekspresi bahasanya berupa kata atau istilah</p>
<p>2.       tindak afirmasi dan negasi, hasil penalarannya berupa pertimbangan/pemutusan dan ekspresi bahasanya berupa proposisi</p>
<p>3.       tindak penyusunan simpulan, hasil penalarannya berupa argument. argumen terdiri atas (1) argumen induktif dengan ekspresi bahasa berupa urutan induktif, (2) argumen deduktif dengan ekspresi bahasa berupa silogisme.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bakry (1986) dalam buku <em>Logika Praktis</em> menyatakan bahwa prinsip penalaran terdiri atas:</p>
<p>1.       Prinsip identitas<em>/principium identitatis/law of identity, </em>merupakan dasar penalaran, sifatnya langsung analisis, jelas dengan sendirinya, tidak membutuhkan pembuktian, prinsip ini berbunyi“sesuatu hal adalah sama dengan halnya sendiri”</p>
<p>2.       Prinsip non-kontradiksi<em>/principium contradictionis/law of contradiction, </em>tidak adanya kontradiksi, prinsip ini berbunyi “sesuatu pernyataan tidak mungkin mempunyai nilai benar dan tidak benar pada saat yang sama)</p>
<p>3.       Prinsip ekslusi tertii<em>/principium exclusi tertii/law of excluded middle</em>, prinsip tidak adanya kemungkinan ketiga, prinsip ini berbunyi “sesuatu jika dinyatakan sebagai hal tertentu atau bukan hal tertentu maka tidak ada kemungkinan ketiga yang merupakan jalan tengah”</p>
<p>4.       Prinsip cukup alasan<em>/principium rationis sufficientis/law of usfficient reason</em>, prinsip ini berbunyi “suatu perubahan yang terjadi pada sesuatu hal tertentu mestilah berdasarkan alasan yang cukup, tidak mungkin tiba-tiba berbah tanpa sebab-sebab yang mencukupi”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Warnick &amp; Inch (1994) menyatakan bahwa unsur argumen terdiri atas (1) pendirian (<em>claim</em>), (2) penalaran (<em>reasoning</em>), dan (3) bukti (<em>evidence</em>). <em>Pendirian</em> diekspresikan atau simpulan yang diinginkan oleh penutur agar bisa diterima oleh petutur. Jenis pendirian terdiri atas (1) pendirian faktual, (2) pendirian nilai, dan (3) pendirian kebijakan. <em>Bukti</em> merpakan pendirian didukung oleh fakta objektif yang dapat diamati. Jenis bukti terdiri atas (1) fakta, (2) opini terhadap fakta. <em>Penalaran</em> merupakan tindak menghubungkan bukti &amp; penalaran. Cara penalaran dapat dilakukan secara eksplisit dan implisit.</p>
<p>Studi penalaran merupakan berdasar kaidah logika formal, yaitu silogisme. Bentuk silogisme: (1) silogisme kategori, (2) silogisme disjungtif</p>
<p>Toulmin, Rieke, Janik (1979), Toulmin (1990), Warnick &amp; Inch (1994) (dalam Dawud, 1998) menyatakan bahwa diperlukan kajian penalaran yang kurang formal sebagaimana yang digunakan dalam wacana keseharian. Parelman &amp; Olberchts –Tyteca (1969):bentuk penalaran dalam wacana keseharian berupa argumen berbentuk</p>
<p>1.       skema asosiatif, memasukkan beberapa unsur penalaran dan mengevaluasi atau mengorganisasikan unsur satu dengan unsur lain. Argumen dalam skema ini adalah quasi logis, analogi, generalisasi, kausalitas, dan koeksistensial</p>
<p>2.       skema dissosiatif, merpakan bentuk penalaran yang memisahkan atau mengurai  unsur-unsur penalaran yang semula merupakan suatu kesatuan. Untuk menguji argumen disosiasi lebih tepat digunakan wawasan retorik daripada wawasan logika.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Model penalaran terdiri model tradisional dan model Toulmin (Dawud, 1998).</p>
<ol>
<li>Model tradisional</li>
</ol>
<p>Model ini diperkenalkan Monroe C. Beardsley (1950). Model ini digunakan untuk mengidentifikasi kerangka argumen/penalaran, yaitu pola-pola hubungan premis dan pendirian. Penalaran dikelompokkan berdasar tingkat kerumitan hubungan struktur premis dan pendiriannya. Untuk mengetahui jenis polanya, penalaran dianalisis melalui 5 tahap: (1) menggambarkan makna yang diinginkan penutur, (2) menganalisis jumlah  pernyataan (pendirian atau proposisi) dalam argumen yang digunakan ,(3) mengidentifikasi pendirian atau proposisi utama, (4) mendiagramkan argumen, (5) menilai argument. Pola penalaran dibedakan atas (1) sederhana, (2) kompleks, (3) matarantai, (4) majemuk (Warnick &amp; Inch, 1994).</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li>Model Toulmin</li>
</ol>
<p>Model ini terdiri atas enam unsur, yaitu (1) data atau dasar (data/<em>grounds</em>), (2) pendirian (klaim), (3) dasar kebenaran (<em>warrant</em>), (4) dukungan (<em>backing</em>), (5) modalitas (modal <em>qualifiers</em>), (6) sanggahan (<em>rebuttal</em>). Data atau dasar (data/grounds), pendirian (klaim), dasar kebenaran (<em>warrant</em>) merupakan unsur utama penalaran dan dukungan (<em>backing</em>), modalitas (<em>modal qualifiers</em>), sanggahan (<em>rebuttal</em>) merupakan unsur pelengkap (Toulmin, 1990)</p>
<p>Kegiatan argumen merupakan kegiatan memengaruhi orang lain. Argumen yang baik memerlukan penalaran yang sahih. Kesahiran penalaran bergantung pada konteks penalaran</p>
<p>Penalaran dinilai dari (1) tingkat kelayakan, (2) ketepatan, (3) kemasukalan, (4) keetisan (Warnick dan Inch, 1994). Konteks penalaran atau argumen terdiri atas (1) budaya (<em>culture</em>) mencakup gagasan, adat, dan seni yang dihasilkan masyarakat melalui ekspresi bentuk simbolis  berupa lambang, upacara, cerita, mitos, (2) bidang (<em>field</em>) merupakan konteks sosiologis yang mengikat pola-pola komunikasi dan secara umum diterima penutur dan lawan tutur,(3) situasi (<em>occasion</em>) mencakup waktu dan tempat penggunaan penalaran, dan etika (<em>ethics</em>) menyangkut kebenaran dan keadilan moral.</p>
<p>Poespoprodjo (1987) dalam buku <em>Logika Scientifika: Pengantar Dialektika dan Ilmu </em>à kekeliruan terdiri atas:</p>
<p>1.       kekeliruan dalam bahasa terdiri atas (1) ekuivokasi, (2) amfibiologi, (3) komposisi, (4) kekeliruan pembagian, (4) aksentuasi</p>
<p>2.       kekeliruan karena penalaran terdiri atas</p>
<ol start="1">
<li>Mencampur kebetulan dengan hal hakiki, anggapan sesuatu selalu benar</li>
<li>Sah dalam arti tertentu, tetapi kemudian dimutlakkan</li>
<li>Ignoratio Elenchi: (a) argumen ad hominem, (b) argumen ad populum, (c) argumen ad misericordiam, (d) argumen ad verecundiam, (e )argumen ad baculum,(f) buktikan banyak,tapi tidak buktikan apa-apa, (f) terlalu sedikit beri bukti,tidak berarti</li>
<li>Petitio principii:dianggap benar,digunakan sebagai premis, padahal justru kesimpulan masih harus dibuktikan</li>
<li>Mencampurkan bukan sebab: (a) post hoc ergo propter hoc, (b) suatu kondisi dianggap sebagai sebab, (3) bukan premis dianggap premis</li>
<li>Argumen ad ignorantian: A harus diterima karena non-A tidak dapat ditunjukkan, tidak dapat dibuktikan</li>
<li>Menyembunyikan fakta</li>
<li>Analogi palsu: pemikiran analogi induktif tapi ada perbedaan serius</li>
<li>Non sequitur: kesimpulan muncul dari premis ayng ada, padahal tidak</li>
<li>Kekeliruan “beberapa”, “banyak”, “kebanyakan”, menjadi “semua”</li>
<li>Berbagai pernyataan dianggap satu</li>
<li>Asumsi salah: Anda tidak mempunyai jiwa karena Anda tidak melihatnya.</li>
<li>Argumen a silentio: fakta tidak ada karena tidak ada catatannya</li>
<li>Ipse dixit: memberhalakan kewibawaan, pemberhalaan akal budi</li>
<li>Mengutip lepas dari konteks</li>
<li>Mengutuk sumber: Yang dikatakan Hitler dalam buku <em>Mein Kampf</em> salah semua, padahal ada juga yang benar</li>
<li>Kekeliruan serba konkret: semua dianggap serba konkret, padahal ada hal yang tidak bisa dikonkretkan</li>
</ol>
<p><span style="text-decoration: underline;"> </span></p>
<p>Beberapa kajian tentang argument dilakukan juga oleh William James(1842–1910) dalam esai 1896, “The Will to Believe”, mengkaji argumen pragmatis untuk mendukung keyakinan teistik  sebagai argumen moral. Selain itu, Adele E. Goldberg dalam <em>Handbook of Pragmatics  </em>menyatakan bahwa pragmatik dan struktur argumen digunakan untuk merujuk kepada berbagai hal dalam literatur sesuai perspektif (1) tradisi logis, struktur argumen mengacu pada jumlah dan jenis argumen yang berhubungan dengan predikat (misalnya, verba), (2) struktur argumentasi memberikan tiga tempat predikat, membutuhkan agen, tema, dan argumen penerima. J.  Anthony Blair pada 1996 juga membahas tentang kemungkinan adanya  argumen visual yang menjadikan gambar sebagai sebuah argumen.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Daftar Rujukan</strong></p>
<p>Alwasilah, A. Chaedar. 2008. <em>Filsafat Bahasa dan Pendidikan</em>. Bandung: Remaja Rosdakarya</p>
<p>Bakry, Noor Ms. 1986<em>. Logika Praktis.</em> Yogyakarta: Liberty</p>
<p>Calne, Donald B. 2004. <em>Rasionalitas dan Perilaku Manusia</em>. Jakarta: KPG</p>
<p>Cummings, Louise. 1999. Pragmatics, A Mutidicplinary Perspective. New York: Oxford University Press. Terjemahan. Ibrahim, Abdul Syukur (editor). 2007. <em>Pragmatik: Sebuah Prespektif Multidispliner</em>. Yogyakarta: Pustaka Pelajar</p>
<p>Dardjowidjojo, Soejono. 2004. <em>Bahasa sebagai Cermin Pola Pikir</em>. Dalam Widiastono, Tonny D. ed. (2004). Pendidikan</p>
<p>Dawud. 1998. <em>Penalaran dalam Tuturan BI Siswa SD</em>.  Disertasi. Tidak Diterbitkan. Malang: IKIP Malang</p>
<p>Gunarwan, Asim. 2004. Dari Pragmatik ke Pengajaran Bahasa (Makalah Seminar Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah). IKIP Singaraja. Subuki, Makyun. 2007. Mengapa Pragmatik Perlu Dipelajari dalam Program Studi Linguistik?  Online. (diunduh dari www.scribd.com/&#8230;/Mengapa-Pragmatik-Perlu-Dipelajari-Dalam-Program-Studi-Linguistik)</p>
<p>Hidayat, Asep Ahmad. 2006. Filsafat Bahasa: Mengungkap Hakikat Bahasa, Makna, dan Tanda. Bandung: Remaja Rosdakarya</p>
<p>Magnis-Suseno, Franz. 2003. Bahasa yang Kacau Lahir dari Kemalasan Berpikir. dalam Muhammad Muis, dkk, ed. <em>Jagat Bahasa Nasional</em>. Jakarta: Pusat Bahasa</p>
<p>Poespoprodjo. 1987. <em>Logika Scientifika: Pengantar Dialektika Ilmu</em>. Bandung: Remadja Karya</p>
<p>Rahardjo, Mudjia. 2008. <em>Sosiolinguistik Qurani</em>. Malang: UIN Press</p>
<p>Sumantri, Jujun S. Suria. 2005. <em>Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer</em>. Jakarta: Pustaka Harapn</p>
<p>Van Eemeren, Frans H.  &amp; Rob Grootendorst. <em>Pragma-dialektis Pendekatan untuk Fallacies</em>. disunting oleh Hans V. Hansen dan Robert C. Pinto (1995). Published in Fallacies: Klasik dan Kontemporer Readings. Online. Terjemahan Google. (diunduh dari http://www.ditext.com/eemeren/pd.html)</p>
<p>Wikipedia. 2009. <em>Pragma-Dialektik</em>. Online. Terjemahan Google. (diunduh dari http://en.wikipedia.org/wiki/Pragma-dialectics)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kataberkata.com/?feed=rss2&#038;p=235</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pragmatik dan Pikiran</title>
		<link>http://kataberkata.com/?p=233</link>
		<comments>http://kataberkata.com/?p=233#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Nov 2011 09:31:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasan Bahasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?p=233</guid>
		<description><![CDATA[ Nadar (2008) terkait topik bahasan pragmatik menyebutkan bahwa Searle, Kiefer, dan Bierwich (1980) menyatakan pragmatik berkaitan interpretasi suatu ungkapan yang dibuat mengikuti aturan sintaksis tertentu dan cara menginterpretasi ungkapan tersebut tergantung pada kondisi-kondisi khusus penggunaan ungkapan tersebut dalam konteks. Interpretasi ini terkait dengan pikiran. Kajian pragmatik terhadap pikiran memang masih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong>Nadar (2008) terkait topik bahasan pragmatik menyebutkan bahwa Searle, Kiefer, dan Bierwich (1980) menyatakan pragmatik berkaitan interpretasi suatu ungkapan yang dibuat mengikuti aturan sintaksis tertentu dan cara menginterpretasi ungkapan tersebut tergantung pada kondisi-kondisi khusus penggunaan ungkapan tersebut dalam konteks. Interpretasi ini terkait dengan pikiran.</p>
<p>Kajian pragmatik terhadap pikiran memang masih sedikit. Louise Cummings (1999) mengecualikan pada filsafat Hilarry Putnam yang telah membangkitkan pragmatisme filsafat. Putnam menentang kerancuan filsafat dengan mengabaikan kenyataan bahwa pikiran merupakan sumber dari semua pemikiran. Oleh karena itu, tidak dapat diuraikan sebagai bagian dari pemikiran.</p>
<p>Fenomena pragmatik sangat bergantung pada proses kognisi. Teori inilah yang menjadi modularitas tesis pikiran. Kontras pendapat antara Krasen dengan Wilson&amp;Sperber memberikan wacana mendalam kajian ini. Krasen menganggap sebagai modul, namun Dan Sperber dan Deirdre Wilson  (dalam Cummings, 1999) malah sebaliknya, bukan modul. Jika dianggap sebagai modul, akan berarti bahwa dalam pragmatik ditemukan kode pragmatik. Kedua respon ini tidak dapat diterima karena alasan para ahli teori salah mengasumsikan daya pertahanan (tenabilitas) pendekatan modul terhadap pikiran. Dengan dihadapankannya pendekatan pragmatik akan diperoleh model pragmatik sekaligus sebagai modul bagi struktur pikiran. Bahasa dapat digunakan untuk mengkaji pikiran.</p>
<p>Wilson&amp;Sperber (2002) dalam jurnal Bahasa dan Pikiran membahas tentang <em>Pragmatics</em>, <em>Modularity</em>, dan <em>Mind-Reading</em> bahwa masalah utama pragmatis adalah makna kalimat sangat  <em>underdetermines</em> makna pembicara.  Tujuan pragmatis adalah untuk  menjelaskan bagaimana kesenjangan antara makna kalimat dan makna yang dipahami pembicara. Dengan tegas mereka menyatakan pembelaannya terhadap Gricean secara luas. Mereka menyatakan bahwa proses interpretasi tidak hanya terdiri  umum menerapkan kemampuan membaca pikiran tertentu  (komunikatif) domain.  Sebaliknya, ini melibatkan berdedikasi  pemahaman modul, dengan prinsip-prinsip dan  mekanisme tersendiri.</p>
<p>Hubungan bahasa dan pikiran sudah dikaji sejak abad17. Leibniz, tahun 1646-1716) menyatakan bahwa bahasa merpakan cermin terbaik pikiran manusia. Hobbes (1966) juga menyatakan bahwa pikiran dilihat dari penggunaan bahasa, tetapi penggunaan kata tidak jelas dalam menggambarkan pikiran, tidak seperti gambaran pikiran dengan penggunaan angka. Pendapat Hobbes ini pada dasarnya telah memahami hubungan bahasa dan pragmatik.</p>
<p>Representasi terdiri atas struktur sebagaimana bahasa pikiran internal (Fodordalam Cummings, 1999). Michael Dewit menyatakan adanya hubungan semantis keberkenaan yang dapat dijelaskan oleh teori relevansi kausal. Pikiran Chomsky dan Fodor sangat memengaruhi psikologi kognitif terhadap pembahasan representasi yang dilakukan.</p>
<p>Komputasi pada dasarnya merpakan representasi yang tidak dapat dipisahkan dari fungsi pikiran dalam kegiatan operasi kognitif. Kemampuan untuk beroperaso sebenarnya merupakan pikiran dalam memanipulasi representasi. Contoh: adanya representasi premis P &amp; Q yang memunculkan proposisi R.</p>
<p>Hakikat modul terhadap pikiran merupakan organisasi struktur pikiran yang kompleks. Organisasi merupakan komputasional bahasa. Dalam organisasi ini, kemampuan bahasa dianggap Chomsky sebagai subsistem kognitif, sedangkan Fodor menganggap sebagai modul input.</p>
<p>Pernyataan Kraser tentang modularitas pragmatik memberikan gambaran berikut: pragmatik pikiran = modul pragmatik + bagian tengah + bagian pemisah pragmatik. Pada sistem sentral pragmatik Kraser menyebutnya sebagai kontroversi karena hanya merupakan perbedaan modul pikiran. Hal ini menjadi tantangan yang menuntut untuk dipertahankan. Hubungan pragmatik Krasher menyebut sebagai bidang pemisah terhadap modul dan sistem sentral pragmatik. Wilson &amp; Sperber sendiri menyatakan bahwa modularitas pragmatik mengandung tata bahasa. Dengan demikian Wilson &amp; Sperber menyebut adanya kode pragmatik.</p>
<p>Louise Cummings (1999) menyatakan bahwa jika tidak dapat dinyatakan sebagai modul, lantas apa?. Daya tarik modularitas menjadi pusat perhatian disiplin ilmu piskologi kognitif, filsafat, dan linguistik. Teori baru tentang bahasa dan pikiran membutuhkan kriteria, yaitu adanya integrasi kelengkapan informasi, regresi informasi, dan plastisitas informasi (Cummings, 1999). Contoh kriteria ini dapat disimak dalam berbagai fenomena pragmatik.</p>
<p><strong>Daftar Pustaka</strong></p>
<p>Cummings, Louise. 1999. Pragmatics, A Mutidicplinary Perspective. New York: Oxford University Press. Terjemahan. Ibrahim, Abdul Syukur (editor). 2007. <em>Pragmatik: Sebuah Prespektif Multidispliner.</em> Yogyakarta: Pustaka Pelajar</p>
<p>Nadar, F.X. 2008. <em>Pragmatik dan Penelitian Pragmatik. </em>Yogyakarta: Graha Ilmu</p>
<p>Sperber, Dan dan Deirdre Wilson. 2002. Pragmatics, Modularity, and Mind-Reading. (Jurnal Pikiran dan Bahasa, 2002, 17. 3-23). Online. (diakses dari www.google.com)</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kataberkata.com/?feed=rss2&#038;p=233</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Inferensi</title>
		<link>http://kataberkata.com/?p=231</link>
		<comments>http://kataberkata.com/?p=231#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Nov 2011 09:30:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasan Bahasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?p=231</guid>
		<description><![CDATA[ Inferensi merupakan intisari informasi baru yang bersifat implisit dan eksplisit dari informasi yang diberikan (Cummings, 1999). Proses inferensi terjadi ketika dalam proses yang dapat digunakan oleh lawan bicara untuk memperoleh implikatur-implikatur dari ujaran penutur yang dikombinasikan dengan ciri konteks pada dasarnya merupakan proses inferensi. Konteks implikatur diperoleh bukan diberikan tetapi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong>Inferensi merupakan intisari informasi baru yang bersifat implisit dan eksplisit dari informasi yang diberikan (Cummings, 1999). Proses inferensi terjadi ketika dalam proses yang dapat digunakan oleh lawan bicara untuk memperoleh implikatur-implikatur dari ujaran penutur yang dikombinasikan dengan ciri konteks pada dasarnya merupakan proses inferensi. Konteks implikatur diperoleh bukan diberikan tetapi diciptakan. Hal ini merupakan pernyataan utama teori relevansi. Cruse (2000) berkomentar bahwaa konteks yang benar untuk menginterpretasikan ujaran tidak diberikan sebelumnya, melainkan pendengar memilih konteks dengan sendirinya.</p>
<p>Inferensi terdiri dari tiga hal, yaitu inferensi deduktif, inferensi elaboratif, dan inferensi percakapan (Cummings, 1999). Lebih detail dijelaskan bahwa inferensi deduktif memiliki tiga tipe silogisme, yaitu ‘all’ dan ‘some’ baik afirmatif, maupun negatif. Inferensi deduktif memiliki kaitan dengan makna semantik. Implikatur percakapan, pra-anggapan, dan sejumlah konsep lain memuat kegiatan inferensi. inferensi dapat diperoleh dari kaidah deduktif logika dan dari makna semantik item leksikal. Inferensi menggunakan penalaran deduksi dalam kegiatan penalaran dan interpretasi ujaran.</p>
<p>Inferensi elaboratif sangat terkait dengan pengetahuan ekstralinguistik penutur bahasa. Inferensi ini menemukan adanya pengaruh pengetahuan dan informasi kognisi. Pada tahun 1991, pakar inteligensi artifisial  Johnson-Laird dan Byrne (dalam Cummings, 1999) merumuskan tahap deduksi dalam teori model-model mental sebagai berikut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Inferensi elaboratif memiliki peran dalam interpretasi ujaran. Cummings (1999) menggambarkan adanya integrasi interpretasi ujaran dari tiga subkomponen yang berpa abstrak (pengetahuan dunia), abstrak (pengetahuan komunikatif), dan fungsional (interferensi elaboratif). Namun oleh ahli pragmatik, kajian terhadap kelompok-kelompok inferensi ini bisa saja diabaikan karena para pakar inferensi elaboratif sebagian besar dari kalangan psikologi. Pakar pragmatik mengabaikan inferensi elaboratif tersebut dengan alasan disipliner ilmu.</p>
<p>Jika ditinjau kembali cakupan bahasan pragmatik dari beberapa ahli, akan diperoleh gambaran yang lebih dalam lagi.. Hal ini penting untuk memperdalam wawasan untuk menanggapi polemik disipliner inferensi dalam kajian interpretasi pragmatik atau inferensi elaboratif antarpakar psikologi dan pragmatik. Akhirnya muncul perlawanan inferensial elaboratif dengan interpretasi pragmatik.</p>
<p>Berdasarkan pendapat Nadar (2008) terkait topik bahasan pragmatik menyebutkan bahwa Searle, Kiefer, dan Bierwich (1980) menyatakan pragmatik berkaitan interpretasi suatu ungkapan yang dibuat mengikuti aturan sintaksis tertentu dan cara menginterpretasi ungkapan tersebut tergantung pada kondisi-kondisi khusus penggunaan ungkapan tersebut dalam konteks. Levinson (1983) berpendapat bahwa kajian pragmatik merupakan kajian hubungan bahasa dan konteks yang tergramatikalisasi atau terkodefikasi dalam struktur bahasa’. Sementara itu, Parker (1986) menyatakan bahwa pragmatik mengkaji tentang bagaimana bahasa digunakan untuk berkomunikasi. Senada dengan Paker, Mey (1993) menyatakan bahwa kajian pragmatik tentang kondisi pengunaaan bahasa manusia sebagaimana ditentukan oleh konteks masyarakatnya. Terkait konteks, Wijana (1996) menyetujui pendapat ini dengan mengungkapkan bahwa pragmatik mengkaji makna yang terikat konteks. Cruse (dalam Cumming, 1999) menyatakan pragmatik berkaitan dengan informasi, kode, konvensi, konteks, dan penggunaan.</p>
<p>Dalam percakapan menuntut hadirnya komponen tutur. Jhon L. Austin (1962)  menyatakan ada tiga syarat yang harus dipenuhi dalam tuturan performatif, syarat itu disebut <em>felicity conditions, </em>yaitu (1) pelaku dan situasi harus sesuai, (2) tindakah dilaksanakan dengan lengkap dan benar oleh semua pelaku, dan (3) pelaku punya maksud yang sesuai.  John R. Searle (1969) membagi tindak tutur ini ke dalam 3 jenis, yaitu (1) tindak lokusi, yaitu tindak untuk mengatakan sesuatu (<em>the act of saying something</em>), (2) tindak ilokusi, yaitu tindak melakukan sesuatu (<em>the act of doing something</em>), dan (3) tindak perlokusi, yaitu tindak membujuk seseorang (<em>the act of persuading someone</em>). Gumperz dan Hymes (1972) dan juga disebut Wardaugh (1986) membuat akronim SPEAKING (Setting, Participants, Ends, Act of sequence, Keys, Instrumentalities, Norm, dan Genres), yaitu tempat, peserta tutur, tujuan tutur, urutan tutur, cara, media, norma yang berlaku, dan genre. Poedjosoedarmo (1985) memaparkan memoteknik OOE MAU BICARA (<strong>O</strong>rang ke-1, <strong>O</strong>rang ke-2, warna <strong>E</strong>mosi orang ke-1, <strong>M</strong>aksud, <strong>A</strong>danya orang ke-3, <strong>U</strong>rutan tutur, <strong>B</strong>ab yang dibicarakan, <strong>I</strong>nstrumen atau sarana tutur, <strong>C</strong>itarasa tutur, <strong>A</strong>degan tutur, <strong>R</strong>egister, <strong>A</strong>turan atau norma kebahasaan lain. Leech (1991) menyatakan aspek tutur selain konteks yang perlu diperhatikan adalah penutur, lawan tutur, tujuan tutur, tuturan sebagai tindakan dan produk verbal. Rahardi (2005) membahas lebih detail tentang kesantunan percakapan dalam bahasa Indonesia.</p>
<p>Inferensi percakapan dapat terjadi dalam tuturan/percakapan. Grice (1975) dalam artikel ‘Logic and Conversation’ menyatakan bahwa tuturan dapat berimplikasi proposisi yang bukan merupakan bagian dari tuturan tersebut, atau disebut implikatur percakapan. Grice  memandang bahwa proses yang digunakan untuk menemukan kembali implikatur dalam percakapan sangat kabur. Sperber &amp; Wilson (1991) mengemukakan bahwa penjelasan Grice sendiri tentang proses derivasi (pemerolehan) agak luas. Untuk mengetahui implikatur percakapan harus diteliti meskipun dapat diahampi secara intuitif. Argumen merupakan manifestasi proses bawah sadar secara publik dapat digunakan pendengar untuk menemukan kembali implikatur percakapan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Daftar Pustaka</strong></p>
<p>Cummings, Louise. 1999. Pragmatics, A Mutidicplinary Perspective. New York: Oxford University Press. Terjemahan. Ibrahim, Abdul Syukur (editor). 2007. <em>Pragmatik: Sebuah Prespektif Multidispliner.</em> Yogyakarta: Pustaka Pelajar</p>
<p>Cruse, D. Alan. 2000. Meaning in Language: An Introduction to Semantics and Pragmatics. <em>Makna Bahasa: Pengantar Memahami Semantik dan Pragmatik</em>. Oxford: Oxford University Press</p>
<p>Leech, Geoffrey. 1982. The Principles of Pragmatics. Terjemahan. Oka, M.D.D. dan Setyadi Setyapranata (Penerjemah). 1993. <em>Prinsip-Prinsip Pragmatik</em>. Jakarta: Universitas Indonesia Press</p>
<p>Nadar, F.X. 2008. <em>Pragmatik dan Penelitian Pragmatik. </em>Yogyakarta: Graha Ilmu</p>
<p>Rahardi, R. Kunjana. 2005. <em>Kesantunan Imperatif Bahasa Indonesia. </em>Jakarta: Erlangga</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kataberkata.com/?feed=rss2&#038;p=231</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sifat Multidisipliner Pragmatik</title>
		<link>http://kataberkata.com/?p=228</link>
		<comments>http://kataberkata.com/?p=228#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Nov 2011 09:29:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasan Bahasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?p=228</guid>
		<description><![CDATA[ Kajian Akademis Fasold (1990) menjelaskan bahwa Charles Morris membagi semiotik ke dalam sintaksis, semantik, dan pragmatik, dan menambahkan motivasi H. Paul Grice untuk mengembangkan teori percakapanya. Apakah pragmatik dapat dipandnag sebagai kajian makna tentang apa yang dikatakan penutur dalam konteks? Pada akhirnya struktur bahasa yang digunakan atau yang tidak digunakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> Kajian Akademis</strong></p>
<p>Fasold (1990) menjelaskan bahwa Charles Morris membagi semiotik ke dalam sintaksis, semantik, dan pragmatik, dan menambahkan motivasi H. Paul Grice untuk mengembangkan teori percakapanya. Apakah pragmatik dapat dipandnag sebagai kajian makna tentang apa yang dikatakan penutur dalam konteks? Pada akhirnya struktur bahasa yang digunakan atau yang tidak digunakan orang akan menjadi semantik.</p>
<p>Ralp Fasold menyatakan bahwa banyak hal yang tercakup luas dalam pragmatik. Terdapat pendekatan Kontinental yang lebih luas (termasuk para peneliti Inggris dan Amerika) yang membentuk Asosiasi Pragmatik Internasional (IPRA). Pembahasan pragmatik mengundang gagasan dari sudur pandang penelitian Kontinental yang diberikan oleh Jef Verschueren (1987).</p>
<p>Verschueren menghendaki kembalinya pandangan pragmatik yang dikemukakan oleh Charles Morris bahwa pragmatik adalah mengenai segala sesuatu yang manusiawi dalam proses psikologis, biologis, dan sosiologis. Pragmatik tidak bisa dipandang sebagai lapisan atas hierarkhi fonologi-morfologi-sintaksis-semantik yang merupakan komponen teori bahasa. Pragmatik bukan juga ditempatkan pada lapisan yang mengandung sosiolinguistik, linguistic antropologi, psikolinguistik, neurolinguistik, dll. Pragmatik lebih tepat dianggap sebagai <em>perspektif</em> pada aspek bahasa yang berpusat di sekitar adaptabilitas bahasa, karakteristik bahasa yang fundamental yang membantu kita untuk terlibat dalam aktvitas berbicara yang mengandung pembuatan pilihan secara konstan, pada tiap tingkatan struktur linguistic, secara selaras sesuai dengan keperluan manusia, kepercayaan, keinginan, dan maksud manusia, dan situasi dunia nyata tempat mereka berinteraksi.</p>
<p>Nadar (2008) dalam buku <em>Pragmatik dan Penelitian Pragmatik</em> melengkapi kajian akademis pragmatik. Morris (1938), Crystal (1980), serta Hartmann dan Stork (1972) menjelaskan bahwa semantik, pragmatik, dan sintaksis merupakan cabang semiotika. Semiotika sendiri memiliki tiga cabang kajian, yaitu (1) sintaksis, mengkaji hubungan formal antartanda, (2) semantik, mengkaji hubungan tanda dengan objek yang diacu, (3) pragmatik, (3) mengkaji hubungan tanda dengan pengguna bahasa.</p>
<p>Leech (1993) menyatakan bahwa pragmatik mempunyai kaitan erat dengan semantik. Semantik memperlakukan makna sebagai suatu hubungan dua segi, yaitu ‘dyadic’ seperti ‘Apa artinya X?, sedang pragmatik memperlakukan makna sebagai hubungan tiga segi, yaitu ‘triadic’ seperti ‘Apa maksudmu dengan X?”. Semantik mendefinisikan makna terpisah dari situasi, penutur, dan lawan tuturnya, sedangkan pragmatik terkait erat penggunaan bahasa.</p>
<p>Lain hal, Parker (1986) menyebut kajian pragmatik sebagai <em>speaker refrence</em> (acuan penutur) dan semantik sebagai <em>linguistic reference </em>(referensi linguistik). Pendapat senada, Finegan (1992) menyebut semantik tidak berkaitan dengan makna tuturan, tuturan dikaji dalam pragmatik. Begitu juga dengan Frawly (1993) menegaskan konteks dan penggunaan yang dikenal sebagai pragmatik menentukan makna. Semantik tidak terlalui terkait dengan pengkajian konteks dan penggunaan bahasa.</p>
<p>Louise Cumming (1999) dalam <em>Pragmatics:</em> <em>A Mutidiciplinary Perspective </em>mengumpulkan kajian akademis pragmatik dari Georgie Green hingga Mei. Georgia Green (1996) dalam buku <em>Pragmatics and Natural Language Understanding </em> menyatakan bahwa pragmatik berada persimpangan ilmu linguistik, psikologi kognitif, antropologi kultural, dan filsafat dengan sosiologi (dinamika interpersonal dan konvensi sosial dan retorika. Dascal (1983) menyatakan bahwa pragmatik berkaitan dengan psikologi. Mey (1993) menyatakan pragmatik sebagai persoalan filosofis, berkonsekuensi linguistik teoretis dan penggunaan bahasa.</p>
<p>Pragmatik memang memiliki usia yang relatif muda (Nadar, 2008). Hal ini tampak dari jabaran pendapat Leech (1983), Mey (1003), dan Wijaya (1996). Kelahirannya memang tidak bisa terlepas dari pemikiran para filsuf (Levinson:1983, Mey: 1993, Wijaya:1996).</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Definisi</strong></p>
<p>Banyak pakar mendefinisikan pragmatik. Nadar (2008) menjabarkannya berikut di antaranya:</p>
<ol>
<li>Parker (1986) pragmatik adalah ‘the study of how language is used for communication’ ‘kajian tentang bagaimana bahasa digunakan untuk berkomunikasi ‘</li>
<li>Mey (1993), pragmatik adalah ‘the study of conditions of human language uses as these are determined by the context of society’ ‘kajian tentang kondisi pengunaaan bahasa manusia sebagaimana ditentukan oleh konteks masyarakatnya.</li>
<li>Terkait konteks, Wijana (1996), pragmatik mengkaji makna yang terikat konteks</li>
<li>Searle, Kiefer, dan Bierwich (1980), pragmatics is concerned with the way in which the interpretation of syntactically defined expressions depends on the particular conditions of their use in context ‘pragmatik berkaitan interpretasi suatu ungkapan yang dibuat mengikuti aturan sintaksis tertentu dan cara menginterpretasi ungkapan tersebut tergantung pada kondisi-kondisi khusus penggunaan ungkapan tersebut dalam konteks</li>
<li>Levinson (1983) mendefinisikan ‘pragmatics is the study of those relations between language and context that are grammaticallized or encoded in the structure of language’ ‘pragmatik merupakan kajian hubungan bahasa dan konteks yang tergramatikalisasi atau terkodefikasi dalam struktur bahasa’</li>
<li>Cruse (dalam Cumming, 1999) menyatakan pragmatik berkaitan dengan informasi, kode, konvensi, konteks, dan penggunaan.</li>
<li>Stalnaker (1972), pragmatik adalah ‘the study of deixis (at least in part), implicature, presupposition, speech act, and aspec of discourse structure’ ‘pragmatik adalah kajian mengenai deiksis, implikatur, presuposisi, tindak tutur, dan aspek struktur wacana.</li>
</ol>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Konsep dan Teori Pragmatik</strong></p>
<p>Berdasar definisi pragmatik, konsep dan teori pragmatik dapat diturunkan. Cruse (dalam Cumming, 1999) menyatakan pragmatik berkaitan dengan informasi, kode, konvensi, konteks, dan penggunaan. Stalnaker (1972), pragmatik adalah ‘the study of deixis (at least in part), implicature, presupposition, speech act, and aspec of discourse structure’ ‘pragmatik adalah kajian mengenai deiksis, implikatur, presuposisi, tindak tutur, dan aspek struktur wacana. Cummings (1999) menyebut bahwa konsep dan teori pragmatik terdiri dari teori tindak tutur, teori implikatur, teori relevansi, dan deiksis.</p>
<p>Jhon L. Austin berawal dari ceramah ‘How to do things with words’ yang menjadi teori tindak tutur (<em>Speech Act</em>) menyatakan ada tiga syarat yang harus dipenuhi dalam tuturan performatif, syarat itu disebut <em>felicity conditions, </em>yaitu (1)pelaku dan situasi harus sesuai, (2) tindakah dilaksanakan dengan lengkap dan benar oleh semua pelaku, dan (3) pelaku punya maksud yang sesuai.  John R. Searle (1969) mengembangkan gagasan tindak tutur ini melalui karyanya “<em>Speech Acts: An Essay in the Philosophy of Language</em>. ” Searle membagi tindak tutur ini ke dalam 3 jenis, yaitu (1) tindak lokusi, yaitu tindak untuk mengatakan sesuatu (<em>the act of saying something</em>), (2) tindak ilokusi, yaitu tindak melakukan sesuatu (<em>the act of doing something</em>), dan (3) tindak perlokusi, yaitu tindak membujuk seseorang (<em>the act of persuading someone</em>).</p>
<p>Gumperz dan Hymes (1972) dan juga disebut Wardaugh (1986) membuat akronim SPEAKING (Setting, Participants, Ends, Act of sequence, Keys, Instrumentalities, Norm, dan Genres), yaitu tempat, peserta tutur, tujuan tutur, urutan tutur, cara, media, norma yang berlaku, dan genre. Poedjosoedarmo (1985) memaparkan memoteknik OOE MAU BICARA (<strong>O</strong>rang ke-1, <strong>O</strong>rang ke-2, warna <strong>E</strong>mosi orang ke-1, <strong>M</strong>aksud, <strong>A</strong>danya orang ke-3, <strong>U</strong>rutan tutur, <strong>B</strong>ab yang dibicarakan, <strong>I</strong>nstrumen atau sarana tutur, <strong>C</strong>itarasa tutur, <strong>A</strong>degan tutur, <strong>R</strong>egister, <strong>A</strong>turan atau norma kebahasaan lain.</p>
<p>Tentang implikatur, Mey (1993), menyebut implikatur berasal dari kata ‘imply’ (bahasa Latin: plicare)) yang artinya ‘to fold’ ‘melipat. Untuk mengerti apa yang dilipat atau dismpan harus dilakukan dengan cara membuka. Dalam rangka memahami maksud penutur, lawan tutur harus melakukan interpretasi tuturan.</p>
<p>Grice (1975) dalam artikel ‘Logic and Conversation’ menyatakan bahwa tuturan dapat berimplikasi proposisi yang bukan merupakan bagian dari tuturan tersebut, atau disebut implikatur percakapan. Levinson (1983) dalam Cummings (2000) menjabarkan empat maksim sebagai prinsip kerja sama, yaitu maksim kualitas, kuantitas, relevansi, dan cara. Prinsip in ditentang Leech (1983) karena prinsip ini tidak dapat menjelaskan hubungan rasa (<em>sense</em>) dan daya (<em>force)</em>. Leech (1983) mengemukakan maksim interpersonal yang terdiri dari<em> (1)</em> <em>cost benefit scale, (2) optionally scale, (3) indirectness scale, (4) authority scale,(5) social distance scale.</em> Rahardi (2005) menyorotinya dari segi kesantunan dengan meringkas pendapat Lakoff (1972) terakit tuturan yang santun, yaitu (1) formalitas, (2) ketidaktegasan, dan (3) kesamaan atau kesekawanan.</p>
<p>Nadar (2008) mencatat bahwa deiksis dibicarakan oleh Levinson (1983), Kaswantu Purwo (10983), Parker (1986), dan Mey (1993). Secara etimologi, deiksis berasal dari Yunani, yaitu ‘deiktikos’ artinya hal penunjukkan secara langsung. Dikatakan deiksis apabila referennya berpindah-pindah atau berganti pada saat dan tempat dituturkannya kata itu (Kaswanti Purwo, 1983 dan Parker, 1986).Levinson (1983) mencatat tiga jenis deiksis dalam bahasa Inggris, yaitu deiksis persona, deiksis ruang, dan deiksis waktu. Cumming (1999) menyebut empat deiksis, yaitu deiksis prang dan sosial, deiksis waktu, deiksis tempat, dan deiksis wacana.</p>
<p>Fasold (1990) menyatakan bahwa presuposisi (pra-anggapan) merupakan proposisi yang harus benar untuk beberapa kalimat atau ujaran agar bias bermakna atau mungkin tepat. Pencarian definisi presupoisi di dalam semantic yang didasarkan pada kebenaran bebas konteks tampak gagal. Sekarang tampak bahwa semua presuposisi duhubungkan dengan konteks, dalam pengertian bahwa presuposisi itu tergantung pada apa yang diketahui dan dipercayai orang mengenai dunia. Presuposisi mempunyai karakteristik yang menarik dan berpengaruh. Presuposisi tampak memiliki potensi untuk meyakinkan pendengar mengenai kebenaran proposisi secara lebih efektif daripada pernyataan.</p>
<p>Berikut ini contoh susunan yang mengandung preposisi.</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="121">
<p align="center"><strong>Label</strong></p>
</td>
<td valign="top" width="265">
<p align="center"><strong>Contoh</strong></p>
</td>
<td valign="top" width="246">
<p align="center"><strong>Yang dipresuposisi</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="121">Predikat faktif</td>
<td valign="top" width="265">Harold <em>menyesal </em>melukai Sandra</td>
<td valign="top" width="246">Harold melukai Sandra.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="121">Perubahan verba</td>
<td valign="top" width="265">Sally <em>berhenti </em>merokok.</td>
<td valign="top" width="246">Sally telah merokok.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="121">Iterative</td>
<td valign="top" width="265">Penyakit Hubert kambuh <em>lagi.</em></td>
<td valign="top" width="246">Hubert sebelumnya pernah sakit.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="121">Klausa waktu</td>
<td valign="top" width="265"><em>Setelah Samntha meninggalkannya, </em>Humphrey menjadi putus harapan</td>
<td valign="top" width="246">Samantha meninggalkan Humphrey.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="121">Konstruksi <em>cleft</em></td>
<td valign="top" width="265">Harrsionlah yang mencium Sigrid.</td>
<td valign="top" width="246">Seorang mencium Sigrid.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="121">Klausa relative Nonrestriktif</td>
<td valign="top" width="265">Ahli matematika <em>yang berusaha membuktikan Konjektur Goldberg</em>gagal.</td>
<td valign="top" width="246">Ahli matematika mencoba membuktikan Konjektur Goldberg.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>&nbsp;</p>
<p>Keenan (1971) dan McCawley (1981) (dalam Fasold, 1990) mengemukakan adanya dua jenis presuposisi, yaitu</p>
<p>a.       presuposisi semantik yang bias terpengaruh tes seperti penelaahan kandungan pernyataan (assertion) dan penegatifan (negation)</p>
<p>b.      presuposisi pragmatik yang didsarkan pada konsep penggunaan yang benar.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lebih lanjut dijelaskan bahwa preposisi semantik agaknya menemui masalah pada contoh “<em>Homer has come before” (</em>Homer telah dating sebelumnya). Kalimat ini tidak bisa dipresuposisi menjadi “<em>Homer is coming again</em>” (Homer dating lagi) sebab mungkin sekali untuk membayangkan bahwa preposisi “<em>Homer has come before” </em> bisa salah.</p>
<p>Untuk menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan konsep presuposisi semantik ini, harus ditambahkan dengan masalah proyeksi (<em>projection problem). </em>Sebuah<em> </em>kalimat sederhana memiliki presuposisi. Sebuah kalimat sederhana dapat dikatakan memiliki presuposisi. Tetapi bagaimanan bila kita menambahkan pada kalimat itu sebuah kalimat yang lain, untuk mendapatkan kalimat yang kompleks. Tampaklah bahwa kadang-kadang presuposisi kalimat sederhana menjadi bagian seperangkat presuposisi kalimat kompleks.</p>
<p>Jika presuposisi dianggap sebagai masalah pragmatik, adakah cara-cara yang berbeda untuk menginterpretasikannya? Tampaknya ada. Salah satu ide linguistik teoretis adalah terdapat perbedaan antara kompetensi dan performansi (Chomsky, 1965 dalam Fasold, 1990).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Daftar Pustaka</strong></p>
<p>Bungin, Burhan. 2007. <em>Penelitian Kualitatif.</em> Jakarta: Kencana Prenada Media Group</p>
<p>Coumming, Louise. 1999. Pragmatics, A Mutidiciplinary Perspective. New York: Oxford University Press. Terjemahan. Ibrahim, Abdul Syukur (editor). 2007. <em>Pragmatik: Sebuah Prespektif Multidispliner.</em> Yogyakarta: Pustaka Pelajar</p>
<p>Fasold, Ralph. 1990. <em>The Sociolinguistics of Language. </em>New York: Basic Blakwell.</p>
<p>Ibrahim, Abdul Syukur. 1993. <em>Kajian Tindak Tutur.</em> Surabaya: Usaha Nasional.</p>
<p>Leech, Geoffrey. 1982. The Principles of Pragmatics. Terjemahan. Oka, M.D.D. dan Setyadi Setyapranata (Penerjemah). 1993. <em>Prinsip-Prinsip Pragmatik</em>. Jakarta: Universitas Indonesia Press</p>
<p>Nadar, F.X. 2008. <em>Pragmatik dan Penelitian Pragmatik. </em>Yogyakarta: Graha Ilmu</p>
<p>Rahardi, R. Kunjana. 2005. <em>Kesantunan Imperatif Bahasa Indonesia. </em>Jakarta: Erlangga</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kataberkata.com/?feed=rss2&#038;p=228</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Teori Relevansi</title>
		<link>http://kataberkata.com/?p=225</link>
		<comments>http://kataberkata.com/?p=225#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Nov 2011 09:28:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasan Bahasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?p=225</guid>
		<description><![CDATA[ Konteks implikatur diperoleh bukan diberikan tetapi diciptakan. Hal ini merupakan pernyataan utama teori relevansi. Cruse (2000) berkomentar bahwa konteks yang benar untuk menginterpretasikan ujaran tidak diberikan sebelumnya, melainkan pendengar memilih konteks dengan sendirinya. Sperber dan Wilson (dalam Cummings, 1999) menyatakan bahwa penemuan kembali implikatur menggunakan inferensi nondemonstratif. Komponen relevansi sangat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong>Konteks implikatur diperoleh bukan diberikan tetapi diciptakan. Hal ini merupakan pernyataan utama teori relevansi. Cruse (2000) berkomentar bahwa konteks yang benar untuk menginterpretasikan ujaran tidak diberikan sebelumnya, melainkan pendengar memilih konteks dengan sendirinya.</p>
<p>Sperber dan Wilson (dalam Cummings, 1999) menyatakan bahwa penemuan kembali implikatur menggunakan inferensi nondemonstratif. Komponen relevansi sangat bergantung pada proses kognitif. Relevansi sangat penting sebagai upaya penuntut komunikasi. Peran pengetahuan kognisi diharapkan mampu untuk mengkonfirmasi hipotesis dalam percakapan.</p>
<p>Teori relevansi Sperber dan Wilson pada dasarnya merupakan kritik terhadap empat maksim yang terdapat dalam prinsip kerja sama Grice. Grice (dalam Rahardi, 2005) menyatakan prinsip kerja sama  mencakup maksim kuantitas, maksim kualitas, maksim relevansi, dan maksim pelaksanaan. Sebagai bandingan, Leech (1983) menyatakan prinsip kesantunan mencakup maksim kebijaksanaan, maksim kedermawanan, maksim penghargaan, maksim permufakatan, maksim kesimpatisan. Nadar (2008), menyatakan bahwa Leech (1983) dan Wijana (1996) menyatakan interaksi percakapan tidak hanya dengan prinsip kerja sama, melainkan juga prinsip kesopanan dengan sejumlah maksim, yaitu (1) maksim kebijaksanaan, (2) maksim penerimaan, (3) maksim kemurahan, dan (4) maksim kerendahan hati.</p>
<p>Lebih detail lagi, Leech (1983), Brown &amp; Levinson (1987), dan Robin Lakoff (1973) membuat skala kesantunan melalui ketentuan-ketentuan tertentu. Leech memberikan skala kesantunan mencakup (1) <em>cost-benefit scale</em>, (2) <em>optionality scale</em>, (3) <em>indirectness scale</em>, (4) <em>authority scale</em>, dan (5) <em>social distance scale</em>. Levinson mengemukakan bahwa skala kesantunan meliputi (1) skala peringkat jarak sosial penutur dan mitra tutur banyak ditentukan oleh perbedaan umur, jenis kelamin, dan latar belakang sosiokultural, (2) skala peringkat jarak sosial penutur dan mitra tutur berdasarkan peringkat kekuasaan, (3) skala peringkat jarak sosial penutur dan mitra tutur berdasarkan kedudukan relatif tindak tutur yang satu dengan yang lain. Robin Lakoff memberikan ketentuan (1) skala formalitas, (2) skala ketidaktegasan, (3) skala kesamaan. Sementara itu,Yule (1996) menyatakan bahwa hal yang mendasari prinsip kesopanan adalah konsep <em>face</em>.<em> </em>Brown dan Levinson (dalam Nadar, 2008) membagi konsep muka menjadi dua, yaitu muka negatif dan muka positif.</p>
<p>Subuki (2007) menyatakan bahwa Sperber dan Wilson berpendapat bahwa bidal yang terpenting dalam teori Grice adalah bidal relevansi, dan percakapan dapat terus berjalan meski hanya melalui bidal ini. Dalam teori relevansi dipelajari bagaimana sebuah muatan pesan dapat dipahami oleh penerimanya. Renkema (dalam Subuki, 2007), menyebutkan bahwa bahasa dalam penggunaannya (<em>language in use</em>) selalu dapat diidentifikasi melalui hal yang disebutnya <em>indeterminacy</em> atau <em>underspecification</em>. Melalui hal tersebut, penerima pesan (<em>addressee</em>) hanya memilih sesuatu yang dianggapnya relevan dengan apa yang hendak disampaikan oleh pengirim pesan (<em>addresser</em>) dalam konteks komunikasi tertentu. Contoh: <em>Pastikan semua pintu terkunci jika meninggalkan ruangan ini. </em>Setiap pembaca dapat memahami bahwa pesan ini hanya berlaku jika ia akan meninggalkan ruangan tersebut untuk terakhir kalinya, bukan untuk setiap kali meninggalkan ruangan, misalnya untuk ke kamar mandi. Dengan kata lain, pesan ini berada dalam spesifikasi tertentu yang disepakati oleh <em>addresser</em> dan <em>addressee</em> dalam konteks komunikasi.</p>
<p>Mengacu pada maksim relevansi, Rahardi (2005) menyatakan bahwa agar terjalin kerja sama yang baik antara penutur dan petutur, masing-masing hendaknya dapat memberikan kontribusi yang relevan tentang sesuatu yang dipertuturkan itu. Bertutur dengan tidak memberikan kontribusi yang demikian dianggap tidak mematuhi dan melanggar prinsip kerja sama. Contoh:</p>
<p>Sang Hyang Tunggal : Namun sebelum kau pergi, letakkallah kata-kataku ini dalam hati</p>
<p>Semar                           : Hamba bersedia, ya Dewa.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Informasi indeksial: tuturan ini dituturkan oleh Sang Hyang Tunggal kepada tokoh Semar dalam sebuah adegan perwayangan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kegiatan percakapan di atas dapat dikatakan memenuhi maksim relevansi Grice dalam prinsip kerja sama. Hal ini berbeda pada contoh berikut:</p>
<p>Direktur               :Bawa sini semua berkasnya akan saya tanda tangani dulu!</p>
<p>Sekretaris            : Maaf, Bu. Kasihan sekali nenek tua itu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Informasi indeksial: tuturan ini dituturkan oleh seorang direktur kepada sekretarisnya pada saat mereka bersama-sama bekerja di sebuah ruang kerja direktur. Pada saat itu, ada seorang nenek tua yang sudah menunggu lama.</p>
<p>Kritik filsafat teori relevansi bermunculan. Cummings (1999) meninjau dari perspektif postivisme logika, sebuah gerakan filsafat yang dominan selama 20-30 tahun untuk melawan konteks kultural bahwa sains dapat memberikan jawacan atas semua persoalan penting dari sejumlah bidang. Positivisme logika mengajukan kriteria signifikasi bahwa tiap pernyataan tidak dapat dibuktikan kebenarannya secara langsung (dapat dibuktikan dengan pengalaman) dianggap tidak ada artinya. Putnam menyatakan bahwa positivisme mereduksi gagasan makna dan rasionalitas. Reduksionisme ilmiah teori relevansi mencakup penetangan reduksionisme melalui (1) kaidah eliminasi, (2) deduksi dan pemahaman, dan (3) konfirmasi fungsional (Cummings, 1999).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Daftar Pustaka</strong></p>
<p>Cummings, Louise. 1999. Pragmatics, A Mutidicplinary Perspective. New York: Oxford University Press. Terjemahan. Ibrahim, Abdul Syukur (editor). 2007. <em>Pragmatik: Sebuah Prespektif Multidispliner.</em> Yogyakarta: Pustaka Pelajar</p>
<p>Cruse, D. Alan. 2000. Meaning in Language: An Introduction to Semantics and Pragmatics. <em>Makna Bahasa: Pengantar Memahami Semantik dan Pragmatik</em>. Oxford: Oxford University Press</p>
<p>Leech, Geoffrey. 1982. The Principles of Pragmatics. Terjemahan. Oka, M.D.D. dan Setyadi Setyapranata (Penerjemah). 1993. <em>Prinsip-Prinsip Pragmatik</em>. Jakarta: Universitas Indonesia Press</p>
<p>Nadar, F.X. 2008. <em>Pragmatik dan Penelitian Pragmatik. </em>Yogyakarta: Graha Ilmu</p>
<p>Rahardi, R. Kunjana. 2005. <em>Kesantunan Imperatif Bahasa Indonesia. </em>Jakarta: Erlangga</p>
<p>Subuki, Makyun. 2007. <em>Mengapa Pragmatik Perlu Dipelajari dalam Program Studi Linguistik?</em><em> </em> Online. (diunduh dari www.scribd.com/&#8230;/Mengapa-Pragmatik-Perlu-Dipelajari-Dalam-Program-Studi-Linguistik)</p>
<p>Wijaya, I Dewa Putu. 1996. <em>Dasar-dasar Pragmatik</em>. Yogyakarta: Penerbit Andi</p>
<p>Yule, George. 2002. <em>Pragmatics</em>. Terjemahan. Oxford: Oxford University Press</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kataberkata.com/?feed=rss2&#038;p=225</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Metapuisi: Redefinisi Puisi</title>
		<link>http://kataberkata.com/?p=223</link>
		<comments>http://kataberkata.com/?p=223#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Nov 2011 09:27:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lentera Sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?p=223</guid>
		<description><![CDATA[DEFINISI PUISI &#160; Puisiku tak cukup hanya diwakili kata, garis, dan gambar Mereka tak mampu mengungkapkan ekspresi perasaan &#160; Puisiku tak cukup diwakili oleh gerak nonverbal Ia pun tak mampu mengungkapkan ekspresi perasaan &#160; Puisiku bebas mengekspresikan diri dengan media apa saja Entah kata, garis, gambar, gerak nonverbal, bahkan simbol [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>DEFINISI PUISI</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Puisiku tak cukup hanya diwakili kata, garis, dan gambar</p>
<p>Mereka tak mampu mengungkapkan ekspresi perasaan</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Puisiku tak cukup diwakili oleh gerak nonverbal</p>
<p>Ia pun tak mampu mengungkapkan ekspresi perasaan</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Puisiku bebas mengekspresikan diri dengan media apa saja</p>
<p>Entah kata, garis, gambar, gerak nonverbal, bahkan simbol yang tak terdefinisikan sekalipun</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Puisi adalah ekspresi isi perasaan yang diungkapkan melalui bentuk apapun</p>
<p>Ini melebihi sekadar persoalan signifie dan signifiant</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kataberkata.com/?feed=rss2&#038;p=223</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>FB untuk Pendidikan</title>
		<link>http://kataberkata.com/?p=218</link>
		<comments>http://kataberkata.com/?p=218#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Nov 2011 09:24:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ajaran Pembelajaran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?p=218</guid>
		<description><![CDATA[Banyak kasus penyalahgunaan facebook, situs jejaring sosial yang sangat populer, bermunculan akhir-akhir ini. Padahal, tujuan awal diluncurkannya facebook adalah sebagai media untuk saling mengenal bagi para mahasiswa Harvard. Rupanya media untuk saling kenal ini dimanfaatkan juga oleh oknum-oknum tak bertanggung jawab. Sebut saja, kisah perkenalan lewat facebook yang berlanjut pada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Banyak kasus penyalahgunaan facebook, situs jejaring sosial yang sangat populer, bermunculan akhir-akhir ini. Padahal, tujuan awal diluncurkannya facebook adalah sebagai media untuk saling mengenal bagi para mahasiswa Harvard. Rupanya media untuk saling kenal ini dimanfaatkan juga oleh oknum-oknum tak bertanggung jawab.</p>
<p>Sebut saja, kisah perkenalan lewat facebook yang berlanjut pada “kopi darat”. Perkenalan dari dunia maya, terkadang beridentitas palsu, diwujudkan dengan bersemuka di sebuah tempat. Perkenalan yang singkat sudah dapat dijadikan modal untuk memberikan rasa percaya. Tak jarang berakhir sebagai peristiwa penculikan dan kriminal lain.</p>
<p>Media ini juga dapat dijadikan sebagai ajang berkomersialisasi, termasuk pekerja seks komersil. Germo-germo semakin melek teknologi. Mereka memperkenalkan dagangannya melalui situs jejaring sosial facebook. Beruntunglah, aparat keamanan juga tidak gaptek sehingga <em>cyber criminal</em> dengan modus ini dapat diungkap.</p>
<p>Lantas, apakah facebook harus diharamkan, dilarang? Facebook hanya media, jika disalahgunakan akan berbahaya. Facebook hanya alat, jika disalahgunakan menimbulkan akibat. Sama seperti alat lain. Misalnya pisau, jika disalahgunakan juga menimbulkan akibat. Oleh karena itu, pengguna/<em>user</em> facebook harus dapat bersikap arif dan bijak.</p>
<p>Jika alat digunakan secara positif, tentu menimbulkan manfaat. Berbagai bidang, berbagai usia, berbagai profesi dapat memanfaatkan facebook secara positif. Tak luput untuk bidang pendidikan yang memiliki jutaan peserta didik dapat memanfaatkan facebook. Selain menyampaikan materi ajar, peserta didik pun akan mendapatkan pendidikan teknologi.</p>
<p>Untuk memanfaatkan layanan facebook, seorang peserta didik harus terlebih dulu mendaftar sebagai anggota. Setelah sukses registrasi, konfirmasi dapat dilakukan via surat elektronik/email. Berbagai layanan dari kabar terbaru, komentar,  pesan, obrolan, koleksi foto, tautan, acara, catatan, permainan, dan lain-lain dapat dimanfaatkan.</p>
<p>Setelah itu, pengguna diminta untuk mengisi profil berisikan identitas diri, pendidikan, hingga pekerjaan. Umumnya, banyak pengguna yang jujur menuliskan identitasnya. Namun tak sedikit juga pengguna yang memberikan identitas dan foto yang palsu.</p>
<p>Banyak pengguna facebook mengisi kabar terbarunya dengan mencurahkan perasaan. Rasa senang, sedih, kesal, jengkel, marah, dan lain-lain ditulis dalam kabar terbaru. Terkadang tanpa disadari bahwa apa yang ditulis pengguna menunjukkan karakteristik kepribadiannya. Kabar-kabar terbaru ini tak dapat dipungkiri oleh banyak pengguna sangat menginginkan untuk dikomentari. Interaksi komentar teman-teman pengguna biasanya menarik hati pengguna.</p>
<p>Namun, tentu akan lebih bermanfaat jika kabar-kabar terbaru ini diisi dengan hal-hal seputar pendidikan. Misalnya “2010 bumi itu datar”. Dari kabar ini mungkin akan muncul komentar, seperti “kok bisa?”. Mungkin bisa ditanggapi lagi dengan “kejadian di muka bumi dapat dilihat di layar datar”.</p>
<p>Dalam kabar terbaru juga bisa dituliskan berbagai hasil penelitian. Misalnya “90% siswa suka multimedia”. Mungkin akan muncul komentar “teorinya siapa?”. Lalu, dapat ditanggapi dengan “hasil penelitian Wahono tahun 2006”. Jika pembaca penasaran, informasi singkat ini dapat dilacak di mesin pencari, seperti google.com, yahoo.com, bing.com, dan lain-lain dengan menuliskan kata kunci “Wahono, multimedia”.</p>
<p>Fitur dalam kabar terbaru sangat memungkinkan pengguna menampilkan foto. Pengguna dapat menuliskan kabar terbaru melalui objek ilmiah, foto kegiatan belajar melalui pendekatan tertentu, buku-buku yang baru terbit, buku-buku yang ditulis pengguna sendiri, dan lain-lain. Semua gambar yang di-<em>upload</em> diharapkan memiliki nilai edukasi yang tinggi. Dengan demikian, pengguna facebook yang lain memperoleh sebuah pembelajaran.</p>
<p>Selain menayangkan kabar terbaru disertai foto, facebook juga memberikan layanan kabar terbaru disertai video. Video ini juga harus memiliki nilai edukasi yang tinggi. Video ini dapat berupa hasil rekaman pendek sendiri atau dari sumber lain, misalnya youtube.com. Jutaan video dari youtube tentu harus difilter. Video-video yang bernilai edukasiharus dipilih. Video-video yang bernilai edukasi rendah harus dihindari.</p>
<p>Facebook juga menyediakan layanan undangan acara. Jika acara yang dimaksud adalah pelaksanaan kegiatan ilmiah, tentu situs jejaring sosial ini akan membawa banyak manfaat untuk pengguna. Undangan acara seminar, debat, diskusi, sarasehan, workshop, lokakarya, dan lain-lain dapat disampaikan melalui facebook tanpa harus repot-repot menyebar undangan cetak.</p>
<p>Kabar terbaru facebook juga memberikan layanan tautan ke situs tertentu. Tautan-tautan ini dapat dialamatkan pada situs-situs pendidikan, seperti situs departemen pendidikan, situs universitas, situs sekolah, hingga blog-blog milik personal. Hal-hal menarik dari situs-situs edukasi ini dapat dikomentari sekaligus memberikan informasi kepada pengguna lain.</p>
<p>Facebook juga menyediakan layanan pesan. Kegiatan konsultasi akademik pun dapat dilakukan melalui layanan ini. Layanan pesan ini terdiri atas pesan dinding yang dapat dibaca orang lain dan pesan dinding privat yang tidak dapat dibaca orang lain. Jika pesan-pesan yang disampaikan bernilai edukasi bagi orang lain, alangkah bijak pengiriman pesan dilakukan di dinding. Jika dianggap bermanfaat bagi orang lain, dapat dituliskan di pesan dinding. Jika kurang nyaman, konsultasi dapat dilakukan di pesan dinding secara privat.</p>
<p>Selain melalui pesan, konsultasi belajar dapat dilakukan melalui obrolan (<em>chatting</em>) jika kedua pengguna <em>online</em>. Umumnya, obrolan yang terjadi terkait perasaan, bertanya kabar, dan lain-lain. Pengguna juga dapat memaksimalkan layanan obrolan ini untuk konsultasi akademik. Melalui layanan ini, konsultasi belajar dapat berlangsung aktif. Pertanyaan dapat langsung dijawab tanpa harus menunggu lama.Konsultasi ini dapat memangkas jarak yang terkadang menjadi kendala dalam berkonsultasi.</p>
<p>Facebook juga menyediakan layanan catatan. Berbagai informasi bernilai akademis dapat ditulis dalam layanan catatan ini. Catatan pemikiran, tulisan populer, esai ringkas, dan lain-lain dapat dibagikan kepada pengguna lain. Jika menarik, sangat dimungkinkan memperoleh komentar-komentar yang berupa tanggapan, kesan, saran, kritik, dan lain-lain dari pengguna lain.</p>
<p>Untuk memperluas jaringan, pengguna dapat menambahkan teman dari jutaan anggota facebook. Ratusan, bahkan ribuan teman dapat dikelompokkan berdasar asal, sekolah, universitas, hingga profesi. Misalnya kelompok guru, kepala sekolah, sekolah X, universitas Y, MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran), dan lain-lain.</p>
<p>Jika membutuhkan layanan pesan pendek/SMS, pengguna dapat memodifikasi layanan dasar facebook dengan menambahkan fasilitas pesan pendek gratis. Pesan pendek ini pun dapat digunakan untuk urusan akademis.</p>
<p>Pengguna dapat mengatur privasi dalam akunnya. Akun pengguna lain yang kurang bernilai akademis dapat diblokir atau bahkan dihapus. Hal ini sangat berguna bagi pengguna untuk melakukan filterisasi. Akun pengguna yang tidak memiliki informasi identitas yang jelas dapat dihapus, apalagi akun-akun yang menawarkan wanita-wanita jalang.</p>
<p>Sekali lagi, facebook adalah media. Pengguna harus dapat memanfaatkan media ini untuk menambah nilai akademisnya, bukan sebaliknya. Pertanyaannya, apakah personal-personal akademis, khususnya siswa/mahasiswa dan guru/dosen mau menjadikan facebook sebagai media pendidikan? Mari kita amati kata berkata dan gambar berujar dalam facebook.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Malang, 21 Februari 2010</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kataberkata.com/?feed=rss2&#038;p=218</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Minimnya Pengembangan Multimedia Pembelajaran BI</title>
		<link>http://kataberkata.com/?p=215</link>
		<comments>http://kataberkata.com/?p=215#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Nov 2011 09:23:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ajaran Pembelajaran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?p=215</guid>
		<description><![CDATA[A.      Media Pembelajaran Istilah media mula-mula dikenal dengan alat peraga, kemudian dikenal dengan istilah audiovisual aids (alat bantu pandang/dengar). Selanjutnya disebut instructional materials (materi pembelajaran), dan kini istilah yang lazim digunakan dalam dunia pendidikan nasional adalah instructional media (media pendidikan atau media pembelajaran). Dalam perkembangannya, sekarang muncul istilah e-Learning. Huruf [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>A.      </strong><strong>Media Pembelajaran</strong></p>
<p>Istilah media mula-mula dikenal dengan alat peraga, kemudian dikenal dengan istilah <em>audiovisual aids</em> (alat bantu pandang/dengar). Selanjutnya disebut <em>instructional materials</em> (materi pembelajaran), dan kini istilah yang lazim digunakan dalam dunia pendidikan nasional adalah <em>instructional media</em> (media pendidikan atau media pembelajaran). Dalam perkembangannya, sekarang muncul istilah e-Learning. Huruf “e” merupakan singkatan dari “elektronik”. Artinya media pembelajaran berupa alat elektronik, meliputi Multimedia Interaktif sebagai bahan ajar offline dan web sebagai bahan ajar online, ebook, PDF book, Compile HTML, dll.</p>
<p>Dari segi perkembangan teknologi, media pembelajaran dapat dikelompokkan menjadi dua kategori luas, yaitu</p>
<ol>
<li>pilihan media tradisional, dapat dibedakan menjadi (1) visual diam yang diproyeksikan, misal proyeksi opaque (tak tembus pandang), proyeksi overhead, slides, dan filmstrips, (2) visual yang tidak diproyeksikan, misal gambar, poster, foto, charts, grafik, diagram, pemaran, papan info, (3) penyajian multimedia, misal slide plus suara (tape), multi-image, (4) visual dinamis yang diproyeksikan, misal film, televisi, video, (5) cetak, misal buku teks, modul, teks terprogram, workbook, majalah ilmiah/berkala, lembaran lepas (<em>handout</em>), (6) permainan, misal teka-teki, simulasi, permainan papan, dan (7) realia, misal model, specimen (contoh), manipulatif (peta, boneka).</li>
<li> pilihan media teknologi mutakhir, dapat dibedakan menjadi (1) media berbasis telekomunikasi, misal <em>teleconference,</em> kuliah jarak jauh, dan (2) media berbasis mikroprosesor, misal <em>computer-assistted instruction,</em> permainan komputer, sistem tutor intelejen, interaktif, <em>hypermedia</em>, dan <em>compact (video) disc</em>(Seels &amp;Glasgow dalam Arsyad, 2002:33).</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hamidah (2003) menyatakan bahwa ragam media pembelajaran Bahasa Indonesia beraneka ragam,yaitu gambar, <em>chart,</em> bagan, tabel, grafik, Overhead Projektor  (OHP), dan <em>tape recorder.</em>Perbedaan pendapat Seels &amp; Glasgow dan Hamidah menunjukkan perkembangan kemajuan teknologi di negara masing-masing.</p>
<p>Dalam memilih media pembelajaran yang tepat diperlukan pertimbangan tertentu, yaitu <em>ACTION</em>, yaitu <em>Access, Cost, Technology, Interactivity, Organization, dan Novelty</em> (Pustekkom Depdiknas) yang akan dijelaskan sebagai berikut.</p>
<ol>
<li><em> </em><em>Access</em>: Kemudahan akses menjadi pertimbangan pertama dalam memilih media. Misalnya, kita ingin menggunakan media internet, perlu dipertimbangkan terlebih dahulu apakah ada saluran untuk koneksi ke internet? Akses juga menyangkut aspek kebijakan, misalnya apakah murid diijinkan untuk menggunakannya? Komputer yang terhubung ke internet jangan hanya digunakan untuk kepala sekolah, tapi juga guru, dan yang lebih penting untuk murid. Murid harus memperoleh akses.</li>
<li><em></em><em>Cost: </em>Biaya juga harus dipertimbangkan. Banyak jenis media yang dapat menjadi pilihan kita. Media canggih biasanya mahal. Namun, mahalnya biaya itu harus kita hitung dengan aspek menfaatnya. Semakin banyak yang menggunakan, maka unit cost dari sebuah media akan semakin menurun.</li>
<li><em></em><em>Technology: </em>Mungkin saja kita tertarik kepada satu media tertentu. Tapi kita perlu perhatikan apakah teknologinya tersedia dan mudah menggunakannya? Katakanlah kita ingin menggunakan media audio visual di kelas. Perlu kita pertimbangkan, apakah ada listrik, voltase listrik cukup dan sesuai?</li>
<li><em></em><em>Interactivity&#8221; </em>Media yang baik adalah yang dapat memunculkan komunikasi dua arah atau interaktivitas. Setiap kegiatan pembelajaran yang anda kembangkan tentu saja memerlukan media yang sesuai dengan tujuan pembelajaran tersebut.</li>
<li><em></em><em>Organization: </em>Pertimbangan yang juga penting adalah dukungan organisasi. Misalnya, apakah pimpinan sekolah atau yayasan mendukung? Bagaimana pengorganisasiannya. Apakah di sekolah ini tersedia satu unit yang disebut pusat sumber belajar?</li>
<li><em> </em><em>Novelty: </em>Kebaruan dari media yang anda pilih juga harus menjadi pertimbangan. Media yang lebih baru biasanya lebih baik dan lebih menarik bagi siswa.</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>B.      </strong><strong>Problem</strong></p>
<p>Dalam KTSP, salah satu media  pembelajaran yang diperlukan adalah rekaman televisi. Hal ini menimbulkan beberapa kendala yang dialami guru, yaitu:</p>
<ol>
<li>media pembelajaran yang berasal dari televisi khususnya berita belum pernah ada dan belum pernah dibuat apalagi dijual bebas</li>
<li>membutuhkan kemampuan yang kompleks dan relatif tinggi</li>
<li>pembuatan media pembelajaran harus memiliki langkah-langkah dan prosedur tertentu</li>
<li>metode pemberian tugas,  siswa dan guru kesulitan menemukan stasiun televisi mana yang akan menyampaikan topik tertentu, pada hari apa dan jam berapa karena banyak stasiun televisi</li>
<li>siswa sering tidak melaporkan tugas tersebut dan guru juga seringkali terlewatkan acara televisi tersebut guru dan siswa tidak memiliki referensi yang sama.</li>
<li>penyampaian dengan metode ceramah menyebabkan pembelajaran menjadi pusat  siswa hanya medengarkan saja dan berakibat tidak menarik perhatian siswa dan membosankan. Saat evaluasi performansi siswa, topik menjadi melebar karena pemahaman atas referensi yang berbeda (Kusumah, 2007)</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>Menurut Romi Satria Wahono (2006), peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), bahwa melalui multimedia, daya serapnya lebih tinggi sekitar 30-80 persen. Selain itu, berdasarkan penelitian, jika guru hanya menggunakan metode &#8216;memperdengarkan&#8217; saja, maka anak didik hanya dapat mengungkapkan kembali 70 persen apa yang didengarnya setelah tiga jam dan 10 persen saja setelah tiga hari. Dengan hanya menggunkan metode &#8216;mempertunjukkan&#8217;, anak didik hanya dapat mengungkapkan kembali 72 persen apa yang didengarnya setelah tiga jam dan 20 persen setelah tiga hari. Jika menggunakan kedua metode itu, anak didik dapat ungkapkan 85 persen yang diperolehnya setelah tiga jam dan 65 persen setelah tiga hari. Oleh karena itu, menurut Romi, guru harus berupaya memulai dengan menggunakan software yang mudah digunakan, seperti Microsoft Power Point atau Open Office Impress dan berusaha menguasai animasi dan efeknya.</p>
<p>Di lain sisi, minimnya pengembangan multimedia pembelajaran menjadi kenyataan. Dalam suatu lomba pengembangan CD-Multimedia Interaktif oleh PMPTK sebuah propinsi hanya diikuti oleh 66 guru TK/RA/SD/MI dan 188 guru SMP/SMA/SMK, dadahal jumlah guru seluruh Indonesia adalah 2,7 juta. Hal ini partisipasi guru yang aktif hanya 0,000094%.</p>
<p>Pernah muncul anggapan guru adalah orang yang paling tahu. Paradigma itu kemudian berkembang menjadi guru lebih dahulu tahu. Namun sekarang bukan saja pengetahuan guru bisa sama dengan murid, bahkan murid bisa lebih dulu tahu dari gurunya. Hal itu dapat terjadi akibat perkembangan media informasi. Pada saat ini guru bukan lagi satu-satunya sumber belajar. Banyak contoh, di mana siswa dapat lebih dahulu mengakses informasi dari media masa seperti surat kabar, televisi, bahkan internet. Bagaimana guru menyikapi perkembangan ini?</p>
<p>Menurut Pustekkom Depdiknas, ada tiga kelompok guru dalam menyikapi hal ini, yaitu (1) kelompok tidak peduli, (2) kelompok menunggu petunjuk dari pemerintah, (3) kelompok menyesuaikan diri. Kelompok yang paling bijaksana adalah kelompok terakhir.</p>
<p>Media sangat dibutuhkan oleh guru. Mengapa Agar guru tidak menghadapi kesulitan dalam menjelaskan suatu meteri pelajaran kepada murid. Misalnya, guru ingin menjelaskan tentang seekor binatang yang disebut gajah kepada siswa SD kelas awal atau ingin menjelaskan tentang kereta api kepada siswa yang berada di Kalimantan, Irian, atau di tempat lain yang tidak ada kereta api. Menurut Pustekkom, ada beberapa cara yang mungkin dilakukan guru, yaitu:</p>
<ol>
<li>cara pertama, guru akan bercerita tentang gajah, kereta api. Guru bisa bercerita mungkin karena pengalaman, membaca buku, cerita orang lain, atau pernah melihat gambar ketiga objek itu. Apabila siswa tersebut sama sekali belum tahu, belum pernah melihat dari televisi atau gambar di buku misalnya, maka betapa sulitnya guru menjelas hanya dengan kata-kata tentang objek tersebut.</li>
<li>cara kedua, guru membawasiswa  studi wisata melihat objek itu. Cara ini walaupun efektif tapi tidak efisien. Tidak mungkin untuk belajar semua orang harus mengalami segala sesuatu.</li>
<li>cara ketiga, guru membawa gambar, foto, film, video tentang objek tersebut. Cara ini akan sangat membantu guru dalam memberikan penjelasan. Selain menghemat kata-kata, menghemat waktu, penjelasan gurupun akan lebih mudah dimengerti oleh murid, menarik, membangkitkan motivasi belajar, menghilangkan kesalahan pemahaman, serta informasi yang guru sampaikan menjadi konsisten.</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sampai saat ini masih ada guru yang enggan menggunakan media dalam mengajar. Berdasarkan data Pustekkom yang berasal dari pengalaman dan diskusi dalam berbagai kesempatan dengan para guru, sekurang-kurangnya ada enam penyebab guru tidak menggunakan media, yaitu (1) menggunakan media itu repot, (2) media itu canggih dan mahal, (3) tidak bisa, (4) media itu hiburan sedangkan belajar itu serius, (5) tidak tersedia, dan (6)  kebiasaan menikmati bicara.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>C.       </strong><strong>Solusi</strong><strong></strong></p>
<p>Seiring perkembangan zaman, penggunaan media pembelajaran pun juga harus turut berkembang. Era informasi menyebabkan siswa tahu terlebih dahulu sehingga peranan guru berubah menjadi fasilitator. Bentuk-bentuk media pembelajaran bisa dibuat melalui Microsoft Power Point sehingga berupa slide, audio, video, multimedia interaktif, ebook, <em>Compile HTML</em>, buku PDF, hingga program media pembelajaran seperti kamus akronim dan kamus peribahasa. Bentuk-bentuk media ini dapat disesuaikan dengan kompetensi keterampilan berbahasa Indonesia.</p>
<p>Diutamakan guru mampu membuat media pembelajaran, jika tidak minimal memiliki bekal untuk mengoperasikan media pembelajaran. Sumber-sumber media pembelajaran dapat dicari melalui laman-laman internet . <em>Youtube.com</em> merupakan salah satu laman yang menyediakan video. Hal ini ditiru oleh pemerintah dengan menyediakan laman <em>media.diknas.go.id.</em> Pemerintah juga menyediakan buku PDF melalui Buku Sekolah Elektronik (BSE).</p>
<p>Wawan teknologi guru sebenarnya dapat dipersiapkan dan dilatihkan. Pemerintah dapat membuat kebijakan dengan menyisipkan keterampilan teknologi dalam kurikulum perguruan tinggi. Dalam rangka memberikan bekal calon guru tentang keterampilan teknologi, LPTK sangat berperan. Tidak semua mahasiswa calon guru mampu menyesuaikan diri dengan cepat terhadap perkembangan teknologi. Tentu saja, teknologi yang diajarkan adalah teknologi terkini. Pihak sekolah juga bisa mengadakan pelatihan-pelatihan tentang internet, blog, <em>teleconference</em>, dll. Kesadaran bersama dalam forum MGMP juga dapat memberikan bekal teknologi kepada guru. Jika guru yang bersangkutan sadar akan profesionalitasannya, tentu guru yang bersangkutan bersedia belajar mandiri maupun kursus dengan biaya sendiri.</p>
<p>Penyelenggaraan perangkat keras memang membutuhkan dana besar. Namun seiring kuota pendidikan dalam APBN sebesar 20% tentu hal ini sudah tidak menjadi permasalahan. Jaringan internet dengan beragam koneksi dapat dipasang dan didayagunakan. Namun perangkat lunak dan keras harus tetap dirawat. Kegiatan <em>update</em> perangkat lunak hingga <em>upgrade </em>perangkat keras harus dilakukan. Hal ini untuk menjaga keawetan hingga keterbaruan teknologi.</p>
<p>Bukan alasan lagi guru tetap <em>gaptek.</em> Stimulus agar guru terus mengembangkan kreativitas dalam pengembangan media pembelajaran dapat diwujudkan dengan intensitas diadakannya lomba pengembangan media, kegiatan pelatihan kreativitas media pembelajaran. Hasil produksi dapat diseminasikan atau dijual melalui pengembang. Begitu juga dengan produk <em>e-book, pdf book</em>, hingga program media pembelajaran dapat diseminasi secara manual maupun di-<em>upload </em>melalui laman di internet, misal <a href="http://www.media.diknas.go.id/">www.media.diknas.go.id</a>. , melalui blog, atau melalui laman-laman yang lain.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>D.      </strong><strong>Daftar Rujukan</strong></p>
<p>Pustekkom. 2009. Guru dan Media Pembelajaran. (Online). (diakses dari pustekkom.depdiknas.go.id/index.php?pilih=hal&amp;id=83 &#8211; 42k)</p>
<p>Widyartono, D. 2007. <em>Pengembangan Media Interaktif Berbasis Kompetensi untuk Pembelajaran Membaca Puisi. </em>Skripsi. Malang: Universitas Negeri Malang</p>
<p>LPMP Jawa Tengah. 2008. Lomba Pembuatan CD-Interaktif Multimedia. (Online). (diakses dari <a href="http://www.lpmpjateng.go.id/">www.lpmpjateng.go.id</a>)</p>
<p>Kompas. 21 Juli 2008. <em>Penggunaan Multimedia Oleh Guru Tak Bisa Ditunda.</em>(Online). (diakses dari <a href="http://www.kompas.com/">www.kompas.com</a>)</p>
<p>Ena, Ouda Teda. (tanpa tahun). <em>Membuat Media Pembelajaran Interaktif dengan Piranti Lunak Presentasi.</em> Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma Yogyakarta</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kataberkata.com/?feed=rss2&#038;p=215</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Debat</title>
		<link>http://kataberkata.com/?p=143</link>
		<comments>http://kataberkata.com/?p=143#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Nov 2011 03:45:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasan Bahasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?p=143</guid>
		<description><![CDATA[Sebelum memahami  melakukan debat, baiknya dipahami dulu definisi debat berikut ini. 1. Definisi Debat Istilah debat berasal dari bahasa Inggris, yaitu debate. Istilah tersebut identik dengan istilah sawala yang ebrasal dari bahasa Kawi yang berarti berpegang teguh pada argumen tertentu dalam strategi bertengkar atau beradu pendapat untuk saling mengalahkan atau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebelum memahami  melakukan debat, baiknya dipahami dulu definisi debat berikut ini.</p>
<p><strong>1. Definisi Debat</strong></p>
<p align="left">Istilah debat berasal dari bahasa Inggris, yaitu <em>debate. </em>Istilah tersebut identik dengan istilah <em>sawala </em>yang ebrasal dari bahasa Kawi yang berarti berpegang teguh pada argumen tertentu dalam strategi bertengkar atau beradu pendapat untuk saling mengalahkan atau memenangkan lidah. Jadi, definisi dari debat sendiri adalah suatu cara untuk menyampaikan ide secara logika dalam bentuk argumen disertai bukti–bukti yang mendukung kasus dari masing–masing pihak yang berdebat.</p>
<p>Debat di Indonesia sendiri dibagi menjadi dua aliran, yang pertama adalah aliran konvensional atau aliran yang jarang dipakai, dan yang kedua adalah aliran yang mengikuti standar internasional atau aliran yang yang sekarang sedang digalakkan pemakaiannya di Indonesia. Sistim inilah yang menjadi acuan dalam makalah kami.</p>
<p>Secara umum debat sendiri dapat dilakukan dengan cara berkelompok, yaitu ada dua pihak yang di sini masing–masing memegang peranan sebagai pihak positif dan negatif. Selain itu, mereka mencoba mempertahankan argumen mereka dengan di dukung oleh bukti–bukti serta fakta–fakta yang mendukung kasus mereka, namun terlebih dahulu sebelum mereka melakukan hal tersebut kedua belah pihak harus memberikan suatu parameter yang jelas mengenai kasus (<em>motion</em>) mereka atau memberikan suatu definisi yang menjelaskan kemana arah dari kasus mereka.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>2. Tujuan Debat </strong></p>
<p>Tujuan dari debat sendiri adalah upaya kedua belah pihak yang mencoba membangun suatu kasus dengan didukung oleh argumen–rgumen yang mendukung kasus mereka dimana cara membuat satu argumen yang baik dan benar adalah suatu argumen selalu berdasarkan pada pertanyaan–pertanyaan dasar berupa; Apa (<em>What</em>),Mengapa (<em>Why</em>), Bagaimana (<em>How</em>), dan Kesimpulannya (<em>So What is The conclusion</em>). Di sini selain diperlukan kemampuan berbahasa yang baik dan benar juga dibutuhkan pula logika dan analogi pola pikir yang benar mengenai pengetahuan pengetahuan umum atau kasus – kasus yang sedang terjadi di dalam masyarakat. Selain hal–hal tersebut juga diperlukan kemampuan merespon suatu masalah (rebuttal) dikarenakan disini terjadi adanya suatu proses saling mempertahankan pendapat antara kedua belah pihak. Selain itu di dalam debat sendiri ada suatu pantangan atau batasan pembahasan masalah yang akan dibahas yaitu dilarang mennyangkut pautkan suku, agama, ras, dan adat, dsebabkan di dalam debat sendiri kita masih menggunakan etika sebagai seorang manusia untuk berpendapat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>3. Topik Debat</strong></p>
<p align="left">Topik debat, atau yang biasa disebut <em>motion</em>, adalah suatu permasalahan umum<em> </em>yang terjadi di dalam masyarakat dan diketahui secara global oleh setiap orang. Dalam  membuat suatu topik diperlukan adanya suatu kejelian karena pada dasarnya sebuah topik harus mengikuti analogi “<em>Kacang di dalam kulit</em>”, artinya suatu topik debat harus memiliki kemampuan untuk dapat dikupas atau ditelaah secara mendalam. Hal ini diperlukan karena pada saat proses berdebat mulai para pihak baik positif maupun negatif akan memberikan suatu parameter kasus disertai dengan definisi untuk memeperjelas arah debat tadi. Di dalam memberikan parameter atau definisi dari sebuah topik sendiri ada beberapa hal yang tidak boleh dilakukan diantaranya adalah; Kebenaran alam atau nyata yang tak terbantahkan (Truistic), Tidak memiliki hubungan logika yang jelas (Tautological), Definisi yang melenceng atau tidak masuk akal (Squirelink) dan Memberikan patokan waktu atau tempat yang menguntungkan salah satu pihak (Time and Place Setting). Hal ini tidak boleh dilakukan dikarenakan dalam berdebat kita juga menggunakan kaidah “Fair and Square” atau menang secara adil.</p>
<p align="left">Berikut ini sepuluh contoh dari topik yang sering digunakan adalah</p>
<ol>
<li>pasangan homoseksual diperbolehkan memperoleh anak</li>
<li>debat presiden harus disiarkan di TV</li>
<li>anak-anak di Aceh tidak boleh diadopsi oleh orang di luar Aceh</li>
<li>wanita harus menyatakan cintanya terlebih dahulu</li>
<li>Indonesia harus menyerang Malaysia</li>
<li>rakyat harus mendukung kenaikan BBM</li>
<li>prostitusi harus dilegalkan, diberi pajak, tax, dan regulasi (aturan khusus)</li>
<li>sistem PILKADA langsung tidak efektif</li>
<li>sistem KBK tidak efektif unNuk diterapkan di Indonesia</li>
<li>euthanasia harus dilegalkan, dll.</li>
</ol>
<p align="left">
<p><strong>4. Langkah-Langkah Debat</strong></p>
<p>Di dalam melakukan debat kita juga memiliki langkah – langkah yang harus ditempuh di dalam aplikasinya, disini kami akan mengambil satu contoh dari sistim yang biasa digunakan sebagai standar nasional maupun internasional. Adapun sistim ini bernama sistim <em>Australasian Parliamentary System</em>, di mana disini tiap tim mempunyai tiga orang anggota dengan tugas masing – masing, adapun langkah – langkahnya adalah sebagai berikut :</p>
<ol>
<li>sebelum debat dimulai kedua team akan diberikan kesempatan untuk melakukan suatu proses penyusunan kasus selama 30 menit.</li>
<li>pembicara pertama dari team positif maju kemudian memberikan definisi dari topik yang diberikan kemudian memberikan parameter kasus yang akan dibahas, setelah itu kemudian dia akan menjelaskan bagian – bagian yang akan dibahas oleh pembicara pertama dan kedua, baru setelah itu dia akan membahas kasusnya disertai landasan kasus selama 7 menit.</li>
<li>pembicara pertama dari team negatif maju kedepan kemudian memberikan tanggapan dari topik positif yang diberikan kemudian memberikan parameter kasus yang akan dibahas, setelah itu kemudian dia akan menjelaskan bagian – bagian yang akan dibahas oleh pembicara pertama dan kedua, baru setelah itu dia akan membahas kasusnya disertai landasan kasus selama 7 menit.</li>
<li>pembicara kedua dari team positif maju dan kemudian merespon kasus dari pembicara pertama negatif kemudian dia akan mencoba menghubungkan kasus yang ia bawa dengan kasus pembicara pertama, kemudian dia akan memberikan perpanjangan dari kasus teamnya disertai dengan implementasi dari teamnya selama 7 menit.</li>
<li>pembicara kedua dari team negatif maju dan kemudian merespon kasus dari pembicara pertama dan kedua dari positif kemudian dia akan mencoba menghubungkan kasus yang ia bawa dengan kasus pembicara pertama, kemudian dia akan memberikan perpanjangan dari kasus teamnya disertai dengan implementasi dari teamnya selama 7 menit.</li>
<li>pembicara ketiga dari positif maju dan tugasnya adalah membuat suatu respon terhadap semua kasus dari negatif dan memberikan kesimpulan dari kasus yang dibawakan oleh teamnya. disini seorang pembicara ketiga dilarang untuk membawakan kasus baru selama 7 menit.</li>
<li>pembicara ketiga dari positif maju dan tugasnya adalah membuat suatu respon terhadap semua kasus dari negatif dan memberikan kesimpulan dari kasus yang dibawakan oleh teamnya. disini seorang pembicara ketiga dilarang untuk membawakan kasus baru selama 7 menit.</li>
<li>setelah itu sekarang adalah waktu untuk memberikan pandangan terhadap kasus dari masing – masing  team dimulai dari negatif terlebih dahulu kemudian positif dimana disini yang melakukannya adalah pembicara pertama atau kedua dan yang harus dilakukan disini oleh tiap team selain memberikan pandangan terhadap kasus masing–masing juga memberikan suatu komparasi antara kedua team dan menjelaskan apa – apa saja yang terjadi di dalam debat tersebut serta menunjukkan poin – poin yang menguntungkan dan mendukung kasus mereka selama 5 menit.</li>
</ol>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>5. Beberapa Patokan dalam Berdebat </strong></p>
<p>Berikut ini adalah beberapa tips yang bisa dilakukan ketika anda berdebat atau beberapa patokan yang harus anda perhatikan ketika berdebat :</p>
<ol>
<li> buatlah suatu definisi dan parameter dari suatu topik yang adil dan dapat diperdebatkan!</li>
<li>berikan dasaran kasus yang kuat terhadap kasus Anda!</li>
<li> susunlah selalu argumen dan respon anda menggunakan kaidah apa, mengapa, bagaimana, dan kesimpulannya!</li>
<li>pelajarilah selalu kasus–kasus yang berkembang di masyarakat!</li>
<li>kerjasama tIm dan buatlah alur penyusunan argumen yang baik secara mengalir antar para pembicara di dalam tim!</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kataberkata.com/?feed=rss2&#038;p=143</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerpen: Jakarta</title>
		<link>http://kataberkata.com/?p=139</link>
		<comments>http://kataberkata.com/?p=139#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Nov 2011 03:40:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lentera Sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?p=139</guid>
		<description><![CDATA[J A K A R T A Totilawati Tjitrawasita              Ketika penjaga menyodorkan buku tamu, hatinya tersen­til. Alangkah anehnya, mengunjungi adik sendiri harus mendaftar, padahal seingatnya, dia bukan dokter. Sambil memegang buku itu dipandangnya penjaga itu dengan hati-hati, kemudian pelan dia bertanya, “Semua harus mengisi buku ini? Sekalipun saudara atau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center">J A K A R T A</p>
<p align="center"><em>Totilawati Tjitrawasita</em><em></em></p>
<p>             Ketika penjaga menyodorkan buku tamu, hatinya tersen­til. Alangkah anehnya, mengunjungi adik sendiri harus mendaftar, padahal seingatnya, dia bukan dokter. Sambil memegang buku itu dipandangnya penjaga itu dengan hati-hati, kemudian pelan dia bertanya, “Semua harus mengisi buku ini? Sekalipun saudara atau ayahnya, umpamanya?”</p>
<p>Yang ditanya hanya mengangguk, menyodorkan bolpoin. “Silakan tulis: nama, alamat, dan keperluan,” katanya.</p>
<p>Tiba-tiba timbul keinginannya untuk berolok-olok. Sambil menahan ketawa ditulisnya di situ: nama: Soeharto (bukan Presiden). Keperluan: urusan keluarga.</p>
<p>“Cukup?” katanya sambil menunjukkan apa yang ditulisnya kepada penjaga. “Lelucon, lelucon”. Katanya berulang-ulang sambil menepuk-nepuk punggung penjaga yang terlon­gok-longok heran.</p>
<p>“Dia tahu, siapa saya” ujarnya menjelaskan.</p>
<p>“Tanda tangannya belum, Tuan. Dan alamatnya?”</p>
<p>Betul juga, ada gunanya juga menjelaskan identitasnya agar tuan rumah tahu dan memberikan sambutan yang hangat atas kedatangannya. Maka ditulisnya di bawah tanda tan­gannya, lengkap: Waluyo ANOTOBOTO. Nama keluarganya sengaja dibikin kapital semua, diberi garis tebal di bawahnya. Sekali lagi dia tersenyum, rasa bangga terukir di wajahnya.</p>
<p>“Begini?” tanyanya seperti meminta pertimbangan penja­ga.</p>
<p>Terbayang adik misannya tergopoh-gopoh membuka pintu, lalu menyerbunya dengan segala rasa rindu, sambil melem­par macam-macam pertanyaan kepadanya, “Bagaimana Embok, Bapak? Tinah, anaknya sudah berapa?” Kemudian dilihatnya diri sendiri menepuki punggung adiknya dan dengan suara dan gaya orang tua dia bilang, “Sehat. Semua sehat. Dan mereka kirim salam rindu kepadamu.”</p>
<p>Ketika pintu berderit ia tersentak dari lamunannya, dan di saat berdiri hendak menyambut adik misannya, ternyata yang keluar bukan dia … tapi si penjaga.</p>
<p>“Bagaimana?” tanyanya tak sabar.</p>
<p>“Duduklah Tuan, duduk saja. Pak Jenderal sedang ada tamu. Tapi saya lihat Pak Jenderal heran melihat nama Bapak di situ.”</p>
<p>Mendengar itu dia tersenyum, lalu duduk kembali di kursi. Ditepuk-tepuknya debu yang melekat di celananya, lantas diambilnya slepi dari sakunya.</p>
<p>“Boleh merokok”” tanyanya minta izin.</p>
<p>“Silakan, silakan,” kata si penjaga dengan ramah. Sikap tamu itu memang merapatkan rasa persaudaraan. Ditawarkan­nya rokok ke ujung hidung si penjaga,</p>
<p>“Mau? Silakan lho!” yang dijawab dengan gelengan kepala dan goyangan tangan oleh si penjaga.</p>
<p>“Baiklah, tapi jangan panggil saya Tuan, ah. Saya bukan Tuan. Orang awam, sama seperti Saudara. Nama saya Waluyo. Orang-orang memanggilku ‘Pak Pong’. Lihat saja nanti, Pak Jenderalmu pasti memanggil aku dengan  ‘Pak Pong’, ‘Pak Pong’ terlalu banyak makan singkong, kalau rakus dikasih teletong. Ooh, sejak kecil kami memang suka berolok-olok.” Dia tertawa lebar, terkenang masa kecilnya, ber­canda di atas punggung kerbau. Si penjaga sempat menca­tat: gigi tamunya ompong semua.</p>
<p>“Tuan, Eh Pak Pong, petani?” ujarnya ragu-ragu, takut kalau menyinggung perasaan.</p>
<p>“Petani? Apa potongan saya petani? Bukan! Tapi waktu remaja memang kami suka pencak silat. Rupanya meninggal­kan bekas juga, pada potongan tubuhku. Atau karena baju model cina ini ya? Saya, guru SD di Desa Nggesi. Sekolah ini telah menghasilkan orang-orang besar. Murid saya yang pertama sekolah sudah Kapten, ada juga yang insinyur. Dan Pak Jenderalmu, murid yang paling jempolan. Otaknya tajam se­kali,” katanya sambil mengacungkan ibu jari ke atas, memuji kepandaian adik misannya.</p>
<p>Bel yang mendadak menjerit tiga kali menghentikan dongengnya. Tampak olehnya penjaga itu berdiri dengan tergesa-gesa sambil berkata, “Tunggu sebentar, mungkin Bapak sudah diperlukan.”</p>
<p>Dia melongo, “Diperlukan?” Diperlukan?” ujarnya di dalam hati, tidak mengerti. Disedotnya rokoknya dalam-dalam, asapnya ditiupkan ke atas. Terbayang kembali di depan matanya Paijo yang kurus kering, makan satu meja, tidur sepembaringan, adik misannya sendiri. Pernah ada bisul di pantatnya, lantas ditumbukkan daun kecubung untuk obat. Waktu tubuh yang kering itu disergap kudis, dia bersepeda sepanjang limapuluh kilometer untuk beli obat ke kota buat adiknya itu. Pagi dan sore menggerus belerang, merebus air dan merendam Paijo pada kemaron yang besar. Tiga puluh lima tahun yang lalu, itu, ketika semua masih anak-anak.</p>
<p>“Pak Pong mau minum apa?” Seperti tadi, si penjaga<em> nyelonong</em> duduk dan menegurnya, membubarkan angan-angan masa silamnya. “Pak Jenderal bilang saya harus menemani Bapak, sebab Pak Jenderal lagi sibuk. Sebentar lagi ada tamu istimewa, Pak Menteri. Minumnya apa, Pak? Juice? Coca Cola?”</p>
<p>“Apa saja, boleh. Kopi kalau ada,” ujarnya merendah.</p>
<p>“Aih, Jakarta panas, kenapa kopi? Tapi apa Bapak Sauda­ranya Pak Jenderal?” ujar penjaga sambil menyorongkan cangkir ke depan tamunya.</p>
<p>“Ya, kakak sepupu. Sejak kecil dia yatim piatu. Ibu bapaknya meninggal kena wabah kolera. Dia dua saudara, adik perempuannya bernama Tinah. Lantas keduanya diambil oleh orangtua kami, dibesarkan dalam kandang yang sama, di Nggesi. Kami memang keluarga petani, tapi dia agak lain, otaknya luar biasa. Sejak kecil dia sudah menunjukkan bakatnya, selalu saja dibuatnya hal-hal yang mengagum­kan. Karenanya kami semua bersepakat untuk mengirimnya ke kota, sekolah. Waktu itu kami menjual sapi dan padi untuk ongkos-ongkosnya. Lantas saya waktu sudah jadi guru, saya kirimkan seluruh gaji untuk biayanya, sebab di desa kami kan bisa makan apa saja …. Ooh, apa itu Pak Menteri?” tiba-tiba dia menghentikan ceritanya, menunjuk ke jalan.</p>
<p>Seperti disengat lebah, penjaga yang di dekatnya melon­cat bangun, setengah berlari menyambut tamu yang baru datang dan bergemetaran ketika membukakan pintu mobilnya.</p>
<p>“Langsung saja, Pak,” kata si penjaga sambil mengantar Pak Menteri ke ruang tamu di dalam.</p>
<p>Dia duduk saja di situ, tercenung-cenung. Dicatatnya kejadian itu dalam hati: tamunya Paijo, Menteri; langsung bertemu tanpa menunggu. Lantas dihitung-hitung sudah berapa tahun mereka tidak saling ketemu. Apa Paijo juga gemuk seperti Menteri itu? Tiba-tiba semacam kerinduan naik mencekam naik ke dadanya: Dia ingin melihat adiknya! Serasa hendak diterjangnya tembok yang ada di hadapannya. Karena gelisah dia berdiri, berjalan ke arah pintu.</p>
<p>Ketika tangannya menyentuh grendel, pintu terdorong dari dalam. Dan seseorang muncul di depannya: si penjaga! Dengan tertawa terkekeh-kekeh ditepuk-tepuknya bahu Pak Pong yang tua.</p>
<p>“Kabar baik, Pak, kabar baik. Mereka berdua wajahnya cerah-cerah. Menteri itu banyak duit, alamat saya keba­gian rejeki. Oo, jadi Pak Pong ini kakak misan Pak Jen­deral, ya? Betul mirip memang, dan Pak Jenderal selalu bangga pada keluarganya. Dalam pidato-pidatonya selalu disebut-sebutnya: anak desa, penderitaan rakyat, dan perjuangan melawan Belanda,” kata penjaga itu mencoba mengingat-ingat kembali apa yang pernah diucapkan oleh Jenderalnya, kepada tamunya.</p>
<p>“Ya, betul. Rumah kami pernah dijadikan markas, waktu zaman gerilya. Masih lama ya, Pak Menteri itu?” katanya tak sabar lagi.</p>
<p>“Tidak! asal Bapak Jenderal mau teken, biasanya urusan selesai. Minumnya ditambah lagi ya, Pak?”</p>
<p>Dia menggeleng lesu, dalam hati diumpatnya Menteri dan tamu-tamu yang antri di situ, merebut waktu adiknya.</p>
<p>Karena badan dan pikirannya terlalu capek, dia mengan­tuk di situ. Si penjaga tidak mengganggunya, dibiarkan saja tamunya tersandar lemas di kursinya. Entah berapa lama dia dalam keadaan semacam itu, dia sendiri tak menyadarinya; tiba-tiba didengarnya kembali bel tiga kali. Si penjaga menggoncang-goncang bahunya.</p>
<p>“Giliran untuk Pak Pong. Mari, saya antarkan ….” Ada keramahan yang tulus terlempar dari mulut si penjaga. Bibirnya menyunggingkan senyum, ikut merasa bahagia. Waktu pintu ternganga lebar, dia tercenung di depannya. Matanya bergerak ke sana ke mari menatapi apa saja yang dilihatnya. Ruangan itu bagus sekali. Hawa dingin menyen­tuh kulitnya. Ada kesegaran di dalamnya. Di tengah-tengah barang-barang yang serba megah, duduk laki-laki jangkung, memakai kecamata hitam. Betulkah itu Paijo?</p>
<p>Ya, dia tidak salah: ada tahi lalat di pipinya. Maka dia pun menyerbu ke dalam, lalu dihamburkan kerinduannya, “ … Jo …,” teriaknya nyaring. Ketika hendak dirang­kulnya laki-laki yang duduk di belakang meja, dia menda­dak menghentikan langkahnya, sebab laki-laki itu bukannya berdiri tetapi tetap saja duduk di kursi. Laki-laki jangkung itu melepaskan kecamatanya pelan-pelan, lalu mengulurkan tangannya.</p>
<p>“Hallo, Pak Pong, apa kabar? Saya senang bertemu kakak di sini? Bagaimana Ibu, Bapak dan Dik Tinah?”, ujarnya, datar tanpa emosi.</p>
<p>Laki-laki yang bernama Pak Pong itu hanya melompong.</p>
<p>“Kakak, Ibu, Dik Tinah?” dia sempat mencatat kata-kata baru. “Bukankah kata-kata itu dulu berbunyi, “Kakang, simbok, dan gendukku Tinah?”</p>
<p>“Baik, baik, Dik, semuanya kirim salam rindu padamu,” katanya dengan latah, “dik”nya terasa kaku di lidah. Dulu, orang yang ada di depannya itu dipanggilnya dengan <em>le</em> saja, ketika masih sama-sama memandikan kerbau di sungai, tiap sore.</p>
<p>“Kakak tetap saja: penggembira, awet muda, bajunya potongan Cina.” Mereka tertawa berderai-derai. Tapi laki-laki yang bernama Pak Pong menangkap sesuatu yang lain dari wajah adiknya: ketidakwajaran.</p>
<p>Maka hilanglah kegembiraannya. Kerinduan yang hendak dia tuangkan dalam banyak cerita, berhenti sampai di tenggorokannya. Dia tenggelam dalam keasingan. Terentang batas di depannya. Sekalipun tidak diketahuinya bagaimana wujudnya, tapi dia dapat merasakannya. Pada setiap tari­kan napas adiknya terbayang ungkapan kegelisahan adik misannya itu, akan kehadirannya.</p>
<p>“Kakak <em>nginap</em> di mana?” tanya laki-laki yang sejak kecil dia timang-timang itu, mengiris hatinya.</p>
<p>“Gambir. Engkau sibuk, Dik? Ada titipan dari Ibu, “ kata-katanya menggeletar, ada rasa penasaran yang dite­kannya sendiri di dalamnya. Didengarnya sendiri, betapa lucunya kata ‘ibu’ terluncur dari mulutnya. Lebih dari setengah abad dunia ini dihuninya, baru satu kali itu dalam hidupnya ia menyebut <em>ibu</em> buat emboknya.</p>
<p>“Dari Ibu? Baiklah, nanti saja; sebentar lagi saya harus rapat di Bina Graha. Kakak <em>nginap </em>di Gambir? Kalau begitu, biarlah penjaga mengantarkan kakak ke sana. Nanti malam Kakak saya tunggu, makan malam di rumah bersama keluarga.”</p>
<p>Laki-laki itu berdiri, mengantarkan kakaknya sampai di pintu, memanggil serta memberikan aba-aba pada sopir dan si penjaga. Sesudah itu mobil merah punya Pak Jenderal meluncur melintasi kota, cepat seperti kilat.</p>
<p>“Gambir sebelah mana, Pak?” ujar sopir di perjalanan.</p>
<p>“Stasiun!” jawabnya tenang.</p>
<p>“Stasiun? Kiri apa kanannya, Pak?” tanya si penjaga, ingin lebih jelas.</p>
<p>“Tidak, di stasiunnya itulah. Jam berapa kereta mening­galkan Jakarta? Saya tidak punya famili di sini, kecuali dia. Kasihan adikku, repot sekali kelihatannya. Tentu di rumahnya banyak tamu, sehingga saya tidak kebagian ruang dan waktu. Kasihan adikku, seharusnya saya tidak meng­ganggunya,” ujarnya tulus, tanpa prasangka, pelan seperti bicara kepada dirinya sendiri.</p>
<p>“Pak Pong …”, sapa penjaga itu dengan lirih. “Kalau Pak Pong mau, biarlah kita bersempit-sempit di gubuk saya. Kereta meninggalkan Jakarta baru besok pagi, jam lima. Ada yang jalan sore, tapi karcisnya sepuluh ribu.”</p>
<p>Laki-laki yang dipanggil Pak Pong mengulurkan kedua belah tangannya. Mereka bersalaman dengan hangat, ditem­pelkan di dada, bersilaturahmi.</p>
<p>“Alhamdulillah. Kamu tidak keberatan, menerima aku satu malam saja?”</p>
<p>Penjaga itu menggeleng lemah, tanpa berbicara. Hanya saja mata yang menatap sedih pada orang yang duduk di dekatnya itu.</p>
<p>Malam itu, Pak Pong berjalan kaki, keliling kota Jakarta, di temani si penjaga. Kejadian siang tadi sama sekali tidak membekas pada wajahnya, mukanya tetap berseri-seri. Diterimanya kenyataan itu sebagai hal wajar: adiknya orang besar, sibuk dan banyak acara, mengurus negara. Setiap kali melihat mobil merah lewat di dekatnya, tanya­nya, “Bukankah itu mobil Paijo? Jangan-jangan dia menjem­put aku? Kami memang sudah berjanji, jam tujuh, makan malam.”</p>
<p>Si penjaga menepuk-nepuk bahunya, “Mobil merah ratusan, Pak, jumlahnya di sini. Dan malam ini Pak Jenderal ada di istana, menyambut tamu dari luar negeri.”</p>
<p>“Istana? Rumahnya Presiden, maksudmu?” matanya terbeli­ak lebar, mengungkapkan keheranan yang besar.</p>
<p>“Ya, rumah Presiden. Nah itu, lampu-lampu yang gemerla­pan itu <em>night club</em>. Tahu <em>night club?”</em> tiba-tiba saja si penjaga merasa berarti, lebih pandai daripada tamunya, kakak sepupu Jenderalnya.</p>
<p><em>            “Night club, </em> Pak, pusat kehidupan malam di kota ini. Tempat  orang-orang kaya membuang duit mereka. Lampunya lima watt, remang-remang; perempuan-perempuan cantik, minuman keras, tari telanjang, dan musik yang gila-gilaan. Pendeknya, yahut!” ujar penjaga sambil mengacung­kan jempolnya.</p>
<p>“Lantas, apa yang mereka bikin, di situ?” suaranya tercekik membayangkan ketakutan yang besar.</p>
<p>“Berdansa. Bercumbu. Biasa, Pak, Jakarta!” jawab si penjaga dengan ringan.</p>
<p>“Astaga … Gusti Pangeran, <em>nyuwun pangapura</em>…. Dan adikku apa sering ke situ?” ujarnya lirih, mengandung sedu.</p>
<p>“Tidak ke situ, ke Paprika. Tapi sama saja. Malah karcisnya mahal di sana, enam ribu!”</p>
<p>“Enam ribu? Sama dengan dua bulan gajiku,” keluhnya pelahan.</p>
<p>Lampu-lampu yang berkilauan terasa menusuk-nusuk mata­nya, sedangkan kebisingan kota menyayat-nyayat hatinya. Samar-samar dia sadari bahwa dia telah kehilangan adik­nya: Paijo tercinta!</p>
<p>Pak Pong yang malang menatap kota dengan dendam di dalam hati. Jakarta, kesibukannya, Bina Graha, gedung-gedung itu, Istana Merdeka, <em>night club,</em> mobil merah telah memisahkan dia dari adiknya.</p>
<p>Ditatapnya bungkusan kecil titipan emboknya, lalu diberikannya kepada si penjaga, “Untukmu. Kain yang dibatik oleh tangan orang tuaku. Di dalamnya terukir cinta ibu kepada anaknya. Coretan tanah kelahiran yang dikirim untuk mengikat tali persaudaraan!”</p>
<p>Dua tetes air mata membasahi pipi yang tua, menandai kejadian waktu itu.</p>
<p>Dikutip dari Hoerip, Satyagraha. 1979.<em> Cerita Pendek Indonesia 4.</em> Jakarta : Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Halaman 192–198.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kataberkata.com/?feed=rss2&#038;p=139</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Belajar di Sekolah dengan Ponsel</title>
		<link>http://kataberkata.com/?p=1</link>
		<comments>http://kataberkata.com/?p=1#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Nov 2011 02:42:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ajaran Pembelajaran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?p=1</guid>
		<description><![CDATA[Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) harusnya membuat pembelajaran menjadi semakin menarik dan bermutu. Kemajuan TIK memberikan berbagai fasilitas melalui produk teknologi yang bermanfaat dalam kegiatan pembelajaran. Produk-produk yang dapat digunakan dalam pembelajaran antara lain televisi, radio, telepon, telepon seluler (handphone), komputer, hingga koneksi internet. Produk-produk ini harus dapat bermanfaat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px; font-weight: normal;">Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) harusnya membuat pembelajaran menjadi semakin menarik dan bermutu. Kemajuan TIK memberikan berbagai fasilitas melalui produk teknologi yang bermanfaat dalam kegiatan pembelajaran. Produk-produk yang dapat digunakan dalam pembelajaran antara lain televisi, radio, telepon, telepon seluler (handphone), komputer, hingga koneksi internet. Produk-produk ini harus dapat bermanfaat secara positif dalam kegiatan pembelajaran di sekolah.</span></h2>
<div>
<p>Ironisnya, tingginya melek teknologi (literacy with ICT) di kalangan siswa tidak diimbangi oleh kemampuan guru. Hanya sebagian kecil guru yang melek teknologi di atas kemampuan siswa. Memang pesatnya kemajuan teknologi sesuai dengan zamannya. Namun hal ini seharusnya bukan menjadi kendala bagi guru untuk mengembangkan diri dan memanfaatkan teknologi dalam kegiatan pembelajaran menjadi pengajar yang handal dan paham teknologi.</p>
<p>Tinggi daya melek teknologi siswa dibanding guru menyebabkan banyak penyimpangan dalam penggunaan TIK. Banyak video porno yang direkam dan dilakukan oleh kalangan terpelajar melalui fasilitas handphone. Layanan internet banyak disalahgunakan oleh siswa. Kasus-kasus ini merupakan penyimpangan penggunaan teknologi karena rendahnya keterampilan teknologi yang dimiliki guru. Akhirnya, dengan kebijakan yang tidak bijak, beberapa sekolah melarang siswanya membawa handphone ke sekolah.</p>
<p>Apa yang bisa dilakukan oleh handphone dalam kegiatan pembelajaran?</p>
<p>Sebelum membedah daya guna handphone dalam kegiatan pembelajaran, penting dipahami fitur-fitur yang tersedia di dalamnya. Fitur-fitur dalam handphone di antaranya berupa telepon, pesan pendek (Short Message Service/SMS), alarm, timer hitung mundur, stopwatch, kalkulator, pemutar musik, kamera, rekaman video, rekaman suara, infrared/bluetooth, tv, hingga internet melalui berbagai koneksi).</p>
<p>Pertanyaannya, seberapa kreatifkah guru dalam memanfaatkan fitur-fitur ini atau malah menganggapnya fitur-fitur ini tidak berguna dalam kegiatan pembelajaran?</p>
<p>Fitur-fitur handphone dapat dimasukkan dalam langkah-langkah pembelajaran sebagai wujud nyata strategi pembelajaran. Tentu saja, pemanfaatan fitur-fitur handphone harus disesuaikan dengan kompetensi dasar apa yang hendak diajarkan. Guru harus mampu memilih fitur-fitur handphone yang dapat digunakan pada kompetensi dasar tertentu, bukan dipaksa-paksakan, dicocok-cocokkan.</p>
<p>Dalam kegiatan pembelajaran, layanan telepon dapat dimanfaatkan guru dalam menunjuk kelompok. Kelompok ini dapat dibentuk sebelumnya berdasarkan kemampuan tiap individu, bukan secara acak. Kelompok ini dapat diberikan tugas oleh guru seperti untuk penunjukkan presentasi. Penujukkan kelompok dapat dilakukan secara acak melalui fitur panggilan cepat di dalam handphone. Guru harus menyimpan nomor handphone perwakilan beberapa kelompok.</p>
<p>Jika tiba giliran kelompok untuk presentasi, guru cukup menekan tombol 2 hingga 9. Tunggu beberapa saat dan simak telepon siapa yang berdering. Kelompok inilah yang memperoleh giliran untuk presentasi.</p>
<p>Layanan pesan pendek/SMS dapat digunakan guru dalam membagi tema. Langkah ini bertujuan agar tema tiap kelompok tidak diketahui oleh kelompok lain. Caranya, guru membagi siswa dalam beberapa kelompok. Guru mengirimkan SMS ke perwakilan kelompok berdasarkan beberapa tema sudah dipersiapkan sebelumnya.</p>
<p>Untuk membatasi waktu, guru dapat memanfaatkan alarm handphone. Dalam kegiatan presentasi, diskusi, hingga ulangan harian dapat digunakan fitur alarm. Jatah waktu yang diberikan dapat diukur dengan objektif melalui alarm. Jatah waktu tiap kelompok/tiap siswa sama, bukan berdasarkan insting, melainkan berdasarkan alarm. Layanan yang mirip dengan alarm dalam handphone adalah timer hitung mundur dan stopwatch. Layanan fitur stopwatch dapat digunakan dalam pembelajaran olah raga.</p>
<p>Kalkulator dapat dimanfaatkan guru dengan bijak. Ada saatnya guru memanfaatkan fitur ini dan ada saatnya tidak. Hal ini sangat bergantung pada kompetensi dasar bidang studi yang diberikan. Jika guru sedang membawakan kompetensi non-matematika dan ingin hasil cepat, tidak ada salahnya guru memanfaatkan layanan ini. Namun jika guru sedang melatih kompetensi hitung, guru harus memperhitungkan kembali pemakaian layanan hitung ini. Sekali lagi, guru harus bijak memanfaatkan layanan ini.</p>
<p>Dalam pembelajaran bahasa, layanan rekaman suara dapat digunakan guru dalam memberikan penguatan. Misalnya pembelajaran membaca puisi, membaca berita, membaca pengumuman, dll. Guru dapat menggunakan layanan rekaman suara dan diputar kembali untuk diberikan penguatan.</p>
<p>Jika layanan suara belum cukup, guru dapat menggunakan layanan rekaman video. Melalui rekaman video guru dan siswa dapat menyimak sajian audio-visual. Guru dapat memberikan penguatan sikap dan ekspresi dalam pembelajaran berpidato, membaca puisi, hingga drama.</p>
<p>Layanan rekaman video juga dapat digunakan guru Bahasa Indonesia dalam menulis paragraf.</p>
<p>Guru dapat juga memberikan tugas pada perwakilan kelompok, jika tidak semua siswa memiliki handphone berfitur kamera, untuk memotret objek atau merekam keramaian stasiun kereta api. Lalu, guru memberikan tugas menulis paragraf. Begitu juga guru bidang studi lain, guru ekonomi dapat merekam keramaian pasar, guru olahraga memberikan masukan lay-up dalam olah raga basket yang benar, dll.</p>
<p>Sebagai koneksi transfer data, guru dan siswa dapat memanfaatkan fitur infrared dan bluetooth. Objek yang sudah terpotret dapat dibagi kepada siswa lain atau diserahkan pada guru. Guru atau siswa dapat metransfer langsung ke laptop untuk ditayangkan melalui LCD Proyektor. Objek ini dapat disesuaikan dengan bidang studi yang diajarkan guru.</p>
<p>Handphone tertentu sudah menyediakan fasitas televisi. Guru bidang studi tertentu dapat memanfaatkan televisi sebagai bahan ajar. Misalkan berita, iklan, sinetron, dll. Pemilihan bahan ajar ini harus dilakukan guru secara selektif dan benar-benar membawa manfaat dalam pencapaian tujuan belajar.</p>
<p>Melalui koneksi data, handphone kini menyediakan layanan internet. Melalui internet, guru dapat mencari bahan ajar dan jutaan referensi dalam internet. Tentu jika menginginkan layar yang lebar, handphone dapat dikoneksikan ke laptop dan ditayangkan melalui LCD Proyektor. Jika belum puas melalui koneksi handphone, guru dapat memanfaatkan jaringan internet via kabel dan nirkabel, misal wifi.</p>
<p>Praktik lebih lanjut pemanfaatkan handphone dapat dikreasikan guru. Tentu tidak semua guru dapat memanfaatkan layanan handphone yangdapat dipadukan dengan produk TIK lainnya. Hal ini sangat bergantung pada ketersediaan infrastruktur TIK di sekolah dan daya melek guru terhadap TIK. Yang jelas bahwa berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa penggunaan produk TIK membawa dampak positif dalam kegiatan pembelajaran menuju pencapaian hasil belajar yang lebih baik. Pertanyaannya, masihkah handphone dilarang dibawa ke sekolah? (dimuat di Surya, 15 Desember 2009)</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kataberkata.com/?feed=rss2&#038;p=1</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

