<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments for kata berkata tentang kata-kata</title>
	<atom:link href="http://kataberkata.com/?feed=comments-rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kataberkata.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Wed, 28 Dec 2011 11:40:06 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
	<item>
		<title>Comment on Buku Tamu by Renda Yuriananta</title>
		<link>http://kataberkata.com/?page_id=146#comment-136</link>
		<dc:creator>Renda Yuriananta</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 28 Dec 2011 11:40:06 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?page_id=146#comment-136</guid>
		<description>isi websitenya bagus pak

kunjungi blog saya juga ya pak. Saya masih sedikit pengalaman dalam mengolah blog, mohon bantuannya ya pak

rendayuriananta.blogspot.com</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>isi websitenya bagus pak</p>
<p>kunjungi blog saya juga ya pak. Saya masih sedikit pengalaman dalam mengolah blog, mohon bantuannya ya pak</p>
<p>rendayuriananta.blogspot.com</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Unisma: Menyimak Sastra (B) by HUSNUL MAARIF_2110710046</title>
		<link>http://kataberkata.com/?page_id=297#comment-99</link>
		<dc:creator>HUSNUL MAARIF_2110710046</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 18 Dec 2011 06:54:49 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?page_id=297#comment-99</guid>
		<description>NAMA : HUSNUL MAARIF
NPM : 2110710046
KLS : 1B / PBSI

ANALISIS CERPEN “PERADILAN RAKYAT”
Tema:KEADILAN
Penokohan: Pengacara muda,pengacara tua
Watak:
 pengacara muda:baik,egois
Pengacara tua:pandai,baik,pengertian
Setting: pada malam hari,dirumah pengacara tua
Alur:Maju
Gaya bahasa:menggunakan majas PERSONIFIKASI
Tehnik penceritaan:
Pengacara muda mendatangi rumah ayahnya(pengacara tua)ia kesana bukan sebagai seorang anak,melainkan sebagai seorang profesional yang ingin membicarakan masalah keadilan dan kasus yang akan ditanganinya.setelah ia berbincang-bincang sejenak dengan pengacara tua tersebut,ia mulai menjelaskan maksud kedatangannya,bahwa dia ingin membicarakan masalah keadilan.
Pengacara muda itupun mulai menjelaskan bahwa dirinya mendapat tugas dari negara untuk membela seorang penjahat besar yang pantasnya untuk dihukum mati awalnya dia menolak mentah-mentah tugas tersebut,tapi setelah penjahat tersebut dia pun manerima tugas itu.pengacara tua hanya mengelus-elus jenggotnya,sementara pengacara muda masih tetap menjelaskan.
Pengacara tua berkata,”keputusan yang kau ambil itu sudah tepat”.
Setelah berkata begitu,pangacara tua menyuruh pengacara muda tersebut pulang dan melaksanakan tugasnya sebagai seorang yang profesional.
Pengacara muda tersebut memenangkan kasus yang ditanganinya,penjahat itu tertawa terkekeh-kekeh dan merayakan kemenangannya dengan mengadakan pesta kembang api semalam suntuk.Rakyat pun marah dan gedung pengadilan diserbu,hakimnya diburu,dan pengacara muda diculik,disiksa,dan akhirnya dikembalikan sesudah menjadi mayat.
Pengacara tua duduk dan terdiam dikursi rodanya mendengarkan berita-berita ganas yang merebak diseluruh wilayah yang dibacakan oleh sekertarisnya. Air matapun menetes dipipi pengacara besar tersebut.
Amanat : Peradilan yang tidak ditegakkan akan membawa malapetaka</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>NAMA : HUSNUL MAARIF<br />
NPM : 2110710046<br />
KLS : 1B / PBSI</p>
<p>ANALISIS CERPEN “PERADILAN RAKYAT”<br />
Tema:KEADILAN<br />
Penokohan: Pengacara muda,pengacara tua<br />
Watak:<br />
 pengacara muda:baik,egois<br />
Pengacara tua:pandai,baik,pengertian<br />
Setting: pada malam hari,dirumah pengacara tua<br />
Alur:Maju<br />
Gaya bahasa:menggunakan majas PERSONIFIKASI<br />
Tehnik penceritaan:<br />
Pengacara muda mendatangi rumah ayahnya(pengacara tua)ia kesana bukan sebagai seorang anak,melainkan sebagai seorang profesional yang ingin membicarakan masalah keadilan dan kasus yang akan ditanganinya.setelah ia berbincang-bincang sejenak dengan pengacara tua tersebut,ia mulai menjelaskan maksud kedatangannya,bahwa dia ingin membicarakan masalah keadilan.<br />
Pengacara muda itupun mulai menjelaskan bahwa dirinya mendapat tugas dari negara untuk membela seorang penjahat besar yang pantasnya untuk dihukum mati awalnya dia menolak mentah-mentah tugas tersebut,tapi setelah penjahat tersebut dia pun manerima tugas itu.pengacara tua hanya mengelus-elus jenggotnya,sementara pengacara muda masih tetap menjelaskan.<br />
Pengacara tua berkata,”keputusan yang kau ambil itu sudah tepat”.<br />
Setelah berkata begitu,pangacara tua menyuruh pengacara muda tersebut pulang dan melaksanakan tugasnya sebagai seorang yang profesional.<br />
Pengacara muda tersebut memenangkan kasus yang ditanganinya,penjahat itu tertawa terkekeh-kekeh dan merayakan kemenangannya dengan mengadakan pesta kembang api semalam suntuk.Rakyat pun marah dan gedung pengadilan diserbu,hakimnya diburu,dan pengacara muda diculik,disiksa,dan akhirnya dikembalikan sesudah menjadi mayat.<br />
Pengacara tua duduk dan terdiam dikursi rodanya mendengarkan berita-berita ganas yang merebak diseluruh wilayah yang dibacakan oleh sekertarisnya. Air matapun menetes dipipi pengacara besar tersebut.<br />
Amanat : Peradilan yang tidak ditegakkan akan membawa malapetaka</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Kuliah Nyata by Haris Perdana Kusuma</title>
		<link>http://kataberkata.com/?page_id=43#comment-92</link>
		<dc:creator>Haris Perdana Kusuma</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 07 Dec 2011 12:02:42 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?page_id=43#comment-92</guid>
		<description>Analisis Cerpen Dengan Judul “ LAILA MAJNUN”

Unsur intrinsik :
1.	Tema : Pengorbanan cinta yang begitu besar
2.	tokoh dan perwatakan :

•	laila : cerdas, baik hati, dan setia
•	Qais : Bertanggung jawab, setia, dan baik hati
•	Abu Amar : Baik hati dan suka menolong
•	Ibnu salam : Setia menanti cinta laila
•	Ayah Laila : Egois dan tidak pengertian
•	Ayah Qais  : Penyabar, baik hati, dan tegas

3.	Alur :

Pengarang menggunakan alur maju, karena ceritanya di rangkai secara tersusun dan berurutan mulai dari kisah awal cerita hingga akhir cerita.

4.	Setting :
•	Kota arab
•	Ruang Kelas
•	Puncak Bukit dekat rumah laila
•	Sungai kecil
•	Kamar laila
•	Kuburan

5.	Sudut Pandang :
Dalam cerita tersebut sudut pandang yang digunakan yaitu sudut pandang orang ketiga pelaku utama, karena pengarang tidak terlibat dalam cerita tersebut.

6.	Nilai- Nilai yang terkandung :
•	Nilai sosial : Abu amar yang baik hati rela membantu qais dan laila agar cinta mereka dapat bersatu kembali
•	
7.	Konflik :
•	Setelah mereka dewasa( qais dan laila), ke dua orang tua mereka ternyata tidak merestui hubungan mereka.
•	Laila mendengar berita bahwasanya qais ( majnun) sekarang telah mengalami gangguan jiwa ( gila)
•	Laila telah di jodohkan dengan seorang pria pilihan dari orang tuanya, meskipun sebenarnya hati laila tetap hanya untuk qais

Penyelesaian konflik :
•	Datanglah seorang pria yang berparas tampan, ia bernama abu amar. Ia datang dan bersedia untuk membantu qais dan laila untuk menyatukan cinta mereka kembali.
•	Qais mendengar berita kalau ternyata beberapa saat kemudian kekasihnya itu ( laila) sesungguhnya telah meninggal dunia karena terserang penyakit, dan pada saat itu qais berniat akan mencari dimana makam dari laila di kuburkan
•	Setelah menemui tempat pemakaman laila, qais mendekap kuburan itu dan menjaganya ( laila) sampai akhir ujung nafas qais telah tiada dan mereka akhirnya meninggal dunia bersama- sama.
•	
8.	Amanat :
•	Sesungguhnya kekuatan cinta itu amatlah kuat, bila seseorang benar benar mampu berkorban demi kesucian cintanya. Maka sebesar apa pun cobaan yang akan menghadang canta mereka kelak pasti akan dapat teratasi juga. Oleh karena itu berjuang sungguh- sungguh adalah merupakan kekuatan yang utama untuk melawan segalanya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Analisis Cerpen Dengan Judul “ LAILA MAJNUN”</p>
<p>Unsur intrinsik :<br />
1.	Tema : Pengorbanan cinta yang begitu besar<br />
2.	tokoh dan perwatakan :</p>
<p>•	laila : cerdas, baik hati, dan setia<br />
•	Qais : Bertanggung jawab, setia, dan baik hati<br />
•	Abu Amar : Baik hati dan suka menolong<br />
•	Ibnu salam : Setia menanti cinta laila<br />
•	Ayah Laila : Egois dan tidak pengertian<br />
•	Ayah Qais  : Penyabar, baik hati, dan tegas</p>
<p>3.	Alur :</p>
<p>Pengarang menggunakan alur maju, karena ceritanya di rangkai secara tersusun dan berurutan mulai dari kisah awal cerita hingga akhir cerita.</p>
<p>4.	Setting :<br />
•	Kota arab<br />
•	Ruang Kelas<br />
•	Puncak Bukit dekat rumah laila<br />
•	Sungai kecil<br />
•	Kamar laila<br />
•	Kuburan</p>
<p>5.	Sudut Pandang :<br />
Dalam cerita tersebut sudut pandang yang digunakan yaitu sudut pandang orang ketiga pelaku utama, karena pengarang tidak terlibat dalam cerita tersebut.</p>
<p>6.	Nilai- Nilai yang terkandung :<br />
•	Nilai sosial : Abu amar yang baik hati rela membantu qais dan laila agar cinta mereka dapat bersatu kembali<br />
•<br />
7.	Konflik :<br />
•	Setelah mereka dewasa( qais dan laila), ke dua orang tua mereka ternyata tidak merestui hubungan mereka.<br />
•	Laila mendengar berita bahwasanya qais ( majnun) sekarang telah mengalami gangguan jiwa ( gila)<br />
•	Laila telah di jodohkan dengan seorang pria pilihan dari orang tuanya, meskipun sebenarnya hati laila tetap hanya untuk qais</p>
<p>Penyelesaian konflik :<br />
•	Datanglah seorang pria yang berparas tampan, ia bernama abu amar. Ia datang dan bersedia untuk membantu qais dan laila untuk menyatukan cinta mereka kembali.<br />
•	Qais mendengar berita kalau ternyata beberapa saat kemudian kekasihnya itu ( laila) sesungguhnya telah meninggal dunia karena terserang penyakit, dan pada saat itu qais berniat akan mencari dimana makam dari laila di kuburkan<br />
•	Setelah menemui tempat pemakaman laila, qais mendekap kuburan itu dan menjaganya ( laila) sampai akhir ujung nafas qais telah tiada dan mereka akhirnya meninggal dunia bersama- sama.<br />
•<br />
8.	Amanat :<br />
•	Sesungguhnya kekuatan cinta itu amatlah kuat, bila seseorang benar benar mampu berkorban demi kesucian cintanya. Maka sebesar apa pun cobaan yang akan menghadang canta mereka kelak pasti akan dapat teratasi juga. Oleh karena itu berjuang sungguh- sungguh adalah merupakan kekuatan yang utama untuk melawan segalanya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Unisma: Menyimak Sastra (B) by Sri Wahyuni ((2110710051)) PBSI 1b</title>
		<link>http://kataberkata.com/?page_id=297#comment-90</link>
		<dc:creator>Sri Wahyuni ((2110710051)) PBSI 1b</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 06 Dec 2011 02:28:21 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?page_id=297#comment-90</guid>
		<description>NAMA:SRI WAHYUNI
KELAS :1B
NPM   :211O710051
TUGAS: KOMENTAR CERPEN
JUDUL
(PERADILAN RAKYAT)


ALUR        :Maju
SETTING   :Dirumah, digedung pengadilan,kantor
TOKOH     :Pengecara muda,pengecara tua,sekretaris,penjahat.
KARAKTER/TOKOH:
•	Seorang pengacara muda: ingin menegakkan hukum dari pengajaran keadilan 
•	Seorang pengecara tua : memperjuang demi menegakkan keadilan
•	Seorang sekretaris  : penasehat
•	Penjahat                   : perusak negara

SUDUT PANDANG
 Sebagai seorang pengacara ia tidak bisa menolak siapa pun orangnya yang meminta agar kamu melaksanakan kewajibannya sebagai pembela, .memang Tidak ada kemenangan di dalam pemburuan keadilan. Yang ada hanya usaha untuk mendekati apa yang lebih benar.
Seperti yang kamu katakan tadi, salah atau benar juga tidak menjadi persoalan. Hanya ada kemungkinan kalau kamu membelanya, kamu menerima tanpa harapan akan mendapatkan balas jasa atau perlindungan balik kelak kalau kamu perlukan juga bukan karena kamu ingin memburu publikasi dan bintang-bintang penghargaan dari organisasi kemanusiaan di mancanegara yang benci negaramu, bukan?
Menegakkan hukum selalu dirongrong oleh berbagai tuduhan, seakan-akan kamu sudah memiliki pamrih di luar dari pengejaran keadilan dan kebenaran
Setelah kau datang sebagai seorang pengacara muda yang gemilang dan meminta aku berbicara sebagai profesional, anakku,&quot; rintihnya dengan amat sedih, &quot; buat ayah kamu bukan saja seorang profesional, tetapi juga seorang putra dari ayah.
 AMANAT  :Tidak ada kemenangan didalam pemburuan keadilan, kebenaran yang paling benar mungkin hanya mimpi kita yang tak akan pernah tercapai.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>NAMA:SRI WAHYUNI<br />
KELAS :1B<br />
NPM   :211O710051<br />
TUGAS: KOMENTAR CERPEN<br />
JUDUL<br />
(PERADILAN RAKYAT)</p>
<p>ALUR        :Maju<br />
SETTING   <img src='http://kataberkata.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> irumah, digedung pengadilan,kantor<br />
TOKOH     <img src='http://kataberkata.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> engecara muda,pengecara tua,sekretaris,penjahat.<br />
KARAKTER/TOKOH:<br />
•	Seorang pengacara muda: ingin menegakkan hukum dari pengajaran keadilan<br />
•	Seorang pengecara tua : memperjuang demi menegakkan keadilan<br />
•	Seorang sekretaris  : penasehat<br />
•	Penjahat                   : perusak negara</p>
<p>SUDUT PANDANG<br />
 Sebagai seorang pengacara ia tidak bisa menolak siapa pun orangnya yang meminta agar kamu melaksanakan kewajibannya sebagai pembela, .memang Tidak ada kemenangan di dalam pemburuan keadilan. Yang ada hanya usaha untuk mendekati apa yang lebih benar.<br />
Seperti yang kamu katakan tadi, salah atau benar juga tidak menjadi persoalan. Hanya ada kemungkinan kalau kamu membelanya, kamu menerima tanpa harapan akan mendapatkan balas jasa atau perlindungan balik kelak kalau kamu perlukan juga bukan karena kamu ingin memburu publikasi dan bintang-bintang penghargaan dari organisasi kemanusiaan di mancanegara yang benci negaramu, bukan?<br />
Menegakkan hukum selalu dirongrong oleh berbagai tuduhan, seakan-akan kamu sudah memiliki pamrih di luar dari pengejaran keadilan dan kebenaran<br />
Setelah kau datang sebagai seorang pengacara muda yang gemilang dan meminta aku berbicara sebagai profesional, anakku,&#8221; rintihnya dengan amat sedih, &#8221; buat ayah kamu bukan saja seorang profesional, tetapi juga seorang putra dari ayah.<br />
 AMANAT  :Tidak ada kemenangan didalam pemburuan keadilan, kebenaran yang paling benar mungkin hanya mimpi kita yang tak akan pernah tercapai.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Unisma: Menyimak Sastra (B) by Sri Wahyuni ((2110710051)) PBSI 1b</title>
		<link>http://kataberkata.com/?page_id=297#comment-89</link>
		<dc:creator>Sri Wahyuni ((2110710051)) PBSI 1b</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 06 Dec 2011 02:25:44 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?page_id=297#comment-89</guid>
		<description>NAMA  :SRI WAHYUNI
KELAS :1B
NPM   :211O710051
TUGAS :KOMENTAR CERPEN
JUDUL :PERADILAN RAKYAT


ALUR        :Maju
SETTING   :Dirumah, digedung pengadilan,kantor
TOKOH     :Pengecara muda,pengecara tua,sekretaris,penjahat.
KARAKTER/TOKOH:
•	Seorang pengacara muda: ingin menegakkan hukum dari pengajaran keadilan 
•	Seorang pengecara tua : memperjuang demi menegakkan keadilan
•	Seorang sekretaris  : penasehat
•	Penjahat                   : perusak negara

SUDUT PANDANG
 Sebagai seorang pengacara ia tidak bisa menolak siapa pun orangnya yang meminta agar kamu melaksanakan kewajibannya sebagai pembela, .memang Tidak ada kemenangan di dalam pemburuan keadilan. Yang ada hanya usaha untuk mendekati apa yang lebih benar.
Seperti yang kamu katakan tadi, salah atau benar juga tidak menjadi persoalan. Hanya ada kemungkinan kalau kamu membelanya, kamu menerima tanpa harapan akan mendapatkan balas jasa atau perlindungan balik kelak kalau kamu perlukan juga bukan karena kamu ingin memburu publikasi dan bintang-bintang penghargaan dari organisasi kemanusiaan di mancanegara yang benci negaramu, bukan?
Menegakkan hukum selalu dirongrong oleh berbagai tuduhan, seakan-akan kamu sudah memiliki pamrih di luar dari pengejaran keadilan dan kebenaran
Setelah kau datang sebagai seorang pengacara muda yang gemilang dan meminta aku berbicara sebagai profesional, anakku,&quot; rintihnya dengan amat sedih, &quot; buat ayah kamu bukan saja seorang profesional, tetapi juga seorang putra dari ayah.
 AMANAT  :Tidak ada kemenangan didalam pemburuan keadilan, kebenaran yang paling benar mungkin hanya mimpi kita yang tak akan pernah tercapai.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>NAMA  :SRI WAHYUNI<br />
KELAS :1B<br />
NPM   :211O710051<br />
TUGAS :KOMENTAR CERPEN<br />
JUDUL <img src='http://kataberkata.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> ERADILAN RAKYAT</p>
<p>ALUR        :Maju<br />
SETTING   <img src='http://kataberkata.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> irumah, digedung pengadilan,kantor<br />
TOKOH     <img src='http://kataberkata.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> engecara muda,pengecara tua,sekretaris,penjahat.<br />
KARAKTER/TOKOH:<br />
•	Seorang pengacara muda: ingin menegakkan hukum dari pengajaran keadilan<br />
•	Seorang pengecara tua : memperjuang demi menegakkan keadilan<br />
•	Seorang sekretaris  : penasehat<br />
•	Penjahat                   : perusak negara</p>
<p>SUDUT PANDANG<br />
 Sebagai seorang pengacara ia tidak bisa menolak siapa pun orangnya yang meminta agar kamu melaksanakan kewajibannya sebagai pembela, .memang Tidak ada kemenangan di dalam pemburuan keadilan. Yang ada hanya usaha untuk mendekati apa yang lebih benar.<br />
Seperti yang kamu katakan tadi, salah atau benar juga tidak menjadi persoalan. Hanya ada kemungkinan kalau kamu membelanya, kamu menerima tanpa harapan akan mendapatkan balas jasa atau perlindungan balik kelak kalau kamu perlukan juga bukan karena kamu ingin memburu publikasi dan bintang-bintang penghargaan dari organisasi kemanusiaan di mancanegara yang benci negaramu, bukan?<br />
Menegakkan hukum selalu dirongrong oleh berbagai tuduhan, seakan-akan kamu sudah memiliki pamrih di luar dari pengejaran keadilan dan kebenaran<br />
Setelah kau datang sebagai seorang pengacara muda yang gemilang dan meminta aku berbicara sebagai profesional, anakku,&#8221; rintihnya dengan amat sedih, &#8221; buat ayah kamu bukan saja seorang profesional, tetapi juga seorang putra dari ayah.<br />
 AMANAT  :Tidak ada kemenangan didalam pemburuan keadilan, kebenaran yang paling benar mungkin hanya mimpi kita yang tak akan pernah tercapai.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Unisma: Menyimak Sastra (B) by A.sholahuddin Arif</title>
		<link>http://kataberkata.com/?page_id=297#comment-88</link>
		<dc:creator>A.sholahuddin Arif</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 05 Dec 2011 15:04:57 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?page_id=297#comment-88</guid>
		<description>Nama		: A.sholahuddin arif
Npm		: 2110710050
Fak/Jur		: FKIP/PBSI
Semester	: 1 ( B )
M.Kuliah	: Menyimak Sastra
Tugas		: Mengkritik Cerpen




1.Tema : peradilan rakyat
2.Alur 	 : Maju
3.Latar atau Setting :
	aLatar tempat : – rumah
	     kantor pengacara dimana tempat ayahnya seorang pengacara senior. 

	b. Latar waktu : – malam hari 
4.Sudut Pandang 
Sudut pandang orang ketiga yaitu sudut pandang yang biasanya pengarang menggunakan tokoh “ia”, atau “dia”. 
5.Gaya Bahasa 
1.Gaya Bahasa Perbandingan
• Gaya bahasa perumpamaan
- Mereka menyebutku Singa Lapar.
- Jangan membunuh diri dengan deskripsi-deskripsi yang menjebak kamu ke dalam doktrin-doktrin beku, mengalir sajalah sewajarnya bagaikan mata air, bagai suara alam
- Keadilan tak boleh menjadi sebuah taeter, tetapi mutlak hanya pencari keadilan yang kalau perlu dingin dan beku.
• Metafora
- Dengan gemilang dan mudah ia mempercundangi negara dipengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu.
• Depersonikfikasi
- Rakyat pun marah. Mereka terbakar dan mengalir bagai larva panas ke jalanan, menyerbu dengan yel-yel dan poster-poster raksasa.
• Personifikasi
- Sementara sekretaris jelitanya membacakan berita-berita keganasan yang merebak diseluruh wilayah negara dengan suaranya yang empuk, air mata menetes di pipi pengacara besar itu.
2.Gaya Bahasa Pertentangan
• Hiperbola 
- Jangan membunuh diri dengan deskripsi-deskripsi yang menjebak kamu ke dalamdoktrin-doktrin beku, mengalir sajalah sewajarnya bagaikan mata air, bagai suara alam
- Tapi aku tolak mentah-mentah. 
3.• Gaya bahasa Sinisme 
Tidak seperti pengacara sekarang yang kebanyakan berdagang. 

6.penokohan:
Pengacara Muda :seorang pemuda yang kritis, tekun, bersemangat cerdas dan profesional terhadap pekerjaannya sebagai seorang pengacara. 
“Aku tidak datang untuk menentang atau memuji Anda. Anda dengan seluruh sejarah Anda memang terlalu besar untuk dibicarakan. Meskipun bukan bebas dari kritik. Aku punya sederetan koreksi terhadap kebijakan-kebijakan yang sudah Anda lakukan. Dan aku terlalu kecil untuk menentang bahkan juga terlalu tak pantas untuk memujimu. Anda sudah tidak memerlukan cercaan atau pujian lagi. Karena kau bukan hanya penegak keadilan yang bersih, kau yang selalu berhasil dan sempurna, tetapi kau juga adalah keadilan itu sendiri”
Dari kutipan diatas menunjukkan bahwa pengacara muda tersebut cerdas, dan berpikir kritis. Ia mencermati keadaan dan situasi, seorang pengacara muda yang bersikap adil dan profesional pada pekerjaannya sebagai pengacara. 
Pengacara Tua (ayah) :Memiliki bijaksana, penyayang, rendah hati. Dan merupakan penyayang
“Aku kira tak ada yang perlu dibahas lagi. Sudah jelas. Lebih baik kamu pulang sekarang. Biarkan aku bertemu dengan putraku, sebab aku sudah sangat rindu kepada dia.” 
Wanita cantik (sekretaris pengacara tua) :perhatian, baik, cantik jelita. 
“Maaf, saya kira pertemuan harus diakhiri di sini, Pak. Beliau perlu banyak beristirahat. Selamat malam.”
Dikemukakan, bahwa sekretaris yang cantik dan dan perhatian. Ia mengatakan bahwa pengacara senior hendak beristirahat, 
7.Pesan :
dalam mengambil sebuah keputusan, seharusnya kita menggunakan pikiran serta perasaan.Sehingga apa yang menjadi keputusan yang kita ambil tidak merugikan orang lain dan diri kita sendiri.penyesalan bukan datang didepan namun datangnya di belakang.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Nama		: A.sholahuddin arif<br />
Npm		: 2110710050<br />
Fak/Jur		: FKIP/PBSI<br />
Semester	: 1 ( B )<br />
M.Kuliah	: Menyimak Sastra<br />
Tugas		: Mengkritik Cerpen</p>
<p>1.Tema : peradilan rakyat<br />
2.Alur 	 : Maju<br />
3.Latar atau Setting :<br />
	aLatar tempat : – rumah<br />
	     kantor pengacara dimana tempat ayahnya seorang pengacara senior. </p>
<p>	b. Latar waktu : – malam hari<br />
4.Sudut Pandang<br />
Sudut pandang orang ketiga yaitu sudut pandang yang biasanya pengarang menggunakan tokoh “ia”, atau “dia”.<br />
5.Gaya Bahasa<br />
1.Gaya Bahasa Perbandingan<br />
• Gaya bahasa perumpamaan<br />
- Mereka menyebutku Singa Lapar.<br />
- Jangan membunuh diri dengan deskripsi-deskripsi yang menjebak kamu ke dalam doktrin-doktrin beku, mengalir sajalah sewajarnya bagaikan mata air, bagai suara alam<br />
- Keadilan tak boleh menjadi sebuah taeter, tetapi mutlak hanya pencari keadilan yang kalau perlu dingin dan beku.<br />
• Metafora<br />
- Dengan gemilang dan mudah ia mempercundangi negara dipengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu.<br />
• Depersonikfikasi<br />
- Rakyat pun marah. Mereka terbakar dan mengalir bagai larva panas ke jalanan, menyerbu dengan yel-yel dan poster-poster raksasa.<br />
• Personifikasi<br />
- Sementara sekretaris jelitanya membacakan berita-berita keganasan yang merebak diseluruh wilayah negara dengan suaranya yang empuk, air mata menetes di pipi pengacara besar itu.<br />
2.Gaya Bahasa Pertentangan<br />
• Hiperbola<br />
- Jangan membunuh diri dengan deskripsi-deskripsi yang menjebak kamu ke dalamdoktrin-doktrin beku, mengalir sajalah sewajarnya bagaikan mata air, bagai suara alam<br />
- Tapi aku tolak mentah-mentah.<br />
3.• Gaya bahasa Sinisme<br />
Tidak seperti pengacara sekarang yang kebanyakan berdagang. </p>
<p>6.penokohan:<br />
Pengacara Muda :seorang pemuda yang kritis, tekun, bersemangat cerdas dan profesional terhadap pekerjaannya sebagai seorang pengacara.<br />
“Aku tidak datang untuk menentang atau memuji Anda. Anda dengan seluruh sejarah Anda memang terlalu besar untuk dibicarakan. Meskipun bukan bebas dari kritik. Aku punya sederetan koreksi terhadap kebijakan-kebijakan yang sudah Anda lakukan. Dan aku terlalu kecil untuk menentang bahkan juga terlalu tak pantas untuk memujimu. Anda sudah tidak memerlukan cercaan atau pujian lagi. Karena kau bukan hanya penegak keadilan yang bersih, kau yang selalu berhasil dan sempurna, tetapi kau juga adalah keadilan itu sendiri”<br />
Dari kutipan diatas menunjukkan bahwa pengacara muda tersebut cerdas, dan berpikir kritis. Ia mencermati keadaan dan situasi, seorang pengacara muda yang bersikap adil dan profesional pada pekerjaannya sebagai pengacara.<br />
Pengacara Tua (ayah) :Memiliki bijaksana, penyayang, rendah hati. Dan merupakan penyayang<br />
“Aku kira tak ada yang perlu dibahas lagi. Sudah jelas. Lebih baik kamu pulang sekarang. Biarkan aku bertemu dengan putraku, sebab aku sudah sangat rindu kepada dia.”<br />
Wanita cantik (sekretaris pengacara tua) :perhatian, baik, cantik jelita.<br />
“Maaf, saya kira pertemuan harus diakhiri di sini, Pak. Beliau perlu banyak beristirahat. Selamat malam.”<br />
Dikemukakan, bahwa sekretaris yang cantik dan dan perhatian. Ia mengatakan bahwa pengacara senior hendak beristirahat,<br />
7.Pesan :<br />
dalam mengambil sebuah keputusan, seharusnya kita menggunakan pikiran serta perasaan.Sehingga apa yang menjadi keputusan yang kita ambil tidak merugikan orang lain dan diri kita sendiri.penyesalan bukan datang didepan namun datangnya di belakang.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Unisma: Menyimak Sastra (A) by Rani Ela Ndini 2110710012</title>
		<link>http://kataberkata.com/?page_id=295#comment-86</link>
		<dc:creator>Rani Ela Ndini 2110710012</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 05 Dec 2011 03:31:39 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?page_id=295#comment-86</guid>
		<description>1.Judul : Layla majnun
isi dalam novel pada awal ceritanya bagus, bisa membuat pembaca tertarik dan  penasaran ,sehingga pembaca berkeinginan untuk membaca secara tuntas.
2.Tokoh danWatak :
Layla : layla merupakan gadis cantik,yang selain cantik dia itu baik hati,setia,patuh sama orang tua.
Qais : dia itu setia,tapi agak egois,membangkang orang tua.
Abu amar :Teman qais, dia baik sering menolong Qais.
Banyu umar : ayahnya Qois , dia ,merupakan orang tua yang bijaksana,penyayang.
Sama ibn salam : ayahnya Layla,yang sedikit pemarah.

3.Alur (plot), Alurnya Maju
4.Seting(Latar)
Latar tempat : Arab Saudi , makam
5.Sudut pandang : orang ketiga pelaku utama 
6.Konflik: hubungan antara Layla sama Qois tidak di setujui sama kedua orang tua mereka .orang tua Layla menilai qois itu orangnya suka berontak.
7.Amanat : janganlah kmu mencintai seseorang secara berlebihan, apalagi sampai tidak menghormati orang tua. 
8.Nilai
Nilai agama : orang tuanya Qais tetap berdoa kepada ALLAH agar anaknya berubah menjadi lebih baik  dan berharap bisa berkumpul sama keluarganya.
nilai sosial: abu amar menolong qais untuk mendapatkan laila.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>1.Judul : Layla majnun<br />
isi dalam novel pada awal ceritanya bagus, bisa membuat pembaca tertarik dan  penasaran ,sehingga pembaca berkeinginan untuk membaca secara tuntas.<br />
2.Tokoh danWatak :<br />
Layla : layla merupakan gadis cantik,yang selain cantik dia itu baik hati,setia,patuh sama orang tua.<br />
Qais : dia itu setia,tapi agak egois,membangkang orang tua.<br />
Abu amar :Teman qais, dia baik sering menolong Qais.<br />
Banyu umar : ayahnya Qois , dia ,merupakan orang tua yang bijaksana,penyayang.<br />
Sama ibn salam : ayahnya Layla,yang sedikit pemarah.</p>
<p>3.Alur (plot), Alurnya Maju<br />
4.Seting(Latar)<br />
Latar tempat : Arab Saudi , makam<br />
5.Sudut pandang : orang ketiga pelaku utama<br />
6.Konflik: hubungan antara Layla sama Qois tidak di setujui sama kedua orang tua mereka .orang tua Layla menilai qois itu orangnya suka berontak.<br />
7.Amanat : janganlah kmu mencintai seseorang secara berlebihan, apalagi sampai tidak menghormati orang tua.<br />
8.Nilai<br />
Nilai agama : orang tuanya Qais tetap berdoa kepada ALLAH agar anaknya berubah menjadi lebih baik  dan berharap bisa berkumpul sama keluarganya.<br />
nilai sosial: abu amar menolong qais untuk mendapatkan laila.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Unisma: Menyimak Sastra (B) by SYAIFUL BAHRI_2110710068</title>
		<link>http://kataberkata.com/?page_id=297#comment-85</link>
		<dc:creator>SYAIFUL BAHRI_2110710068</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 05 Dec 2011 02:48:27 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?page_id=297#comment-85</guid>
		<description>Nama    : Syaiful Bahri
Npm      : 2110710068
Fak.       : KIP	
Jurusan: Bahasa Indonesia
Kelas     : 1.b


ANALISIS CERPEN

1.	Tema  : Peradilan Rakyat
2.	Alur     : Maju
3.	Tokoh :
•	Pengacara Muda
•	Pangacara tua
•	Penjahat
•	Sekretaris
                       
4.	Watak :
•	Pengacara  Muda :  mempunyai sifat pantang menyerah dan memiliki pendirian yang kuat.
•	Pengacara tua   : bijaksana, berwibawa dan propesional.
•	Penjahat                : egois.
•	Sekertaris              : Ramah dan perhatian dan baik hati.

5.	Setting  : didalam ruangan. 
6.	Konflik  : tentang keadilan dalam suatu Negara.
7.	Amanat : berusaha dengan kerja keras akan membuahkan hasil yang baik,dan jembatan menuju keberhasilan
8.	Sudut Pandang : Orang Pertama.
9.	Teknik Penceritaan : 
Seorang pengacara Muda yang cemerlang ditugaskan oleh Negara untuk membela seorang penjahat besar, yang sepantasnya mendapat hukuman mati. Tapi pengacara muda itu menolak mentah-mentah karena ia yakin Negara tidak benar-benar menugaskan untuk membelanya.
Namun ia tidak sadar bahwa di balik itu ia telah melakukan kesalahan besar. Ia terima permintaan sipenjahat bajingan yang seharusnya di hukum mati itu ketika menemuinya langsung di tempat kediamannya. ia merasa bahwa keputusannya adalah benar membela seorang penjahat yang seharusnya di hukum mati dan ia yakin bahwa ia akan menang di pengadilan nanti tanpa ia sadari bahwa dibalik semua itu malapetaka akan terjadi. Apa yang diyakini pengacara muda itu kemudian menjadi kenyataan. Dengan gemilang dan mudah ia mempecundangi negara di pengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu. Bangsat itu tertawa terkekeh-kekeh. Ia merayakan kemenangannya dengan pesta kembang api semalam suntuk, lalu meloncat ke mancanegara, tak mungkin dijamah lagi. Rakyat pun marah. Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan, Gedung pengadilan diserbu dan dibakar. Pengacara muda itu diculik, disiksa dan akhirnya baru dikembalikan sesudah jadi mayat. 
Mendengar berita-berita keganasan yang merebak diseluruh Negara, meneteslah air mata pengacara tua (ayah dari pengacara muda) di pipinya yang sudah tampak keriput.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Nama    : Syaiful Bahri<br />
Npm      : 2110710068<br />
Fak.       : KIP<br />
Jurusan: Bahasa Indonesia<br />
Kelas     : 1.b</p>
<p>ANALISIS CERPEN</p>
<p>1.	Tema  : Peradilan Rakyat<br />
2.	Alur     : Maju<br />
3.	Tokoh :<br />
•	Pengacara Muda<br />
•	Pangacara tua<br />
•	Penjahat<br />
•	Sekretaris</p>
<p>4.	Watak :<br />
•	Pengacara  Muda :  mempunyai sifat pantang menyerah dan memiliki pendirian yang kuat.<br />
•	Pengacara tua   : bijaksana, berwibawa dan propesional.<br />
•	Penjahat                : egois.<br />
•	Sekertaris              : Ramah dan perhatian dan baik hati.</p>
<p>5.	Setting  : didalam ruangan.<br />
6.	Konflik  : tentang keadilan dalam suatu Negara.<br />
7.	Amanat : berusaha dengan kerja keras akan membuahkan hasil yang baik,dan jembatan menuju keberhasilan<br />
8.	Sudut Pandang : Orang Pertama.<br />
9.	Teknik Penceritaan :<br />
Seorang pengacara Muda yang cemerlang ditugaskan oleh Negara untuk membela seorang penjahat besar, yang sepantasnya mendapat hukuman mati. Tapi pengacara muda itu menolak mentah-mentah karena ia yakin Negara tidak benar-benar menugaskan untuk membelanya.<br />
Namun ia tidak sadar bahwa di balik itu ia telah melakukan kesalahan besar. Ia terima permintaan sipenjahat bajingan yang seharusnya di hukum mati itu ketika menemuinya langsung di tempat kediamannya. ia merasa bahwa keputusannya adalah benar membela seorang penjahat yang seharusnya di hukum mati dan ia yakin bahwa ia akan menang di pengadilan nanti tanpa ia sadari bahwa dibalik semua itu malapetaka akan terjadi. Apa yang diyakini pengacara muda itu kemudian menjadi kenyataan. Dengan gemilang dan mudah ia mempecundangi negara di pengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu. Bangsat itu tertawa terkekeh-kekeh. Ia merayakan kemenangannya dengan pesta kembang api semalam suntuk, lalu meloncat ke mancanegara, tak mungkin dijamah lagi. Rakyat pun marah. Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan, Gedung pengadilan diserbu dan dibakar. Pengacara muda itu diculik, disiksa dan akhirnya baru dikembalikan sesudah jadi mayat.<br />
Mendengar berita-berita keganasan yang merebak diseluruh Negara, meneteslah air mata pengacara tua (ayah dari pengacara muda) di pipinya yang sudah tampak keriput.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Unisma: Menyimak Sastra (B) by NURRAHMAN_2110710038</title>
		<link>http://kataberkata.com/?page_id=297#comment-84</link>
		<dc:creator>NURRAHMAN_2110710038</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 05 Dec 2011 02:34:11 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?page_id=297#comment-84</guid>
		<description>NAMA: NURRAHMAN 
NPM:    2110710038
KELAS: 1B

Ranah ketidak jelasan keadilan yang ada pada bangsa kita yang membuat kegelisahan rakyat sampai saat ini,sehingga para pemuda bergetar hatinya untuk mencari yang namanya keadilan dan mengaspirasi suara rakyat untuk menuntut hak yang tidak di dengar sampai  saat ini.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>NAMA: NURRAHMAN<br />
NPM:    2110710038<br />
KELAS: 1B</p>
<p>Ranah ketidak jelasan keadilan yang ada pada bangsa kita yang membuat kegelisahan rakyat sampai saat ini,sehingga para pemuda bergetar hatinya untuk mencari yang namanya keadilan dan mengaspirasi suara rakyat untuk menuntut hak yang tidak di dengar sampai  saat ini.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Unisma: Menyimak Sastra (B) by Lely Yudistia NPM. 2110710065</title>
		<link>http://kataberkata.com/?page_id=297#comment-82</link>
		<dc:creator>Lely Yudistia NPM. 2110710065</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 05 Dec 2011 01:54:29 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?page_id=297#comment-82</guid>
		<description>Menyimak Cerpen melalui Audio Visual
Tema &quot;Peradilan Rakyat&quot;
Karya &quot;Putu Wijaya&quot;
Analisa Cerpen 
Cerpen ini berawal dari sebuah dialog anak sebagai pengacara muda dengan seorang pengacara yang juga seorang ayahnya. 
Pengacara muda yang mempunyai semangat yang membara dalam jiwanya untuk menegakkan hukum yang ada di negara yang dicabik-cabik oleh kaum koruptor dan penjahat-penjahat negara yang tidak bermoral.
Alur : Maju (Progesif)
Setting 
Tempat : Pengacara muda yang mendatangi pengacara tua tempatnya di kantor pengacara senior.
- Penokohan
1. Pengacara Muda (anak): merupakan seorang pemuda yang kritis dalam hukum yang mencerminkan pengacara profesional, tekun, bersemangat cerdas dan sungguh-sungguh dan bertanggung jawab terhadap pekerjaannya sebagai seorang pengacara.
Ia mencermati keadaan dan situasi, seorang pengacara muda yang bersikap adil dan profesional pada pekerjaannya sebagai pengacara.
2. Pengacara Senior (ayah): tua, lemah dan sakit.Memiliki bijaksana, penyayang, rendah hati, dan merindukan sosok seorang anak yang bukan sebagai pengacara lagi.
Karakter tokoh ayah yang menyayangi dan merindukan putranya. Pengacara senior sudah tampak lemah dan sakit-sakitan.
3. Sekretaris Cantik yang sabar, berwibawa dalam merawat pengacara senior.

Sudut Pandang:
Sudut pandang yang terdapat dalam cerpen Peradilan Rakyat adalah Sudut pandang orang ketiga yaitu sudut pandang yang biasanya pengarang menggunakan tokoh “ia”, atau “dia” (dalam percakapan antara kedua pengacara tersebut).

Penggunaan gaya bahasa yang terdapat dalam cerpen adalah Gaya Bahasa:
1. Gaya Bahasa Perbandingan
-&gt; Gaya bahasa perumpamaan
. Mereka menyebutku Singa Lapar.
. Jangan membunuh diri dengan deskripsi-deskripsi yang menjebak kamu ke dalam doktrin-doktrin beku, mengalir sajalah sewajarnya bagaikan mata air, bagai suara alam
. Keadilan tak boleh menjadi sebuah taeter, tetapi mutlak hanya pencari keadilan yang kalau perlu dingin dan beku.
-&gt; Metafora
. Dengan gemilang dan mudah ia mempencundangi negara dipengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu.
-&gt; Depersonikfikasi
. Rakyat pun marah. Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan, menyerbu dengan yel-yel dan poster-poster raksasa.
-&gt; Personifikasi
. Sementara sekretaris jelitanya membacakan berita-berita keganasan yang merebak diseluruh wilayah negara dengan suaranya yang empuk, air mata menetes di pipi pengacara besar itu.
2. Gaya Bahasa Pertentangan
-&gt; Hiperbola
* Tetapi kamu sebagai ujung tombak pencarian keadilan di negeri yang sedang, dicabik-cabik korupsi ini.
* Namun yang lebih buas dan keji ketika memperoleh kesempatan menginjak-injak keadilan dan kebenaran yang dulu diberhalakannya.
- Jangan membunuh diri dengan deskripsi-deskripsi yang menjebak kamu ke dalam doktrin-doktrin beku, mengalir sajalah sewajarnya bagaikan mata air, bagai suara alam
- Tapi aku tolak mentah-mentah.
- Keadilan tak boleh menjadi sebuah taeter, tetapi mutlak hanya pencari keadilan yang kalau perlu dingin dan beku.
- Yang tua memicingkan mata dan mulai menembak lagi.
- Juga bukan ingin memburu publikasi dan bintang-bintang penghargaan dari organisasi kemanusian di mancanegara yang benci negaramu, bukan?
- Entah luluh oleh senyum dibibir wanita yang memiliki mata yang sangat indah itu.
- membebaskan bajingan yang ditakuti oleh seluruh rakyat dinegeri ini untuk terbang lepas kembali seperti burung diudara.
- Ia merayakan kemenangan dengan pesta kembang semalam suntuk, lalu meloncat ke mancanegara, tak mungkin dijamah lagi.
- Rakyat terus mengaum dan hendak menggulingkan pemerintahan yang sah.
- Penjahat besar yang akan terbebaskan akan menyulut peradilan rakyat.
• Gaya bahasa Sinisme 
Tidak seperti pengacara sekarang yang kebanyakan berdagang.
Maksudnya, saat ini banyak pengacara yang bekerja dengan tidak profesional. Menjual kejujuran demi kepentingan pribadi atau kelompok.

Kesimpulan
Dari cerpen “Peradilan Rakyat” karya Putu Wijaya ini dapat diambil hikmah, dalam mengambil sebuah keputusan, seharusnya kita menggunakan pertimabangan pikiran serta perasaan sebelum melakukan suatu keputusan yang berdampak besar. Sehingga keputusan yang kita ambil tersebut tidak merugikan diri sendiri dan orang lain. Banyaknya penjahat-penjahat kasus yang terjadi saat ini adalah bukti kelemahan moral yang terjadi di negeri ini.
Hukum pun bisa dibeli. Kita sebagai manusia yang mempunyai akhlak, hendaknya dalam menjalani sebuah pekerjaan haruslah sesuai dengan norma-norma yang berlaku, sehingga hal-hal yang merugikan dan menyengsarakan orang lain, bisa di hindari. Banyak pengacara yang bertindak tidak sesuai dengan aturan-aturan sewajarnya dalam menjalankan tugas sehingga terkesan sesuai akal pikiran sendiri sehingga berakibat pada rakyat yang dirugikan dengan adanya kebebasan penjahat oleh pengacara yang membantu untuk membelanya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Menyimak Cerpen melalui Audio Visual<br />
Tema &#8220;Peradilan Rakyat&#8221;<br />
Karya &#8220;Putu Wijaya&#8221;<br />
Analisa Cerpen<br />
Cerpen ini berawal dari sebuah dialog anak sebagai pengacara muda dengan seorang pengacara yang juga seorang ayahnya.<br />
Pengacara muda yang mempunyai semangat yang membara dalam jiwanya untuk menegakkan hukum yang ada di negara yang dicabik-cabik oleh kaum koruptor dan penjahat-penjahat negara yang tidak bermoral.<br />
Alur : Maju (Progesif)<br />
Setting<br />
Tempat : Pengacara muda yang mendatangi pengacara tua tempatnya di kantor pengacara senior.<br />
- Penokohan<br />
1. Pengacara Muda (anak): merupakan seorang pemuda yang kritis dalam hukum yang mencerminkan pengacara profesional, tekun, bersemangat cerdas dan sungguh-sungguh dan bertanggung jawab terhadap pekerjaannya sebagai seorang pengacara.<br />
Ia mencermati keadaan dan situasi, seorang pengacara muda yang bersikap adil dan profesional pada pekerjaannya sebagai pengacara.<br />
2. Pengacara Senior (ayah): tua, lemah dan sakit.Memiliki bijaksana, penyayang, rendah hati, dan merindukan sosok seorang anak yang bukan sebagai pengacara lagi.<br />
Karakter tokoh ayah yang menyayangi dan merindukan putranya. Pengacara senior sudah tampak lemah dan sakit-sakitan.<br />
3. Sekretaris Cantik yang sabar, berwibawa dalam merawat pengacara senior.</p>
<p>Sudut Pandang:<br />
Sudut pandang yang terdapat dalam cerpen Peradilan Rakyat adalah Sudut pandang orang ketiga yaitu sudut pandang yang biasanya pengarang menggunakan tokoh “ia”, atau “dia” (dalam percakapan antara kedua pengacara tersebut).</p>
<p>Penggunaan gaya bahasa yang terdapat dalam cerpen adalah Gaya Bahasa:<br />
1. Gaya Bahasa Perbandingan<br />
-&gt; Gaya bahasa perumpamaan<br />
. Mereka menyebutku Singa Lapar.<br />
. Jangan membunuh diri dengan deskripsi-deskripsi yang menjebak kamu ke dalam doktrin-doktrin beku, mengalir sajalah sewajarnya bagaikan mata air, bagai suara alam<br />
. Keadilan tak boleh menjadi sebuah taeter, tetapi mutlak hanya pencari keadilan yang kalau perlu dingin dan beku.<br />
-&gt; Metafora<br />
. Dengan gemilang dan mudah ia mempencundangi negara dipengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu.<br />
-&gt; Depersonikfikasi<br />
. Rakyat pun marah. Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan, menyerbu dengan yel-yel dan poster-poster raksasa.<br />
-&gt; Personifikasi<br />
. Sementara sekretaris jelitanya membacakan berita-berita keganasan yang merebak diseluruh wilayah negara dengan suaranya yang empuk, air mata menetes di pipi pengacara besar itu.<br />
2. Gaya Bahasa Pertentangan<br />
-&gt; Hiperbola<br />
* Tetapi kamu sebagai ujung tombak pencarian keadilan di negeri yang sedang, dicabik-cabik korupsi ini.<br />
* Namun yang lebih buas dan keji ketika memperoleh kesempatan menginjak-injak keadilan dan kebenaran yang dulu diberhalakannya.<br />
- Jangan membunuh diri dengan deskripsi-deskripsi yang menjebak kamu ke dalam doktrin-doktrin beku, mengalir sajalah sewajarnya bagaikan mata air, bagai suara alam<br />
- Tapi aku tolak mentah-mentah.<br />
- Keadilan tak boleh menjadi sebuah taeter, tetapi mutlak hanya pencari keadilan yang kalau perlu dingin dan beku.<br />
- Yang tua memicingkan mata dan mulai menembak lagi.<br />
- Juga bukan ingin memburu publikasi dan bintang-bintang penghargaan dari organisasi kemanusian di mancanegara yang benci negaramu, bukan?<br />
- Entah luluh oleh senyum dibibir wanita yang memiliki mata yang sangat indah itu.<br />
- membebaskan bajingan yang ditakuti oleh seluruh rakyat dinegeri ini untuk terbang lepas kembali seperti burung diudara.<br />
- Ia merayakan kemenangan dengan pesta kembang semalam suntuk, lalu meloncat ke mancanegara, tak mungkin dijamah lagi.<br />
- Rakyat terus mengaum dan hendak menggulingkan pemerintahan yang sah.<br />
- Penjahat besar yang akan terbebaskan akan menyulut peradilan rakyat.<br />
• Gaya bahasa Sinisme<br />
Tidak seperti pengacara sekarang yang kebanyakan berdagang.<br />
Maksudnya, saat ini banyak pengacara yang bekerja dengan tidak profesional. Menjual kejujuran demi kepentingan pribadi atau kelompok.</p>
<p>Kesimpulan<br />
Dari cerpen “Peradilan Rakyat” karya Putu Wijaya ini dapat diambil hikmah, dalam mengambil sebuah keputusan, seharusnya kita menggunakan pertimabangan pikiran serta perasaan sebelum melakukan suatu keputusan yang berdampak besar. Sehingga keputusan yang kita ambil tersebut tidak merugikan diri sendiri dan orang lain. Banyaknya penjahat-penjahat kasus yang terjadi saat ini adalah bukti kelemahan moral yang terjadi di negeri ini.<br />
Hukum pun bisa dibeli. Kita sebagai manusia yang mempunyai akhlak, hendaknya dalam menjalani sebuah pekerjaan haruslah sesuai dengan norma-norma yang berlaku, sehingga hal-hal yang merugikan dan menyengsarakan orang lain, bisa di hindari. Banyak pengacara yang bertindak tidak sesuai dengan aturan-aturan sewajarnya dalam menjalankan tugas sehingga terkesan sesuai akal pikiran sendiri sehingga berakibat pada rakyat yang dirugikan dengan adanya kebebasan penjahat oleh pengacara yang membantu untuk membelanya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Unisma: Menyimak Sastra (A) by ninik windariyati_NPM_2110710040</title>
		<link>http://kataberkata.com/?page_id=295#comment-80</link>
		<dc:creator>ninik windariyati_NPM_2110710040</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 04 Dec 2011 15:59:36 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?page_id=295#comment-80</guid>
		<description>novel :laila majnun
penulis : Syeck hakim an nizam
temanya menceritakan tentang kisah laila dan majnun,tokoh dalam novel laila merupakan tokoh utama dia sanagat baik,majnun atau kais merupakan tokoh utama dalam novel dia sangat cerdas juga baik hati, ayah dan ibu kais mereka sangat sabar dan penyayang, abu bakar dia sangat tekun, ibnu salam merupakan pejuang keras.alur yang digunakan alur maju yang memudahkan pembaca mudah memahami.settingnya di arabiah, makkah, sekolah, rumak laila, rumah majnun, kamar laila, taman bungga, padang pasir. amanat yang disampaikan perjuangkan cinta meski sampai akhir hayat. konfliknya laila dan majnun yang saling mencintai tetapi ditentang oleh orang tua laila yang kemudian laila dinikahkan oleh orang tuanya dengan ibnu salam tetapi cinta laila kepada majnun yang menyebabkan kematian laila.sudut pandang yang digunakan pengganti orang pertama tunggal. nilai yang ada nilai agama, nilai adat. gaya bahasanya lugas dan mudah dipahami.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>novel :laila majnun<br />
penulis : Syeck hakim an nizam<br />
temanya menceritakan tentang kisah laila dan majnun,tokoh dalam novel laila merupakan tokoh utama dia sanagat baik,majnun atau kais merupakan tokoh utama dalam novel dia sangat cerdas juga baik hati, ayah dan ibu kais mereka sangat sabar dan penyayang, abu bakar dia sangat tekun, ibnu salam merupakan pejuang keras.alur yang digunakan alur maju yang memudahkan pembaca mudah memahami.settingnya di arabiah, makkah, sekolah, rumak laila, rumah majnun, kamar laila, taman bungga, padang pasir. amanat yang disampaikan perjuangkan cinta meski sampai akhir hayat. konfliknya laila dan majnun yang saling mencintai tetapi ditentang oleh orang tua laila yang kemudian laila dinikahkan oleh orang tuanya dengan ibnu salam tetapi cinta laila kepada majnun yang menyebabkan kematian laila.sudut pandang yang digunakan pengganti orang pertama tunggal. nilai yang ada nilai agama, nilai adat. gaya bahasanya lugas dan mudah dipahami.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Unisma: Menyimak Sastra (A) by lisawati</title>
		<link>http://kataberkata.com/?page_id=295#comment-79</link>
		<dc:creator>lisawati</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 04 Dec 2011 15:51:59 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?page_id=295#comment-79</guid>
		<description>tema:kisah cinta laila majnun
tokoh:laila,majnun/kais,ayah ibu kais,abu bakar,ibnu salam
alur:maju
setting:arab, makkah
amanat:perjuangkan cinta
konflik cintalaila dan majnun yang ditentang oleh orang taunya
sudut pandang:pengganti orang pertama
nilai:agama
gaya bahasa:mudah dipahami</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>tema:kisah cinta laila majnun<br />
tokoh:laila,majnun/kais,ayah ibu kais,abu bakar,ibnu salam<br />
alur:maju<br />
setting:arab, makkah<br />
amanat:perjuangkan cinta<br />
konflik cintalaila dan majnun yang ditentang oleh orang taunya<br />
sudut pandang:pengganti orang pertama<br />
nilai:agama<br />
gaya bahasa:mudah dipahami</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Unisma: Menyimak Sastra (A) by ninik windariyati</title>
		<link>http://kataberkata.com/?page_id=295#comment-78</link>
		<dc:creator>ninik windariyati</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 04 Dec 2011 15:46:04 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?page_id=295#comment-78</guid>
		<description>nama;ninik windariyati
NPM;2110710040
novel :laila majnun
penulis : Syeck hakim an nizam
temanya menceritakan tentang kisah laila dan majnun,tokoh dalam novel laila merupakan tokoh utama dia sanagat baik,majnun atau kais merupakan tokoh utama dalam novel dia sangat cerdas juga baik hati, ayah dan ibu kais mereka sangat sabar dan penyayang, abu bakar dia sangat tekun, ibnu salam merupakan pejuang keras.alur yang digunakan alur maju yang memudahkan pembaca mudah memahami.settingnya di arabiah, makkah, sekolah, rumak laila, rumah majnun, kamar laila, taman bungga, padang pasir. amanat yang disampaikan perjuangkan cinta meski sampai akhir hayat. konfliknya laila dan majnun yang saling mencintai tetapi ditentang oleh orang tua laila yang kemudian laila dinikahkan oleh orang tuanya dengan ibnu salam tetapi cinta laila kepada majnun yang menyebabkan kematian laila.sudut pandang yang digunakan pengganti orang pertama tunggal. nilai yang ada nilai agama, nilai adat. gaya bahasanya lugas dan mudah dipahami.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>nama;ninik windariyati<br />
NPM;2110710040<br />
novel :laila majnun<br />
penulis : Syeck hakim an nizam<br />
temanya menceritakan tentang kisah laila dan majnun,tokoh dalam novel laila merupakan tokoh utama dia sanagat baik,majnun atau kais merupakan tokoh utama dalam novel dia sangat cerdas juga baik hati, ayah dan ibu kais mereka sangat sabar dan penyayang, abu bakar dia sangat tekun, ibnu salam merupakan pejuang keras.alur yang digunakan alur maju yang memudahkan pembaca mudah memahami.settingnya di arabiah, makkah, sekolah, rumak laila, rumah majnun, kamar laila, taman bungga, padang pasir. amanat yang disampaikan perjuangkan cinta meski sampai akhir hayat. konfliknya laila dan majnun yang saling mencintai tetapi ditentang oleh orang tua laila yang kemudian laila dinikahkan oleh orang tuanya dengan ibnu salam tetapi cinta laila kepada majnun yang menyebabkan kematian laila.sudut pandang yang digunakan pengganti orang pertama tunggal. nilai yang ada nilai agama, nilai adat. gaya bahasanya lugas dan mudah dipahami.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Unisma by habsyah</title>
		<link>http://kataberkata.com/?page_id=87#comment-77</link>
		<dc:creator>habsyah</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 04 Dec 2011 13:18:13 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?page_id=87#comment-77</guid>
		<description>1.Tema : Hakikat Cinta Sejati
2.Judul: kisah cinta layla majnun
3.Alur : Maju
4.Tokoh: Majnun , Layla Bani Umar, Abu Amar Ibnu Salam
5.konflik: Menceritakan kisah cinta yang di tentang oleh orang tua Layla
6.penyelesaian konflik: ketika Majnun merelakan Layla menikah dan memberi ucapan selamat.

7. akhir cerita: berakhir dengan kematian 
8.amanat: cinta itu harus di pertahankan sampai ajal datang menjemput 
9. kesimpulan: dari tema alur kita bisa melihat bahwa dari cerita terdebut menarik untuk dibaca dan apabila dapat diterapkan pula dalam kehidupan kita sehari-hari.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>1.Tema : Hakikat Cinta Sejati<br />
2.Judul: kisah cinta layla majnun<br />
3.Alur : Maju<br />
4.Tokoh: Majnun , Layla Bani Umar, Abu Amar Ibnu Salam<br />
5.konflik: Menceritakan kisah cinta yang di tentang oleh orang tua Layla<br />
6.penyelesaian konflik: ketika Majnun merelakan Layla menikah dan memberi ucapan selamat.</p>
<p>7. akhir cerita: berakhir dengan kematian<br />
8.amanat: cinta itu harus di pertahankan sampai ajal datang menjemput<br />
9. kesimpulan: dari tema alur kita bisa melihat bahwa dari cerita terdebut menarik untuk dibaca dan apabila dapat diterapkan pula dalam kehidupan kita sehari-hari.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Unisma: Menyimak Sastra (A) by habsyah</title>
		<link>http://kataberkata.com/?page_id=295#comment-76</link>
		<dc:creator>habsyah</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 04 Dec 2011 13:13:10 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?page_id=295#comment-76</guid>
		<description>1.Tema : Hakikat Cinta Sejati
2.Judul: kisah cinta layla majnun
3.Alur : Maju
4.Tokoh: Majnun , Layla Bani Umar, Abu Amar Ibnu Salam
5.konflik: Menceritakan kisah cinta yang di tentang oleh orang tua Layla
6.penyelesaian konflik: ketika Majnun merelakan Layla menikah dan memberi ucapan selamat.
7. akhir cerita: berakhir dengan kematian 
8.amanat: cinta itu harus di pertahankan sampai ajal datang menjemput 
9. kesimpulan: dari tema alur kita bisa melihat bahwa dari cerita terdebut menarik untuk dibaca dan apabila dapat diterapkan pula dalam kehidupan kita sehari-hari.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>1.Tema : Hakikat Cinta Sejati<br />
2.Judul: kisah cinta layla majnun<br />
3.Alur : Maju<br />
4.Tokoh: Majnun , Layla Bani Umar, Abu Amar Ibnu Salam<br />
5.konflik: Menceritakan kisah cinta yang di tentang oleh orang tua Layla<br />
6.penyelesaian konflik: ketika Majnun merelakan Layla menikah dan memberi ucapan selamat.<br />
7. akhir cerita: berakhir dengan kematian<br />
8.amanat: cinta itu harus di pertahankan sampai ajal datang menjemput<br />
9. kesimpulan: dari tema alur kita bisa melihat bahwa dari cerita terdebut menarik untuk dibaca dan apabila dapat diterapkan pula dalam kehidupan kita sehari-hari.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Unisma: Menyimak Sastra (A) by luluk hanifah</title>
		<link>http://kataberkata.com/?page_id=295#comment-75</link>
		<dc:creator>luluk hanifah</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 04 Dec 2011 09:43:56 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?page_id=295#comment-75</guid>
		<description>tema: laila majnun
tokoh: laila, qays, orang tua laila, orang tua qays, dan ibnu salam.
watak: - watak laila, dia sangat mempumyai kesopanan yang luar biasa.
       - dia jiga sangatlah mempunyai sifat yang lemah lembut.
       - dia juga penyabar.
       - selalu taat kpada orang tua.
       - sholehah.
       - dan dia juga mempunyai sifat yang setia.
       - watak qays, dia pemuda yang sangat tampan.
       - dan dia juga baik hati.
       - dia juga baik hati.
       - dia juga dikinal dengan kecerdasaannya.
       - dia jug apemuda yang sangat setia.
       - watak orang tua, - selalu berusaha berkorban demi anaknya.
       - penyabar.
       - pantang menyerah.
       - dan juga berjuang keras demi kesuksesan anaknya.
       - watak ibnu salam, - dia adalah seorang pemuda yamg gagah.
       - dia juga seorang yang penolong.
       - dia juga baik hati.
       - dan dia juga sholeh.
setting:- dirumah laila, dimana dirumah laila dilahirkan dan dibesarkan   
          dan menjadi seorang perempuan yang sholihah.
       - di puncak bukit, disinilah majnun bisa mendapatkan kabar tentang kebe
          keberadaan laila yang selama ini hilang entah kemana.
       - dikamar, tempat inilah majnun dapat menye]ampaikan salamnya melalui 
         empat mata.
       - dikuburan, ditem[at inilah akhirnya cinta mereka dipersatukan kembali
konflik: ketika ayah mejnun mengetahui peristiwa tersebut ia ahkirnya memutuskan untuk mengakhiri drama gila-gilaan tersebut yang memalukan dengan cara melamar laila tetapi yang terjadi lamaran terrsebut tidak diterimah oleh orang tua laila, ibnu salam pun berusaha sekuat mungkin untuk mendapatkan hati laila dengan melaukan serangan terhadap orang tua laila, keluarga laila pun mengalami kekalahan dan ibnu salam menuntut ayahanda laila untuk menjadikan laila sebagai calon istrinya.
penyelesaian konflik: setelah sekian lama menjadi suami istri dengan laila ibnu salam pun merasa kesal karena usaha yang dilakukannya gagal, akhirnya ibnu salam pun jatuh sakit dan meninggal, sejak kematian suaminnya laila sadar bahwa suaminya sangat mencintai dan menyayangi sepenuh hati, sejak itulah laila terkena batuk kronis yang dideritanya selama berbulan-bulan yang menyeranga laila dengan hebat akhirnya laila juga meninggal. kabar itu terdengar ketelinga majnun. majun pun akhirnya berjalan-dan terus berjalan untuk menemukan makam sang kekasih. akhirnya makam tersebut berhasil ditemukan  dan akhirnya sejak itu majunun pun mengikuti langkah kemana laila pergi yakni disurga, dimana disituh cinta mereka bisa kembali lagi dan abadi untuk selamanya bersama tuhan, tuhan mempelai majnun dengan penuh kasih dan meminta majnun duduk disampingnya kemudian dia berkata &quot;apakah engkau tidak malu memanggilku dengan nama laila setelah meminum anggur cintaku&quot;?????????????
dikatakan demikian bahwa terkadang seorang sufi mimpi dimana majnun muncul.
peran pelaku: bersifat antagonis.
alur: maju
sudut pandang: pelaku utama orang pertama.
kata pertama yang ada pada novel: kepala suku bani umar.
kata terakhir yang ada pada novel: meminum anggur cintaku.
nilai-nilai sosial: didalam kehidupan sehari-hari kita tidak pernah luput dari sesuatu masalah atau ujian yang menimpa kita dan setiap masalah itu pasti ada jalan keluarnya dan persoalan itu saling bersosialisasi satu sama lainnya dalam mengatasi persoalan tersebut.
didalam novel ini yang terdapat nilai-nilai sosial adalah pada saat cobaan menimpa kepada cinta laila dan majnun, majnun pun berusaha mencari cintanya yang telah hilang, namun majnun pun memerlukan orang lain untuk membantu masalah-masalah berikut. dan dalam hal ini ibnu salam pun membantu majnun.
dalam uraian diatas sudah jelas cerita dari novel tersebut bahwa nilai yang terkandung yakni nila-nilai sosial yang ada.
amanat: amanat yang ada pada novel tersebut kita harus berusaha semaksimal mungkin untuk bisa mencintai seseorang yang kita sayangi namun janganlah lupa satu hal yang pokok dan yang harus diperhatikan yakni cintailah kekasihmu dan janganlah sampai melebihi cintamu kapada sang khalik yani yang menciptakanmu yaitu ALLAHswt.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>tema: laila majnun<br />
tokoh: laila, qays, orang tua laila, orang tua qays, dan ibnu salam.<br />
watak: &#8211; watak laila, dia sangat mempumyai kesopanan yang luar biasa.<br />
       &#8211; dia jiga sangatlah mempunyai sifat yang lemah lembut.<br />
       &#8211; dia juga penyabar.<br />
       &#8211; selalu taat kpada orang tua.<br />
       &#8211; sholehah.<br />
       &#8211; dan dia juga mempunyai sifat yang setia.<br />
       &#8211; watak qays, dia pemuda yang sangat tampan.<br />
       &#8211; dan dia juga baik hati.<br />
       &#8211; dia juga baik hati.<br />
       &#8211; dia juga dikinal dengan kecerdasaannya.<br />
       &#8211; dia jug apemuda yang sangat setia.<br />
       &#8211; watak orang tua, &#8211; selalu berusaha berkorban demi anaknya.<br />
       &#8211; penyabar.<br />
       &#8211; pantang menyerah.<br />
       &#8211; dan juga berjuang keras demi kesuksesan anaknya.<br />
       &#8211; watak ibnu salam, &#8211; dia adalah seorang pemuda yamg gagah.<br />
       &#8211; dia juga seorang yang penolong.<br />
       &#8211; dia juga baik hati.<br />
       &#8211; dan dia juga sholeh.<br />
setting:- dirumah laila, dimana dirumah laila dilahirkan dan dibesarkan<br />
          dan menjadi seorang perempuan yang sholihah.<br />
       &#8211; di puncak bukit, disinilah majnun bisa mendapatkan kabar tentang kebe<br />
          keberadaan laila yang selama ini hilang entah kemana.<br />
       &#8211; dikamar, tempat inilah majnun dapat menye]ampaikan salamnya melalui<br />
         empat mata.<br />
       &#8211; dikuburan, ditem[at inilah akhirnya cinta mereka dipersatukan kembali<br />
konflik: ketika ayah mejnun mengetahui peristiwa tersebut ia ahkirnya memutuskan untuk mengakhiri drama gila-gilaan tersebut yang memalukan dengan cara melamar laila tetapi yang terjadi lamaran terrsebut tidak diterimah oleh orang tua laila, ibnu salam pun berusaha sekuat mungkin untuk mendapatkan hati laila dengan melaukan serangan terhadap orang tua laila, keluarga laila pun mengalami kekalahan dan ibnu salam menuntut ayahanda laila untuk menjadikan laila sebagai calon istrinya.<br />
penyelesaian konflik: setelah sekian lama menjadi suami istri dengan laila ibnu salam pun merasa kesal karena usaha yang dilakukannya gagal, akhirnya ibnu salam pun jatuh sakit dan meninggal, sejak kematian suaminnya laila sadar bahwa suaminya sangat mencintai dan menyayangi sepenuh hati, sejak itulah laila terkena batuk kronis yang dideritanya selama berbulan-bulan yang menyeranga laila dengan hebat akhirnya laila juga meninggal. kabar itu terdengar ketelinga majnun. majun pun akhirnya berjalan-dan terus berjalan untuk menemukan makam sang kekasih. akhirnya makam tersebut berhasil ditemukan  dan akhirnya sejak itu majunun pun mengikuti langkah kemana laila pergi yakni disurga, dimana disituh cinta mereka bisa kembali lagi dan abadi untuk selamanya bersama tuhan, tuhan mempelai majnun dengan penuh kasih dan meminta majnun duduk disampingnya kemudian dia berkata &#8220;apakah engkau tidak malu memanggilku dengan nama laila setelah meminum anggur cintaku&#8221;?????????????<br />
dikatakan demikian bahwa terkadang seorang sufi mimpi dimana majnun muncul.<br />
peran pelaku: bersifat antagonis.<br />
alur: maju<br />
sudut pandang: pelaku utama orang pertama.<br />
kata pertama yang ada pada novel: kepala suku bani umar.<br />
kata terakhir yang ada pada novel: meminum anggur cintaku.<br />
nilai-nilai sosial: didalam kehidupan sehari-hari kita tidak pernah luput dari sesuatu masalah atau ujian yang menimpa kita dan setiap masalah itu pasti ada jalan keluarnya dan persoalan itu saling bersosialisasi satu sama lainnya dalam mengatasi persoalan tersebut.<br />
didalam novel ini yang terdapat nilai-nilai sosial adalah pada saat cobaan menimpa kepada cinta laila dan majnun, majnun pun berusaha mencari cintanya yang telah hilang, namun majnun pun memerlukan orang lain untuk membantu masalah-masalah berikut. dan dalam hal ini ibnu salam pun membantu majnun.<br />
dalam uraian diatas sudah jelas cerita dari novel tersebut bahwa nilai yang terkandung yakni nila-nilai sosial yang ada.<br />
amanat: amanat yang ada pada novel tersebut kita harus berusaha semaksimal mungkin untuk bisa mencintai seseorang yang kita sayangi namun janganlah lupa satu hal yang pokok dan yang harus diperhatikan yakni cintailah kekasihmu dan janganlah sampai melebihi cintamu kapada sang khalik yani yang menciptakanmu yaitu ALLAHswt.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Unisma: Menyimak Sastra (A) by nurul fatimah</title>
		<link>http://kataberkata.com/?page_id=295#comment-73</link>
		<dc:creator>nurul fatimah</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 04 Dec 2011 01:08:05 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?page_id=295#comment-73</guid>
		<description>novel berjudul laila majnun memiliki alur cerita maju yang lebih memudahkan para penikmatnya untuk memahami isi cerita dari pada menggunakan alur campuran. dalam novel ini Laila mmemiliki watak yang lembut, lebih suka menyimpan masalah sendiri dari pada harus menceritakan pada orang lain (tertutup), dan setia. walaupun hubungannya dengan Qois ditentang keras oleh ayahnya, Laila tetap mempertahankannya. tekanan batin akibat ayahnya itu tak pernah ia tampakkan pada siapapun hingga dia harus meninggal karna ketertekanan itu. tokoh Qois memiliki watak yang tidak mudah menyerah. ia rela mengorbankan nama baiknya dan juga nama baik keluarganya hanya demi cintanya pada Laila. Rasa cintanya yang mendalam pada Laila mampu mengubah fikirannya dan menjadikannya orang yang tidak waras, ia hanya memikirkan Laila di sisa hidupnya sampai-sampai ia lupa kalau punya kehidupan dan keluarga yang harus ia perhatikan. Watak orang tua Laila dan Majnun hampir memiliki persamaan yaitu mreka sama-sama menentang hubungan cinta kedua anak mereka walau pada akhirnya orang tua Qois merestui hubungan mereka. Setting yang digunakan beragam yang membuat pembaca atau pendengar tidak bosan. majas dan perumpamaan yang digunakan sangat mendukung pembaca untuk merasakan dan turut serta masuk dalam cerita itu.Amanat yang dapat diambil dari cerita Laila Majnun adalah untuk mendapatkan apapun di dalam hidup harus rela berkorban walaupun hasil yang didapat tidak sesuai dengan apa yang diinginkan.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>novel berjudul laila majnun memiliki alur cerita maju yang lebih memudahkan para penikmatnya untuk memahami isi cerita dari pada menggunakan alur campuran. dalam novel ini Laila mmemiliki watak yang lembut, lebih suka menyimpan masalah sendiri dari pada harus menceritakan pada orang lain (tertutup), dan setia. walaupun hubungannya dengan Qois ditentang keras oleh ayahnya, Laila tetap mempertahankannya. tekanan batin akibat ayahnya itu tak pernah ia tampakkan pada siapapun hingga dia harus meninggal karna ketertekanan itu. tokoh Qois memiliki watak yang tidak mudah menyerah. ia rela mengorbankan nama baiknya dan juga nama baik keluarganya hanya demi cintanya pada Laila. Rasa cintanya yang mendalam pada Laila mampu mengubah fikirannya dan menjadikannya orang yang tidak waras, ia hanya memikirkan Laila di sisa hidupnya sampai-sampai ia lupa kalau punya kehidupan dan keluarga yang harus ia perhatikan. Watak orang tua Laila dan Majnun hampir memiliki persamaan yaitu mreka sama-sama menentang hubungan cinta kedua anak mereka walau pada akhirnya orang tua Qois merestui hubungan mereka. Setting yang digunakan beragam yang membuat pembaca atau pendengar tidak bosan. majas dan perumpamaan yang digunakan sangat mendukung pembaca untuk merasakan dan turut serta masuk dalam cerita itu.Amanat yang dapat diambil dari cerita Laila Majnun adalah untuk mendapatkan apapun di dalam hidup harus rela berkorban walaupun hasil yang didapat tidak sesuai dengan apa yang diinginkan.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Unisma: Menyimak Sastra (B) by akhmad safrudin za</title>
		<link>http://kataberkata.com/?page_id=297#comment-72</link>
		<dc:creator>akhmad safrudin za</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 03 Dec 2011 16:35:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?page_id=297#comment-72</guid>
		<description>Nama	: akhmad safrudin Za
Nim	: 2110710055
              1b pbsi 


unsur intrinsik 

Tema		: keadilan masyarakat
Alur		: maju
Tokoh		: 
                        Pengacara muda	: teguh pendirian,cerdas,profesional
                        Pengacar tua		: wibawa, rendah hati,
                        Sekertaris		: baik,perhatian

Setting		: tempat , kantor 
                          Suasana ,serius

Sudut pandang	: orang ketiga

Amanah	:  _Seorang penegak hukum haruslah adil dalam menyelesaikan 
                             masalah
                           _Setiap tindakan yang kita lakukan pasti ada konsukuennya
                           _
                                Kita yang sebagai manusia mempunyai akhlak hendaknya dalam      
                                menjalani sebuah pekerjaan harus sesuai dengan norma
                          -
unsur ekstrinsik
     -I Gusti Ngurah Putu Wijaya yang biasa disebut Putu Wijaya. Tidak sulit untuk mengenalinya karena topi pet putih selalu bertengger di kepalanya.Putu yang dilahirkan di Puri Anom, Tabanan, Bali pada tanggal 11 April 1944, bukan dari keluarga seniman
 
Sosial, yaitu yang mengacu pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku sosial masyarakat 

Komentar  : -Bahasa yang digunakan dapat di mengerti ,karna bahsanya tidak banyak
                     menggunakan bahasa asing
                    -isi cerita  tidak terlalu rumit karna menceritakan 1 pokok masalah
                    -Nada penyampaian lewat audio , datar 
                     -temanya bagus , walaupun agak asing menurut ku menunjuk 
                      keadilan dalam masyarakat
                    - dari dalm cerpen tersebut banyak hikmah yg dapat kita ambil</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Nama	: akhmad safrudin Za<br />
Nim	: 2110710055<br />
              1b pbsi </p>
<p>unsur intrinsik </p>
<p>Tema		: keadilan masyarakat<br />
Alur		: maju<br />
Tokoh		:<br />
                        Pengacara muda	: teguh pendirian,cerdas,profesional<br />
                        Pengacar tua		: wibawa, rendah hati,<br />
                        Sekertaris		: baik,perhatian</p>
<p>Setting		: tempat , kantor<br />
                          Suasana ,serius</p>
<p>Sudut pandang	: orang ketiga</p>
<p>Amanah	:  _Seorang penegak hukum haruslah adil dalam menyelesaikan<br />
                             masalah<br />
                           _Setiap tindakan yang kita lakukan pasti ada konsukuennya<br />
                           _<br />
                                Kita yang sebagai manusia mempunyai akhlak hendaknya dalam<br />
                                menjalani sebuah pekerjaan harus sesuai dengan norma<br />
                          -<br />
unsur ekstrinsik<br />
     -I Gusti Ngurah Putu Wijaya yang biasa disebut Putu Wijaya. Tidak sulit untuk mengenalinya karena topi pet putih selalu bertengger di kepalanya.Putu yang dilahirkan di Puri Anom, Tabanan, Bali pada tanggal 11 April 1944, bukan dari keluarga seniman</p>
<p>Sosial, yaitu yang mengacu pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku sosial masyarakat </p>
<p>Komentar  : -Bahasa yang digunakan dapat di mengerti ,karna bahsanya tidak banyak<br />
                     menggunakan bahasa asing<br />
                    -isi cerita  tidak terlalu rumit karna menceritakan 1 pokok masalah<br />
                    -Nada penyampaian lewat audio , datar<br />
                     -temanya bagus , walaupun agak asing menurut ku menunjuk<br />
                      keadilan dalam masyarakat<br />
                    &#8211; dari dalm cerpen tersebut banyak hikmah yg dapat kita ambil</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Unisma: Menyimak Sastra (A) by MUSTIKA</title>
		<link>http://kataberkata.com/?page_id=295#comment-69</link>
		<dc:creator>MUSTIKA</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 03 Dec 2011 15:40:37 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?page_id=295#comment-69</guid>
		<description>TUGAS MENYIMAK SASTRA
( Menyimak petikan novel dari kegiatan membacakan novel secara langsung )
Nama    : Mustika
Npm     :2110710034
Kelas   : 1 A
1.Judul : Layla majnun
Menurut saya judul pada novel ini bagus, bisa membuat pembaca tertarik dan  penasaran ,sehingga pembaca berkeinginan untuk membaca secara tuntas.
2.Tokoh danWatak :
Layla : layla merupakan gadis cantik,yang selain cantik dia itu baik      hati,setia,patuh sama orang tua.
Qais : dia itu setia,tapi agak egois,membangkang orang tua.
Abu amar :Teman qais, dia baik sering menolong Qais.
Banyu umar : ayahnya Qois , dia ,merupakan orang tua yang bijaksana,penyayang.
Sama ibn salam : ayahnya Layla,yang sedikit pemarah.

3.Alur (plot), Alurnya Maju
4.Seting(Latar)
Latar tempat : Arab Saudi , makam
5.Sudut pandang : orang ketiga pelaku utama 
6.Konflik: hubungan antara Layla sama Qois tidak di setujui sama kedua orang tua mereka .orang tua Layla menilai qois itu orangnya suka berontak.
7.Amanat : Kita boleh mencintai seseorang ,namun jangan sampai keterlaluan sampai membantahorang tua.
8.Nilai
Nilai agama : orang tuanya Qois tetap berdoa kepada ALLAH agar anaknya berubah menjadi lebih baik  dan berharap bisa berkumpul sama keluarganya.
9.Tehnik pencitraan :Dari satu masalah,muncul lagi masalah.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>TUGAS MENYIMAK SASTRA<br />
( Menyimak petikan novel dari kegiatan membacakan novel secara langsung )<br />
Nama    : Mustika<br />
Npm     :2110710034<br />
Kelas   : 1 A<br />
1.Judul : Layla majnun<br />
Menurut saya judul pada novel ini bagus, bisa membuat pembaca tertarik dan  penasaran ,sehingga pembaca berkeinginan untuk membaca secara tuntas.<br />
2.Tokoh danWatak :<br />
Layla : layla merupakan gadis cantik,yang selain cantik dia itu baik      hati,setia,patuh sama orang tua.<br />
Qais : dia itu setia,tapi agak egois,membangkang orang tua.<br />
Abu amar :Teman qais, dia baik sering menolong Qais.<br />
Banyu umar : ayahnya Qois , dia ,merupakan orang tua yang bijaksana,penyayang.<br />
Sama ibn salam : ayahnya Layla,yang sedikit pemarah.</p>
<p>3.Alur (plot), Alurnya Maju<br />
4.Seting(Latar)<br />
Latar tempat : Arab Saudi , makam<br />
5.Sudut pandang : orang ketiga pelaku utama<br />
6.Konflik: hubungan antara Layla sama Qois tidak di setujui sama kedua orang tua mereka .orang tua Layla menilai qois itu orangnya suka berontak.<br />
7.Amanat : Kita boleh mencintai seseorang ,namun jangan sampai keterlaluan sampai membantahorang tua.<br />
8.Nilai<br />
Nilai agama : orang tuanya Qois tetap berdoa kepada ALLAH agar anaknya berubah menjadi lebih baik  dan berharap bisa berkumpul sama keluarganya.<br />
9.Tehnik pencitraan <img src='http://kataberkata.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> ari satu masalah,muncul lagi masalah.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Unisma: Menyimak Sastra (A) by Syaiful islam</title>
		<link>http://kataberkata.com/?page_id=295#comment-68</link>
		<dc:creator>Syaiful islam</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 03 Dec 2011 15:33:40 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?page_id=295#comment-68</guid>
		<description>NAMA  :Syaiful Islam
NIM   :2110710017
KELAS :1A

INSTRINSIK  NOVEL LAILA MAJNUN

1. PLOT

Plot yang digunakan oleh penulis dalam kisah Laila Majnun adalah jalan maju (kemajuan). Mengapa penulis menggunakan jalan maju dalam cerita. Karena penulis ingin memberikan bagaimana sebuah cerita tentang cinta antara pria dan seorang wanita yang tak berujung (Laila dan Majnun) dalam berjalan cinta tak berujung sampai sampai mati memisahkan, yang sama seperti cinta antara Allah dan sang Kekasih. Disini penulis menceritakan cukup memukau, dengan kemungkinan Ianguage abad ke-11 dari negara Persia, tetapi makna dari cerita ini dapat menembus ruang dan waktu membatasi.

2. LATAR BELAKANG

Ada begitu banyak latar belakang ditampilkan di cerita ini. Adapun beberapa latar belakang yang sangat penting terjadi yang di dalamnya terjadi banyak konflik misalnya sebagai berikut:

1. Dalam suku Sayid itu (Bani Amir Dalam). Suku Qais &#039;Majnun&#039;

2. Laila dan Majnun Di Sekolah.

3. Dalam taman Suku Laila.

4. Di seluruh pasar di antara suku keduanya.

5. Dalam sebuah gurun daerah tidak diketahui atau aneh di mana Majnun menghabiskan waktunya untuk menuangkan cintanya kepada Laila dalam skala besar.

6. Di mana Majnun mengunjungi Gua untuk menuangkan cintanya kepada sang kekasih.

7. Dalam Band tenda di dalam Suku Ibnu Salam mana Laila telah datang untuk Ibnu Salam istri.

8. Dalam makam Laila.

9. Dalam kesedihan cinta mereka (Laila dan Majnun), dipisahkan oleh takdir yang kejam (latar belakang ekstrinsik) yang.

10. Ketika cinta muncul di antara dari mereka (Laila dan Majnun) (latar belakang ekstrinsik).

11. Ketika cinta mereka wajib terpisah (latar belakang ekstrinsik).

12. Dalam Shirvanshah (Tempat dimana Bani Amir atau Qais Suku itu tinggal).

3. KARAKTER

Banyak tokoh atau karakter yang pada kisah dalam novel ini. Tapi analis hanya mengambil beberapa tokoh, khususnya angka yang merupakan analis menganggap sangat memberikan kontribusi dalam kisah cara, misalnya adalah:

1. Karakter Utama

1. Qais &#039;Majnun&#039;, Anak dari The Sayid dari Shirvanshah.

2. Laila, Putri Bapa-Nya, suku Laila (Dalam cerita ini, Bapa Laila, tidak menyebutkan)

2. Bawahan Karakter

1.. Para Sayid, Ayah Qais itu. Siapa pemimpin Bani Amir Suku, tempat tinggal Qais.

2. Qais yang Ibu. Sayid istri. Seorang ibu yang mencintai anaknya sangat banyak, Qais.

3.Ibnu Salam. Suami dari Laila. Tapi sampai sekarang, Laila tidak pernah mencintainya. Cintanya hanya untuk Majnun.

4. Amir, yang paman dari Majnun. Seorang saudara yang Sayid, yang pernah meminta Majnun untuk pulang dari makanan penutup gila, dimana Majnun menafkahkan sebagian besar cintanya.

5. Naufal, perang penguasa dan pemimpin suku yang sangat terkenal, sangat kuat dan heroik, dan heroik dan juga memiliki banyak tentara. Seorang teman yang akan membantu Majnun Majnun untuk mendapatkan kekasih, Laila.

6. Bapa Laila. Seorang Bapa yang sangat koheren kepada putrinya, laila. Sebuah Pemimpin Suku nya, Suku Laila.

7. Ibu Laila. Seorang Ibu yang sangat mencintai anaknya sangat banyak dan penuh kasih sayang.

8. A Man 1, seorang pria yang ingin menyertai Majnun, dimana Majnun di makanan penutup gila.

9. A Man 2, seorang pria yang mengunjungi Majnun, memberikan pesan ketika Laila telah menikah dengan Ibnu Salam.

10. Sebuah old Man, yang mengambil bagian dalam Laila Majnun dan cinta sebagai pembebas pesan. Dari Laila Majnun dan Majnun untuk Laila.

3. KARAKTERISASI

1. Karakter Utama

1. Qais &#039;Majnun&#039;, Orang cinta, orang gila, yang sangat mencintai kekasihnya. Berani mengorbankan apapun yang di dunia untuk pecinta satu-satunya yang ia cintai. Ahli menulis puisi, cerdas dan cerah berbicara. Sempurna pria yang pernah dibuat.

2. Laila, Para pencinta Majnun, wanita yang sangat gigih mempertahankan cinta untuk satu-satunya yang dia cinta, Majnun. perempuan sangat kuat dalam menghadapi godaan yang melanda dirinya di tengah masalah yang dihadapi oleh dirinya sendiri dan kekasihnya, Majnun.

2. Bawahan Karakter

1. Para Sayid, Ayah Qais itu. Seorang ayah yang bijak dan sangat berwibawa. Seorang ayah yang juga mencintai anaknya sangat banyak, Majnun. Kuat karakter.

2. Qais yang Ibu. Sayid istri. Kuat karakter. Seorang ibu yang mencintai anaknya sangat banyak, Majnun.

3. Ibnu Salam. Seorang pemimpin suku, keotoritatifan dan sangat sabar.

4. Amir, yang paman dari Majnun. Karakter yang kuat. Sebuah koheren lembut namun, koheren dan bijaksana. Seorang paman yang adalah kasih keponakannya sangat banyak, Majnun.

5. Naufal, perang penguasa dan pemimpin suku yang sangat terkenal. seorang pemimpin yang sangat koheren dan manusia dari kata seseorang. Kuat karakter, kuat dan terhormat.

6. Bapa Laila. Kuat karakter. Seorang pria yang yang tidak ingin terburu-buru dalam mengambil keputusan. Bijaksana dan berpegang teguh pada pendirian dia.

7. Ibu Laila. Kuat karakter. Seorang ibu yang sangat manusiawi, terutama untuk mencintai putrinya, Laila. Dan penuh kasih sayang.

8. A Man 1, seorang pria yang ingin Majnun yang menyertainya. Seorang pria memaksa, dan bergegas dalam mengambil keputusan dan juga tidak berpikir panjang.

9. A Man 2, seorang pria yang mengunjungi Majnun. Manusia yang memiliki karakter yang sangat keras. Bergegas. Dan bermain hakim sendiri. Di sisi lain, orang ini adalah baik.


10. Sebuah old Man, yang mengambil bagian dalam Laila Majnun dan cinta sebagai pembebas pesan. Hyper sensitif pria dan perhatian dengan kondisi yang sedang pengalaman oleh seseorang atau lebih. Terutama di kasih di antara Laila dan Majnun.

5. SUDUT PADANG

Dari cerita dalam novel Laila Majnun dan ini, penulis sangat mengirimkan apa yang seperti dengan cinta yang berarti bahwa pada kenyataannya. Kisah tentang hubungan cinta antara seorang wanita dan seorang laki-laki yang saling jatuh cinta. Lalu apa makna arti cinta mereka? iklan dimaksud oleh penulis mengenai apa arti sebenarnya cinta itu. Laila dan Majnun adalah salah satu gambaran nyata tentang cinta arti sebenarnya. Cinta makna yang sebenarnya adalah seperti cinta antara Allah dan kekasih. Bahwa cinta yang sebenarnya. Dimana saling mencintai dikhususkan oleh masing-masing, lain tidak berbohong dan wajib untuk tinggi, dan juga bertanggung jawab. Majnun Sukses keluar dari sifat duniawi sementara untuk mencintai Laila, memisahkan diri ke suatu tempat asing hanya untuk mencintai adalah yang sangat dicintai olehnya.

Secara garis besar, cerita ini kirim ke setiap pembaca cinta yang memiliki kekuatan untuk mengubah situasi dan seseorang. Dari semakin baik menjadi kegilaan, dan dari malam menjadi siang.

6. POLA PENGGUNAAN ATAS, LAMBANG, DAN GAYA BAHASA
Kisah ini, penulis menggunakan gambar fakta yang sebenarnya mengenai pengalaman setiap manusia khusus dalam mencintai sang kekasih. Dalam kenyataan yang ada, baik dari zaman Nizami pada waktu itu sampai sekarang tidak ada yang berbeda, namun arti cinta yang zaman sekarang sangat berbeda. Cinta di era saat ini, menurut analis sangat berbeda dari apa yang pada kisah Laila dan Majnun. Dalam waktu cinta ini hanya dibuat sebagai persyaratan, dan ketika itu tidak perlu lagi seseorang dapat membuang itu dari depan (arreya). Tapi jauh sangat berbeda dalam kisah Laila Majnun karya Nizami, jika mengandaikan bahwa cinta sebagai kasih kita kepada pencipta, yang tak terbatas. Tuhan. Hal ini tidak hanya kebutuhan. Tapi keseriusan dan komitmen untuk cinta.

Gaya bahasa yang digunakan oleh Nizami sangat menyentuh dan &#039;mengerikan&#039;. Nizami menggunakan gaya Ianguage banyak Persia tahun 1100. Tapi dengan gaya bahasa yang sekarang menggunakan semua gaya Nizami Ianguage ada seperti gaya Ianguage dari metonymy, metafora personifikasi, dan lain-lain. Sangat sempurna bahasa gaya Nizami</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>NAMA  :Syaiful Islam<br />
NIM   :2110710017<br />
KELAS :1A</p>
<p>INSTRINSIK  NOVEL LAILA MAJNUN</p>
<p>1. PLOT</p>
<p>Plot yang digunakan oleh penulis dalam kisah Laila Majnun adalah jalan maju (kemajuan). Mengapa penulis menggunakan jalan maju dalam cerita. Karena penulis ingin memberikan bagaimana sebuah cerita tentang cinta antara pria dan seorang wanita yang tak berujung (Laila dan Majnun) dalam berjalan cinta tak berujung sampai sampai mati memisahkan, yang sama seperti cinta antara Allah dan sang Kekasih. Disini penulis menceritakan cukup memukau, dengan kemungkinan Ianguage abad ke-11 dari negara Persia, tetapi makna dari cerita ini dapat menembus ruang dan waktu membatasi.</p>
<p>2. LATAR BELAKANG</p>
<p>Ada begitu banyak latar belakang ditampilkan di cerita ini. Adapun beberapa latar belakang yang sangat penting terjadi yang di dalamnya terjadi banyak konflik misalnya sebagai berikut:</p>
<p>1. Dalam suku Sayid itu (Bani Amir Dalam). Suku Qais &#8216;Majnun&#8217;</p>
<p>2. Laila dan Majnun Di Sekolah.</p>
<p>3. Dalam taman Suku Laila.</p>
<p>4. Di seluruh pasar di antara suku keduanya.</p>
<p>5. Dalam sebuah gurun daerah tidak diketahui atau aneh di mana Majnun menghabiskan waktunya untuk menuangkan cintanya kepada Laila dalam skala besar.</p>
<p>6. Di mana Majnun mengunjungi Gua untuk menuangkan cintanya kepada sang kekasih.</p>
<p>7. Dalam Band tenda di dalam Suku Ibnu Salam mana Laila telah datang untuk Ibnu Salam istri.</p>
<p>8. Dalam makam Laila.</p>
<p>9. Dalam kesedihan cinta mereka (Laila dan Majnun), dipisahkan oleh takdir yang kejam (latar belakang ekstrinsik) yang.</p>
<p>10. Ketika cinta muncul di antara dari mereka (Laila dan Majnun) (latar belakang ekstrinsik).</p>
<p>11. Ketika cinta mereka wajib terpisah (latar belakang ekstrinsik).</p>
<p>12. Dalam Shirvanshah (Tempat dimana Bani Amir atau Qais Suku itu tinggal).</p>
<p>3. KARAKTER</p>
<p>Banyak tokoh atau karakter yang pada kisah dalam novel ini. Tapi analis hanya mengambil beberapa tokoh, khususnya angka yang merupakan analis menganggap sangat memberikan kontribusi dalam kisah cara, misalnya adalah:</p>
<p>1. Karakter Utama</p>
<p>1. Qais &#8216;Majnun&#8217;, Anak dari The Sayid dari Shirvanshah.</p>
<p>2. Laila, Putri Bapa-Nya, suku Laila (Dalam cerita ini, Bapa Laila, tidak menyebutkan)</p>
<p>2. Bawahan Karakter</p>
<p>1.. Para Sayid, Ayah Qais itu. Siapa pemimpin Bani Amir Suku, tempat tinggal Qais.</p>
<p>2. Qais yang Ibu. Sayid istri. Seorang ibu yang mencintai anaknya sangat banyak, Qais.</p>
<p>3.Ibnu Salam. Suami dari Laila. Tapi sampai sekarang, Laila tidak pernah mencintainya. Cintanya hanya untuk Majnun.</p>
<p>4. Amir, yang paman dari Majnun. Seorang saudara yang Sayid, yang pernah meminta Majnun untuk pulang dari makanan penutup gila, dimana Majnun menafkahkan sebagian besar cintanya.</p>
<p>5. Naufal, perang penguasa dan pemimpin suku yang sangat terkenal, sangat kuat dan heroik, dan heroik dan juga memiliki banyak tentara. Seorang teman yang akan membantu Majnun Majnun untuk mendapatkan kekasih, Laila.</p>
<p>6. Bapa Laila. Seorang Bapa yang sangat koheren kepada putrinya, laila. Sebuah Pemimpin Suku nya, Suku Laila.</p>
<p>7. Ibu Laila. Seorang Ibu yang sangat mencintai anaknya sangat banyak dan penuh kasih sayang.</p>
<p>8. A Man 1, seorang pria yang ingin menyertai Majnun, dimana Majnun di makanan penutup gila.</p>
<p>9. A Man 2, seorang pria yang mengunjungi Majnun, memberikan pesan ketika Laila telah menikah dengan Ibnu Salam.</p>
<p>10. Sebuah old Man, yang mengambil bagian dalam Laila Majnun dan cinta sebagai pembebas pesan. Dari Laila Majnun dan Majnun untuk Laila.</p>
<p>3. KARAKTERISASI</p>
<p>1. Karakter Utama</p>
<p>1. Qais &#8216;Majnun&#8217;, Orang cinta, orang gila, yang sangat mencintai kekasihnya. Berani mengorbankan apapun yang di dunia untuk pecinta satu-satunya yang ia cintai. Ahli menulis puisi, cerdas dan cerah berbicara. Sempurna pria yang pernah dibuat.</p>
<p>2. Laila, Para pencinta Majnun, wanita yang sangat gigih mempertahankan cinta untuk satu-satunya yang dia cinta, Majnun. perempuan sangat kuat dalam menghadapi godaan yang melanda dirinya di tengah masalah yang dihadapi oleh dirinya sendiri dan kekasihnya, Majnun.</p>
<p>2. Bawahan Karakter</p>
<p>1. Para Sayid, Ayah Qais itu. Seorang ayah yang bijak dan sangat berwibawa. Seorang ayah yang juga mencintai anaknya sangat banyak, Majnun. Kuat karakter.</p>
<p>2. Qais yang Ibu. Sayid istri. Kuat karakter. Seorang ibu yang mencintai anaknya sangat banyak, Majnun.</p>
<p>3. Ibnu Salam. Seorang pemimpin suku, keotoritatifan dan sangat sabar.</p>
<p>4. Amir, yang paman dari Majnun. Karakter yang kuat. Sebuah koheren lembut namun, koheren dan bijaksana. Seorang paman yang adalah kasih keponakannya sangat banyak, Majnun.</p>
<p>5. Naufal, perang penguasa dan pemimpin suku yang sangat terkenal. seorang pemimpin yang sangat koheren dan manusia dari kata seseorang. Kuat karakter, kuat dan terhormat.</p>
<p>6. Bapa Laila. Kuat karakter. Seorang pria yang yang tidak ingin terburu-buru dalam mengambil keputusan. Bijaksana dan berpegang teguh pada pendirian dia.</p>
<p>7. Ibu Laila. Kuat karakter. Seorang ibu yang sangat manusiawi, terutama untuk mencintai putrinya, Laila. Dan penuh kasih sayang.</p>
<p>8. A Man 1, seorang pria yang ingin Majnun yang menyertainya. Seorang pria memaksa, dan bergegas dalam mengambil keputusan dan juga tidak berpikir panjang.</p>
<p>9. A Man 2, seorang pria yang mengunjungi Majnun. Manusia yang memiliki karakter yang sangat keras. Bergegas. Dan bermain hakim sendiri. Di sisi lain, orang ini adalah baik.</p>
<p>10. Sebuah old Man, yang mengambil bagian dalam Laila Majnun dan cinta sebagai pembebas pesan. Hyper sensitif pria dan perhatian dengan kondisi yang sedang pengalaman oleh seseorang atau lebih. Terutama di kasih di antara Laila dan Majnun.</p>
<p>5. SUDUT PADANG</p>
<p>Dari cerita dalam novel Laila Majnun dan ini, penulis sangat mengirimkan apa yang seperti dengan cinta yang berarti bahwa pada kenyataannya. Kisah tentang hubungan cinta antara seorang wanita dan seorang laki-laki yang saling jatuh cinta. Lalu apa makna arti cinta mereka? iklan dimaksud oleh penulis mengenai apa arti sebenarnya cinta itu. Laila dan Majnun adalah salah satu gambaran nyata tentang cinta arti sebenarnya. Cinta makna yang sebenarnya adalah seperti cinta antara Allah dan kekasih. Bahwa cinta yang sebenarnya. Dimana saling mencintai dikhususkan oleh masing-masing, lain tidak berbohong dan wajib untuk tinggi, dan juga bertanggung jawab. Majnun Sukses keluar dari sifat duniawi sementara untuk mencintai Laila, memisahkan diri ke suatu tempat asing hanya untuk mencintai adalah yang sangat dicintai olehnya.</p>
<p>Secara garis besar, cerita ini kirim ke setiap pembaca cinta yang memiliki kekuatan untuk mengubah situasi dan seseorang. Dari semakin baik menjadi kegilaan, dan dari malam menjadi siang.</p>
<p>6. POLA PENGGUNAAN ATAS, LAMBANG, DAN GAYA BAHASA<br />
Kisah ini, penulis menggunakan gambar fakta yang sebenarnya mengenai pengalaman setiap manusia khusus dalam mencintai sang kekasih. Dalam kenyataan yang ada, baik dari zaman Nizami pada waktu itu sampai sekarang tidak ada yang berbeda, namun arti cinta yang zaman sekarang sangat berbeda. Cinta di era saat ini, menurut analis sangat berbeda dari apa yang pada kisah Laila dan Majnun. Dalam waktu cinta ini hanya dibuat sebagai persyaratan, dan ketika itu tidak perlu lagi seseorang dapat membuang itu dari depan (arreya). Tapi jauh sangat berbeda dalam kisah Laila Majnun karya Nizami, jika mengandaikan bahwa cinta sebagai kasih kita kepada pencipta, yang tak terbatas. Tuhan. Hal ini tidak hanya kebutuhan. Tapi keseriusan dan komitmen untuk cinta.</p>
<p>Gaya bahasa yang digunakan oleh Nizami sangat menyentuh dan &#8216;mengerikan&#8217;. Nizami menggunakan gaya Ianguage banyak Persia tahun 1100. Tapi dengan gaya bahasa yang sekarang menggunakan semua gaya Nizami Ianguage ada seperti gaya Ianguage dari metonymy, metafora personifikasi, dan lain-lain. Sangat sempurna bahasa gaya Nizami</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Unisma: Menyimak Sastra (B) by seprina ranti anggraini2110710052</title>
		<link>http://kataberkata.com/?page_id=297#comment-67</link>
		<dc:creator>seprina ranti anggraini2110710052</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 03 Dec 2011 15:12:11 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?page_id=297#comment-67</guid>
		<description>Tema:peradilan rakyat
 Alur: maju
 Setting/Latar: kantor,(siang hari)/tegang, mengharukan
penokohan: 
 watak tokoh:
  -pengacara muda: profesional,egois, keras kepala
  -pengacara tua: profesional: profesional,tegas, bijaksana

   KOMENTAR:
    Keadilan harus di tegakkan, karena kebenaran harus di bela bagaimana negara kita akan maju jika tidak adanya keadilan yang tidak di tegakkan. Cerpen  bahasanya sulit di pahami.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Tema:peradilan rakyat<br />
 Alur: maju<br />
 Setting/Latar: kantor,(siang hari)/tegang, mengharukan<br />
penokohan:<br />
 watak tokoh:<br />
  -pengacara muda: profesional,egois, keras kepala<br />
  -pengacara tua: profesional: profesional,tegas, bijaksana</p>
<p>   KOMENTAR:<br />
    Keadilan harus di tegakkan, karena kebenaran harus di bela bagaimana negara kita akan maju jika tidak adanya keadilan yang tidak di tegakkan. Cerpen  bahasanya sulit di pahami.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Unisma: Menyimak Sastra (A) by one retno sari nanda_NPM_2110710021</title>
		<link>http://kataberkata.com/?page_id=295#comment-65</link>
		<dc:creator>one retno sari nanda_NPM_2110710021</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 03 Dec 2011 14:07:45 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?page_id=295#comment-65</guid>
		<description>Analisi novel  
  LAILA MAJNUN
  pengarang  : Syeh Hakim Al-Izam

	Tema : cinta sampai mati
	Tokoh dan watak : 
 - Laila : dewasa, baik hati, setia
-	Qais : cerdas, setia
-	Bani umar (ayah majnun) :  bijaksana, baik hati
-	Ibnu Salam (suami laila) : tidak mudah menyerah, baik hati, bijaksana, sabar.
-	Ayah laila : keras kepala, egois, jahat.
	Setting : 
-	Tempat : sekolah, rumah laila, kamar laila, mekkah, gunung, alam liar, desa laila, taman bunga, gurun, makam laila.
-	Waktu : siang hari, malam hari
-	Susana : haru, sedih, tegang.
	 Amanat : jagalah selalu cinta sejatimu sampai waktu menjemputmu
	Konflik : kisah cinta laila yang tidak di restui oleh ayah laila
	Penyelesaian konflik : ketika laila menikah dengan ibnu salam, qais merelakannya tetapi cinta kais pada laila tidak berubah begitu juga dengan cinta laila yang tetap pada qais bahkan kais mengucapkan salam dan selamat atas pernikahan kekasihnya itu sebagai balasan laila mengirim anting- anting tradisional tanda kesetian sejatinya. Dan ketika qais (majnun) mendengar kematian laila dia pingsan selama beberapa hari ketika ia sadar dengan tenaga yang cukup dia datang ke makam laila di luar kota, ia menangis sampai ia meletakkan badannya di makam laila dan akhirnya qais (majnun) meninggal dunia. Mereka berdua telah bersatu dalam keabadian cinta.
	Sudut Pandang : orang ketiga serba tau
	Alur : maju
	Nilai – Nilai : nilai moral , agama, budaya, dan sosial.
	Gaya Bahasa : bahasa yang digunakan padat dan jelas.
Dari penjelasan di atas kita dapat menarik kesimpulan bahwa ceritanya sangat bagus, menarik, dan dapat di terapkan dalam kehidupan sehari – hari .</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Analisi novel<br />
  LAILA MAJNUN<br />
  pengarang  : Syeh Hakim Al-Izam</p>
<p>	Tema : cinta sampai mati<br />
	Tokoh dan watak :<br />
 &#8211; Laila : dewasa, baik hati, setia<br />
-	Qais : cerdas, setia<br />
-	Bani umar (ayah majnun) :  bijaksana, baik hati<br />
-	Ibnu Salam (suami laila) : tidak mudah menyerah, baik hati, bijaksana, sabar.<br />
-	Ayah laila : keras kepala, egois, jahat.<br />
	Setting :<br />
-	Tempat : sekolah, rumah laila, kamar laila, mekkah, gunung, alam liar, desa laila, taman bunga, gurun, makam laila.<br />
-	Waktu : siang hari, malam hari<br />
-	Susana : haru, sedih, tegang.<br />
	 Amanat : jagalah selalu cinta sejatimu sampai waktu menjemputmu<br />
	Konflik : kisah cinta laila yang tidak di restui oleh ayah laila<br />
	Penyelesaian konflik : ketika laila menikah dengan ibnu salam, qais merelakannya tetapi cinta kais pada laila tidak berubah begitu juga dengan cinta laila yang tetap pada qais bahkan kais mengucapkan salam dan selamat atas pernikahan kekasihnya itu sebagai balasan laila mengirim anting- anting tradisional tanda kesetian sejatinya. Dan ketika qais (majnun) mendengar kematian laila dia pingsan selama beberapa hari ketika ia sadar dengan tenaga yang cukup dia datang ke makam laila di luar kota, ia menangis sampai ia meletakkan badannya di makam laila dan akhirnya qais (majnun) meninggal dunia. Mereka berdua telah bersatu dalam keabadian cinta.<br />
	Sudut Pandang : orang ketiga serba tau<br />
	Alur : maju<br />
	Nilai – Nilai : nilai moral , agama, budaya, dan sosial.<br />
	Gaya Bahasa : bahasa yang digunakan padat dan jelas.<br />
Dari penjelasan di atas kita dapat menarik kesimpulan bahwa ceritanya sangat bagus, menarik, dan dapat di terapkan dalam kehidupan sehari – hari .</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Unisma: Menyimak Sastra (A) by ike puspitasari_NPM_2110710013</title>
		<link>http://kataberkata.com/?page_id=295#comment-64</link>
		<dc:creator>ike puspitasari_NPM_2110710013</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 03 Dec 2011 13:16:37 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?page_id=295#comment-64</guid>
		<description>Analisi novel  
  Judul Novel : LAILA MAJNUN
  Pengarang  : Syeh Hakim Al-Izam

	Tema : Pengorbanan cinta 
	Tokoh dan watak : 
 - Laila : dewasa, baik hati, setia, patuh
-	Qais : cerdas, setia
-	Bani umar (ayah majnun/qais) :  bijaksana, baik hati
-	Ibnu Salam (suami laila) : jahat, keras kepala, egois.
	Setting : sekolah, rumah laila, kamar laila, mekkah, gunung, alam liar, desa laila, taman bunga, gurun, makam laila.
	Amanat : perjuangkanlah cinta selagi kamu masih mampu menjaganya.
	Konflik : kisah cinta laila yang tidak di restui oleh ayah laila
	Penyelesaian konflik : ketika laila menikah dengan ibnu salam, kais merelakannya tetapi cinta kais pada laila tidak berubah begitu juga dengan cinta laila yang tetap pada kais bahkan kais mengucapkan salam dan selamat atas pernikahan kekasihnya itu sebagai balasan laila mengirim anting- anting tradisional tanda kesetian sejatinya. Dan ketika kais (majnun) mendengar kematian laila dia pingsan selama beberapa hari ketika ia sadar dengan tenaga yang cukup dia dating ke makam laila di luar kota, ia menangis sampai ia meletakkan badannya di makam laila dan akhirnya kais (majnun) meninggal dunia. Mereka berdua telah bersatu dalam keabadian cinta.
	Sudut Pandang : orang ketiga serba tau
	Alur : maju
	Nilai – Nilai : nilai moral , agama, budaya, dan sosial.
	Gaya Bahasa : sangat menarik padat dan jelas.
Dari penjelasan di atas kita dapat menarik kesimpulan bahwa ceritanya sangat bagus, menarik, dan dapat di terapkan dalam kehidupan sehari – hari .</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Analisi novel<br />
  Judul Novel : LAILA MAJNUN<br />
  Pengarang  : Syeh Hakim Al-Izam</p>
<p>	Tema : Pengorbanan cinta<br />
	Tokoh dan watak :<br />
 &#8211; Laila : dewasa, baik hati, setia, patuh<br />
-	Qais : cerdas, setia<br />
-	Bani umar (ayah majnun/qais) :  bijaksana, baik hati<br />
-	Ibnu Salam (suami laila) : jahat, keras kepala, egois.<br />
	Setting : sekolah, rumah laila, kamar laila, mekkah, gunung, alam liar, desa laila, taman bunga, gurun, makam laila.<br />
	Amanat : perjuangkanlah cinta selagi kamu masih mampu menjaganya.<br />
	Konflik : kisah cinta laila yang tidak di restui oleh ayah laila<br />
	Penyelesaian konflik : ketika laila menikah dengan ibnu salam, kais merelakannya tetapi cinta kais pada laila tidak berubah begitu juga dengan cinta laila yang tetap pada kais bahkan kais mengucapkan salam dan selamat atas pernikahan kekasihnya itu sebagai balasan laila mengirim anting- anting tradisional tanda kesetian sejatinya. Dan ketika kais (majnun) mendengar kematian laila dia pingsan selama beberapa hari ketika ia sadar dengan tenaga yang cukup dia dating ke makam laila di luar kota, ia menangis sampai ia meletakkan badannya di makam laila dan akhirnya kais (majnun) meninggal dunia. Mereka berdua telah bersatu dalam keabadian cinta.<br />
	Sudut Pandang : orang ketiga serba tau<br />
	Alur : maju<br />
	Nilai – Nilai : nilai moral , agama, budaya, dan sosial.<br />
	Gaya Bahasa : sangat menarik padat dan jelas.<br />
Dari penjelasan di atas kita dapat menarik kesimpulan bahwa ceritanya sangat bagus, menarik, dan dapat di terapkan dalam kehidupan sehari – hari .</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Unisma: Menyimak Sastra (A) by muhammad atho'illah, npm 2110710026</title>
		<link>http://kataberkata.com/?page_id=295#comment-63</link>
		<dc:creator>muhammad atho'illah, npm 2110710026</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 03 Dec 2011 13:15:35 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?page_id=295#comment-63</guid>
		<description>ANALISIS NOVEL LAILA MAJNUN

 	Tema : cinta sejati  mengalahkan segalanya

 	Setting : Kota arab, bukit padang pasir, Kamar laila, Ruang kelas, Gubuk, sungai kecil,

 	Alur : peangarang dalam novel ini menggunakan alur maju karena dalam cerita tersebut menceritakan tentang laila dan qais yang  belum pernah bertemu dan bertemu sampai akhirnya meninggal kedua-duanya.

 	Tokoh dan Watak Tokoh
•	Qais : cerdas, baik hati, setia, keras kepala, pembangkang,berbakat dalam bidang seni berperang 
•	Laila : baik hati, cerdas, setia, keras kepala, penurut, pandai dalam urusan pendidikan,mudah terpengaruh.
•	Ayah Laila : tidak sabar,tidak pengertian.
•	Ayah Qais : sabar,baik hati,walaupun anaknya suka bikin ulah dan  menjadi pembicaraan warga sekitar.
•	Ibnu salam : seorang  penolong yang baik dan bagus dalam mengerjakan sesuatu atau pekerjaan.
•	Abu amar : penguasa yang kejam, seseorang yang gagah berani,tidak takut dengan siapapun.
 	Teknik penceritaan : dalam novel ini teknik penceritaannya bagus,tidak ribet,mudah dipahami atau dimengerti  dan membacanya juga enak karena memakai alur maju.

 	Sudut pandang :dalam novel ini orang ketiga atau pembaca serba tau.

 	Konflik :  mengkisahkan perjuangan cinta antara qais dan laila yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi, tapi akhirnya diketahui juga oleh orang tua masing-masing. mereka akhirnya berpisah tidak bisa ketemu sama sekali hingga keduanya meninggal dan tidak pernah bertemu sama sekali.

 	Amanat : cinta sejati tidak akan pernah mati walaupun orang yang kita cintai tidak pernah bertemu, Kita boleh mencintai seseorang tapi  kita harus juga ingat siapa yang menciptakan  kita,dan kita juga harus mematuhi perintah orang tua walaupun kita juga punya hak untuk menentukan hidup kita dan pasangan kita masing-masing.

 	Nilai-nilai: agama, kebudayaan, kemanusiaan.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>ANALISIS NOVEL LAILA MAJNUN</p>
<p> 	Tema : cinta sejati  mengalahkan segalanya</p>
<p> 	Setting : Kota arab, bukit padang pasir, Kamar laila, Ruang kelas, Gubuk, sungai kecil,</p>
<p> 	Alur : peangarang dalam novel ini menggunakan alur maju karena dalam cerita tersebut menceritakan tentang laila dan qais yang  belum pernah bertemu dan bertemu sampai akhirnya meninggal kedua-duanya.</p>
<p> 	Tokoh dan Watak Tokoh<br />
•	Qais : cerdas, baik hati, setia, keras kepala, pembangkang,berbakat dalam bidang seni berperang<br />
•	Laila : baik hati, cerdas, setia, keras kepala, penurut, pandai dalam urusan pendidikan,mudah terpengaruh.<br />
•	Ayah Laila : tidak sabar,tidak pengertian.<br />
•	Ayah Qais : sabar,baik hati,walaupun anaknya suka bikin ulah dan  menjadi pembicaraan warga sekitar.<br />
•	Ibnu salam : seorang  penolong yang baik dan bagus dalam mengerjakan sesuatu atau pekerjaan.<br />
•	Abu amar : penguasa yang kejam, seseorang yang gagah berani,tidak takut dengan siapapun.<br />
 	Teknik penceritaan : dalam novel ini teknik penceritaannya bagus,tidak ribet,mudah dipahami atau dimengerti  dan membacanya juga enak karena memakai alur maju.</p>
<p> 	Sudut pandang :dalam novel ini orang ketiga atau pembaca serba tau.</p>
<p> 	Konflik :  mengkisahkan perjuangan cinta antara qais dan laila yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi, tapi akhirnya diketahui juga oleh orang tua masing-masing. mereka akhirnya berpisah tidak bisa ketemu sama sekali hingga keduanya meninggal dan tidak pernah bertemu sama sekali.</p>
<p> 	Amanat : cinta sejati tidak akan pernah mati walaupun orang yang kita cintai tidak pernah bertemu, Kita boleh mencintai seseorang tapi  kita harus juga ingat siapa yang menciptakan  kita,dan kita juga harus mematuhi perintah orang tua walaupun kita juga punya hak untuk menentukan hidup kita dan pasangan kita masing-masing.</p>
<p> 	Nilai-nilai: agama, kebudayaan, kemanusiaan.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Unisma: Menyimak Sastra (A) by Ulfa Mima Fimaulidya_NPM_2110710023</title>
		<link>http://kataberkata.com/?page_id=295#comment-62</link>
		<dc:creator>Ulfa Mima Fimaulidya_NPM_2110710023</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 03 Dec 2011 13:12:34 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?page_id=295#comment-62</guid>
		<description>Analisi novel  
	Judul : Laila Majnun
	Karya  : Syeh Hakim Al-Izam
	Tema : kisah cinta sepanjang hayat
	Tokoh dan watak : 
	Laila : dewasa, baik hati, setia
	Qais : cerdas, setia.
	Bani umar (ayah majnun/Qais) :  bijaksana, baik hati
	Ibnu Salam (suami laila) :bijaksana, sabar, baikhati.
	Setting : 
	Tempat: sekolah, rumah laila, kamar laila, mekkah, gunung, alam liar, desa laila, taman bunga, gurun, makam laila.
	Waktu: siang hari
	Suasana: menegangkan, menyedihkan,mengharukan.
	Amanat :jangan pernah menyerah untuk memperjuangkan cinta.
	Konflik : cinta qais kepada  laila yang tidak di restui oleh ayah laila
	Penyelesaian konflik : ketika laila menikah dengan ibnu salam, kais merelakannya tetapi cinta kais pada laila tidak berubah begitu juga dengan cinta laila yang tetap pada kais bahkan kais mengucapkan salam dan selamat atas pernikahan kekasihnya itu sebagai balasan laila mengirim anting- anting tradisional tanda kesetian sejatinya. Dan ketika kais (majnun) mendengar kematian laila dia pingsan selama beberapa hari ketika ia sadar dengan tenaga yang cukup dia dating ke makam laila di luar kota, ia menangis sampai ia meletakkan badannya di makam laila dan akhirnya kais (majnun) meninggal dunia. Mereka berdua telah bersatu dalam keabadian cinta.
	Sudut Pandang : orang ketiga serba tau
	Alur : maju
	Nilai – Nilai : nilai moral , agama, budaya, dan sosial.
	Gaya Bahasa :pilihan bahasanya sangan bagus, menarik dan mudah dipahami oleh pembaca.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Analisi novel<br />
	Judul : Laila Majnun<br />
	Karya  : Syeh Hakim Al-Izam<br />
	Tema : kisah cinta sepanjang hayat<br />
	Tokoh dan watak :<br />
	Laila : dewasa, baik hati, setia<br />
	Qais : cerdas, setia.<br />
	Bani umar (ayah majnun/Qais) :  bijaksana, baik hati<br />
	Ibnu Salam (suami laila) :bijaksana, sabar, baikhati.<br />
	Setting :<br />
	Tempat: sekolah, rumah laila, kamar laila, mekkah, gunung, alam liar, desa laila, taman bunga, gurun, makam laila.<br />
	Waktu: siang hari<br />
	Suasana: menegangkan, menyedihkan,mengharukan.<br />
	Amanat :jangan pernah menyerah untuk memperjuangkan cinta.<br />
	Konflik : cinta qais kepada  laila yang tidak di restui oleh ayah laila<br />
	Penyelesaian konflik : ketika laila menikah dengan ibnu salam, kais merelakannya tetapi cinta kais pada laila tidak berubah begitu juga dengan cinta laila yang tetap pada kais bahkan kais mengucapkan salam dan selamat atas pernikahan kekasihnya itu sebagai balasan laila mengirim anting- anting tradisional tanda kesetian sejatinya. Dan ketika kais (majnun) mendengar kematian laila dia pingsan selama beberapa hari ketika ia sadar dengan tenaga yang cukup dia dating ke makam laila di luar kota, ia menangis sampai ia meletakkan badannya di makam laila dan akhirnya kais (majnun) meninggal dunia. Mereka berdua telah bersatu dalam keabadian cinta.<br />
	Sudut Pandang : orang ketiga serba tau<br />
	Alur : maju<br />
	Nilai – Nilai : nilai moral , agama, budaya, dan sosial.<br />
	Gaya Bahasa :pilihan bahasanya sangan bagus, menarik dan mudah dipahami oleh pembaca.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Unisma: Menyimak Sastra (A) by NOVIANA / 2110710010</title>
		<link>http://kataberkata.com/?page_id=295#comment-61</link>
		<dc:creator>NOVIANA / 2110710010</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 03 Dec 2011 13:11:34 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?page_id=295#comment-61</guid>
		<description>cerita novel ini menyedihkan dan penuh perjuangan.penuh rasa cinta dan kasih sayang.banyak terdapat syair-syair cinta yang diungkapkan oleh majnun yang membuat pembaca menjadi sedih.serta akhir cerita yang tragis menurut saya sangat mengecewakan.karena jadi tidak seimbang.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>cerita novel ini menyedihkan dan penuh perjuangan.penuh rasa cinta dan kasih sayang.banyak terdapat syair-syair cinta yang diungkapkan oleh majnun yang membuat pembaca menjadi sedih.serta akhir cerita yang tragis menurut saya sangat mengecewakan.karena jadi tidak seimbang.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Unisma: Menyimak Sastra (B) by Muhammad Zacky Abdulloh</title>
		<link>http://kataberkata.com/?page_id=297#comment-60</link>
		<dc:creator>Muhammad Zacky Abdulloh</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 03 Dec 2011 12:56:27 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?page_id=297#comment-60</guid>
		<description>Nama  : Mochammad Zaky Abdulloh
NIM   : 2110710048
Kelas : 1B
Analisis Cerpen Peradilan Rakyat
1.	Tema:Peradilan Rakyat
2.	Alur: Maju (progesif)
3.	Latar 
1.	Latar tempat, yaitu latar mengacu pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Unsur tempat yang dipergunakan mungkin berupa tempat-tempat dengan nama tertentu serta inisial tertentu.
Pada cerpen, latar tempat ditunjukan pada kutipan cerpen sebagai berikut:
Seorang pengacara muda yang cemerlang mengunjungi ayahnya, seorang pengacara senior yang sangat dihormati oleh para penegak hukum.
Latar tempat yang dimaksud, merupakan kantor pengacara dimana tempat ayahnya seorang pengacara senior.
1.	Latar Sosial, yaitu yang mengacu pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi. Tata cara kehidupan sosial masyarakat mencakup berbagai masalah dalam lingkup yang cukup kompleks serta dapat berupa kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara berpikir dan bersikap. Selain itu latar sosial juga berhubungan dengan status sosial tokoh yang bersangkutan.
1.	Penokohan
Penokohan lebih luas pengertiannya daripada tokoh atau perwatakan, sebab penokohan sekaligus mencakup masalah siapa tokoh cerita, bagaimana perwatakan, dan bagaimana penempatan dan pelukisannya dalam sebuah cerita sehingga sanggup memberikan gambaran yang jelas kepada pembaca. Penokohan sekaligus menunjuk pada teknik perwujudan dan pengembangan tokoh dalam sebuah cerita
1.	Pengacara Muda (anak): merupakan seorang pemuda yang kritis, tekun, bersemangat cerdas dan profesional terhadap pekerjaannya sebagi seorang pengacara. Hal tersebut berdasarkan kutipan dibawah ini:
“Aku tidak datang untuk menentang atau memuji Anda. Anda dengan seluruh sejarah Anda memang terlalu besar untuk dibicarakan. Meskipun bukan bebas dari kritik. Aku punya sederetan koreksi terhadap kebijakan-kebijakan yang sudah Anda lakukan. Dan aku terlalu kecil untuk menentang bahkan juga terlalu tak pantas untuk memujimu. Anda sudah tidak memerlukan cercaan atau pujian lagi. Karena kau bukan hanya penegak keadilan yang bersih, kau yang selalu berhasil dan sempurna, tetapi kau juga adalah keadilan itu sendiri”
Dari kutipan diatas menunjukkan bahwa pengacara muda tersebut cerdas, dan berpikir kritis. Ia mencermati keadaan dan situasi, seorang pengacara muda yang bersikap adil dan profesional pada pekerjaannya sebagai pengacara.
1.	Pengacara Senior (ayah): tua, lemah dan sakit. Memiliki bijaksana, penyayang, rendah hati. Hal tersebut berdasarkan kutipan:
“Aku kira tak ada yang perlu dibahas lagi. Sudah jelas. Lebih baik kamu pulang sekarang. Biarkan aku bertemu dengan putraku, sebab aku sudah sangat rindu kepada dia.”
Pengacara muda itu jadi amat terharu. Ia berdiri hendak memeluk ayahnya. Tetapi orang tua itu mengangkat tangan dan memperingatkan dengan suara yang serak. Nampaknya sudah lelah dan kesakitan.
Dari kutipan diatas, karakter tokoh ayah yang menyayangi dan merindukan putranya. Pengacara senior sudah tampak lemah dan tua.
1.	Sekretaris:perhatian, baik, cantik jelita. Hal tersebut berdasarkan kutipan dibawah ini:
Sekretarisnya yang jelita, kemudian menyelimuti tubuhnya. Setelah itu wanita itu menoleh kepada pengacara muda.
“Maaf, saya kira pertemuan harus diakhiri di sini, Pak. Beliau perlu banyak beristirahat. Selamat malam.”
Dikemukakan, bahwa sekretaris yang cantik dan dan perhatian. Ia mengatakan bahwa pengacara senior hendak beristirahat,
1.	Sudut Pandang
Sudut pandang  merupakan strategi, teknik, siasat, yang secara sengaja dipilih pengarang untuk mengemukakan gagasan dan ceritanya. Segala sesuatu yang dikemukakan dalam karya fiksi memang milik pengarang, pandangan hidup, dan tafsirannya terhadap kehidupan. Namun kesemuanya itu dalam karya fiksi disalurkan lewat sudut pandang tokoh, lewat kacamata tokoh cerita. Sudut pandang adalah cara memandang tokoh-tokoh cerita dengan menempatkan dirinya pada posisi tertentu. Sudut pandang yang terdapat dalam cerpen Peradilan Rakyat adalah Sudut pandang orang ketiga yaitu sudut pandang  yang biasanya pengarang menggunakan tokoh “ia”, atau “dia”. Atau bisa juga dengan menyebut nama tokohnya; Contohnya pada kutipan dibawah ini
Pengacara tua yang bercambang dan jenggot memutih itu, tidak terkejut. Ia menatap putranya dari kursi rodanya, lalu menjawab dengan suara yang tenang dan agung,
…. Pengacara muda diam beberapa lama untuk merumuskan diri. Lalu ia meneruskan ucapannya dengan lebih tenang
Berdasarkan pada kutipan diatas, diketahui penggunaan tokoh “ia” dan subjek lain dengan kata ganti pengacara muda.
1.	Gaya Bahasa
Bahasa dalam cerpen memilki peran ganda, bahasa tidak hanya berfungsi sebagai penyampai gagasan pengarang. Namun juga sebagai penyampai perasaannya. Beberapa cara yang ditempuh oleh pengarang dalam memberdayakan bahasa cerpen ialah dengan menggunakan perbandingan, menghidupkan benda mati, melukiskan sesuatu dengan tidak sewajarnya, dan sebagainya. Melebih-lebihkan kata sehingga menampilkan unsur-unsur sasta yang indah dan menarik. Itulah sebabnya, terkadang dalam karya sastra sering dijumpai kalimat-kalimat khas. Gaya Bahasa Perbandingan 
1.	Gaya bahas perumpamaan, contohnya: penjahat itu licin seperti belut; rakus seperti monyet;seperti kucing dan anjing; seperti singa yang lapar; bagai air dengan minyak.
Pada cerpen metafora, adalah sebagai berikut:
•	Dengan gemilang dan mudah ia mempencundangi negara dipengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu.
1.	Depersonikfikasi, gaya bahasa yang mengandaikan manusia atau segala hal yang hidup, bernyawa, sebagai benda-benda mati yang kaku dan beku. Pada cerpen contohnya adalah sebagai berikut:
•	Rakyat pun marah. Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan, menyerbu dengan yel-yel dan poster-poster raksasa.
1.	Personifikasi, gaya bahasa perbandingan yang mengandaikan benda-benda mati, termasuk gagasan atau konsep-konsep yang abstrak, berperilaku seperti manusia yang menggerakan seluruh tubuhnya. Pada cerpen gaya bahasa personifikasi adalah sebagai berikut:
•	Sementara sekretaris jelitanya membacakan berita-berita keganasan yang merebak diseluruh wilayah negara dengan suaranya yang empuk, air mata menetes di pipi pengacara besar itu.
1.	Gaya Bahasa Pertentangan 
1.	Hiperbola, gaya bahasa yang pernyataan yang melebih-lebihkan jumlahnya ukurannya, atau sifatnya dengan maksud memberikan penekanan pada suatu pertanyataan atau situasi untuk memperhebat, meningkatkan kesan dan pengaruhnya.
       contoh gaya bahasa hiperbola adalah sebagai berikut:
•	Tetapi kamu sebagai ujung tombak pencarian keadilan di negeri yang sedang, dicabik-cabik korupsi ini.
•	Namun yang lebih buas dan keji ketika memperoleh kesempatan menginjak-injak keadilan dan kebenaran yang dulu diberhalakannya.
•	Jangan membunuh diri dengan deskripsi-deskripsi yang menjebak kamu ke dalam doktrin-doktrin beku, mengalir sajalah sewajarnya bagaikan mata air, bagai suara alam
•	Tapi aku tolak mentah-mentah.
•	Keadilan tak boleh menjadi sebuah taeter, tetapi mutlak hanya pencari keadilan yang kalau perlu dingin dan beku.
•	Yang tua memicingkan mata dan mulai menembak lagi.
•	Juga bukan ingin memburu publikasi dan bintang-bintang penghargaan dari organisasi kemanusian di mancanegara yang benci negaramu, bukan?
•	Entah luluh oleh senyum dibibir wanita yang memiliki mata yang sangat indah itu.
•	membebaskan bajingan yang ditakuti oleh seluruh rakyat dinegeri ini untuk terbang lepas kembali seperti burung diudara.
•	Ia merayakan kemenangan dengan pesta kembang semalam suntuk, lalu meloncat ke mancanegara, tak mungkin dijamah lagi.
•	Rakyat terus mengaum dan hendak menggulingkan pemerintahan yang sah.
•	Penjahat besar yang akan terbebaskan akan menyulut peradilan rakyat.
2. Gaya bahasa Sinisme, merupakan gaya bahasa berupa sindiran yang berbentuk kesangsian yang mengandung ejekan terhadap keikhlasan dan ketulusan hati. Pada cerpen adalah sebagai berikut:
•	Tidak seperti pengacara sekarang yang kebanyakan berdagang.
Maksudnya, saat ini banyak pengacara yang bekerja dengan tidak profesional. Menjual kejujuran demi kepentingan pribadi atau kelompok.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Nama  : Mochammad Zaky Abdulloh<br />
NIM   : 2110710048<br />
Kelas : 1B<br />
Analisis Cerpen Peradilan Rakyat<br />
1.	Tema:Peradilan Rakyat<br />
2.	Alur: Maju (progesif)<br />
3.	Latar<br />
1.	Latar tempat, yaitu latar mengacu pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Unsur tempat yang dipergunakan mungkin berupa tempat-tempat dengan nama tertentu serta inisial tertentu.<br />
Pada cerpen, latar tempat ditunjukan pada kutipan cerpen sebagai berikut:<br />
Seorang pengacara muda yang cemerlang mengunjungi ayahnya, seorang pengacara senior yang sangat dihormati oleh para penegak hukum.<br />
Latar tempat yang dimaksud, merupakan kantor pengacara dimana tempat ayahnya seorang pengacara senior.<br />
1.	Latar Sosial, yaitu yang mengacu pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi. Tata cara kehidupan sosial masyarakat mencakup berbagai masalah dalam lingkup yang cukup kompleks serta dapat berupa kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara berpikir dan bersikap. Selain itu latar sosial juga berhubungan dengan status sosial tokoh yang bersangkutan.<br />
1.	Penokohan<br />
Penokohan lebih luas pengertiannya daripada tokoh atau perwatakan, sebab penokohan sekaligus mencakup masalah siapa tokoh cerita, bagaimana perwatakan, dan bagaimana penempatan dan pelukisannya dalam sebuah cerita sehingga sanggup memberikan gambaran yang jelas kepada pembaca. Penokohan sekaligus menunjuk pada teknik perwujudan dan pengembangan tokoh dalam sebuah cerita<br />
1.	Pengacara Muda (anak): merupakan seorang pemuda yang kritis, tekun, bersemangat cerdas dan profesional terhadap pekerjaannya sebagi seorang pengacara. Hal tersebut berdasarkan kutipan dibawah ini:<br />
“Aku tidak datang untuk menentang atau memuji Anda. Anda dengan seluruh sejarah Anda memang terlalu besar untuk dibicarakan. Meskipun bukan bebas dari kritik. Aku punya sederetan koreksi terhadap kebijakan-kebijakan yang sudah Anda lakukan. Dan aku terlalu kecil untuk menentang bahkan juga terlalu tak pantas untuk memujimu. Anda sudah tidak memerlukan cercaan atau pujian lagi. Karena kau bukan hanya penegak keadilan yang bersih, kau yang selalu berhasil dan sempurna, tetapi kau juga adalah keadilan itu sendiri”<br />
Dari kutipan diatas menunjukkan bahwa pengacara muda tersebut cerdas, dan berpikir kritis. Ia mencermati keadaan dan situasi, seorang pengacara muda yang bersikap adil dan profesional pada pekerjaannya sebagai pengacara.<br />
1.	Pengacara Senior (ayah): tua, lemah dan sakit. Memiliki bijaksana, penyayang, rendah hati. Hal tersebut berdasarkan kutipan:<br />
“Aku kira tak ada yang perlu dibahas lagi. Sudah jelas. Lebih baik kamu pulang sekarang. Biarkan aku bertemu dengan putraku, sebab aku sudah sangat rindu kepada dia.”<br />
Pengacara muda itu jadi amat terharu. Ia berdiri hendak memeluk ayahnya. Tetapi orang tua itu mengangkat tangan dan memperingatkan dengan suara yang serak. Nampaknya sudah lelah dan kesakitan.<br />
Dari kutipan diatas, karakter tokoh ayah yang menyayangi dan merindukan putranya. Pengacara senior sudah tampak lemah dan tua.<br />
1.	Sekretaris:perhatian, baik, cantik jelita. Hal tersebut berdasarkan kutipan dibawah ini:<br />
Sekretarisnya yang jelita, kemudian menyelimuti tubuhnya. Setelah itu wanita itu menoleh kepada pengacara muda.<br />
“Maaf, saya kira pertemuan harus diakhiri di sini, Pak. Beliau perlu banyak beristirahat. Selamat malam.”<br />
Dikemukakan, bahwa sekretaris yang cantik dan dan perhatian. Ia mengatakan bahwa pengacara senior hendak beristirahat,<br />
1.	Sudut Pandang<br />
Sudut pandang  merupakan strategi, teknik, siasat, yang secara sengaja dipilih pengarang untuk mengemukakan gagasan dan ceritanya. Segala sesuatu yang dikemukakan dalam karya fiksi memang milik pengarang, pandangan hidup, dan tafsirannya terhadap kehidupan. Namun kesemuanya itu dalam karya fiksi disalurkan lewat sudut pandang tokoh, lewat kacamata tokoh cerita. Sudut pandang adalah cara memandang tokoh-tokoh cerita dengan menempatkan dirinya pada posisi tertentu. Sudut pandang yang terdapat dalam cerpen Peradilan Rakyat adalah Sudut pandang orang ketiga yaitu sudut pandang  yang biasanya pengarang menggunakan tokoh “ia”, atau “dia”. Atau bisa juga dengan menyebut nama tokohnya; Contohnya pada kutipan dibawah ini<br />
Pengacara tua yang bercambang dan jenggot memutih itu, tidak terkejut. Ia menatap putranya dari kursi rodanya, lalu menjawab dengan suara yang tenang dan agung,<br />
…. Pengacara muda diam beberapa lama untuk merumuskan diri. Lalu ia meneruskan ucapannya dengan lebih tenang<br />
Berdasarkan pada kutipan diatas, diketahui penggunaan tokoh “ia” dan subjek lain dengan kata ganti pengacara muda.<br />
1.	Gaya Bahasa<br />
Bahasa dalam cerpen memilki peran ganda, bahasa tidak hanya berfungsi sebagai penyampai gagasan pengarang. Namun juga sebagai penyampai perasaannya. Beberapa cara yang ditempuh oleh pengarang dalam memberdayakan bahasa cerpen ialah dengan menggunakan perbandingan, menghidupkan benda mati, melukiskan sesuatu dengan tidak sewajarnya, dan sebagainya. Melebih-lebihkan kata sehingga menampilkan unsur-unsur sasta yang indah dan menarik. Itulah sebabnya, terkadang dalam karya sastra sering dijumpai kalimat-kalimat khas. Gaya Bahasa Perbandingan<br />
1.	Gaya bahas perumpamaan, contohnya: penjahat itu licin seperti belut; rakus seperti monyet;seperti kucing dan anjing; seperti singa yang lapar; bagai air dengan minyak.<br />
Pada cerpen metafora, adalah sebagai berikut:<br />
•	Dengan gemilang dan mudah ia mempencundangi negara dipengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu.<br />
1.	Depersonikfikasi, gaya bahasa yang mengandaikan manusia atau segala hal yang hidup, bernyawa, sebagai benda-benda mati yang kaku dan beku. Pada cerpen contohnya adalah sebagai berikut:<br />
•	Rakyat pun marah. Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan, menyerbu dengan yel-yel dan poster-poster raksasa.<br />
1.	Personifikasi, gaya bahasa perbandingan yang mengandaikan benda-benda mati, termasuk gagasan atau konsep-konsep yang abstrak, berperilaku seperti manusia yang menggerakan seluruh tubuhnya. Pada cerpen gaya bahasa personifikasi adalah sebagai berikut:<br />
•	Sementara sekretaris jelitanya membacakan berita-berita keganasan yang merebak diseluruh wilayah negara dengan suaranya yang empuk, air mata menetes di pipi pengacara besar itu.<br />
1.	Gaya Bahasa Pertentangan<br />
1.	Hiperbola, gaya bahasa yang pernyataan yang melebih-lebihkan jumlahnya ukurannya, atau sifatnya dengan maksud memberikan penekanan pada suatu pertanyataan atau situasi untuk memperhebat, meningkatkan kesan dan pengaruhnya.<br />
       contoh gaya bahasa hiperbola adalah sebagai berikut:<br />
•	Tetapi kamu sebagai ujung tombak pencarian keadilan di negeri yang sedang, dicabik-cabik korupsi ini.<br />
•	Namun yang lebih buas dan keji ketika memperoleh kesempatan menginjak-injak keadilan dan kebenaran yang dulu diberhalakannya.<br />
•	Jangan membunuh diri dengan deskripsi-deskripsi yang menjebak kamu ke dalam doktrin-doktrin beku, mengalir sajalah sewajarnya bagaikan mata air, bagai suara alam<br />
•	Tapi aku tolak mentah-mentah.<br />
•	Keadilan tak boleh menjadi sebuah taeter, tetapi mutlak hanya pencari keadilan yang kalau perlu dingin dan beku.<br />
•	Yang tua memicingkan mata dan mulai menembak lagi.<br />
•	Juga bukan ingin memburu publikasi dan bintang-bintang penghargaan dari organisasi kemanusian di mancanegara yang benci negaramu, bukan?<br />
•	Entah luluh oleh senyum dibibir wanita yang memiliki mata yang sangat indah itu.<br />
•	membebaskan bajingan yang ditakuti oleh seluruh rakyat dinegeri ini untuk terbang lepas kembali seperti burung diudara.<br />
•	Ia merayakan kemenangan dengan pesta kembang semalam suntuk, lalu meloncat ke mancanegara, tak mungkin dijamah lagi.<br />
•	Rakyat terus mengaum dan hendak menggulingkan pemerintahan yang sah.<br />
•	Penjahat besar yang akan terbebaskan akan menyulut peradilan rakyat.<br />
2. Gaya bahasa Sinisme, merupakan gaya bahasa berupa sindiran yang berbentuk kesangsian yang mengandung ejekan terhadap keikhlasan dan ketulusan hati. Pada cerpen adalah sebagai berikut:<br />
•	Tidak seperti pengacara sekarang yang kebanyakan berdagang.<br />
Maksudnya, saat ini banyak pengacara yang bekerja dengan tidak profesional. Menjual kejujuran demi kepentingan pribadi atau kelompok.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Unisma: Menyimak Sastra (B) by Muhammad Zacky Abdulloh</title>
		<link>http://kataberkata.com/?page_id=297#comment-59</link>
		<dc:creator>Muhammad Zacky Abdulloh</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 03 Dec 2011 12:55:57 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?page_id=297#comment-59</guid>
		<description>Nama  : Muhammad Zacky Abdulloh
NIM   : 2110710048
Kelas : 1B
Analisis Cerpen Peradilan Rakyat
1.	Tema:Peradilan Rakyat
2.	Alur: Maju (progesif)
3.	Latar 
1.	Latar tempat, yaitu latar mengacu pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Unsur tempat yang dipergunakan mungkin berupa tempat-tempat dengan nama tertentu serta inisial tertentu.
Pada cerpen, latar tempat ditunjukan pada kutipan cerpen sebagai berikut:
Seorang pengacara muda yang cemerlang mengunjungi ayahnya, seorang pengacara senior yang sangat dihormati oleh para penegak hukum.
Latar tempat yang dimaksud, merupakan kantor pengacara dimana tempat ayahnya seorang pengacara senior.
1.	Latar Sosial, yaitu yang mengacu pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi. Tata cara kehidupan sosial masyarakat mencakup berbagai masalah dalam lingkup yang cukup kompleks serta dapat berupa kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara berpikir dan bersikap. Selain itu latar sosial juga berhubungan dengan status sosial tokoh yang bersangkutan.
1.	Penokohan
Penokohan lebih luas pengertiannya daripada tokoh atau perwatakan, sebab penokohan sekaligus mencakup masalah siapa tokoh cerita, bagaimana perwatakan, dan bagaimana penempatan dan pelukisannya dalam sebuah cerita sehingga sanggup memberikan gambaran yang jelas kepada pembaca. Penokohan sekaligus menunjuk pada teknik perwujudan dan pengembangan tokoh dalam sebuah cerita
1.	Pengacara Muda (anak): merupakan seorang pemuda yang kritis, tekun, bersemangat cerdas dan profesional terhadap pekerjaannya sebagi seorang pengacara. Hal tersebut berdasarkan kutipan dibawah ini:
“Aku tidak datang untuk menentang atau memuji Anda. Anda dengan seluruh sejarah Anda memang terlalu besar untuk dibicarakan. Meskipun bukan bebas dari kritik. Aku punya sederetan koreksi terhadap kebijakan-kebijakan yang sudah Anda lakukan. Dan aku terlalu kecil untuk menentang bahkan juga terlalu tak pantas untuk memujimu. Anda sudah tidak memerlukan cercaan atau pujian lagi. Karena kau bukan hanya penegak keadilan yang bersih, kau yang selalu berhasil dan sempurna, tetapi kau juga adalah keadilan itu sendiri”
Dari kutipan diatas menunjukkan bahwa pengacara muda tersebut cerdas, dan berpikir kritis. Ia mencermati keadaan dan situasi, seorang pengacara muda yang bersikap adil dan profesional pada pekerjaannya sebagai pengacara.
1.	Pengacara Senior (ayah): tua, lemah dan sakit. Memiliki bijaksana, penyayang, rendah hati. Hal tersebut berdasarkan kutipan:
“Aku kira tak ada yang perlu dibahas lagi. Sudah jelas. Lebih baik kamu pulang sekarang. Biarkan aku bertemu dengan putraku, sebab aku sudah sangat rindu kepada dia.”
Pengacara muda itu jadi amat terharu. Ia berdiri hendak memeluk ayahnya. Tetapi orang tua itu mengangkat tangan dan memperingatkan dengan suara yang serak. Nampaknya sudah lelah dan kesakitan.
Dari kutipan diatas, karakter tokoh ayah yang menyayangi dan merindukan putranya. Pengacara senior sudah tampak lemah dan tua.
1.	Sekretaris:perhatian, baik, cantik jelita. Hal tersebut berdasarkan kutipan dibawah ini:
Sekretarisnya yang jelita, kemudian menyelimuti tubuhnya. Setelah itu wanita itu menoleh kepada pengacara muda.
“Maaf, saya kira pertemuan harus diakhiri di sini, Pak. Beliau perlu banyak beristirahat. Selamat malam.”
Dikemukakan, bahwa sekretaris yang cantik dan dan perhatian. Ia mengatakan bahwa pengacara senior hendak beristirahat,
1.	Sudut Pandang
Sudut pandang  merupakan strategi, teknik, siasat, yang secara sengaja dipilih pengarang untuk mengemukakan gagasan dan ceritanya. Segala sesuatu yang dikemukakan dalam karya fiksi memang milik pengarang, pandangan hidup, dan tafsirannya terhadap kehidupan. Namun kesemuanya itu dalam karya fiksi disalurkan lewat sudut pandang tokoh, lewat kacamata tokoh cerita. Sudut pandang adalah cara memandang tokoh-tokoh cerita dengan menempatkan dirinya pada posisi tertentu. Sudut pandang yang terdapat dalam cerpen Peradilan Rakyat adalah Sudut pandang orang ketiga yaitu sudut pandang  yang biasanya pengarang menggunakan tokoh “ia”, atau “dia”. Atau bisa juga dengan menyebut nama tokohnya; Contohnya pada kutipan dibawah ini
Pengacara tua yang bercambang dan jenggot memutih itu, tidak terkejut. Ia menatap putranya dari kursi rodanya, lalu menjawab dengan suara yang tenang dan agung,
…. Pengacara muda diam beberapa lama untuk merumuskan diri. Lalu ia meneruskan ucapannya dengan lebih tenang
Berdasarkan pada kutipan diatas, diketahui penggunaan tokoh “ia” dan subjek lain dengan kata ganti pengacara muda.
1.	Gaya Bahasa
Bahasa dalam cerpen memilki peran ganda, bahasa tidak hanya berfungsi sebagai penyampai gagasan pengarang. Namun juga sebagai penyampai perasaannya. Beberapa cara yang ditempuh oleh pengarang dalam memberdayakan bahasa cerpen ialah dengan menggunakan perbandingan, menghidupkan benda mati, melukiskan sesuatu dengan tidak sewajarnya, dan sebagainya. Melebih-lebihkan kata sehingga menampilkan unsur-unsur sasta yang indah dan menarik. Itulah sebabnya, terkadang dalam karya sastra sering dijumpai kalimat-kalimat khas. Gaya Bahasa Perbandingan 
1.	Gaya bahas perumpamaan, contohnya: penjahat itu licin seperti belut; rakus seperti monyet;seperti kucing dan anjing; seperti singa yang lapar; bagai air dengan minyak.
Pada cerpen metafora, adalah sebagai berikut:
•	Dengan gemilang dan mudah ia mempencundangi negara dipengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu.
1.	Depersonikfikasi, gaya bahasa yang mengandaikan manusia atau segala hal yang hidup, bernyawa, sebagai benda-benda mati yang kaku dan beku. Pada cerpen contohnya adalah sebagai berikut:
•	Rakyat pun marah. Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan, menyerbu dengan yel-yel dan poster-poster raksasa.
1.	Personifikasi, gaya bahasa perbandingan yang mengandaikan benda-benda mati, termasuk gagasan atau konsep-konsep yang abstrak, berperilaku seperti manusia yang menggerakan seluruh tubuhnya. Pada cerpen gaya bahasa personifikasi adalah sebagai berikut:
•	Sementara sekretaris jelitanya membacakan berita-berita keganasan yang merebak diseluruh wilayah negara dengan suaranya yang empuk, air mata menetes di pipi pengacara besar itu.
1.	Gaya Bahasa Pertentangan 
1.	Hiperbola, gaya bahasa yang pernyataan yang melebih-lebihkan jumlahnya ukurannya, atau sifatnya dengan maksud memberikan penekanan pada suatu pertanyataan atau situasi untuk memperhebat, meningkatkan kesan dan pengaruhnya.
       contoh gaya bahasa hiperbola adalah sebagai berikut:
•	Tetapi kamu sebagai ujung tombak pencarian keadilan di negeri yang sedang, dicabik-cabik korupsi ini.
•	Namun yang lebih buas dan keji ketika memperoleh kesempatan menginjak-injak keadilan dan kebenaran yang dulu diberhalakannya.
•	Jangan membunuh diri dengan deskripsi-deskripsi yang menjebak kamu ke dalam doktrin-doktrin beku, mengalir sajalah sewajarnya bagaikan mata air, bagai suara alam
•	Tapi aku tolak mentah-mentah.
•	Keadilan tak boleh menjadi sebuah taeter, tetapi mutlak hanya pencari keadilan yang kalau perlu dingin dan beku.
•	Yang tua memicingkan mata dan mulai menembak lagi.
•	Juga bukan ingin memburu publikasi dan bintang-bintang penghargaan dari organisasi kemanusian di mancanegara yang benci negaramu, bukan?
•	Entah luluh oleh senyum dibibir wanita yang memiliki mata yang sangat indah itu.
•	membebaskan bajingan yang ditakuti oleh seluruh rakyat dinegeri ini untuk terbang lepas kembali seperti burung diudara.
•	Ia merayakan kemenangan dengan pesta kembang semalam suntuk, lalu meloncat ke mancanegara, tak mungkin dijamah lagi.
•	Rakyat terus mengaum dan hendak menggulingkan pemerintahan yang sah.
•	Penjahat besar yang akan terbebaskan akan menyulut peradilan rakyat.
2. Gaya bahasa Sinisme, merupakan gaya bahasa berupa sindiran yang berbentuk kesangsian yang mengandung ejekan terhadap keikhlasan dan ketulusan hati. Pada cerpen adalah sebagai berikut:
•	Tidak seperti pengacara sekarang yang kebanyakan berdagang.
Maksudnya, saat ini banyak pengacara yang bekerja dengan tidak profesional. Menjual kejujuran demi kepentingan pribadi atau kelompok.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Nama  : Muhammad Zacky Abdulloh<br />
NIM   : 2110710048<br />
Kelas : 1B<br />
Analisis Cerpen Peradilan Rakyat<br />
1.	Tema:Peradilan Rakyat<br />
2.	Alur: Maju (progesif)<br />
3.	Latar<br />
1.	Latar tempat, yaitu latar mengacu pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Unsur tempat yang dipergunakan mungkin berupa tempat-tempat dengan nama tertentu serta inisial tertentu.<br />
Pada cerpen, latar tempat ditunjukan pada kutipan cerpen sebagai berikut:<br />
Seorang pengacara muda yang cemerlang mengunjungi ayahnya, seorang pengacara senior yang sangat dihormati oleh para penegak hukum.<br />
Latar tempat yang dimaksud, merupakan kantor pengacara dimana tempat ayahnya seorang pengacara senior.<br />
1.	Latar Sosial, yaitu yang mengacu pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi. Tata cara kehidupan sosial masyarakat mencakup berbagai masalah dalam lingkup yang cukup kompleks serta dapat berupa kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara berpikir dan bersikap. Selain itu latar sosial juga berhubungan dengan status sosial tokoh yang bersangkutan.<br />
1.	Penokohan<br />
Penokohan lebih luas pengertiannya daripada tokoh atau perwatakan, sebab penokohan sekaligus mencakup masalah siapa tokoh cerita, bagaimana perwatakan, dan bagaimana penempatan dan pelukisannya dalam sebuah cerita sehingga sanggup memberikan gambaran yang jelas kepada pembaca. Penokohan sekaligus menunjuk pada teknik perwujudan dan pengembangan tokoh dalam sebuah cerita<br />
1.	Pengacara Muda (anak): merupakan seorang pemuda yang kritis, tekun, bersemangat cerdas dan profesional terhadap pekerjaannya sebagi seorang pengacara. Hal tersebut berdasarkan kutipan dibawah ini:<br />
“Aku tidak datang untuk menentang atau memuji Anda. Anda dengan seluruh sejarah Anda memang terlalu besar untuk dibicarakan. Meskipun bukan bebas dari kritik. Aku punya sederetan koreksi terhadap kebijakan-kebijakan yang sudah Anda lakukan. Dan aku terlalu kecil untuk menentang bahkan juga terlalu tak pantas untuk memujimu. Anda sudah tidak memerlukan cercaan atau pujian lagi. Karena kau bukan hanya penegak keadilan yang bersih, kau yang selalu berhasil dan sempurna, tetapi kau juga adalah keadilan itu sendiri”<br />
Dari kutipan diatas menunjukkan bahwa pengacara muda tersebut cerdas, dan berpikir kritis. Ia mencermati keadaan dan situasi, seorang pengacara muda yang bersikap adil dan profesional pada pekerjaannya sebagai pengacara.<br />
1.	Pengacara Senior (ayah): tua, lemah dan sakit. Memiliki bijaksana, penyayang, rendah hati. Hal tersebut berdasarkan kutipan:<br />
“Aku kira tak ada yang perlu dibahas lagi. Sudah jelas. Lebih baik kamu pulang sekarang. Biarkan aku bertemu dengan putraku, sebab aku sudah sangat rindu kepada dia.”<br />
Pengacara muda itu jadi amat terharu. Ia berdiri hendak memeluk ayahnya. Tetapi orang tua itu mengangkat tangan dan memperingatkan dengan suara yang serak. Nampaknya sudah lelah dan kesakitan.<br />
Dari kutipan diatas, karakter tokoh ayah yang menyayangi dan merindukan putranya. Pengacara senior sudah tampak lemah dan tua.<br />
1.	Sekretaris:perhatian, baik, cantik jelita. Hal tersebut berdasarkan kutipan dibawah ini:<br />
Sekretarisnya yang jelita, kemudian menyelimuti tubuhnya. Setelah itu wanita itu menoleh kepada pengacara muda.<br />
“Maaf, saya kira pertemuan harus diakhiri di sini, Pak. Beliau perlu banyak beristirahat. Selamat malam.”<br />
Dikemukakan, bahwa sekretaris yang cantik dan dan perhatian. Ia mengatakan bahwa pengacara senior hendak beristirahat,<br />
1.	Sudut Pandang<br />
Sudut pandang  merupakan strategi, teknik, siasat, yang secara sengaja dipilih pengarang untuk mengemukakan gagasan dan ceritanya. Segala sesuatu yang dikemukakan dalam karya fiksi memang milik pengarang, pandangan hidup, dan tafsirannya terhadap kehidupan. Namun kesemuanya itu dalam karya fiksi disalurkan lewat sudut pandang tokoh, lewat kacamata tokoh cerita. Sudut pandang adalah cara memandang tokoh-tokoh cerita dengan menempatkan dirinya pada posisi tertentu. Sudut pandang yang terdapat dalam cerpen Peradilan Rakyat adalah Sudut pandang orang ketiga yaitu sudut pandang  yang biasanya pengarang menggunakan tokoh “ia”, atau “dia”. Atau bisa juga dengan menyebut nama tokohnya; Contohnya pada kutipan dibawah ini<br />
Pengacara tua yang bercambang dan jenggot memutih itu, tidak terkejut. Ia menatap putranya dari kursi rodanya, lalu menjawab dengan suara yang tenang dan agung,<br />
…. Pengacara muda diam beberapa lama untuk merumuskan diri. Lalu ia meneruskan ucapannya dengan lebih tenang<br />
Berdasarkan pada kutipan diatas, diketahui penggunaan tokoh “ia” dan subjek lain dengan kata ganti pengacara muda.<br />
1.	Gaya Bahasa<br />
Bahasa dalam cerpen memilki peran ganda, bahasa tidak hanya berfungsi sebagai penyampai gagasan pengarang. Namun juga sebagai penyampai perasaannya. Beberapa cara yang ditempuh oleh pengarang dalam memberdayakan bahasa cerpen ialah dengan menggunakan perbandingan, menghidupkan benda mati, melukiskan sesuatu dengan tidak sewajarnya, dan sebagainya. Melebih-lebihkan kata sehingga menampilkan unsur-unsur sasta yang indah dan menarik. Itulah sebabnya, terkadang dalam karya sastra sering dijumpai kalimat-kalimat khas. Gaya Bahasa Perbandingan<br />
1.	Gaya bahas perumpamaan, contohnya: penjahat itu licin seperti belut; rakus seperti monyet;seperti kucing dan anjing; seperti singa yang lapar; bagai air dengan minyak.<br />
Pada cerpen metafora, adalah sebagai berikut:<br />
•	Dengan gemilang dan mudah ia mempencundangi negara dipengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu.<br />
1.	Depersonikfikasi, gaya bahasa yang mengandaikan manusia atau segala hal yang hidup, bernyawa, sebagai benda-benda mati yang kaku dan beku. Pada cerpen contohnya adalah sebagai berikut:<br />
•	Rakyat pun marah. Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan, menyerbu dengan yel-yel dan poster-poster raksasa.<br />
1.	Personifikasi, gaya bahasa perbandingan yang mengandaikan benda-benda mati, termasuk gagasan atau konsep-konsep yang abstrak, berperilaku seperti manusia yang menggerakan seluruh tubuhnya. Pada cerpen gaya bahasa personifikasi adalah sebagai berikut:<br />
•	Sementara sekretaris jelitanya membacakan berita-berita keganasan yang merebak diseluruh wilayah negara dengan suaranya yang empuk, air mata menetes di pipi pengacara besar itu.<br />
1.	Gaya Bahasa Pertentangan<br />
1.	Hiperbola, gaya bahasa yang pernyataan yang melebih-lebihkan jumlahnya ukurannya, atau sifatnya dengan maksud memberikan penekanan pada suatu pertanyataan atau situasi untuk memperhebat, meningkatkan kesan dan pengaruhnya.<br />
       contoh gaya bahasa hiperbola adalah sebagai berikut:<br />
•	Tetapi kamu sebagai ujung tombak pencarian keadilan di negeri yang sedang, dicabik-cabik korupsi ini.<br />
•	Namun yang lebih buas dan keji ketika memperoleh kesempatan menginjak-injak keadilan dan kebenaran yang dulu diberhalakannya.<br />
•	Jangan membunuh diri dengan deskripsi-deskripsi yang menjebak kamu ke dalam doktrin-doktrin beku, mengalir sajalah sewajarnya bagaikan mata air, bagai suara alam<br />
•	Tapi aku tolak mentah-mentah.<br />
•	Keadilan tak boleh menjadi sebuah taeter, tetapi mutlak hanya pencari keadilan yang kalau perlu dingin dan beku.<br />
•	Yang tua memicingkan mata dan mulai menembak lagi.<br />
•	Juga bukan ingin memburu publikasi dan bintang-bintang penghargaan dari organisasi kemanusian di mancanegara yang benci negaramu, bukan?<br />
•	Entah luluh oleh senyum dibibir wanita yang memiliki mata yang sangat indah itu.<br />
•	membebaskan bajingan yang ditakuti oleh seluruh rakyat dinegeri ini untuk terbang lepas kembali seperti burung diudara.<br />
•	Ia merayakan kemenangan dengan pesta kembang semalam suntuk, lalu meloncat ke mancanegara, tak mungkin dijamah lagi.<br />
•	Rakyat terus mengaum dan hendak menggulingkan pemerintahan yang sah.<br />
•	Penjahat besar yang akan terbebaskan akan menyulut peradilan rakyat.<br />
2. Gaya bahasa Sinisme, merupakan gaya bahasa berupa sindiran yang berbentuk kesangsian yang mengandung ejekan terhadap keikhlasan dan ketulusan hati. Pada cerpen adalah sebagai berikut:<br />
•	Tidak seperti pengacara sekarang yang kebanyakan berdagang.<br />
Maksudnya, saat ini banyak pengacara yang bekerja dengan tidak profesional. Menjual kejujuran demi kepentingan pribadi atau kelompok.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Unisma: Menyimak Sastra (A) by kuntiya kablillah_NPM_2110710004</title>
		<link>http://kataberkata.com/?page_id=295#comment-58</link>
		<dc:creator>kuntiya kablillah_NPM_2110710004</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 03 Dec 2011 12:55:05 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?page_id=295#comment-58</guid>
		<description>Analisi novel  
  Judul : LAILA MAJNUN
  Oleh  : Syeh Hakim Al-Izam

•	Tema : Pengorbanan cinta 
•	Tokoh dan watak : 
 - Laila : dewasa, baik hati, setia
-	Qais : cerdas, setia
-	Bani umar (ayah majnun/kais) :  bijaksana, baik hati
-	Ibnu Salam (suami laila) : tidak mudah menyerah, baik hati, bijaksana, sabar.
-	Ayah laila : keras kepala, egois, jahat.
•	Setting : 
-	Tempat : sekolah, rumah laila, kamar laila, mekkah, gunung, alam liar, desa laila, taman bunga, gurun, makam laila.
-	Waktu : siang hari, malam hari
-	Susana : haru, sedih, tegang.
•	 Amanat : jagalah cinta itu selagi kamu masih mampu menjaganya.
•	Konflik : kisah cinta laila yang tidak di restui oleh ayah laila
•	Penyelesaian konflik : ketika laila menikah dengan ibnu salam, qais merelakannya tetapi cinta kais pada laila tidak berubah begitu juga dengan cinta laila yang tetap pada qais bahkan kais mengucapkan salam dan selamat atas pernikahan kekasihnya itu sebagai balasan laila mengirim anting- anting tradisional tanda kesetian sejatinya. Dan ketika qais (majnun) mendengar kematian laila dia pingsan selama beberapa hari ketika ia sadar dengan tenaga yang cukup dia datang ke makam laila di luar kota, ia menangis sampai ia meletakkan badannya di makam laila dan akhirnya qais (majnun) meninggal dunia. Mereka berdua telah bersatu dalam keabadian cinta.
•	Sudut Pandang : orang ketiga serba tau
•	Alur : maju
•	Nilai – Nilai : nilai moral , agama, budaya, dan sosial.
•	Gaya Bahasa : sangat menarik padat dan jelas.
Dari penjelasan di atas kita dapat menarik kesimpulan bahwa ceritanya sangat bagus, menarik, dan dapat di terapkan dalam kehidupan sehari – hari .</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Analisi novel<br />
  Judul : LAILA MAJNUN<br />
  Oleh  : Syeh Hakim Al-Izam</p>
<p>•	Tema : Pengorbanan cinta<br />
•	Tokoh dan watak :<br />
 &#8211; Laila : dewasa, baik hati, setia<br />
-	Qais : cerdas, setia<br />
-	Bani umar (ayah majnun/kais) :  bijaksana, baik hati<br />
-	Ibnu Salam (suami laila) : tidak mudah menyerah, baik hati, bijaksana, sabar.<br />
-	Ayah laila : keras kepala, egois, jahat.<br />
•	Setting :<br />
-	Tempat : sekolah, rumah laila, kamar laila, mekkah, gunung, alam liar, desa laila, taman bunga, gurun, makam laila.<br />
-	Waktu : siang hari, malam hari<br />
-	Susana : haru, sedih, tegang.<br />
•	 Amanat : jagalah cinta itu selagi kamu masih mampu menjaganya.<br />
•	Konflik : kisah cinta laila yang tidak di restui oleh ayah laila<br />
•	Penyelesaian konflik : ketika laila menikah dengan ibnu salam, qais merelakannya tetapi cinta kais pada laila tidak berubah begitu juga dengan cinta laila yang tetap pada qais bahkan kais mengucapkan salam dan selamat atas pernikahan kekasihnya itu sebagai balasan laila mengirim anting- anting tradisional tanda kesetian sejatinya. Dan ketika qais (majnun) mendengar kematian laila dia pingsan selama beberapa hari ketika ia sadar dengan tenaga yang cukup dia datang ke makam laila di luar kota, ia menangis sampai ia meletakkan badannya di makam laila dan akhirnya qais (majnun) meninggal dunia. Mereka berdua telah bersatu dalam keabadian cinta.<br />
•	Sudut Pandang : orang ketiga serba tau<br />
•	Alur : maju<br />
•	Nilai – Nilai : nilai moral , agama, budaya, dan sosial.<br />
•	Gaya Bahasa : sangat menarik padat dan jelas.<br />
Dari penjelasan di atas kita dapat menarik kesimpulan bahwa ceritanya sangat bagus, menarik, dan dapat di terapkan dalam kehidupan sehari – hari .</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Unisma: Menyimak Sastra (B) by Muhammad Zacky Abdulloh</title>
		<link>http://kataberkata.com/?page_id=297#comment-57</link>
		<dc:creator>Muhammad Zacky Abdulloh</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 03 Dec 2011 12:49:16 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?page_id=297#comment-57</guid>
		<description>Analisis Cerpen Peradilan Rakyat
1.	Tema:Peradilan Rakyat
2.	Alur: Maju (progesif)
3.	Latar 
1.	Latar tempat, yaitu latar mengacu pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Unsur tempat yang dipergunakan mungkin berupa tempat-tempat dengan nama tertentu serta inisial tertentu.
Pada cerpen, latar tempat ditunjukan pada kutipan cerpen sebagai berikut:
Seorang pengacara muda yang cemerlang mengunjungi ayahnya, seorang pengacara senior yang sangat dihormati oleh para penegak hukum.
Latar tempat yang dimaksud, merupakan kantor pengacara dimana tempat ayahnya seorang pengacara senior.
1.	Latar Sosial, yaitu yang mengacu pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi. Tata cara kehidupan sosial masyarakat mencakup berbagai masalah dalam lingkup yang cukup kompleks serta dapat berupa kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara berpikir dan bersikap. Selain itu latar sosial juga berhubungan dengan status sosial tokoh yang bersangkutan.
1.	Penokohan
Penokohan lebih luas pengertiannya daripada tokoh atau perwatakan, sebab penokohan sekaligus mencakup masalah siapa tokoh cerita, bagaimana perwatakan, dan bagaimana penempatan dan pelukisannya dalam sebuah cerita sehingga sanggup memberikan gambaran yang jelas kepada pembaca. Penokohan sekaligus menunjuk pada teknik perwujudan dan pengembangan tokoh dalam sebuah cerita
1.	Pengacara Muda (anak): merupakan seorang pemuda yang kritis, tekun, bersemangat cerdas dan profesional terhadap pekerjaannya sebagi seorang pengacara. Hal tersebut berdasarkan kutipan dibawah ini:
“Aku tidak datang untuk menentang atau memuji Anda. Anda dengan seluruh sejarah Anda memang terlalu besar untuk dibicarakan. Meskipun bukan bebas dari kritik. Aku punya sederetan koreksi terhadap kebijakan-kebijakan yang sudah Anda lakukan. Dan aku terlalu kecil untuk menentang bahkan juga terlalu tak pantas untuk memujimu. Anda sudah tidak memerlukan cercaan atau pujian lagi. Karena kau bukan hanya penegak keadilan yang bersih, kau yang selalu berhasil dan sempurna, tetapi kau juga adalah keadilan itu sendiri”
Dari kutipan diatas menunjukkan bahwa pengacara muda tersebut cerdas, dan berpikir kritis. Ia mencermati keadaan dan situasi, seorang pengacara muda yang bersikap adil dan profesional pada pekerjaannya sebagai pengacara.
1.	Pengacara Senior (ayah): tua, lemah dan sakit. Memiliki bijaksana, penyayang, rendah hati. Hal tersebut berdasarkan kutipan:
“Aku kira tak ada yang perlu dibahas lagi. Sudah jelas. Lebih baik kamu pulang sekarang. Biarkan aku bertemu dengan putraku, sebab aku sudah sangat rindu kepada dia.”
Pengacara muda itu jadi amat terharu. Ia berdiri hendak memeluk ayahnya. Tetapi orang tua itu mengangkat tangan dan memperingatkan dengan suara yang serak. Nampaknya sudah lelah dan kesakitan.
Dari kutipan diatas, karakter tokoh ayah yang menyayangi dan merindukan putranya. Pengacara senior sudah tampak lemah dan tua.
1.	Sekretaris:perhatian, baik, cantik jelita. Hal tersebut berdasarkan kutipan dibawah ini:
Sekretarisnya yang jelita, kemudian menyelimuti tubuhnya. Setelah itu wanita itu menoleh kepada pengacara muda.
“Maaf, saya kira pertemuan harus diakhiri di sini, Pak. Beliau perlu banyak beristirahat. Selamat malam.”
Dikemukakan, bahwa sekretaris yang cantik dan dan perhatian. Ia mengatakan bahwa pengacara senior hendak beristirahat,
1.	Sudut Pandang
Sudut pandang  merupakan strategi, teknik, siasat, yang secara sengaja dipilih pengarang untuk mengemukakan gagasan dan ceritanya. Segala sesuatu yang dikemukakan dalam karya fiksi memang milik pengarang, pandangan hidup, dan tafsirannya terhadap kehidupan. Namun kesemuanya itu dalam karya fiksi disalurkan lewat sudut pandang tokoh, lewat kacamata tokoh cerita. Sudut pandang adalah cara memandang tokoh-tokoh cerita dengan menempatkan dirinya pada posisi tertentu. Sudut pandang yang terdapat dalam cerpen Peradilan Rakyat adalah Sudut pandang orang ketiga yaitu sudut pandang  yang biasanya pengarang menggunakan tokoh “ia”, atau “dia”. Atau bisa juga dengan menyebut nama tokohnya; Contohnya pada kutipan dibawah ini
Pengacara tua yang bercambang dan jenggot memutih itu, tidak terkejut. Ia menatap putranya dari kursi rodanya, lalu menjawab dengan suara yang tenang dan agung,
…. Pengacara muda diam beberapa lama untuk merumuskan diri. Lalu ia meneruskan ucapannya dengan lebih tenang
Berdasarkan pada kutipan diatas, diketahui penggunaan tokoh “ia” dan subjek lain dengan kata ganti pengacara muda.
1.	Gaya Bahasa
Bahasa dalam cerpen memilki peran ganda, bahasa tidak hanya berfungsi sebagai penyampai gagasan pengarang. Namun juga sebagai penyampai perasaannya. Beberapa cara yang ditempuh oleh pengarang dalam memberdayakan bahasa cerpen ialah dengan menggunakan perbandingan, menghidupkan benda mati, melukiskan sesuatu dengan tidak sewajarnya, dan sebagainya. Melebih-lebihkan kata sehingga menampilkan unsur-unsur sasta yang indah dan menarik. Itulah sebabnya, terkadang dalam karya sastra sering dijumpai kalimat-kalimat khas. Gaya Bahasa Perbandingan 
1.	Gaya bahas perumpamaan, contohnya: penjahat itu licin seperti belut; rakus seperti monyet;seperti kucing dan anjing; seperti singa yang lapar; bagai air dengan minyak.
Pada cerpen metafora, adalah sebagai berikut:
•	Dengan gemilang dan mudah ia mempencundangi negara dipengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu.
1.	Depersonikfikasi, gaya bahasa yang mengandaikan manusia atau segala hal yang hidup, bernyawa, sebagai benda-benda mati yang kaku dan beku. Pada cerpen contohnya adalah sebagai berikut:
•	Rakyat pun marah. Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan, menyerbu dengan yel-yel dan poster-poster raksasa.
1.	Personifikasi, gaya bahasa perbandingan yang mengandaikan benda-benda mati, termasuk gagasan atau konsep-konsep yang abstrak, berperilaku seperti manusia yang menggerakan seluruh tubuhnya. Pada cerpen gaya bahasa personifikasi adalah sebagai berikut:
•	Sementara sekretaris jelitanya membacakan berita-berita keganasan yang merebak diseluruh wilayah negara dengan suaranya yang empuk, air mata menetes di pipi pengacara besar itu.
1.	Gaya Bahasa Pertentangan 
1.	Hiperbola, gaya bahasa yang pernyataan yang melebih-lebihkan jumlahnya ukurannya, atau sifatnya dengan maksud memberikan penekanan pada suatu pertanyataan atau situasi untuk memperhebat, meningkatkan kesan dan pengaruhnya.
       contoh gaya bahasa hiperbola adalah sebagai berikut:
•	Tetapi kamu sebagai ujung tombak pencarian keadilan di negeri yang sedang, dicabik-cabik korupsi ini.
•	Namun yang lebih buas dan keji ketika memperoleh kesempatan menginjak-injak keadilan dan kebenaran yang dulu diberhalakannya.
•	Jangan membunuh diri dengan deskripsi-deskripsi yang menjebak kamu ke dalam doktrin-doktrin beku, mengalir sajalah sewajarnya bagaikan mata air, bagai suara alam
•	Tapi aku tolak mentah-mentah.
•	Keadilan tak boleh menjadi sebuah taeter, tetapi mutlak hanya pencari keadilan yang kalau perlu dingin dan beku.
•	Yang tua memicingkan mata dan mulai menembak lagi.
•	Juga bukan ingin memburu publikasi dan bintang-bintang penghargaan dari organisasi kemanusian di mancanegara yang benci negaramu, bukan?
•	Entah luluh oleh senyum dibibir wanita yang memiliki mata yang sangat indah itu.
•	membebaskan bajingan yang ditakuti oleh seluruh rakyat dinegeri ini untuk terbang lepas kembali seperti burung diudara.
•	Ia merayakan kemenangan dengan pesta kembang semalam suntuk, lalu meloncat ke mancanegara, tak mungkin dijamah lagi.
•	Rakyat terus mengaum dan hendak menggulingkan pemerintahan yang sah.
•	Penjahat besar yang akan terbebaskan akan menyulut peradilan rakyat.
2. Gaya bahasa Sinisme, merupakan gaya bahasa berupa sindiran yang berbentuk kesangsian yang mengandung ejekan terhadap keikhlasan dan ketulusan hati. Pada cerpen adalah sebagai berikut:
•	Tidak seperti pengacara sekarang yang kebanyakan berdagang.
Maksudnya, saat ini banyak pengacara yang bekerja dengan tidak profesional. Menjual kejujuran demi kepentingan pribadi atau kelompok.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Analisis Cerpen Peradilan Rakyat<br />
1.	Tema:Peradilan Rakyat<br />
2.	Alur: Maju (progesif)<br />
3.	Latar<br />
1.	Latar tempat, yaitu latar mengacu pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Unsur tempat yang dipergunakan mungkin berupa tempat-tempat dengan nama tertentu serta inisial tertentu.<br />
Pada cerpen, latar tempat ditunjukan pada kutipan cerpen sebagai berikut:<br />
Seorang pengacara muda yang cemerlang mengunjungi ayahnya, seorang pengacara senior yang sangat dihormati oleh para penegak hukum.<br />
Latar tempat yang dimaksud, merupakan kantor pengacara dimana tempat ayahnya seorang pengacara senior.<br />
1.	Latar Sosial, yaitu yang mengacu pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi. Tata cara kehidupan sosial masyarakat mencakup berbagai masalah dalam lingkup yang cukup kompleks serta dapat berupa kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara berpikir dan bersikap. Selain itu latar sosial juga berhubungan dengan status sosial tokoh yang bersangkutan.<br />
1.	Penokohan<br />
Penokohan lebih luas pengertiannya daripada tokoh atau perwatakan, sebab penokohan sekaligus mencakup masalah siapa tokoh cerita, bagaimana perwatakan, dan bagaimana penempatan dan pelukisannya dalam sebuah cerita sehingga sanggup memberikan gambaran yang jelas kepada pembaca. Penokohan sekaligus menunjuk pada teknik perwujudan dan pengembangan tokoh dalam sebuah cerita<br />
1.	Pengacara Muda (anak): merupakan seorang pemuda yang kritis, tekun, bersemangat cerdas dan profesional terhadap pekerjaannya sebagi seorang pengacara. Hal tersebut berdasarkan kutipan dibawah ini:<br />
“Aku tidak datang untuk menentang atau memuji Anda. Anda dengan seluruh sejarah Anda memang terlalu besar untuk dibicarakan. Meskipun bukan bebas dari kritik. Aku punya sederetan koreksi terhadap kebijakan-kebijakan yang sudah Anda lakukan. Dan aku terlalu kecil untuk menentang bahkan juga terlalu tak pantas untuk memujimu. Anda sudah tidak memerlukan cercaan atau pujian lagi. Karena kau bukan hanya penegak keadilan yang bersih, kau yang selalu berhasil dan sempurna, tetapi kau juga adalah keadilan itu sendiri”<br />
Dari kutipan diatas menunjukkan bahwa pengacara muda tersebut cerdas, dan berpikir kritis. Ia mencermati keadaan dan situasi, seorang pengacara muda yang bersikap adil dan profesional pada pekerjaannya sebagai pengacara.<br />
1.	Pengacara Senior (ayah): tua, lemah dan sakit. Memiliki bijaksana, penyayang, rendah hati. Hal tersebut berdasarkan kutipan:<br />
“Aku kira tak ada yang perlu dibahas lagi. Sudah jelas. Lebih baik kamu pulang sekarang. Biarkan aku bertemu dengan putraku, sebab aku sudah sangat rindu kepada dia.”<br />
Pengacara muda itu jadi amat terharu. Ia berdiri hendak memeluk ayahnya. Tetapi orang tua itu mengangkat tangan dan memperingatkan dengan suara yang serak. Nampaknya sudah lelah dan kesakitan.<br />
Dari kutipan diatas, karakter tokoh ayah yang menyayangi dan merindukan putranya. Pengacara senior sudah tampak lemah dan tua.<br />
1.	Sekretaris:perhatian, baik, cantik jelita. Hal tersebut berdasarkan kutipan dibawah ini:<br />
Sekretarisnya yang jelita, kemudian menyelimuti tubuhnya. Setelah itu wanita itu menoleh kepada pengacara muda.<br />
“Maaf, saya kira pertemuan harus diakhiri di sini, Pak. Beliau perlu banyak beristirahat. Selamat malam.”<br />
Dikemukakan, bahwa sekretaris yang cantik dan dan perhatian. Ia mengatakan bahwa pengacara senior hendak beristirahat,<br />
1.	Sudut Pandang<br />
Sudut pandang  merupakan strategi, teknik, siasat, yang secara sengaja dipilih pengarang untuk mengemukakan gagasan dan ceritanya. Segala sesuatu yang dikemukakan dalam karya fiksi memang milik pengarang, pandangan hidup, dan tafsirannya terhadap kehidupan. Namun kesemuanya itu dalam karya fiksi disalurkan lewat sudut pandang tokoh, lewat kacamata tokoh cerita. Sudut pandang adalah cara memandang tokoh-tokoh cerita dengan menempatkan dirinya pada posisi tertentu. Sudut pandang yang terdapat dalam cerpen Peradilan Rakyat adalah Sudut pandang orang ketiga yaitu sudut pandang  yang biasanya pengarang menggunakan tokoh “ia”, atau “dia”. Atau bisa juga dengan menyebut nama tokohnya; Contohnya pada kutipan dibawah ini<br />
Pengacara tua yang bercambang dan jenggot memutih itu, tidak terkejut. Ia menatap putranya dari kursi rodanya, lalu menjawab dengan suara yang tenang dan agung,<br />
…. Pengacara muda diam beberapa lama untuk merumuskan diri. Lalu ia meneruskan ucapannya dengan lebih tenang<br />
Berdasarkan pada kutipan diatas, diketahui penggunaan tokoh “ia” dan subjek lain dengan kata ganti pengacara muda.<br />
1.	Gaya Bahasa<br />
Bahasa dalam cerpen memilki peran ganda, bahasa tidak hanya berfungsi sebagai penyampai gagasan pengarang. Namun juga sebagai penyampai perasaannya. Beberapa cara yang ditempuh oleh pengarang dalam memberdayakan bahasa cerpen ialah dengan menggunakan perbandingan, menghidupkan benda mati, melukiskan sesuatu dengan tidak sewajarnya, dan sebagainya. Melebih-lebihkan kata sehingga menampilkan unsur-unsur sasta yang indah dan menarik. Itulah sebabnya, terkadang dalam karya sastra sering dijumpai kalimat-kalimat khas. Gaya Bahasa Perbandingan<br />
1.	Gaya bahas perumpamaan, contohnya: penjahat itu licin seperti belut; rakus seperti monyet;seperti kucing dan anjing; seperti singa yang lapar; bagai air dengan minyak.<br />
Pada cerpen metafora, adalah sebagai berikut:<br />
•	Dengan gemilang dan mudah ia mempencundangi negara dipengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu.<br />
1.	Depersonikfikasi, gaya bahasa yang mengandaikan manusia atau segala hal yang hidup, bernyawa, sebagai benda-benda mati yang kaku dan beku. Pada cerpen contohnya adalah sebagai berikut:<br />
•	Rakyat pun marah. Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan, menyerbu dengan yel-yel dan poster-poster raksasa.<br />
1.	Personifikasi, gaya bahasa perbandingan yang mengandaikan benda-benda mati, termasuk gagasan atau konsep-konsep yang abstrak, berperilaku seperti manusia yang menggerakan seluruh tubuhnya. Pada cerpen gaya bahasa personifikasi adalah sebagai berikut:<br />
•	Sementara sekretaris jelitanya membacakan berita-berita keganasan yang merebak diseluruh wilayah negara dengan suaranya yang empuk, air mata menetes di pipi pengacara besar itu.<br />
1.	Gaya Bahasa Pertentangan<br />
1.	Hiperbola, gaya bahasa yang pernyataan yang melebih-lebihkan jumlahnya ukurannya, atau sifatnya dengan maksud memberikan penekanan pada suatu pertanyataan atau situasi untuk memperhebat, meningkatkan kesan dan pengaruhnya.<br />
       contoh gaya bahasa hiperbola adalah sebagai berikut:<br />
•	Tetapi kamu sebagai ujung tombak pencarian keadilan di negeri yang sedang, dicabik-cabik korupsi ini.<br />
•	Namun yang lebih buas dan keji ketika memperoleh kesempatan menginjak-injak keadilan dan kebenaran yang dulu diberhalakannya.<br />
•	Jangan membunuh diri dengan deskripsi-deskripsi yang menjebak kamu ke dalam doktrin-doktrin beku, mengalir sajalah sewajarnya bagaikan mata air, bagai suara alam<br />
•	Tapi aku tolak mentah-mentah.<br />
•	Keadilan tak boleh menjadi sebuah taeter, tetapi mutlak hanya pencari keadilan yang kalau perlu dingin dan beku.<br />
•	Yang tua memicingkan mata dan mulai menembak lagi.<br />
•	Juga bukan ingin memburu publikasi dan bintang-bintang penghargaan dari organisasi kemanusian di mancanegara yang benci negaramu, bukan?<br />
•	Entah luluh oleh senyum dibibir wanita yang memiliki mata yang sangat indah itu.<br />
•	membebaskan bajingan yang ditakuti oleh seluruh rakyat dinegeri ini untuk terbang lepas kembali seperti burung diudara.<br />
•	Ia merayakan kemenangan dengan pesta kembang semalam suntuk, lalu meloncat ke mancanegara, tak mungkin dijamah lagi.<br />
•	Rakyat terus mengaum dan hendak menggulingkan pemerintahan yang sah.<br />
•	Penjahat besar yang akan terbebaskan akan menyulut peradilan rakyat.<br />
2. Gaya bahasa Sinisme, merupakan gaya bahasa berupa sindiran yang berbentuk kesangsian yang mengandung ejekan terhadap keikhlasan dan ketulusan hati. Pada cerpen adalah sebagai berikut:<br />
•	Tidak seperti pengacara sekarang yang kebanyakan berdagang.<br />
Maksudnya, saat ini banyak pengacara yang bekerja dengan tidak profesional. Menjual kejujuran demi kepentingan pribadi atau kelompok.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Unisma: Menyimak Sastra (B) by ACHMAD SULTHONI(053)</title>
		<link>http://kataberkata.com/?page_id=297#comment-56</link>
		<dc:creator>ACHMAD SULTHONI(053)</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 03 Dec 2011 12:27:45 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?page_id=297#comment-56</guid>
		<description>1.tema:moral budaya
2.alur:maju
3.setting:di rumah dan di peradilan 
          suasana:tegang
4.penokohan:pengacara muda:kritis, tekun, bersemangat cerdas dan profesional terhadap pekerjaannya sebagai seorang pengacara.
            pengacara tua:tua, lemah dan sakit. Memiliki bijaksana, penyayang, rendah hati.
            sekretaris:perhatian dan baik hati.
5.Gaya Bahasa:Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan, menyerbu dengan yel-yel dan poster-poster raksasa.
             Tetapi kamu sebagai ujung tombak pencarian keadilan di negeri yang sedang, dicabik-cabik korupsi ini.
              Namun yang lebih buas dan keji ketika memperoleh kesempatan menginjak-injak keadilan dan kebenaran yang dulu diberhalakannya.
6.sudut pandang:orang ketiga
7.amanat:Janganlah sekali-sekali kau berbuat tidak adil pada suatu negara.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>1.tema:moral budaya<br />
2.alur:maju<br />
3.setting:di rumah dan di peradilan<br />
          suasana:tegang<br />
4.penokohan:pengacara muda:kritis, tekun, bersemangat cerdas dan profesional terhadap pekerjaannya sebagai seorang pengacara.<br />
            pengacara tua:tua, lemah dan sakit. Memiliki bijaksana, penyayang, rendah hati.<br />
            sekretaris:perhatian dan baik hati.<br />
5.Gaya Bahasa:Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan, menyerbu dengan yel-yel dan poster-poster raksasa.<br />
             Tetapi kamu sebagai ujung tombak pencarian keadilan di negeri yang sedang, dicabik-cabik korupsi ini.<br />
              Namun yang lebih buas dan keji ketika memperoleh kesempatan menginjak-injak keadilan dan kebenaran yang dulu diberhalakannya.<br />
6.sudut pandang:orang ketiga<br />
7.amanat:Janganlah sekali-sekali kau berbuat tidak adil pada suatu negara.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Unisma: Menyimak Sastra (B) by KHUSNUL KHOTIMAH(059)</title>
		<link>http://kataberkata.com/?page_id=297#comment-55</link>
		<dc:creator>KHUSNUL KHOTIMAH(059)</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 03 Dec 2011 12:17:48 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?page_id=297#comment-55</guid>
		<description>1.Tema: Keadilan di Masyarakat
2.Alur: Maju (progesif)
3.Latar :di rumah(kantor pengacara),dan di peradilan
  suasana:tegang,ramai.
4.Penokohan:Pengacara Muda (anak): merupakan seorang pemuda yang kritis, tekun, bersemangat cerdas dan profesional terhadap pekerjaannya sebagi seorang pengacara.
       Pengacara Senior (ayah): tua, lemah dan sakit. Memiliki bijaksana, penyayang, rendah hati.
       Sekretaris:perhatian, baik, cantik jelita. 
5.Sudut Pandang:orang ketiga 
6.Gaya Bahasa:    * Mereka menyebutnya Singa Lapar.
    * Jangan membunuh diri dengan deskripsi-deskripsi yang menjebak kamu ke dalam doktrin-doktrin beku, mengalir sajalah sewajarnya bagaikan mata air, bagai suara alam
    * Keadilan tak boleh menjadi sebuah taeter, tetapi mutlak hanya pencari keadilan yang kalau perlu dingin dan beku.
7.Amanat:Janganlah berbuat tidak adil pada masyarakat.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>1.Tema: Keadilan di Masyarakat<br />
2.Alur: Maju (progesif)<br />
3.Latar :di rumah(kantor pengacara),dan di peradilan<br />
  suasana:tegang,ramai.<br />
4.Penokohan:Pengacara Muda (anak): merupakan seorang pemuda yang kritis, tekun, bersemangat cerdas dan profesional terhadap pekerjaannya sebagi seorang pengacara.<br />
       Pengacara Senior (ayah): tua, lemah dan sakit. Memiliki bijaksana, penyayang, rendah hati.<br />
       Sekretaris:perhatian, baik, cantik jelita.<br />
5.Sudut Pandang:orang ketiga<br />
6.Gaya Bahasa:    * Mereka menyebutnya Singa Lapar.<br />
    * Jangan membunuh diri dengan deskripsi-deskripsi yang menjebak kamu ke dalam doktrin-doktrin beku, mengalir sajalah sewajarnya bagaikan mata air, bagai suara alam<br />
    * Keadilan tak boleh menjadi sebuah taeter, tetapi mutlak hanya pencari keadilan yang kalau perlu dingin dan beku.<br />
7.Amanat:Janganlah berbuat tidak adil pada masyarakat.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Unisma: Menyimak Sastra (B) by ARYADI_2110710045</title>
		<link>http://kataberkata.com/?page_id=297#comment-52</link>
		<dc:creator>ARYADI_2110710045</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 03 Dec 2011 12:10:10 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?page_id=297#comment-52</guid>
		<description>Nama    : Aryadi
Npm      : 2110710045
Fak.       : KIP
Jurusan: Bahasa Indonesia
Kelas     : 1.b


Tugas Komentar Cerpen
	(Menyimak Sastra)	



Tema  : Peradilan Rakyat
Alur     : Maju
Tokoh :
	Pengacara Muda
	Pangacara tua
	Penjahat	
	Sekretaris
                       
Watak :
	Pengacara  Muda :  mempunyai sifat / sikap pantang menyerah dan memiliki pendirian yang kuat.
	Pengacara tua      : bijaksana, berwibawa dan propesional.
	Penjahat                : egois.
	Sekertaris              : Ramah dan perhatian.

Setting  : didalam sebuah ruangan. 
Konflik  : bagai mana cara menagak kan keadilan di negri ini.
Amanat : dengan berusaha dan berkerja keras kesuksesan akan mengikutimu, maka bersikaplah propesional.
Sudut Pandang : Orang Pertama.
Teknik Penceritaan :
Seorang pengacara Muda yang cemerlang ditugaskan oleh Negara untuk membela seorang penjahat besar, yang sepantasnya mendapat hukuman mati. Tapi pengacara muda itu menolak mentah-mentah karena ia yakin Negara tidak benar-benar menugaskan untuk membelanya. Negara hanya ingin mempertunjukkan sebuah teater spektakuler, bahwa dinegara yang telah tercela sudah ada kebangkitan baru. Itu merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi seorang pengacara muda. Namun ia tidak sadar bahwa di balik itu ia telah melakukan kesalahan besar. Ia terima permintaan sipenjahat bajingan yang seharusnya di hukum mati itu ketika menemuinya langsung di tempat kediamannya, ia melakukan itu karena ia merasa bahwa dirinya adalah seorang yang professional.ia yakin bahwa apa yang dilakukannya adalah benar, dan ia yakin bahwa ia akan menang dipengadilan. 
Apa yang diyakini pengacara muda itu kemudian menjadi kenyataan. Dengan gemilang dan mudah ia mempecundangi negara di pengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu. Bangsat itu tertawa terkekeh-kekeh. Rakyat pun marah. Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan, menyerbu dengan yel-yel dan poster-poster raksasa. Gedung pengadilan diserbu dan dibakar. Hakimnya diburu-buru. Pengacara muda itu diculik, disiksa dan akhirnya baru dikembalikan sesudah jadi mayat.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Nama    : Aryadi<br />
Npm      : 2110710045<br />
Fak.       : KIP<br />
Jurusan: Bahasa Indonesia<br />
Kelas     : 1.b</p>
<p>Tugas Komentar Cerpen<br />
	(Menyimak Sastra)	</p>
<p>Tema  : Peradilan Rakyat<br />
Alur     : Maju<br />
Tokoh :<br />
	Pengacara Muda<br />
	Pangacara tua<br />
	Penjahat<br />
	Sekretaris</p>
<p>Watak :<br />
	Pengacara  Muda :  mempunyai sifat / sikap pantang menyerah dan memiliki pendirian yang kuat.<br />
	Pengacara tua      : bijaksana, berwibawa dan propesional.<br />
	Penjahat                : egois.<br />
	Sekertaris              : Ramah dan perhatian.</p>
<p>Setting  : didalam sebuah ruangan.<br />
Konflik  : bagai mana cara menagak kan keadilan di negri ini.<br />
Amanat : dengan berusaha dan berkerja keras kesuksesan akan mengikutimu, maka bersikaplah propesional.<br />
Sudut Pandang : Orang Pertama.<br />
Teknik Penceritaan :<br />
Seorang pengacara Muda yang cemerlang ditugaskan oleh Negara untuk membela seorang penjahat besar, yang sepantasnya mendapat hukuman mati. Tapi pengacara muda itu menolak mentah-mentah karena ia yakin Negara tidak benar-benar menugaskan untuk membelanya. Negara hanya ingin mempertunjukkan sebuah teater spektakuler, bahwa dinegara yang telah tercela sudah ada kebangkitan baru. Itu merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi seorang pengacara muda. Namun ia tidak sadar bahwa di balik itu ia telah melakukan kesalahan besar. Ia terima permintaan sipenjahat bajingan yang seharusnya di hukum mati itu ketika menemuinya langsung di tempat kediamannya, ia melakukan itu karena ia merasa bahwa dirinya adalah seorang yang professional.ia yakin bahwa apa yang dilakukannya adalah benar, dan ia yakin bahwa ia akan menang dipengadilan.<br />
Apa yang diyakini pengacara muda itu kemudian menjadi kenyataan. Dengan gemilang dan mudah ia mempecundangi negara di pengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu. Bangsat itu tertawa terkekeh-kekeh. Rakyat pun marah. Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan, menyerbu dengan yel-yel dan poster-poster raksasa. Gedung pengadilan diserbu dan dibakar. Hakimnya diburu-buru. Pengacara muda itu diculik, disiksa dan akhirnya baru dikembalikan sesudah jadi mayat.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Unisma: Menyimak Sastra (B) by SAIFULLAH_2110710070</title>
		<link>http://kataberkata.com/?page_id=297#comment-51</link>
		<dc:creator>SAIFULLAH_2110710070</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 03 Dec 2011 12:09:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?page_id=297#comment-51</guid>
		<description>Nama    : Saifullah
Npm      : 2110710070
Fak.       : KIP
Jurusan: Bahasa Indonesia
Kelas     : 1.b




Tugas Komentar Cerpen


1.	Tema  : Peradilan Rakyat
2.	Alur     : Maju
3.	Tokoh :
•	Pengacara Muda
•	Pangacara tua
•	Penjahat
•	Sekretaris
                       
4.	Watak :
•	Pengacara  Muda :  mempunyai sifat pantang menyerah dan memiliki pendirian yang kuat.
•	Pengacara tua   : bijaksana, berwibawa dan propesional.
•	Penjahat                : egois, mau menang sendiri.
•	Sekertaris              : Ramah dan perhatian dan baik hati.

5.	Setting  : didalam ruangan. 
6.	Konflik  : pemecahan masalah keadilan dalam suatu Negara.
7.	Amanat : sebesar apa pun masalah yang dihadapi, pasti akan bisa     diselesaikan apap bila kita memiliki sipat berkerja keras, pantang    menyerah dan mau berusaha.
8.	Sudut Pandang : Orang Pertama.
9.	Teknik Penceritaan : 
Seorang pengacara Muda yang cemerlang ditugaskan oleh Negara untuk membela seorang penjahat besar, yang sepantasnya mendapat hukuman mati. Tapi pengacara muda itu menolak mentah-mentah karena ia yakin Negara tidak benar-benar menugaskan untuk membelanya.
Namun ia tidak sadar bahwa di balik itu ia telah melakukan kesalahan besar. Ia terima permintaan sipenjahat bajingan yang seharusnya di hukum mati itu ketika menemuinya langsung di tempat kediamannya. ia merasa bahwa keputusannya adalah benar membela seorang penjahat yang seharusnya di hukum mati dan ia yakin bahwa ia akan menang di pengadilan nanti tanpa ia sadari bahwa dibalik semua itu malapetaka akan terjadi. Apa yang diyakini pengacara muda itu kemudian menjadi kenyataan. Dengan gemilang dan mudah ia mempecundangi negara di pengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu. Bangsat itu tertawa terkekeh-kekeh. Ia merayakan kemenangannya dengan pesta kembang api semalam suntuk, lalu meloncat ke mancanegara, tak mungkin dijamah lagi. Rakyat pun marah. Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan, Gedung pengadilan diserbu dan dibakar. Pengacara muda itu diculik, disiksa dan akhirnya baru dikembalikan sesudah jadi mayat. 
Mendengar berita-berita keganasan yang merebak diseluruh Negara, meneteslah air mata pengacara tua di pipinya yang sudah tua.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Nama    : Saifullah<br />
Npm      : 2110710070<br />
Fak.       : KIP<br />
Jurusan: Bahasa Indonesia<br />
Kelas     : 1.b</p>
<p>Tugas Komentar Cerpen</p>
<p>1.	Tema  : Peradilan Rakyat<br />
2.	Alur     : Maju<br />
3.	Tokoh :<br />
•	Pengacara Muda<br />
•	Pangacara tua<br />
•	Penjahat<br />
•	Sekretaris</p>
<p>4.	Watak :<br />
•	Pengacara  Muda :  mempunyai sifat pantang menyerah dan memiliki pendirian yang kuat.<br />
•	Pengacara tua   : bijaksana, berwibawa dan propesional.<br />
•	Penjahat                : egois, mau menang sendiri.<br />
•	Sekertaris              : Ramah dan perhatian dan baik hati.</p>
<p>5.	Setting  : didalam ruangan.<br />
6.	Konflik  : pemecahan masalah keadilan dalam suatu Negara.<br />
7.	Amanat : sebesar apa pun masalah yang dihadapi, pasti akan bisa     diselesaikan apap bila kita memiliki sipat berkerja keras, pantang    menyerah dan mau berusaha.<br />
8.	Sudut Pandang : Orang Pertama.<br />
9.	Teknik Penceritaan :<br />
Seorang pengacara Muda yang cemerlang ditugaskan oleh Negara untuk membela seorang penjahat besar, yang sepantasnya mendapat hukuman mati. Tapi pengacara muda itu menolak mentah-mentah karena ia yakin Negara tidak benar-benar menugaskan untuk membelanya.<br />
Namun ia tidak sadar bahwa di balik itu ia telah melakukan kesalahan besar. Ia terima permintaan sipenjahat bajingan yang seharusnya di hukum mati itu ketika menemuinya langsung di tempat kediamannya. ia merasa bahwa keputusannya adalah benar membela seorang penjahat yang seharusnya di hukum mati dan ia yakin bahwa ia akan menang di pengadilan nanti tanpa ia sadari bahwa dibalik semua itu malapetaka akan terjadi. Apa yang diyakini pengacara muda itu kemudian menjadi kenyataan. Dengan gemilang dan mudah ia mempecundangi negara di pengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu. Bangsat itu tertawa terkekeh-kekeh. Ia merayakan kemenangannya dengan pesta kembang api semalam suntuk, lalu meloncat ke mancanegara, tak mungkin dijamah lagi. Rakyat pun marah. Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan, Gedung pengadilan diserbu dan dibakar. Pengacara muda itu diculik, disiksa dan akhirnya baru dikembalikan sesudah jadi mayat.<br />
Mendengar berita-berita keganasan yang merebak diseluruh Negara, meneteslah air mata pengacara tua di pipinya yang sudah tua.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Unisma: Menyimak Sastra (B) by ARYADI_2110710045</title>
		<link>http://kataberkata.com/?page_id=297#comment-50</link>
		<dc:creator>ARYADI_2110710045</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 03 Dec 2011 12:06:28 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?page_id=297#comment-50</guid>
		<description>Tugas Komentar Cerpen
	(Menyimak Sastra)	



Tema  : Peradilan Rakyat
Alur     : Maju
Tokoh :
	Pengacara Muda
	Pangacara tua
	Penjahat	
	Sekretaris
                       
Watak :
	Pengacara  Muda :  mempunyai sifat / sikap pantang menyerah dan memiliki pendirian yang kuat.
	Pengacara tua      : bijaksana, berwibawa dan propesional.
	Penjahat                : egois.
	Sekertaris              : Ramah dan perhatian.

Setting  : didalam sebuah ruangan. 
Konflik  : bagai mana cara menagak kan keadilan di negri ini.
Amanat : dengan berusaha dan berkerja keras kesuksesan akan mengikutimu, maka bersikaplah propesional.
Sudut Pandang : Orang Pertama.
Teknik Penceritaan :
Seorang pengacara Muda yang cemerlang ditugaskan oleh Negara untuk membela seorang penjahat besar, yang sepantasnya mendapat hukuman mati. Tapi pengacara muda itu menolak mentah-mentah karena ia yakin Negara tidak benar-benar menugaskan untuk membelanya. Negara hanya ingin mempertunjukkan sebuah teater spektakuler, bahwa dinegara yang telah tercela sudah ada kebangkitan baru. Itu merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi seorang pengacara muda. Namun ia tidak sadar bahwa di balik itu ia telah melakukan kesalahan besar. Ia terima permintaan sipenjahat bajingan yang seharusnya di hukum mati itu ketika menemuinya langsung di tempat kediamannya, ia melakukan itu karena ia merasa bahwa dirinya adalah seorang yang professional.ia yakin bahwa apa yang dilakukannya adalah benar, dan ia yakin bahwa ia akan menang dipengadilan. 
Apa yang diyakini pengacara muda itu kemudian menjadi kenyataan. Dengan gemilang dan mudah ia mempecundangi negara di pengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu. Bangsat itu tertawa terkekeh-kekeh. Rakyat pun marah. Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan, menyerbu dengan yel-yel dan poster-poster raksasa. Gedung pengadilan diserbu dan dibakar. Hakimnya diburu-buru. Pengacara muda itu diculik, disiksa dan akhirnya baru dikembalikan sesudah jadi mayat.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Tugas Komentar Cerpen<br />
	(Menyimak Sastra)	</p>
<p>Tema  : Peradilan Rakyat<br />
Alur     : Maju<br />
Tokoh :<br />
	Pengacara Muda<br />
	Pangacara tua<br />
	Penjahat<br />
	Sekretaris</p>
<p>Watak :<br />
	Pengacara  Muda :  mempunyai sifat / sikap pantang menyerah dan memiliki pendirian yang kuat.<br />
	Pengacara tua      : bijaksana, berwibawa dan propesional.<br />
	Penjahat                : egois.<br />
	Sekertaris              : Ramah dan perhatian.</p>
<p>Setting  : didalam sebuah ruangan.<br />
Konflik  : bagai mana cara menagak kan keadilan di negri ini.<br />
Amanat : dengan berusaha dan berkerja keras kesuksesan akan mengikutimu, maka bersikaplah propesional.<br />
Sudut Pandang : Orang Pertama.<br />
Teknik Penceritaan :<br />
Seorang pengacara Muda yang cemerlang ditugaskan oleh Negara untuk membela seorang penjahat besar, yang sepantasnya mendapat hukuman mati. Tapi pengacara muda itu menolak mentah-mentah karena ia yakin Negara tidak benar-benar menugaskan untuk membelanya. Negara hanya ingin mempertunjukkan sebuah teater spektakuler, bahwa dinegara yang telah tercela sudah ada kebangkitan baru. Itu merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi seorang pengacara muda. Namun ia tidak sadar bahwa di balik itu ia telah melakukan kesalahan besar. Ia terima permintaan sipenjahat bajingan yang seharusnya di hukum mati itu ketika menemuinya langsung di tempat kediamannya, ia melakukan itu karena ia merasa bahwa dirinya adalah seorang yang professional.ia yakin bahwa apa yang dilakukannya adalah benar, dan ia yakin bahwa ia akan menang dipengadilan.<br />
Apa yang diyakini pengacara muda itu kemudian menjadi kenyataan. Dengan gemilang dan mudah ia mempecundangi negara di pengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu. Bangsat itu tertawa terkekeh-kekeh. Rakyat pun marah. Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan, menyerbu dengan yel-yel dan poster-poster raksasa. Gedung pengadilan diserbu dan dibakar. Hakimnya diburu-buru. Pengacara muda itu diculik, disiksa dan akhirnya baru dikembalikan sesudah jadi mayat.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Unisma: Menyimak Sastra (A) by puji santoso 2110710031</title>
		<link>http://kataberkata.com/?page_id=295#comment-48</link>
		<dc:creator>puji santoso 2110710031</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 03 Dec 2011 11:58:33 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?page_id=295#comment-48</guid>
		<description>komentar novel laila majnun
tema : percintaan
tokoh : laila,qais, orang tua qais, abu amar,ibnu salam,orag tua laila
watak : laila : baik,cerdas setia
        QAIS : baik, setia, BERTGGUNG JWB
        ABU UNAR : 
        ibnu salam : sabar menumggu laila 
        orang tua laila : baik tetapi terlalu memaksakan kehendaknya   
alur : maju
settung : kamar laila, sekolah , gubuk ,sungai kecil, bukit kecil dekat rumah laila , goa
sudut pandang : orang ketiga
konfflik : kisah cinta yang di tentang oleh orang tua laila
amanat : jangan menyerah untuk mendapatkan apa yang kamu inginkan, meskip[un sampai titik darah penghabisan</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>komentar novel laila majnun<br />
tema : percintaan<br />
tokoh : laila,qais, orang tua qais, abu amar,ibnu salam,orag tua laila<br />
watak : laila : baik,cerdas setia<br />
        QAIS : baik, setia, BERTGGUNG JWB<br />
        ABU UNAR :<br />
        ibnu salam : sabar menumggu laila<br />
        orang tua laila : baik tetapi terlalu memaksakan kehendaknya<br />
alur : maju<br />
settung : kamar laila, sekolah , gubuk ,sungai kecil, bukit kecil dekat rumah laila , goa<br />
sudut pandang : orang ketiga<br />
konfflik : kisah cinta yang di tentang oleh orang tua laila<br />
amanat : jangan menyerah untuk mendapatkan apa yang kamu inginkan, meskip[un sampai titik darah penghabisan</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Unisma: Menyimak Sastra (A) by ressa amaliatul maghfiroh 2110710036</title>
		<link>http://kataberkata.com/?page_id=295#comment-47</link>
		<dc:creator>ressa amaliatul maghfiroh 2110710036</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 03 Dec 2011 09:13:06 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?page_id=295#comment-47</guid>
		<description>ANALISIS
 NOVEL 
LAILA MAJNUN
•	TEMA :  Percintaan 
•	TOKOH : Qais,Laila,Ayah laila,Ayah qais,Ibnu salam.Abu Amr
•	WATAK TOKOH :   Qais : Anaknya cerdas,berbakat dalam bidang seni 
Laila : pandai,baik hati, mudah bergaul, rela berkorban
Ayah qais : Baik hati,&amp; rela berkorban demi keluarganya
Ayah laila : Baik, penyabar, tetepi kurang mengerti dengan apa yang anaknya inginkan
Abu amr : berani dalam menghadapi masalah yang sedang ia hadapi
Abu salam : baik hati dan  suka menolong

•	SETTING : Kota Arab, sebuah tempat di puncak bukit dekat dengan rumah laila,Gubuk,sungai kecil,Kamar laila, sekolah, gua, ruang kelas. 
•	ALUR : maju
•	TEHNIK PENCERITAAN : penceritaannya indah &amp; kata-katanya mudah dimengerti
•	SUDUT PANDANG : Orang ketiga jamak
•	 KONFLIK : ketika  hubungan percintaan laila dan qois diketahui  ayah laila dan semenjak itu laila dikurung dan dilarang untuk meneruskan sekolah karena  adat keluarga laila anak gadis dilarang berpacaran yang ada adalah perjodohan.
•	AMANAT : cinta sejati akan abadi untuk selamanya meski raga tak dapat dimiliki, tetapi hati tetap memiliki, walau kita tidak dapat memiliki orang  yang kita cintai, yakin lah bahwa cinta yang kau miliki akan bersatu walau harus menunggu di kehidupan kedua. Jadi tetap lanjutkan hidup dan jangan berkorban dengan cara mengakhiri hidup, akan tetapi tunjukkan kesuksesan.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>ANALISIS<br />
 NOVEL<br />
LAILA MAJNUN<br />
•	TEMA :  Percintaan<br />
•	TOKOH : Qais,Laila,Ayah laila,Ayah qais,Ibnu salam.Abu Amr<br />
•	WATAK TOKOH :   Qais : Anaknya cerdas,berbakat dalam bidang seni<br />
Laila : pandai,baik hati, mudah bergaul, rela berkorban<br />
Ayah qais : Baik hati,&amp; rela berkorban demi keluarganya<br />
Ayah laila : Baik, penyabar, tetepi kurang mengerti dengan apa yang anaknya inginkan<br />
Abu amr : berani dalam menghadapi masalah yang sedang ia hadapi<br />
Abu salam : baik hati dan  suka menolong</p>
<p>•	SETTING : Kota Arab, sebuah tempat di puncak bukit dekat dengan rumah laila,Gubuk,sungai kecil,Kamar laila, sekolah, gua, ruang kelas.<br />
•	ALUR : maju<br />
•	TEHNIK PENCERITAAN : penceritaannya indah &amp; kata-katanya mudah dimengerti<br />
•	SUDUT PANDANG : Orang ketiga jamak<br />
•	 KONFLIK : ketika  hubungan percintaan laila dan qois diketahui  ayah laila dan semenjak itu laila dikurung dan dilarang untuk meneruskan sekolah karena  adat keluarga laila anak gadis dilarang berpacaran yang ada adalah perjodohan.<br />
•	AMANAT : cinta sejati akan abadi untuk selamanya meski raga tak dapat dimiliki, tetapi hati tetap memiliki, walau kita tidak dapat memiliki orang  yang kita cintai, yakin lah bahwa cinta yang kau miliki akan bersatu walau harus menunggu di kehidupan kedua. Jadi tetap lanjutkan hidup dan jangan berkorban dengan cara mengakhiri hidup, akan tetapi tunjukkan kesuksesan.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Unisma: Menyimak Sastra (A) by nilna farichatul w, NPM: 2110710016</title>
		<link>http://kataberkata.com/?page_id=295#comment-46</link>
		<dc:creator>nilna farichatul w, NPM: 2110710016</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 03 Dec 2011 08:48:51 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?page_id=295#comment-46</guid>
		<description>Komentar Novel Kelompok 6
Kisah Cinta Laila Dan Majnun
Tokoh:  Kepala Suku Bani Umar dan istrinya, Qais/ Majnun, laila, Orang tua laila, 3 pemuda, gadis- gadss cantiik, penduduk desa, pengembara, Abu Amar, Pasukan Abu Amar, Keluarga Laila, Ibnu Salam
Watak:  -  Qais/ Majnun: baik hati dan setia kepada kekasihnya, walaupun jarak yang memisahkan mereka tetapi qais tetaap setia kepada laila.
-	Laila: baik hati, cantik, dan tidak sombong. Laila dan qais sama-sama salingg mencintai satu sama lain
-	Orangtua Laila dan Qais: sangat bersi kukuh untuk memisahhkan mereka ber 2, 
-	Ibnu Salam: tetap setia menunggu laila sampai ajal menjemputnya.
-	Abu Amar: ingin membantu Qais agar bisa mendapatkan cinta Laila
Setting:
1.	Waktu:  Malam, Siang, Sore, Pagi
2.	Tempat:  Gubuk, Sekolah, Desa Laila, Luar Pintu, Kamar laila, tempat persembunyian
3.	Kondisi: di sebuah gubuk dan disaat itu qais mendengar bahwa laila telah menikah dengan orang lain  
Konflik:  sepasang kekasih yang cintanya terhalang oleh orang tua mereka yang tidak menyetujui cinta mereka.
Nilai-nilai:
1.	Budaya: sangat kental dengan kebudayaan dan adat Arab
2.	Sosial:  walaupun keturunan bangsawan tetapi Qais tidak memilih-milih jika bergaul
3.	Agama: berdo’a agar segera mendapatkan keturunan.
Tema: kisah cinta yang tak akan terpisahkan walaupun jarak dan waktu yang memisahkan.
Sudut Pandang: orang ketiga
Alur: maju
Penyelesaian: qais dan laila tetap bersih kukuh memperjuangkan cinta mereka sampai akhir hayat mereka
Amanah:  jika kita mencintai seseorang kita harus mencintai dia sebagai mana mestinya, jangan terlalu mencintai seseorang  karena jika kita terlalu mencintainya maka kita akan merasakan sakit yang mendalam jika kita dihianati olehnya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Komentar Novel Kelompok 6<br />
Kisah Cinta Laila Dan Majnun<br />
Tokoh:  Kepala Suku Bani Umar dan istrinya, Qais/ Majnun, laila, Orang tua laila, 3 pemuda, gadis- gadss cantiik, penduduk desa, pengembara, Abu Amar, Pasukan Abu Amar, Keluarga Laila, Ibnu Salam<br />
Watak:  &#8211;  Qais/ Majnun: baik hati dan setia kepada kekasihnya, walaupun jarak yang memisahkan mereka tetapi qais tetaap setia kepada laila.<br />
-	Laila: baik hati, cantik, dan tidak sombong. Laila dan qais sama-sama salingg mencintai satu sama lain<br />
-	Orangtua Laila dan Qais: sangat bersi kukuh untuk memisahhkan mereka ber 2,<br />
-	Ibnu Salam: tetap setia menunggu laila sampai ajal menjemputnya.<br />
-	Abu Amar: ingin membantu Qais agar bisa mendapatkan cinta Laila<br />
Setting:<br />
1.	Waktu:  Malam, Siang, Sore, Pagi<br />
2.	Tempat:  Gubuk, Sekolah, Desa Laila, Luar Pintu, Kamar laila, tempat persembunyian<br />
3.	Kondisi: di sebuah gubuk dan disaat itu qais mendengar bahwa laila telah menikah dengan orang lain<br />
Konflik:  sepasang kekasih yang cintanya terhalang oleh orang tua mereka yang tidak menyetujui cinta mereka.<br />
Nilai-nilai:<br />
1.	Budaya: sangat kental dengan kebudayaan dan adat Arab<br />
2.	Sosial:  walaupun keturunan bangsawan tetapi Qais tidak memilih-milih jika bergaul<br />
3.	Agama: berdo’a agar segera mendapatkan keturunan.<br />
Tema: kisah cinta yang tak akan terpisahkan walaupun jarak dan waktu yang memisahkan.<br />
Sudut Pandang: orang ketiga<br />
Alur: maju<br />
Penyelesaian: qais dan laila tetap bersih kukuh memperjuangkan cinta mereka sampai akhir hayat mereka<br />
Amanah:  jika kita mencintai seseorang kita harus mencintai dia sebagai mana mestinya, jangan terlalu mencintai seseorang  karena jika kita terlalu mencintainya maka kita akan merasakan sakit yang mendalam jika kita dihianati olehnya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Unisma: Menyimak Sastra (A) by Juliati 2110710015</title>
		<link>http://kataberkata.com/?page_id=295#comment-45</link>
		<dc:creator>Juliati 2110710015</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 03 Dec 2011 08:35:01 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?page_id=295#comment-45</guid>
		<description>MENYIMAK NOVEL

LAILA MAJNUN
Oleh: Syiekh Hakim An-Nizam

•	Tema: Tradisional, Karena menceritakan kisah percintaan dan masalah perasaan yang banyak dirasakan oleh semua orang di dunia. 
Dalm novel ini terlihat jelas bahwa novel ini menceritakan pengorbanan cinta antara dua insan  yaitu, kais dan laila. Percintaan yang penuh dengan perjuangan dan pengorbanan.
•	Setting/latar terdiri dari:
Setting tempat: Arab, di sungai, padang pasir 
Setting waktu: pagi, siang, sore dan malam.
Setting suasana: sedih, bahagia, haru, dll.
•	Alur: Maju, karena ceritanya dimulai dari perkenalan awal antara kais dan laila sampai mereka menjalin kasih hingga mereka meninggal  dunia. Di sebut juga alur maju karena ceritanya tidak mengisahkan masa lalu. 
•	Tokoh, terdiri dari:
-tokoh sentral: tokoh yang sering muncul dalam cerita yaitu, kais (cerdas dan setia), dan laila ( cantik dan setia).
-tokoh netral: tokoh pelengkap dalam cerita yaitu, ibnu salam (sabar), bani umar (ayah laila) (pemarah), abu umar (gagah dan kesatria), dan teman-teman kais dan laila.
•	Konflik: konflik mulai muncul saat hubungan kais dan laila di ketahui oleh orang tua laila (bani umar), kemudian ayah laila tidak mengijinkan laila untuk pergi ke sekolah. Kais dan lailapun sulit untik bertemu, sehingga pada suatu ketika kais datang kerumah laila dengan menyamar sebagai teman laila, merekapun bertemu namun mengetahui hal tersebut ayah laila tidak tinggal diam, malah ayah laila semakin memisahkan kais dan laila. Kaispun di anggap tidak waras oleh orang-orang yang melihatnya karena di setiap perkataannya selalu menyebut nama laila. 
Terjadi juga konflik batin karena saat laila menikah dengan orang pilihan ayahnya (ibnu salam), laila memendam rasa rindunya kepada kais dan berharap kais datang kepadanya.
•	Penyelesaian konflik: konflik mulai mereda saat laila di jodohkan dengan ibnu salam dan menikah dengannya, meskipun sudah menjadi istri ibnu salam, namun laila tidak menjalankan tugasnya sebagai seorang istri. Konflik berakhir saat suami laila, ibnu salam meninggal, kemudian laila pergi untuk mencari kais, hingga akhirnya mereka bertemu dengan masih memiliki cinta yang sangat besar sampai ajal menjemput mereka.
•	Sudut pandang: menggunakan sudut pandang orang kedua sebagai pelaku/tokoh utama.
•	Amanat: mencintai dan di cintai adalah anugerah dari sang pencipta, maka pertahan dan perjuangkan cinta, tetapi harus disadari bahwa cinta kepada sesama sesungguhnya hanya sementara karena satu-satunya cinta yang kekal dan abadi adalah cinta kepada Sang Pencipta.
•	Nilai-nilai yang terkandung dalam novel: nilai sosial, moral dan budaya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>MENYIMAK NOVEL</p>
<p>LAILA MAJNUN<br />
Oleh: Syiekh Hakim An-Nizam</p>
<p>•	Tema: Tradisional, Karena menceritakan kisah percintaan dan masalah perasaan yang banyak dirasakan oleh semua orang di dunia.<br />
Dalm novel ini terlihat jelas bahwa novel ini menceritakan pengorbanan cinta antara dua insan  yaitu, kais dan laila. Percintaan yang penuh dengan perjuangan dan pengorbanan.<br />
•	Setting/latar terdiri dari:<br />
Setting tempat: Arab, di sungai, padang pasir<br />
Setting waktu: pagi, siang, sore dan malam.<br />
Setting suasana: sedih, bahagia, haru, dll.<br />
•	Alur: Maju, karena ceritanya dimulai dari perkenalan awal antara kais dan laila sampai mereka menjalin kasih hingga mereka meninggal  dunia. Di sebut juga alur maju karena ceritanya tidak mengisahkan masa lalu.<br />
•	Tokoh, terdiri dari:<br />
-tokoh sentral: tokoh yang sering muncul dalam cerita yaitu, kais (cerdas dan setia), dan laila ( cantik dan setia).<br />
-tokoh netral: tokoh pelengkap dalam cerita yaitu, ibnu salam (sabar), bani umar (ayah laila) (pemarah), abu umar (gagah dan kesatria), dan teman-teman kais dan laila.<br />
•	Konflik: konflik mulai muncul saat hubungan kais dan laila di ketahui oleh orang tua laila (bani umar), kemudian ayah laila tidak mengijinkan laila untuk pergi ke sekolah. Kais dan lailapun sulit untik bertemu, sehingga pada suatu ketika kais datang kerumah laila dengan menyamar sebagai teman laila, merekapun bertemu namun mengetahui hal tersebut ayah laila tidak tinggal diam, malah ayah laila semakin memisahkan kais dan laila. Kaispun di anggap tidak waras oleh orang-orang yang melihatnya karena di setiap perkataannya selalu menyebut nama laila.<br />
Terjadi juga konflik batin karena saat laila menikah dengan orang pilihan ayahnya (ibnu salam), laila memendam rasa rindunya kepada kais dan berharap kais datang kepadanya.<br />
•	Penyelesaian konflik: konflik mulai mereda saat laila di jodohkan dengan ibnu salam dan menikah dengannya, meskipun sudah menjadi istri ibnu salam, namun laila tidak menjalankan tugasnya sebagai seorang istri. Konflik berakhir saat suami laila, ibnu salam meninggal, kemudian laila pergi untuk mencari kais, hingga akhirnya mereka bertemu dengan masih memiliki cinta yang sangat besar sampai ajal menjemput mereka.<br />
•	Sudut pandang: menggunakan sudut pandang orang kedua sebagai pelaku/tokoh utama.<br />
•	Amanat: mencintai dan di cintai adalah anugerah dari sang pencipta, maka pertahan dan perjuangkan cinta, tetapi harus disadari bahwa cinta kepada sesama sesungguhnya hanya sementara karena satu-satunya cinta yang kekal dan abadi adalah cinta kepada Sang Pencipta.<br />
•	Nilai-nilai yang terkandung dalam novel: nilai sosial, moral dan budaya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Unisma: Menyimak Sastra (A) by Nurin Nafisatin 2110710011</title>
		<link>http://kataberkata.com/?page_id=295#comment-44</link>
		<dc:creator>Nurin Nafisatin 2110710011</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 03 Dec 2011 08:19:20 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?page_id=295#comment-44</guid>
		<description>ANALISIS NOVEL LAILA MAJNUN
Laila dan Majnun adalah sepasang pemudi-pemuda dari Gurun Pasir Sahara, di mana mereka ditakdirkan untuk saling mencinta sepanjang usia, tapi kisah cinta mereka terhalang oleh ayah Laila yang tidak menyetujui hubungan anaknya dengan Majnun, yang dianggap telah gila dan hanya akan mempermalukan martabat kabilahnya. Di akhir cerita, Laila telah meninggal, karena penyakitnya. Majnun pergi menziarahi makam Laila. Lalu menangis sedemikian menjerit. Ia memeluk tanah kuburan Laila. Hingga majnun menghembuskan nafas terakhirnya di sana. Ia meninggal sambil memeluk kubur Laila.
A. Unsur Intrinsik
	Tema, karna cinta mengalahkan segalanya
	Tokoh dan Watak 
	Laila, cerdas, baik hati, setia
	Qais, cerdas, baik hati, setia, kreatif dalam bidang berperang dan bertanggung jawab
	Abu Amar, suka membantu
	Ibnu Salam, setia menanti cinta Laila
	Ayah Laila, egois, tidak pengertian
	Ayah Qais, penyabar, baik hati
	Setting 
Kota Arab, ruang kelas, puncak bukit dekat rumah Laila, sungai kecil, kamar Laila, kuburan.
	Alur, pengarang menggunakan alur lurus atau maju, karena pengarang melukiskan peristiwa-peristiwa berurutan dari awal sampai akhir cerita.
	Sudut Pandang, dalam novel ini pencerita sebagai orang ketiga, pencerita tidak terlibat dalam cerita tersebut, ia berada sebagai seorang pengamat atau dalang yang seraba tahu.
	Konflik
	Laila dan Majnun menjalani kisah cinta secara sembunyi. Tapi seiring berjalannya waktu kisah cinta itu pun akhirnya tak bisa disembunyikan lagi, orang tua Laila mengetahuinya. Yang akhirnya mereka tidak bisa bertemu, menuangkan rindu. 
	Lama mereka tak bertemu, Qais tidak kuat menahan rasa cinta yang seperti api itu. Ia pun menjadi gila. Bertingkah dan berpenampilan aneh, hingga orang-orang menertawakan dan mencemoohnya. “inilah si majnun, si orang gila, majnun”.
	Dalam rasa kecintaan yang memuncak itu majnun mendapatkan berita yang tak pernah disangka-sangka. Laila menikah dengan seorang kaya yang tampan. Kabar buruk yang lain adalah berita tentang ayahnya yang meninggal. Lalu tidak lama kemudian sang Ibu tercintanya pun mengikuti jejak ayahnya, berpulang pada kuasa yang abadi. Inilah puncak kesedihan majnun.
	Penyelesaian Konflik
	Ada seorang pemuda yang pandai sekali berperang yang simpati kepada majnun, ia berniat menolong majnun dengan memerangi kabilah Laila. Demi mendapatkan Laila untuk diserahkan kepada majnun. Namun semua usaha yang dilakukan orang-orang disekitar majnun sia-sia. 
	Hingga suatu peristiwa yang terjadi, yang dapat membuat majnun kembali. Dan hizrah dari bukit di gurun pasir najd. Yaitu peristiwa yang membuat hati sangat terluka, sangat menjerit. Lebih dari lukanya ketika kehilangan ayah dan ibunya. Yaitu ketika majnun mendengar kabar bahwa kekasihnya Laila telah meninggal, karena penyakitnya. Majnun segera pergi beserta semua sahabat binatangnya. Pergi menziarahi makam Laila. Lalu menangis sedemikian menjerit. Ia memeluk tanah kuburan Laila. Hingga majnun menghembuskan nafas terakhirnya di sana. Ia meninggal sambil memeluk kubur Laila. 

	Amanat, dalam novel ini banyak amanat yang harus kita ketahui, yakni bahwa cinta bisa membuat kita hidup, percayalah dengan kekuatan cinta, dan cinta merupakan anugrah dari sang Illahi yang tidak bisa kita mengelaknya. Kita harus mensyukuri apa yang diberikan Allah apa pun itu, walaupun sepercik cinta menghampiri. Tapi ingat, kecintaan yang menggebu-gebu yang sebenarnya dan yang pertama dan utama haruslah di haturkan kepada Illahi Robb.
	Nilai-nilai, adanya nilai kemanusiaan dalam novel tersebut, saat Ibnu Salam terharu atau merasa kasihan kepada Majnun, Ia membantu Majnun untuk bisa bertemu Laila. Nilai Kebudayaan, semua orang-orang terbaik, bangsawan seluruh penjuru Arab untuk memasuki sekolah yang didirikan oleh ayah Qais. Nilai agama, kedua orang tua Qais memohon dan bersujud kepada Allah untuk di anugrahi seorang anak.
B. Unsur Ekstrinsik 
Tidak ada sebuah karya sastra yang tumbuh otonom. Karya ini selalu berhubungan secara ekstrinsik dengan luar sastra, dengan sejumlah faktor kemasyarakatan seperti tradisi sastra, kebudayaan lingkungan, pembaca sastra, sastra kejiwaan mereka. Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa unsur ekstrinsik adalah unsur yang mmembentuk karya sastra dari luar sastra itu sendiri. Untuk melakukan pendekatan terhadap unsur ekstrinsik, diperlukan bantuan ilmu-ilmu kerabat seperti sosiologi, psikologi, filsafat, dan lain-lain.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>ANALISIS NOVEL LAILA MAJNUN<br />
Laila dan Majnun adalah sepasang pemudi-pemuda dari Gurun Pasir Sahara, di mana mereka ditakdirkan untuk saling mencinta sepanjang usia, tapi kisah cinta mereka terhalang oleh ayah Laila yang tidak menyetujui hubungan anaknya dengan Majnun, yang dianggap telah gila dan hanya akan mempermalukan martabat kabilahnya. Di akhir cerita, Laila telah meninggal, karena penyakitnya. Majnun pergi menziarahi makam Laila. Lalu menangis sedemikian menjerit. Ia memeluk tanah kuburan Laila. Hingga majnun menghembuskan nafas terakhirnya di sana. Ia meninggal sambil memeluk kubur Laila.<br />
A. Unsur Intrinsik<br />
	Tema, karna cinta mengalahkan segalanya<br />
	Tokoh dan Watak<br />
	Laila, cerdas, baik hati, setia<br />
	Qais, cerdas, baik hati, setia, kreatif dalam bidang berperang dan bertanggung jawab<br />
	Abu Amar, suka membantu<br />
	Ibnu Salam, setia menanti cinta Laila<br />
	Ayah Laila, egois, tidak pengertian<br />
	Ayah Qais, penyabar, baik hati<br />
	Setting<br />
Kota Arab, ruang kelas, puncak bukit dekat rumah Laila, sungai kecil, kamar Laila, kuburan.<br />
	Alur, pengarang menggunakan alur lurus atau maju, karena pengarang melukiskan peristiwa-peristiwa berurutan dari awal sampai akhir cerita.<br />
	Sudut Pandang, dalam novel ini pencerita sebagai orang ketiga, pencerita tidak terlibat dalam cerita tersebut, ia berada sebagai seorang pengamat atau dalang yang seraba tahu.<br />
	Konflik<br />
	Laila dan Majnun menjalani kisah cinta secara sembunyi. Tapi seiring berjalannya waktu kisah cinta itu pun akhirnya tak bisa disembunyikan lagi, orang tua Laila mengetahuinya. Yang akhirnya mereka tidak bisa bertemu, menuangkan rindu.<br />
	Lama mereka tak bertemu, Qais tidak kuat menahan rasa cinta yang seperti api itu. Ia pun menjadi gila. Bertingkah dan berpenampilan aneh, hingga orang-orang menertawakan dan mencemoohnya. “inilah si majnun, si orang gila, majnun”.<br />
	Dalam rasa kecintaan yang memuncak itu majnun mendapatkan berita yang tak pernah disangka-sangka. Laila menikah dengan seorang kaya yang tampan. Kabar buruk yang lain adalah berita tentang ayahnya yang meninggal. Lalu tidak lama kemudian sang Ibu tercintanya pun mengikuti jejak ayahnya, berpulang pada kuasa yang abadi. Inilah puncak kesedihan majnun.<br />
	Penyelesaian Konflik<br />
	Ada seorang pemuda yang pandai sekali berperang yang simpati kepada majnun, ia berniat menolong majnun dengan memerangi kabilah Laila. Demi mendapatkan Laila untuk diserahkan kepada majnun. Namun semua usaha yang dilakukan orang-orang disekitar majnun sia-sia.<br />
	Hingga suatu peristiwa yang terjadi, yang dapat membuat majnun kembali. Dan hizrah dari bukit di gurun pasir najd. Yaitu peristiwa yang membuat hati sangat terluka, sangat menjerit. Lebih dari lukanya ketika kehilangan ayah dan ibunya. Yaitu ketika majnun mendengar kabar bahwa kekasihnya Laila telah meninggal, karena penyakitnya. Majnun segera pergi beserta semua sahabat binatangnya. Pergi menziarahi makam Laila. Lalu menangis sedemikian menjerit. Ia memeluk tanah kuburan Laila. Hingga majnun menghembuskan nafas terakhirnya di sana. Ia meninggal sambil memeluk kubur Laila. </p>
<p>	Amanat, dalam novel ini banyak amanat yang harus kita ketahui, yakni bahwa cinta bisa membuat kita hidup, percayalah dengan kekuatan cinta, dan cinta merupakan anugrah dari sang Illahi yang tidak bisa kita mengelaknya. Kita harus mensyukuri apa yang diberikan Allah apa pun itu, walaupun sepercik cinta menghampiri. Tapi ingat, kecintaan yang menggebu-gebu yang sebenarnya dan yang pertama dan utama haruslah di haturkan kepada Illahi Robb.<br />
	Nilai-nilai, adanya nilai kemanusiaan dalam novel tersebut, saat Ibnu Salam terharu atau merasa kasihan kepada Majnun, Ia membantu Majnun untuk bisa bertemu Laila. Nilai Kebudayaan, semua orang-orang terbaik, bangsawan seluruh penjuru Arab untuk memasuki sekolah yang didirikan oleh ayah Qais. Nilai agama, kedua orang tua Qais memohon dan bersujud kepada Allah untuk di anugrahi seorang anak.<br />
B. Unsur Ekstrinsik<br />
Tidak ada sebuah karya sastra yang tumbuh otonom. Karya ini selalu berhubungan secara ekstrinsik dengan luar sastra, dengan sejumlah faktor kemasyarakatan seperti tradisi sastra, kebudayaan lingkungan, pembaca sastra, sastra kejiwaan mereka. Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa unsur ekstrinsik adalah unsur yang mmembentuk karya sastra dari luar sastra itu sendiri. Untuk melakukan pendekatan terhadap unsur ekstrinsik, diperlukan bantuan ilmu-ilmu kerabat seperti sosiologi, psikologi, filsafat, dan lain-lain.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Unisma: Menyimak Sastra (A) by faizul muzdalifah npm:2110710024</title>
		<link>http://kataberkata.com/?page_id=295#comment-43</link>
		<dc:creator>faizul muzdalifah npm:2110710024</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 03 Dec 2011 07:31:19 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?page_id=295#comment-43</guid>
		<description>Kelompok 5

•	Tema : laila majnun
•	Tokoh: laila, Qays, orang tua lalila, orang tua Qays,
•	dan ibnu salam 
•	Watak : 
Watak laila; 
 - dia sangat mempunyai kesopanan yang luar biasa.
-	Juga Dia mempunyai sifat yang lemah lembut
-	Sabar menghadapi permasalah yang timbul
-	lalu taat kepada orang tua.
-	Sholehah.
-	Mempunyai sifat yang setia. 
Watak Qays;-dia  pemuda yang sangat tampan.
-	Dia juga baik hati.
-	sholeh.
-	cerdasaannya.
-	Pemuda  yang sangat setia.
-	Teguh pendiriannya
-	Sabar
-	Tidak mudah putus asa

Watak orang tua Qays :
- selalu berusaha berkorban demi anaknya.
-penyabar
-pantang menyerah.
-dan tetap berjuang keras demi kesuksesan anaknya.

Watak ibnusalam:  
- dia adalah seorang pemuda yang gagah.
-dia juga seorang yang suka menolong.
 - baik  hati.
    




•	Setting  : dirumah laila, dipuncak bukit, kamar dan dikuburan. 

-  dirumah laila;
 dimana di rumah inilahlaila dilahirkan dan dibesarkan      menjadi seorang perempuan yang sholihah yang dapat memikat hati banyak seorang lelaki disekitarnya. 

- puncak bukit;
 disinilah majnun bias mendapatkan kabar tentang keberadaan laila yang slama ini menghilang enth kemana.

-dikamar; 
  ditempat inilah majnun dapat menyampaikan salamnya melalui tatapan empat mata bersama laila.

-dikuburan; ditempat inilah cinta mereka akhirnya bias dipersatuka kembali dan disinilah cinta mereka akan abadi untu selamanya.

•	Konflik

 Ketika ayah majnun mengetahui peristiwa yang terjadi dirumah laila tersebut ia akhirnya memutuskan untuk mengakhiri drama gila-gilaan yang memalukan tersebut dengan cara melamar laila untuk putranya, tetepi apa yang terjadi setelah itu lemaran tersebut tidak disetujui oleh ayah laila dan majnun sangat kecewa sekali kepada ayah lalia. Dan pada itulah kesempatan ibnu salam untuk maju untuk mendapatkan hati laila, sayangnya cinta laila sedah terlalu mendalam kepada majnun dan tidak ada seorang pun yang dapat menggantikan majnun dihati laila.
Dan ibnu salam pun berusaha sekuat mungkin untuk mendapatkan laila dengan cara melakukan serangan terhadap keluarga laila yang pada akhirnya keluarga laila tersebut kalah dan ibnu salam menuntut ayahanda laila untuk menjadikan dia sebagai calon suami laila, dan akhirnya ayah setuju denanag tawaran tersebut.



•	Penyelesaiaan konflik

Setelah sekian lama menjadi suami istri, ibnu salam merasakan kesal karena usaha  yang dilakukan untuk mendapatkan hati laila tetap saja gagal dan tidak ada gunanya.
Akhirnya ibnu salam jatuh sakit dan sakit tersebut membawa ibnu salam kembali kepada sang khalik. Sejak kematian suaminya itu laila baru sadar bahwa ibnu salam mencintai dan menyayangi  dengan setulus hati.
Tak lama kemudian akhirnya laila terkena sakit batuk kronis yang tidak bisa diobati, penyakit yang sudah diderita laila sejak berbulan-bulan yang menyerang laila dengan hebat.
Dan akhirnya laila pun juga  kembali kepada sang khalik dan berita itu sampai ke telingah majnun, dengan kurang sadarkan diri akhirya majnun berjalan dan terus berjalan demi menemukan makam sang kekasih tersebut yang telah tiada.
Makam  tersebut berhasil ditemukan oleh majnun, dan mulai sejak saat itu majnun pun mengikuti langkah kemana laila pergi yakni dialam keabadian(surga) situlah cinta mereka bisa kembali lagi dan abadi untuk selamanya.  
Dikatakan kemudian bahwa terkadang seorang sufi mimpi dimana majnun muncul. Dan berada disisi Tuhannya dengan mentebut nama Laiyla.
•	Peran pelaku :bersifat antagonis.
•	Alur : maju.
•	Sudut pandang : pelaku utama orang pertama.
•	Kata pertama yang ada pada cerpen: kepala suku bani umar .
•	Kata terakhir  yang ada pada cerpen: meminum anggur cintaku.


•	Amanat 

 Kita harus berusaha semaksimal mungkin untuk bisa mencintai seseorang yang kita sayangi namun janganlah lupa satu hal yang pokok yang harus disampaikan yakni cintailah kekasih-mu dan janganlah sampai melebihi cintamu kepada sang khalik yakni yang mencipatakan  mu yaitu ALLAH swt.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kelompok 5</p>
<p>•	Tema : laila majnun<br />
•	Tokoh: laila, Qays, orang tua lalila, orang tua Qays,<br />
•	dan ibnu salam<br />
•	Watak :<br />
Watak laila;<br />
 &#8211; dia sangat mempunyai kesopanan yang luar biasa.<br />
-	Juga Dia mempunyai sifat yang lemah lembut<br />
-	Sabar menghadapi permasalah yang timbul<br />
-	lalu taat kepada orang tua.<br />
-	Sholehah.<br />
-	Mempunyai sifat yang setia.<br />
Watak Qays;-dia  pemuda yang sangat tampan.<br />
-	Dia juga baik hati.<br />
-	sholeh.<br />
-	cerdasaannya.<br />
-	Pemuda  yang sangat setia.<br />
-	Teguh pendiriannya<br />
-	Sabar<br />
-	Tidak mudah putus asa</p>
<p>Watak orang tua Qays :<br />
- selalu berusaha berkorban demi anaknya.<br />
-penyabar<br />
-pantang menyerah.<br />
-dan tetap berjuang keras demi kesuksesan anaknya.</p>
<p>Watak ibnusalam:<br />
- dia adalah seorang pemuda yang gagah.<br />
-dia juga seorang yang suka menolong.<br />
 &#8211; baik  hati.</p>
<p>•	Setting  : dirumah laila, dipuncak bukit, kamar dan dikuburan. </p>
<p>-  dirumah laila;<br />
 dimana di rumah inilahlaila dilahirkan dan dibesarkan      menjadi seorang perempuan yang sholihah yang dapat memikat hati banyak seorang lelaki disekitarnya. </p>
<p>- puncak bukit;<br />
 disinilah majnun bias mendapatkan kabar tentang keberadaan laila yang slama ini menghilang enth kemana.</p>
<p>-dikamar;<br />
  ditempat inilah majnun dapat menyampaikan salamnya melalui tatapan empat mata bersama laila.</p>
<p>-dikuburan; ditempat inilah cinta mereka akhirnya bias dipersatuka kembali dan disinilah cinta mereka akan abadi untu selamanya.</p>
<p>•	Konflik</p>
<p> Ketika ayah majnun mengetahui peristiwa yang terjadi dirumah laila tersebut ia akhirnya memutuskan untuk mengakhiri drama gila-gilaan yang memalukan tersebut dengan cara melamar laila untuk putranya, tetepi apa yang terjadi setelah itu lemaran tersebut tidak disetujui oleh ayah laila dan majnun sangat kecewa sekali kepada ayah lalia. Dan pada itulah kesempatan ibnu salam untuk maju untuk mendapatkan hati laila, sayangnya cinta laila sedah terlalu mendalam kepada majnun dan tidak ada seorang pun yang dapat menggantikan majnun dihati laila.<br />
Dan ibnu salam pun berusaha sekuat mungkin untuk mendapatkan laila dengan cara melakukan serangan terhadap keluarga laila yang pada akhirnya keluarga laila tersebut kalah dan ibnu salam menuntut ayahanda laila untuk menjadikan dia sebagai calon suami laila, dan akhirnya ayah setuju denanag tawaran tersebut.</p>
<p>•	Penyelesaiaan konflik</p>
<p>Setelah sekian lama menjadi suami istri, ibnu salam merasakan kesal karena usaha  yang dilakukan untuk mendapatkan hati laila tetap saja gagal dan tidak ada gunanya.<br />
Akhirnya ibnu salam jatuh sakit dan sakit tersebut membawa ibnu salam kembali kepada sang khalik. Sejak kematian suaminya itu laila baru sadar bahwa ibnu salam mencintai dan menyayangi  dengan setulus hati.<br />
Tak lama kemudian akhirnya laila terkena sakit batuk kronis yang tidak bisa diobati, penyakit yang sudah diderita laila sejak berbulan-bulan yang menyerang laila dengan hebat.<br />
Dan akhirnya laila pun juga  kembali kepada sang khalik dan berita itu sampai ke telingah majnun, dengan kurang sadarkan diri akhirya majnun berjalan dan terus berjalan demi menemukan makam sang kekasih tersebut yang telah tiada.<br />
Makam  tersebut berhasil ditemukan oleh majnun, dan mulai sejak saat itu majnun pun mengikuti langkah kemana laila pergi yakni dialam keabadian(surga) situlah cinta mereka bisa kembali lagi dan abadi untuk selamanya.<br />
Dikatakan kemudian bahwa terkadang seorang sufi mimpi dimana majnun muncul. Dan berada disisi Tuhannya dengan mentebut nama Laiyla.<br />
•	Peran pelaku :bersifat antagonis.<br />
•	Alur : maju.<br />
•	Sudut pandang : pelaku utama orang pertama.<br />
•	Kata pertama yang ada pada cerpen: kepala suku bani umar .<br />
•	Kata terakhir  yang ada pada cerpen: meminum anggur cintaku.</p>
<p>•	Amanat </p>
<p> Kita harus berusaha semaksimal mungkin untuk bisa mencintai seseorang yang kita sayangi namun janganlah lupa satu hal yang pokok yang harus disampaikan yakni cintailah kekasih-mu dan janganlah sampai melebihi cintamu kepada sang khalik yakni yang mencipatakan  mu yaitu ALLAH swt.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Unisma: Menyimak Sastra (A) by faridatul amalia npm:2110710035</title>
		<link>http://kataberkata.com/?page_id=295#comment-42</link>
		<dc:creator>faridatul amalia npm:2110710035</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 03 Dec 2011 07:28:15 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?page_id=295#comment-42</guid>
		<description>KOMENTAR NOVEL LAILA MAJNUN
	Tema : Percintaan dua orang yang tidak disetujui
	Tokoh : Qais, Laila, Ayah Laila, Ayah Qais, Abu Salam, Abu Amr
	Seting : kamar laila, sekolah, gua, ruang kelas, sebuah bukit dekat rumah laila, sungai kecil, gubuk.
	Alur : Maju       menceritakan kisah cinta antara laila dan qais mulai dia bertemu di sekolah  sampai akhir hayat.
	Watak tokoh : 
•	Qais: anak cerdas, berbakat dalam berpuisi, dapat mengubah syair, dan ia juga pandai berperang.
•	Laila : pandai, mudah bergaul, baik hati, rela berkorban demi orang yang di cintainya
•	Ayah qais : Baik hati ia rela memberikan semua hartanya untuk membahagiakan anak tungalnya.
•	Ayah laila : Baik, penyabar, tapi beliau tidak bisa mengerti perasaan laila malah laila dituntut untuk menikah dengan orang yang tidak dicintainya.
•	Abu amr : gagah berani dalam menghadapi semua orang dan masalahnya.
•	Abu salam : dia baik hati suka menolong.
	Teknik penceritaanya : cara penceritaanya sangat indah, kata- katanya indah dan mudah dimengerti, ceritanya juga runtut sehingga akhirnya tidak dapat di tebak.
	Sudut pandang : orang ketiga jamak. 
	Konflik  : konflik terjadi  ketika  hubungan percintaan laila dan qois diketahui  olah seorang yang kemudia dilaporkan ke ayah laila semenjak itu laila dikurung dan dilarang untuk meneruskan sekolah karena  adat keluarga laila anak gadis dilarang berpacaran yang ada adalah perjodohan. Semenjak itu qois tidak dapat hidup normal yang ada difikirannya hanya ada laila dan laila yang menyebabkan  tubuh tidak terawat yang akhirnya ia dijuluki majnun. Yang menyebabkan lamaran ayah qais ditolak oleh pihak keluarga laila.
Amanat : jangan pernah mencintai seseorang dengan keterlaluan dengan rela mengorbankan segala-galanya demi orang yang kita cinta karena cinta itu tak harus memiliki. Meski orang yang kita cintai juga mencintai kita tapi kita harus tahu bahwa orang yang kita cintai punya keluarga yang belum tentu menyetujui  hubungan kita.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>KOMENTAR NOVEL LAILA MAJNUN<br />
	Tema : Percintaan dua orang yang tidak disetujui<br />
	Tokoh : Qais, Laila, Ayah Laila, Ayah Qais, Abu Salam, Abu Amr<br />
	Seting : kamar laila, sekolah, gua, ruang kelas, sebuah bukit dekat rumah laila, sungai kecil, gubuk.<br />
	Alur : Maju       menceritakan kisah cinta antara laila dan qais mulai dia bertemu di sekolah  sampai akhir hayat.<br />
	Watak tokoh :<br />
•	Qais: anak cerdas, berbakat dalam berpuisi, dapat mengubah syair, dan ia juga pandai berperang.<br />
•	Laila : pandai, mudah bergaul, baik hati, rela berkorban demi orang yang di cintainya<br />
•	Ayah qais : Baik hati ia rela memberikan semua hartanya untuk membahagiakan anak tungalnya.<br />
•	Ayah laila : Baik, penyabar, tapi beliau tidak bisa mengerti perasaan laila malah laila dituntut untuk menikah dengan orang yang tidak dicintainya.<br />
•	Abu amr : gagah berani dalam menghadapi semua orang dan masalahnya.<br />
•	Abu salam : dia baik hati suka menolong.<br />
	Teknik penceritaanya : cara penceritaanya sangat indah, kata- katanya indah dan mudah dimengerti, ceritanya juga runtut sehingga akhirnya tidak dapat di tebak.<br />
	Sudut pandang : orang ketiga jamak.<br />
	Konflik  : konflik terjadi  ketika  hubungan percintaan laila dan qois diketahui  olah seorang yang kemudia dilaporkan ke ayah laila semenjak itu laila dikurung dan dilarang untuk meneruskan sekolah karena  adat keluarga laila anak gadis dilarang berpacaran yang ada adalah perjodohan. Semenjak itu qois tidak dapat hidup normal yang ada difikirannya hanya ada laila dan laila yang menyebabkan  tubuh tidak terawat yang akhirnya ia dijuluki majnun. Yang menyebabkan lamaran ayah qais ditolak oleh pihak keluarga laila.<br />
Amanat : jangan pernah mencintai seseorang dengan keterlaluan dengan rela mengorbankan segala-galanya demi orang yang kita cinta karena cinta itu tak harus memiliki. Meski orang yang kita cintai juga mencintai kita tapi kita harus tahu bahwa orang yang kita cintai punya keluarga yang belum tentu menyetujui  hubungan kita.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Unisma: Menyimak Sastra (A) by wahidah, npm:2110710014</title>
		<link>http://kataberkata.com/?page_id=295#comment-40</link>
		<dc:creator>wahidah, npm:2110710014</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 03 Dec 2011 07:10:33 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?page_id=295#comment-40</guid>
		<description>Kelompok 5

•	Tema : laila majnun
•	Tokoh: laila, Qays, orang tua lalila, orang tua Qays,
•	dan ibnu salam 
•	Watak : 
Watak laila; 
 - dia sangat mempunyai kesopanan yang luar biasa.
-	Juga Dia mempunyai sifat yang lemah lembut
-	Sabar menghadapi permasalah yang timbul
-	lalu taat kepada orang tua.
-	Sholehah.
-	Mempunyai sifat yang setia. 
Watak Qays;-dia  pemuda yang sangat tampan.
-	Dia juga baik hati.
-	sholeh.
-	cerdasaannya.
-	Pemuda  yang sangat setia.
-	Teguh pendiriannya
-	Sabar
-	Tidak mudah putus asa

Watak orang tua Qays :
- selalu berusaha berkorban demi anaknya.
-penyabar
-pantang menyerah.
-dan tetap berjuang keras demi kesuksesan anaknya.

Watak ibnusalam:  
- dia adalah seorang pemuda yang gagah.
-dia juga seorang yang suka menolong.
- baik  hati.
    




•	Setting  : dirumah laila, dipuncak bukit, kamar dan dikuburan. 

-  dirumah laila;
 dimana di rumah inilahlaila dilahirkan dan dibesarkan      menjadi seorang perempuan yang sholihah yang dapat memikat hati banyak seorang lelaki disekitarnya. 

- puncak bukit;
 disinilah majnun bias mendapatkan kabar tentang keberadaan laila yang slama ini menghilang enth kemana.

-dikamar; 
  ditempat inilah majnun dapat menyampaikan salamnya melalui tatapan empat mata bersama laila.

-dikuburan; ditempat inilah cinta mereka akhirnya bias dipersatuka kembali dan disinilah cinta mereka akan abadi untu selamanya.

•	Konflik

 Ketika ayah majnun mengetahui peristiwa yang terjadi dirumah laila tersebut ia akhirnya memutuskan untuk mengakhiri drama gila-gilaan yang memalukan tersebut dengan cara melamar laila untuk putranya, tetepi apa yang terjadi setelah itu lemaran tersebut tidak disetujui oleh ayah laila dan majnun sangat kecewa sekali kepada ayah lalia. Dan pada itulah kesempatan ibnu salam untuk maju untuk mendapatkan hati laila, sayangnya cinta laila sedah terlalu mendalam kepada majnun dan tidak ada seorang pun yang dapat menggantikan majnun dihati laila.
Dan ibnu salam pun berusaha sekuat mungkin untuk mendapatkan laila dengan cara melakukan serangan terhadap keluarga laila yang pada akhirnya keluarga laila tersebut kalah dan ibnu salam menuntut ayahanda laila untuk menjadikan dia sebagai calon suami laila, dan akhirnya ayah setuju denanag tawaran tersebut.
Dan tidak lama kemudian mereka pun menjadi suami istri, tapi selama menjadi suami istri laila tidak pernah bicara kepada sang suami karna bagaimana pun cinta laila tidak bias digantian oleh siapapun.


•	Penyelesaiaan konflik

Setelah sekian lama menjadi suami istri, ibnu salam merasakan kesal karena usaha  yang dilakukan untuk mendapatkan hati laila tetap saja gagal dan tidak ada gunanya.
Akhirnya ibnu salam jatuh sakit dan sakit tersebut membawa ibnu salam kembali kepada sang khalik. Sejak kematian suaminya itu laila baru sadar bahwa ibnu salam mencintai dan menyayangi  dengan setulus hati.
Tak lama kemudian akhirnya laila terkena sakit batuk kronis yang tidak bisa diobati, penyakit yang sudah diderita laila sejak berbulan-bulan yang menyerang laila dengan hebat.
Dan akhirnya laila pun juga  kembali kepada sang khalik dan berita itu sampai ke telingah majnun, dengan kurang sadarkan diri akhirya majnun berjalan dan terus berjalan demi menemukan makam sang kekasih tersebut yang telah tiada.
Makam  tersebut berhasil ditemukan oleh majnun, dan mulai sejak saat itu majnun pun mengikuti langkah kemana laila pergi yakni dialam keabadian(surga) situlah cinta mereka bisa kembali lagi dan abadi untuk selamanya.  
Dikatakan kemudian bahwa terkadang seorang sufi mimpi dimana majnun muncul. Dan berada disisi Tuhannya dengan mentebut nama Laiyla.
•	Peran pelaku :bersifat antagonis.
•	Alur : maju.
•	Sudut pandang : pelaku utama orang pertama.
•	Kata pertama yang ada pada cerpen: kepala suku bani umar .
•	Kata terakhir  yang ada pada cerpen: meminum anggur cintaku.

•	Nilai-nilai sosial

didalam kehidupan sehari-hari kita tidak akan luput dari suatu masalah dan persoalan. sebagai makhluk hidup yang kita saling membutuhkan satu sama lainnya dalam mengatasi persoalan. Didalam novel ini nilai-nilai sosial yaitui pada saat cobaan menimpa terhadap cinta laila dan majnun, majnun pun berusaha mencari cintanya yang telah sirna. 
Namun majnun  pun memerlukan orang lain untuk membantu masalahny Dan dalam hal ini ibnu salam pun membantu majnun.
Dalam uraian diatas sudah jelaskah cerita dari novel tersebut bahwa nilai yang terkandung yakni nilai-nilai sosial yang ada.


•	Amanat 

 Kita harus berusaha semaksimal mungkin untuk bisa mencintai seseorang yang kita sayangi namun janganlah lupa satu hal yang pokok yang harus disampaikan yakni cintailah kekasih-mu dan janganlah sampai melebihi cintamu kepada sang khalik yakni yang mencipatakan  mu yaitu ALLAH swt. Dan juga kita harus memperjungkn apa yang ikat inginkn semampu dan sekuat kita.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kelompok 5</p>
<p>•	Tema : laila majnun<br />
•	Tokoh: laila, Qays, orang tua lalila, orang tua Qays,<br />
•	dan ibnu salam<br />
•	Watak :<br />
Watak laila;<br />
 &#8211; dia sangat mempunyai kesopanan yang luar biasa.<br />
-	Juga Dia mempunyai sifat yang lemah lembut<br />
-	Sabar menghadapi permasalah yang timbul<br />
-	lalu taat kepada orang tua.<br />
-	Sholehah.<br />
-	Mempunyai sifat yang setia.<br />
Watak Qays;-dia  pemuda yang sangat tampan.<br />
-	Dia juga baik hati.<br />
-	sholeh.<br />
-	cerdasaannya.<br />
-	Pemuda  yang sangat setia.<br />
-	Teguh pendiriannya<br />
-	Sabar<br />
-	Tidak mudah putus asa</p>
<p>Watak orang tua Qays :<br />
- selalu berusaha berkorban demi anaknya.<br />
-penyabar<br />
-pantang menyerah.<br />
-dan tetap berjuang keras demi kesuksesan anaknya.</p>
<p>Watak ibnusalam:<br />
- dia adalah seorang pemuda yang gagah.<br />
-dia juga seorang yang suka menolong.<br />
- baik  hati.</p>
<p>•	Setting  : dirumah laila, dipuncak bukit, kamar dan dikuburan. </p>
<p>-  dirumah laila;<br />
 dimana di rumah inilahlaila dilahirkan dan dibesarkan      menjadi seorang perempuan yang sholihah yang dapat memikat hati banyak seorang lelaki disekitarnya. </p>
<p>- puncak bukit;<br />
 disinilah majnun bias mendapatkan kabar tentang keberadaan laila yang slama ini menghilang enth kemana.</p>
<p>-dikamar;<br />
  ditempat inilah majnun dapat menyampaikan salamnya melalui tatapan empat mata bersama laila.</p>
<p>-dikuburan; ditempat inilah cinta mereka akhirnya bias dipersatuka kembali dan disinilah cinta mereka akan abadi untu selamanya.</p>
<p>•	Konflik</p>
<p> Ketika ayah majnun mengetahui peristiwa yang terjadi dirumah laila tersebut ia akhirnya memutuskan untuk mengakhiri drama gila-gilaan yang memalukan tersebut dengan cara melamar laila untuk putranya, tetepi apa yang terjadi setelah itu lemaran tersebut tidak disetujui oleh ayah laila dan majnun sangat kecewa sekali kepada ayah lalia. Dan pada itulah kesempatan ibnu salam untuk maju untuk mendapatkan hati laila, sayangnya cinta laila sedah terlalu mendalam kepada majnun dan tidak ada seorang pun yang dapat menggantikan majnun dihati laila.<br />
Dan ibnu salam pun berusaha sekuat mungkin untuk mendapatkan laila dengan cara melakukan serangan terhadap keluarga laila yang pada akhirnya keluarga laila tersebut kalah dan ibnu salam menuntut ayahanda laila untuk menjadikan dia sebagai calon suami laila, dan akhirnya ayah setuju denanag tawaran tersebut.<br />
Dan tidak lama kemudian mereka pun menjadi suami istri, tapi selama menjadi suami istri laila tidak pernah bicara kepada sang suami karna bagaimana pun cinta laila tidak bias digantian oleh siapapun.</p>
<p>•	Penyelesaiaan konflik</p>
<p>Setelah sekian lama menjadi suami istri, ibnu salam merasakan kesal karena usaha  yang dilakukan untuk mendapatkan hati laila tetap saja gagal dan tidak ada gunanya.<br />
Akhirnya ibnu salam jatuh sakit dan sakit tersebut membawa ibnu salam kembali kepada sang khalik. Sejak kematian suaminya itu laila baru sadar bahwa ibnu salam mencintai dan menyayangi  dengan setulus hati.<br />
Tak lama kemudian akhirnya laila terkena sakit batuk kronis yang tidak bisa diobati, penyakit yang sudah diderita laila sejak berbulan-bulan yang menyerang laila dengan hebat.<br />
Dan akhirnya laila pun juga  kembali kepada sang khalik dan berita itu sampai ke telingah majnun, dengan kurang sadarkan diri akhirya majnun berjalan dan terus berjalan demi menemukan makam sang kekasih tersebut yang telah tiada.<br />
Makam  tersebut berhasil ditemukan oleh majnun, dan mulai sejak saat itu majnun pun mengikuti langkah kemana laila pergi yakni dialam keabadian(surga) situlah cinta mereka bisa kembali lagi dan abadi untuk selamanya.<br />
Dikatakan kemudian bahwa terkadang seorang sufi mimpi dimana majnun muncul. Dan berada disisi Tuhannya dengan mentebut nama Laiyla.<br />
•	Peran pelaku :bersifat antagonis.<br />
•	Alur : maju.<br />
•	Sudut pandang : pelaku utama orang pertama.<br />
•	Kata pertama yang ada pada cerpen: kepala suku bani umar .<br />
•	Kata terakhir  yang ada pada cerpen: meminum anggur cintaku.</p>
<p>•	Nilai-nilai sosial</p>
<p>didalam kehidupan sehari-hari kita tidak akan luput dari suatu masalah dan persoalan. sebagai makhluk hidup yang kita saling membutuhkan satu sama lainnya dalam mengatasi persoalan. Didalam novel ini nilai-nilai sosial yaitui pada saat cobaan menimpa terhadap cinta laila dan majnun, majnun pun berusaha mencari cintanya yang telah sirna.<br />
Namun majnun  pun memerlukan orang lain untuk membantu masalahny Dan dalam hal ini ibnu salam pun membantu majnun.<br />
Dalam uraian diatas sudah jelaskah cerita dari novel tersebut bahwa nilai yang terkandung yakni nilai-nilai sosial yang ada.</p>
<p>•	Amanat </p>
<p> Kita harus berusaha semaksimal mungkin untuk bisa mencintai seseorang yang kita sayangi namun janganlah lupa satu hal yang pokok yang harus disampaikan yakni cintailah kekasih-mu dan janganlah sampai melebihi cintamu kepada sang khalik yakni yang mencipatakan  mu yaitu ALLAH swt. Dan juga kita harus memperjungkn apa yang ikat inginkn semampu dan sekuat kita.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Unisma: Menyimak Sastra (B) by Eka Maria Susanti NPM:2110710054</title>
		<link>http://kataberkata.com/?page_id=297#comment-39</link>
		<dc:creator>Eka Maria Susanti NPM:2110710054</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 03 Dec 2011 06:20:44 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?page_id=297#comment-39</guid>
		<description>&quot;PERADILAN RAKYAT&quot;

Tema    : Keadilan
Alur    : Maju
Latar   : - suasana : tegang,mengharukan,menyedihkan
          - tempat  : rumah pengacara tua
          - waktu   : siang hari
Konflik : memburu keadilan
Diksi   : bahasanya mudah dipahami
Tokoh   : - pengacara muda
          - pengacara tua
          - sekretaris
          - rakyat 
Penokohan: - pengacara muda : profesional,tegas,
           - pengacara tua  : bijaksana,tegas,penyayang,profesional
           - rakyat         : adil
           - sekretaris     : baik hati
Amanat   : - Jangan membela sesuatu yang salah
           - Bila ingin memutuskan sesuatu keputusan sebaiknya dipikir secara matang dan mempertimbangkan akibatnya.
Sudut pandang : orang ketiga pelaku utama

KOMENTAR :Cerpen ini bisa memberikan pelajaran bagi kita terutama tentang hukum,kita menjadi tahu kalau negara kita sangat lemah sekali hukumnya.
Pembaca akan mudah memahami karena menggunakan bahsa yang tidak baku.
Konflik dalam cerpen ini mungkin kurang lebih seru..........
dan endingnya terlalu begitu cepat.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;PERADILAN RAKYAT&#8221;</p>
<p>Tema    : Keadilan<br />
Alur    : Maju<br />
Latar   : &#8211; suasana : tegang,mengharukan,menyedihkan<br />
          &#8211; tempat  : rumah pengacara tua<br />
          &#8211; waktu   : siang hari<br />
Konflik : memburu keadilan<br />
Diksi   : bahasanya mudah dipahami<br />
Tokoh   : &#8211; pengacara muda<br />
          &#8211; pengacara tua<br />
          &#8211; sekretaris<br />
          &#8211; rakyat<br />
Penokohan: &#8211; pengacara muda : profesional,tegas,<br />
           &#8211; pengacara tua  : bijaksana,tegas,penyayang,profesional<br />
           &#8211; rakyat         : adil<br />
           &#8211; sekretaris     : baik hati<br />
Amanat   : &#8211; Jangan membela sesuatu yang salah<br />
           &#8211; Bila ingin memutuskan sesuatu keputusan sebaiknya dipikir secara matang dan mempertimbangkan akibatnya.<br />
Sudut pandang : orang ketiga pelaku utama</p>
<p>KOMENTAR :Cerpen ini bisa memberikan pelajaran bagi kita terutama tentang hukum,kita menjadi tahu kalau negara kita sangat lemah sekali hukumnya.<br />
Pembaca akan mudah memahami karena menggunakan bahsa yang tidak baku.<br />
Konflik dalam cerpen ini mungkin kurang lebih seru&#8230;&#8230;&#8230;.<br />
dan endingnya terlalu begitu cepat.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Unisma: Menyimak Sastra (B) by Maulidia Saputri_2110710057</title>
		<link>http://kataberkata.com/?page_id=297#comment-37</link>
		<dc:creator>Maulidia Saputri_2110710057</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 03 Dec 2011 06:14:18 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?page_id=297#comment-37</guid>
		<description>Maulidia Saputri
2110710057
PBSI/FKIP
1B

Menganalisis Cerpen dalam Audio atau Video
Unsur Intrinsik

1. Judul	: Peradilan Rakyat
2. Karya	: Putu Widaya
3. Tema	: Keadilan di Masyarakat
4. Alur		: Maju 
5. Penokohan dan Perwatakan
a)  Pengacara Muda : seorang pemuda yang tegas, kritis, tekun, dan profesional terhadap pekerjaannya sebagai seorang pengacara. 
Bukti Pendukung :
“Aku tidak datang untuk menentang atau memuji Anda. Anda dengan seluruh sejarah Anda memang terlalu besar untuk dibicarakan. Meskipun bukan bebas dari kritik. Aku punya sederetan koreksi terhadap kebijakan-kebijakan yang sudah Anda lakukan. Dan aku terlalu kecil untuk menentang bahkan juga terlalu tak pantas untuk memujimu. Anda sudah tidak memerlukan cercaan atau pujian lagi. Karena kau bukan hanya penegak keadilan yang bersih, kau yang selalu berhasil dan sempurna, tetapi kau juga adalah keadilan itu sendiri”

b) Pengacara Senior (ayah): Memiliki bijaksana, penyayang, rendah hati. 
	Bukti Pendukung
“Aku kira tak ada yang perlu dibahas lagi. Sudah jelas. Lebih baik kamu pulang sekarang. Biarkan aku bertemu dengan putraku, sebab aku sudah sangat rindu kepada dia.”

c) Sekretaris, perhatian, baik hati, cantik . Bukti Pendukung :
“Sekretarisnya yang jelita, kemudian menyelimuti tubuhnya. Setelah itu wanita itu menoleh kepada pengacara muda.”
“Maaf, saya kira pertemuan harus diakhiri di sini, Pak. Beliau perlu banyak beristirahat. Selamat malam.”

6.Latar 
   Latar tempat : 
Kantor dan di rumah

7.) Sudut Pandang
     Orang ketiga Pelaku Utama
5. Gaya Bahasa
Bahasa dalam cerpen memilki peran ganda, bahasa tidak hanya berfungsi sebagai penyampai gagasan pengarang. Namun juga sebagai penyampai perasaannya. 
6.  Amanat
Dari cerpen “Peradilan Rakyat” karya Putu Wijaya ini dapat diambil hikmah, dalam mengambil pilihan hidup itu kita seharusnya sebagai manusia, harus menggunakan pikiran serta perasaan. Sehingga pilihan yang kita ambil tersebut tidak merugikan diri sendiri dan orang lain.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Maulidia Saputri<br />
2110710057<br />
PBSI/FKIP<br />
1B</p>
<p>Menganalisis Cerpen dalam Audio atau Video<br />
Unsur Intrinsik</p>
<p>1. Judul	: Peradilan Rakyat<br />
2. Karya	: Putu Widaya<br />
3. Tema	: Keadilan di Masyarakat<br />
4. Alur		: Maju<br />
5. Penokohan dan Perwatakan<br />
a)  Pengacara Muda : seorang pemuda yang tegas, kritis, tekun, dan profesional terhadap pekerjaannya sebagai seorang pengacara.<br />
Bukti Pendukung :<br />
“Aku tidak datang untuk menentang atau memuji Anda. Anda dengan seluruh sejarah Anda memang terlalu besar untuk dibicarakan. Meskipun bukan bebas dari kritik. Aku punya sederetan koreksi terhadap kebijakan-kebijakan yang sudah Anda lakukan. Dan aku terlalu kecil untuk menentang bahkan juga terlalu tak pantas untuk memujimu. Anda sudah tidak memerlukan cercaan atau pujian lagi. Karena kau bukan hanya penegak keadilan yang bersih, kau yang selalu berhasil dan sempurna, tetapi kau juga adalah keadilan itu sendiri”</p>
<p>b) Pengacara Senior (ayah): Memiliki bijaksana, penyayang, rendah hati.<br />
	Bukti Pendukung<br />
“Aku kira tak ada yang perlu dibahas lagi. Sudah jelas. Lebih baik kamu pulang sekarang. Biarkan aku bertemu dengan putraku, sebab aku sudah sangat rindu kepada dia.”</p>
<p>c) Sekretaris, perhatian, baik hati, cantik . Bukti Pendukung :<br />
“Sekretarisnya yang jelita, kemudian menyelimuti tubuhnya. Setelah itu wanita itu menoleh kepada pengacara muda.”<br />
“Maaf, saya kira pertemuan harus diakhiri di sini, Pak. Beliau perlu banyak beristirahat. Selamat malam.”</p>
<p>6.Latar<br />
   Latar tempat :<br />
Kantor dan di rumah</p>
<p>7.) Sudut Pandang<br />
     Orang ketiga Pelaku Utama<br />
5. Gaya Bahasa<br />
Bahasa dalam cerpen memilki peran ganda, bahasa tidak hanya berfungsi sebagai penyampai gagasan pengarang. Namun juga sebagai penyampai perasaannya.<br />
6.  Amanat<br />
Dari cerpen “Peradilan Rakyat” karya Putu Wijaya ini dapat diambil hikmah, dalam mengambil pilihan hidup itu kita seharusnya sebagai manusia, harus menggunakan pikiran serta perasaan. Sehingga pilihan yang kita ambil tersebut tidak merugikan diri sendiri dan orang lain.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Unisma: Menyimak Sastra (B) by SRI ARAFATTUN_2110710061</title>
		<link>http://kataberkata.com/?page_id=297#comment-36</link>
		<dc:creator>SRI ARAFATTUN_2110710061</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 03 Dec 2011 06:06:50 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?page_id=297#comment-36</guid>
		<description>NAMA : SRI ARAFATTUN
NPM : 2110710061
KLS : 1B / PBSI

ANALISIS CERPEN “PERADILAN RAKYAT”
Tema:KEADILAN
Penokohan:Pengacara muda,pengacara tua
Watak:pengacara muda:pandai,baik,egois
Pengacara tua:pandai,baik,pengertian
Setting:pada malam hari,dirumah pengacara tua
Alur:Maju
Gaya bahasa:menggunakan majas PERSONIFIKASI
Tehnik penceritaan:Pengacara muda mendatangi rumah ayahnya(pengacara tua)ia kesana
bukan sebagai seorang anak,melainkan sebagai seorang profesional yang ingin membicarakan masalah keadilan dan kasus yang akan ditanganinya.setelah ia berbincang-bincang sejenak dengan pengacara tua tersebut,ia mulai menjelaskan maksud kedatangannya,bahwa dia ingin membicarakan masalah keadilan.
Pengacara muda itupun mulai menjelaskan bahwa dirinya mendapat tugas dari negara untuk membela seorang penjahat besar yang pantasnya untuk dihukum mati awalnya dia menolak mentah-mentah tugas tersebut,tapi setelah penjahat tersebut dia pun manerima tugas itu.pengacara tua hanya mengelus-elus jenggotnya,sementara pengacara muda masih tetap menjelaskan.
Pengacara tua bertanya apakah anakx menerima kasus tersebut karena mengharapkan balas jasa atau sebagainya.pengacara muda menjawab tidak sama sekali.
Pengacara tua menjawab,”keputusan yang kau ambil itu sudah tepat”.
Setelah berkata begitu,pangacara tua menyuruh pengacara muda tersebut pulang dan melaksanakan tugasnya sebagai seorang yang profesional.
Pengacara muda tersebut memenangkan kasus yang ditanganinya,penjahat itu tertawa terkekeh-kekeh dan merayakan kemenangannya dengan mengadakan pesta kembang api semalam suntuk.Rakyat pun marah dan gedung pengadilan diserbu,hakimnya diburu,dan pengacara muda diculik,disiksa,dan akhirnya dikembalikan sesudah menjadi mayat.
Pengacara tua duduk dan terdiam dikursi rodanya mendengarkan berita-berita ganas yang merebak diseluruh wilayah yang dibacakan oleh sekertarisnya. Air matapun menetes dipipi pengacara besar tersebut.

Amanat: jangan menganggap remeh suatu masalah,dan jangan mengambil keputusan tanpa memikirkan resiko yang akan didapat karena akan merugikan diri kita sendiri.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>NAMA : SRI ARAFATTUN<br />
NPM : 2110710061<br />
KLS : 1B / PBSI</p>
<p>ANALISIS CERPEN “PERADILAN RAKYAT”<br />
Tema:KEADILAN<br />
Penokohan:Pengacara muda,pengacara tua<br />
Watak:pengacara muda:pandai,baik,egois<br />
Pengacara tua:pandai,baik,pengertian<br />
Setting:pada malam hari,dirumah pengacara tua<br />
Alur:Maju<br />
Gaya bahasa:menggunakan majas PERSONIFIKASI<br />
Tehnik penceritaan:Pengacara muda mendatangi rumah ayahnya(pengacara tua)ia kesana<br />
bukan sebagai seorang anak,melainkan sebagai seorang profesional yang ingin membicarakan masalah keadilan dan kasus yang akan ditanganinya.setelah ia berbincang-bincang sejenak dengan pengacara tua tersebut,ia mulai menjelaskan maksud kedatangannya,bahwa dia ingin membicarakan masalah keadilan.<br />
Pengacara muda itupun mulai menjelaskan bahwa dirinya mendapat tugas dari negara untuk membela seorang penjahat besar yang pantasnya untuk dihukum mati awalnya dia menolak mentah-mentah tugas tersebut,tapi setelah penjahat tersebut dia pun manerima tugas itu.pengacara tua hanya mengelus-elus jenggotnya,sementara pengacara muda masih tetap menjelaskan.<br />
Pengacara tua bertanya apakah anakx menerima kasus tersebut karena mengharapkan balas jasa atau sebagainya.pengacara muda menjawab tidak sama sekali.<br />
Pengacara tua menjawab,”keputusan yang kau ambil itu sudah tepat”.<br />
Setelah berkata begitu,pangacara tua menyuruh pengacara muda tersebut pulang dan melaksanakan tugasnya sebagai seorang yang profesional.<br />
Pengacara muda tersebut memenangkan kasus yang ditanganinya,penjahat itu tertawa terkekeh-kekeh dan merayakan kemenangannya dengan mengadakan pesta kembang api semalam suntuk.Rakyat pun marah dan gedung pengadilan diserbu,hakimnya diburu,dan pengacara muda diculik,disiksa,dan akhirnya dikembalikan sesudah menjadi mayat.<br />
Pengacara tua duduk dan terdiam dikursi rodanya mendengarkan berita-berita ganas yang merebak diseluruh wilayah yang dibacakan oleh sekertarisnya. Air matapun menetes dipipi pengacara besar tersebut.</p>
<p>Amanat: jangan menganggap remeh suatu masalah,dan jangan mengambil keputusan tanpa memikirkan resiko yang akan didapat karena akan merugikan diri kita sendiri.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Unisma: Menyimak Sastra (B) by Diah Fajriatul Fitri 211.071.0056</title>
		<link>http://kataberkata.com/?page_id=297#comment-35</link>
		<dc:creator>Diah Fajriatul Fitri 211.071.0056</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 03 Dec 2011 06:02:20 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?page_id=297#comment-35</guid>
		<description>Nama; Diah Fajriatul Fitri 211.071.0056
Tema;Politik.
Judul;Peradilan Rakyat.
Pengaran;Putu Wijaya.
website;http://kumpulan-cerpen.blogspot.com/
Tokoh;Pengacara muda(anak),,pengacara senior (ayah).
Setting;rumah.
Alur; maju.
Amanat; sebagai seorang pengacara, harus diajarkan konsisten dengan hukum yang berlaku pada negara dan menjunjung tinggi profesionalisme dalam bekerja, serta tanggung jawabnya sebagai seorang yang berada dalam suatu proses keadilan.
Komentar;Pemilihan kata-katanya dan sudut pandang dari penulis sulit dipahami oleh masyarakat awam, masih ada maksud-maksud yang sulit tersampaikan bagi pembaca.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Nama; Diah Fajriatul Fitri 211.071.0056<br />
Tema;Politik.<br />
Judul;Peradilan Rakyat.<br />
Pengaran;Putu Wijaya.<br />
website;<a href="http://kumpulan-cerpen.blogspot.com/" rel="nofollow">http://kumpulan-cerpen.blogspot.com/</a><br />
Tokoh;Pengacara muda(anak),,pengacara senior (ayah).<br />
Setting;rumah.<br />
Alur; maju.<br />
Amanat; sebagai seorang pengacara, harus diajarkan konsisten dengan hukum yang berlaku pada negara dan menjunjung tinggi profesionalisme dalam bekerja, serta tanggung jawabnya sebagai seorang yang berada dalam suatu proses keadilan.<br />
Komentar;Pemilihan kata-katanya dan sudut pandang dari penulis sulit dipahami oleh masyarakat awam, masih ada maksud-maksud yang sulit tersampaikan bagi pembaca.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Unisma: Menyimak Sastra (B) by Diah Fajriatul Fitri 211.071.0056</title>
		<link>http://kataberkata.com/?page_id=297#comment-34</link>
		<dc:creator>Diah Fajriatul Fitri 211.071.0056</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 03 Dec 2011 06:01:08 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?page_id=297#comment-34</guid>
		<description>Nama; Diah Fajriatul Fitri  211.071.0056
Tema;Politik.
Judul;Peradilan Rakyat.
Pengaran;Putu Wijaya.
website;http://kumpulan-cerpen.blogspot.com/
Tokoh;Pengacara muda(anak),,pengacara senior (ayah).
Setting;rumah.
Alur; mundur.
Amanat; sebagai seorang pengacara, harus diajarkan konsisten dengan hukum yang berlaku pada negara dan menjunjung tinggi profesionalisme dalam bekerja, serta tanggung jawabnya sebagai seorang yang berada dalam suatu proses keadilan.
Komentar;Pemilihan kata-katanya dan sudut pandang dari penulis sulit dipahami oleh masyarakat awam, masih ada maksud-maksud yang sulit tersampaikan bagi pembaca.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Nama; Diah Fajriatul Fitri  211.071.0056<br />
Tema;Politik.<br />
Judul;Peradilan Rakyat.<br />
Pengaran;Putu Wijaya.<br />
website;<a href="http://kumpulan-cerpen.blogspot.com/" rel="nofollow">http://kumpulan-cerpen.blogspot.com/</a><br />
Tokoh;Pengacara muda(anak),,pengacara senior (ayah).<br />
Setting;rumah.<br />
Alur; mundur.<br />
Amanat; sebagai seorang pengacara, harus diajarkan konsisten dengan hukum yang berlaku pada negara dan menjunjung tinggi profesionalisme dalam bekerja, serta tanggung jawabnya sebagai seorang yang berada dalam suatu proses keadilan.<br />
Komentar;Pemilihan kata-katanya dan sudut pandang dari penulis sulit dipahami oleh masyarakat awam, masih ada maksud-maksud yang sulit tersampaikan bagi pembaca.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Unisma: Menyimak Sastra (B) by Diah Fajriatul Fitri</title>
		<link>http://kataberkata.com/?page_id=297#comment-33</link>
		<dc:creator>Diah Fajriatul Fitri</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 03 Dec 2011 05:57:29 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?page_id=297#comment-33</guid>
		<description>Tema;Politik.
Judul;Peradilan Rakyat.
Pengaran;Putu Wijaya.
website;http://kumpulan-cerpen.blogspot.com/
Tokoh;Pengacara muda(anak),,pengacara senior (ayah).
Setting;rumah.
Alur; mundur.
Amanat; sebagai seorang pengacara, harus diajarkan konsisten dengan hukum yang berlaku pada negara dan menjunjung tinggi profesionalisme dalam bekerja, serta tanggung jawabnya sebagai seorang yang berada dalam suatu proses keadilan.
Komentar;Pemilihan kata-katanya dan sudut pandang dari penulis sulit dipahami oleh masyarakat awam, masih ada maksud-maksud yang sulit tersampaikan bagi pembaca.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Tema;Politik.<br />
Judul;Peradilan Rakyat.<br />
Pengaran;Putu Wijaya.<br />
website;<a href="http://kumpulan-cerpen.blogspot.com/" rel="nofollow">http://kumpulan-cerpen.blogspot.com/</a><br />
Tokoh;Pengacara muda(anak),,pengacara senior (ayah).<br />
Setting;rumah.<br />
Alur; mundur.<br />
Amanat; sebagai seorang pengacara, harus diajarkan konsisten dengan hukum yang berlaku pada negara dan menjunjung tinggi profesionalisme dalam bekerja, serta tanggung jawabnya sebagai seorang yang berada dalam suatu proses keadilan.<br />
Komentar;Pemilihan kata-katanya dan sudut pandang dari penulis sulit dipahami oleh masyarakat awam, masih ada maksud-maksud yang sulit tersampaikan bagi pembaca.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Unisma: Menyimak Sastra (B) by Diah Fajriatul Fitri</title>
		<link>http://kataberkata.com/?page_id=297#comment-32</link>
		<dc:creator>Diah Fajriatul Fitri</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 03 Dec 2011 05:55:10 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?page_id=297#comment-32</guid>
		<description>Tema;Politik
Judul;Peradilan Rakyat
Pengaran;Putu Wijaya
Tokoh;Pengacara muda(anak),,pengacara senior (ayah)
Setting;rumah
Alur; mundur
Amanat; sebagai seorang pengacara, harus diajarkan konsisten dengan hukum yang berlaku pada negara dan menjunjung tinggi profesionalisme dalam bekerja, serta tanggung jawabnya sebagai seorang yang berada dalam suatu proses keadilan.
Komentar;Pemilihan kata-katanya dan sudut pandang dari penulis sulit dipahami oleh masyarakat awam, masih ada maksud-maksud yang sulit tersampaikan bagi pembaca.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Tema;Politik<br />
Judul;Peradilan Rakyat<br />
Pengaran;Putu Wijaya<br />
Tokoh;Pengacara muda(anak),,pengacara senior (ayah)<br />
Setting;rumah<br />
Alur; mundur<br />
Amanat; sebagai seorang pengacara, harus diajarkan konsisten dengan hukum yang berlaku pada negara dan menjunjung tinggi profesionalisme dalam bekerja, serta tanggung jawabnya sebagai seorang yang berada dalam suatu proses keadilan.<br />
Komentar;Pemilihan kata-katanya dan sudut pandang dari penulis sulit dipahami oleh masyarakat awam, masih ada maksud-maksud yang sulit tersampaikan bagi pembaca.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Unisma: Menyimak Sastra (B) by Eka Maria Susanti NPM:2110710054</title>
		<link>http://kataberkata.com/?page_id=297#comment-30</link>
		<dc:creator>Eka Maria Susanti NPM:2110710054</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 03 Dec 2011 05:39:37 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?page_id=297#comment-30</guid>
		<description>&quot;PERADILAN RAKYAT&quot;

Tema</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;PERADILAN RAKYAT&#8221;</p>
<p>Tema</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Unisma: Menyimak Sastra (B) by HETRIANI</title>
		<link>http://kataberkata.com/?page_id=297#comment-29</link>
		<dc:creator>HETRIANI</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 03 Dec 2011 04:04:23 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?page_id=297#comment-29</guid>
		<description>NAMA  :HETRIANI
KELAS :1B
NPM   :211O710073
TUGAS : MENGANALISIS CERPEN
JUDUL
(PERADILAN RAKYAT)


ALUR      :Maju
SETTING   :Dikantor,dirumah, digedung pengadilan,di ruang sidang terbuka
TOKOH     :Pengecara muda,pengecara tua,sekretaris,penjahat.
KARAKTER/TOKOH:
•	Seorang pengacara muda: ingin menegakkan hukum dari pengajaran keadilan dan  ke benaran yang professional
•	Seorang pengecara tua : memperjuang demi menegakkan keadilan
•	Seorang sekretaris  : memberikan nasehat ke pada pengecara
•	Penjahat                   : perusak negara

SUDUT PANDANG
	Seorang pengecara muda adalah seoarang pengecara yang cemerlang mengunjungi ayahnya,pengecara yang dihormati oleh para penegak hukum. Pengecara muda akan membela penjahat besar,yang sepantasnya mendapat hukuman mati. 
. Sebagai seorang pengacara ia tidak bisa menolak siapa pun orangnya yang meminta agar kamu melaksanakan kewajibannya sebagai pembela, .memang Tidak ada kemenangan di dalam pemburuan keadilan. Yang ada hanya usaha untuk mendekati apa yang lebih benar.
Seperti yang kamu katakan tadi, salah atau benar juga tidak menjadi persoalan. Hanya ada kemungkinan kalau kamu membelanya, kamu menerima tanpa harapan akan mendapatkan balas jasa atau perlindungan balik kelak kalau kamu perlukan juga bukan karena kamu ingin memburu publikasi dan bintang-bintang penghargaan dari organisasi kemanusiaan di mancanegara yang benci negaramu, bukan?
Menegakkan hukum selalu dirongrong oleh berbagai tuduhan, seakan-akan kamu sudah memiliki pamrih di luar dari pengejaran keadilan dan kebenaran
Setelah kau datang sebagai seorang pengacara muda yang gemilang dan meminta aku berbicara sebagai profesional, anakku,&quot; rintihnya dengan amat sedih, &quot; buat ayah kamu bukan saja seorang profesional, tetapi juga seorang putra dari ayah.
 AMANAT  :Tidak ada kemenangan didalam pemburuan keadilan, yang ada hanya usaha untuk   mendekati apa yang lebih benar,sebab kebenaran sejati,adalah kebenaran yang paling benar mungkin hanya mimpi kita yang tak akan pernah tercapai.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>NAMA  :HETRIANI<br />
KELAS :1B<br />
NPM   :211O710073<br />
TUGAS : MENGANALISIS CERPEN<br />
JUDUL<br />
(PERADILAN RAKYAT)</p>
<p>ALUR      :Maju<br />
SETTING   <img src='http://kataberkata.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> ikantor,dirumah, digedung pengadilan,di ruang sidang terbuka<br />
TOKOH     <img src='http://kataberkata.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> engecara muda,pengecara tua,sekretaris,penjahat.<br />
KARAKTER/TOKOH:<br />
•	Seorang pengacara muda: ingin menegakkan hukum dari pengajaran keadilan dan  ke benaran yang professional<br />
•	Seorang pengecara tua : memperjuang demi menegakkan keadilan<br />
•	Seorang sekretaris  : memberikan nasehat ke pada pengecara<br />
•	Penjahat                   : perusak negara</p>
<p>SUDUT PANDANG<br />
	Seorang pengecara muda adalah seoarang pengecara yang cemerlang mengunjungi ayahnya,pengecara yang dihormati oleh para penegak hukum. Pengecara muda akan membela penjahat besar,yang sepantasnya mendapat hukuman mati.<br />
. Sebagai seorang pengacara ia tidak bisa menolak siapa pun orangnya yang meminta agar kamu melaksanakan kewajibannya sebagai pembela, .memang Tidak ada kemenangan di dalam pemburuan keadilan. Yang ada hanya usaha untuk mendekati apa yang lebih benar.<br />
Seperti yang kamu katakan tadi, salah atau benar juga tidak menjadi persoalan. Hanya ada kemungkinan kalau kamu membelanya, kamu menerima tanpa harapan akan mendapatkan balas jasa atau perlindungan balik kelak kalau kamu perlukan juga bukan karena kamu ingin memburu publikasi dan bintang-bintang penghargaan dari organisasi kemanusiaan di mancanegara yang benci negaramu, bukan?<br />
Menegakkan hukum selalu dirongrong oleh berbagai tuduhan, seakan-akan kamu sudah memiliki pamrih di luar dari pengejaran keadilan dan kebenaran<br />
Setelah kau datang sebagai seorang pengacara muda yang gemilang dan meminta aku berbicara sebagai profesional, anakku,&#8221; rintihnya dengan amat sedih, &#8221; buat ayah kamu bukan saja seorang profesional, tetapi juga seorang putra dari ayah.<br />
 AMANAT  :Tidak ada kemenangan didalam pemburuan keadilan, yang ada hanya usaha untuk   mendekati apa yang lebih benar,sebab kebenaran sejati,adalah kebenaran yang paling benar mungkin hanya mimpi kita yang tak akan pernah tercapai.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Unisma: Menyimak Sastra (B) by Agus salim</title>
		<link>http://kataberkata.com/?page_id=297#comment-28</link>
		<dc:creator>Agus salim</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 03 Dec 2011 03:58:05 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?page_id=297#comment-28</guid>
		<description>NAMA:AGUS SALIM
KELAS:1 B 
NPM:2110710074
TUGAS:MENGANALISIS CERPEN

JUDUL:
PERADILAN RAKYAT

ALUR:
MAJU

SETTING:
KANTOR, RUANG SIDANG, LAPANGAN TERBUKA

TOKOH:
PENGACARA TUA, PENGACARA MUDA, SEKRETARIS, PENJAHAT

WATAK TOKOH:	
	Pengacara tua memperjuangkan/ menegakkan ke adilan  
	Pengacara muda menegakkan/memperjuangkan  ke jahatan
	Sekretaris menyampaikan nasehat kepada pengacara

SUDUT PANDANG:
Pengacara muda adalah seorang pengacara senior yang sangat dihormati oleh para penegak hokum,  pengacara muda akan  membela seorang penjahat besar, yang sepantasnya mendapat hukuman mati. sebab aku seorang profesional. Sebagai seorang pengacara aku tidak bisa menolak siapa pun orangnya yang meminta agar aku melaksanakan kewajibanku sebagai pembela, .memang Tidak ada kemenangan di dalam pemburuan keadilan. Yang ada hanya usaha untuk mendekati apa yang lebih benar.
 Seperti yang kamu katakan tadi, salah atau benar juga tidak menjadi persoalan. Hanya ada kemungkinan kalau kamu membelanya, kamu menerima tanpa harapan akan mendapatkan balas jasa atau perlindungan balik kelak kalau kamu perlukan juga bukan karena kamu ingin memburu publikasi dan bintang-bintang penghargaan dari organisasi kemanusiaan di mancanegara yang benci negaramu, bukan?
Klau memang Keputusanmu sudah tepat. Menegakkan hukum selalu dirongrong oleh berbagai tuduhan, seakan-akan kamu sudah memiliki pamrih di luar dari pengejaran keadilan dan kebenaran.. Tetapi semua rongrongan itu hanya akan menambah pujian untukmu kelak, kalau kamu mampu terus mendengarkan suara hati nuranimu sebagai penegak hukum yang profesional.
Pengacara muda itu jadi amat terharu. Ia berdiri hendak memeluk ayahnya. Tetapi orang tua itu mengangkat tangan dan memperingatkan dengan suara yang serak. Nampaknya sudah lelah dan kesakitan. &quot;Pulanglah sekarang. Laksanakan tugasmu sebagai seorang profesional.&quot;
Hakimnya diburu-buru. Pengacara muda itu diculik, disiksa dan akhirnya baru dikembalikan sesudah jadi mayat.
Pengacara tua itu terpagut di kursi rodanya. Sementara sekretaris jelitanya membacakan berita-berita keganasan yang merebak di seluruh wilayah negara dengan suaranya yang empuk, air mata menetes di pipi pengacara besar itu.
Setelah kau datang sebagai seorang pengacara muda yang gemilang dan meminta aku berbicara sebagai profesional, anakku,&quot; rintihnya dengan amat sedih, &quot; buat ayah kamu bukan saja seorang profesional, tetapi juga seorang putra dari ayah.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>NAMA:AGUS SALIM<br />
KELAS:1 B<br />
NPM:2110710074<br />
TUGAS:MENGANALISIS CERPEN</p>
<p>JUDUL:<br />
PERADILAN RAKYAT</p>
<p>ALUR:<br />
MAJU</p>
<p>SETTING:<br />
KANTOR, RUANG SIDANG, LAPANGAN TERBUKA</p>
<p>TOKOH:<br />
PENGACARA TUA, PENGACARA MUDA, SEKRETARIS, PENJAHAT</p>
<p>WATAK TOKOH:<br />
	Pengacara tua memperjuangkan/ menegakkan ke adilan<br />
	Pengacara muda menegakkan/memperjuangkan  ke jahatan<br />
	Sekretaris menyampaikan nasehat kepada pengacara</p>
<p>SUDUT PANDANG:<br />
Pengacara muda adalah seorang pengacara senior yang sangat dihormati oleh para penegak hokum,  pengacara muda akan  membela seorang penjahat besar, yang sepantasnya mendapat hukuman mati. sebab aku seorang profesional. Sebagai seorang pengacara aku tidak bisa menolak siapa pun orangnya yang meminta agar aku melaksanakan kewajibanku sebagai pembela, .memang Tidak ada kemenangan di dalam pemburuan keadilan. Yang ada hanya usaha untuk mendekati apa yang lebih benar.<br />
 Seperti yang kamu katakan tadi, salah atau benar juga tidak menjadi persoalan. Hanya ada kemungkinan kalau kamu membelanya, kamu menerima tanpa harapan akan mendapatkan balas jasa atau perlindungan balik kelak kalau kamu perlukan juga bukan karena kamu ingin memburu publikasi dan bintang-bintang penghargaan dari organisasi kemanusiaan di mancanegara yang benci negaramu, bukan?<br />
Klau memang Keputusanmu sudah tepat. Menegakkan hukum selalu dirongrong oleh berbagai tuduhan, seakan-akan kamu sudah memiliki pamrih di luar dari pengejaran keadilan dan kebenaran.. Tetapi semua rongrongan itu hanya akan menambah pujian untukmu kelak, kalau kamu mampu terus mendengarkan suara hati nuranimu sebagai penegak hukum yang profesional.<br />
Pengacara muda itu jadi amat terharu. Ia berdiri hendak memeluk ayahnya. Tetapi orang tua itu mengangkat tangan dan memperingatkan dengan suara yang serak. Nampaknya sudah lelah dan kesakitan. &#8220;Pulanglah sekarang. Laksanakan tugasmu sebagai seorang profesional.&#8221;<br />
Hakimnya diburu-buru. Pengacara muda itu diculik, disiksa dan akhirnya baru dikembalikan sesudah jadi mayat.<br />
Pengacara tua itu terpagut di kursi rodanya. Sementara sekretaris jelitanya membacakan berita-berita keganasan yang merebak di seluruh wilayah negara dengan suaranya yang empuk, air mata menetes di pipi pengacara besar itu.<br />
Setelah kau datang sebagai seorang pengacara muda yang gemilang dan meminta aku berbicara sebagai profesional, anakku,&#8221; rintihnya dengan amat sedih, &#8221; buat ayah kamu bukan saja seorang profesional, tetapi juga seorang putra dari ayah.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Unisma: Menyimak Sastra (B) by NURJAMILAH_2110710060</title>
		<link>http://kataberkata.com/?page_id=297#comment-25</link>
		<dc:creator>NURJAMILAH_2110710060</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 03 Dec 2011 03:29:37 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?page_id=297#comment-25</guid>
		<description>NAMA : NUR JAMILAH
NPM : 2110710060	
KLS : 1B / PBSI

Tema : Pembela Keadilan 
Penokohan : 
	Pengacara Muda, ayah, sekretaris, penjahat
Watak Tokoh :
	Pengacara Muda : Sombong
	Ayah : Bijaksana
	Sekretaris : Pendiam
	Penjahat : Jahat
Alur : Maju
Setting : 
	Rumah
	Pengadilan 
Gaya Bahasa : 
•	Ia mengangkat dagunya, mencoba memandang pejuang keadilan yang kini seperti macan ompong itu.
•	Akan membebaskan bajingan yang ditakuti dan dikutuk oleh semua rakyat di negeri untuk terbang lepas kembali seperti burung di udara.
Teknik Penceritaan : 
Seorang pengacar muda menemui ayahandanya dan berbincang-bincang tentang keadilan, tetapi alur pembicaraan keduanya berselisih, keinginan sang pengacara muda untuk membela siapapun meski penjahat, itulah yang di tantang oleh ayahandanya. Tetapi ia tetap pada pendiriannya, ia membela seorang penjahat dan bisa membebaskannya dari tuduhan hukum, namun nasib berkehendak lain, gedung pengacara itu di bakar massa oleh rakyat, dan pengacara muda itu diculik serta dibunuh dan ayahandanyapun hanya bisa terpaku dalam diam.
Amanat : 
Jadilah seorang pengacara yang membela siapa yang patut dibela, karena itu akan membawa kemaslahatan bagi dirinya dan juga orang lain dan patuhilah perkataan orang tua.
UNSUR EKSTINSIK
Nilai Sosial : tolong menolonglah pada setiap orang, tapi yang benar-benar butuh pertolongan itu.
Nilai Moral : Dengarlah perkataan orang tua, janganlah egois, acuh tak acuh.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>NAMA : NUR JAMILAH<br />
NPM : 2110710060<br />
KLS : 1B / PBSI</p>
<p>Tema : Pembela Keadilan<br />
Penokohan :<br />
	Pengacara Muda, ayah, sekretaris, penjahat<br />
Watak Tokoh :<br />
	Pengacara Muda : Sombong<br />
	Ayah : Bijaksana<br />
	Sekretaris : Pendiam<br />
	Penjahat : Jahat<br />
Alur : Maju<br />
Setting :<br />
	Rumah<br />
	Pengadilan<br />
Gaya Bahasa :<br />
•	Ia mengangkat dagunya, mencoba memandang pejuang keadilan yang kini seperti macan ompong itu.<br />
•	Akan membebaskan bajingan yang ditakuti dan dikutuk oleh semua rakyat di negeri untuk terbang lepas kembali seperti burung di udara.<br />
Teknik Penceritaan :<br />
Seorang pengacar muda menemui ayahandanya dan berbincang-bincang tentang keadilan, tetapi alur pembicaraan keduanya berselisih, keinginan sang pengacara muda untuk membela siapapun meski penjahat, itulah yang di tantang oleh ayahandanya. Tetapi ia tetap pada pendiriannya, ia membela seorang penjahat dan bisa membebaskannya dari tuduhan hukum, namun nasib berkehendak lain, gedung pengacara itu di bakar massa oleh rakyat, dan pengacara muda itu diculik serta dibunuh dan ayahandanyapun hanya bisa terpaku dalam diam.<br />
Amanat :<br />
Jadilah seorang pengacara yang membela siapa yang patut dibela, karena itu akan membawa kemaslahatan bagi dirinya dan juga orang lain dan patuhilah perkataan orang tua.<br />
UNSUR EKSTINSIK<br />
Nilai Sosial : tolong menolonglah pada setiap orang, tapi yang benar-benar butuh pertolongan itu.<br />
Nilai Moral : Dengarlah perkataan orang tua, janganlah egois, acuh tak acuh.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Unisma: Menyimak Sastra (B) by buisturumaf.npm 2110710043</title>
		<link>http://kataberkata.com/?page_id=297#comment-24</link>
		<dc:creator>buisturumaf.npm 2110710043</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 03 Dec 2011 02:29:35 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?page_id=297#comment-24</guid>
		<description>judul: peradilan rakyat
 karya: putra wijaya
 tema : menegakan hukum
 tokoh: ayah
        pengacara muda,pemberani,tegas dan bijaksana.
komentar saya
Temanya sngat bagus karna bebtentangan dengan negara RI
terus mengajak kita semua tau apa yang kita lakukan.

Alur ceritanya bagus. terus bisa membuat kita semua beruba karna ini mengajarkan kita semua untuk menjadi seorang pemimpin yang jujur dalam melakukan sesuatu 

Amanat/pesannya buat kita semua barang siapa yang benar2 bekarja dengan tulus maka berutunglah dia, karna isi cerita ini mengajarkan kita untuk melakukan sesuatu dengan jujur.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>judul: peradilan rakyat<br />
 karya: putra wijaya<br />
 tema : menegakan hukum<br />
 tokoh: ayah<br />
        pengacara muda,pemberani,tegas dan bijaksana.<br />
komentar saya<br />
Temanya sngat bagus karna bebtentangan dengan negara RI<br />
terus mengajak kita semua tau apa yang kita lakukan.</p>
<p>Alur ceritanya bagus. terus bisa membuat kita semua beruba karna ini mengajarkan kita semua untuk menjadi seorang pemimpin yang jujur dalam melakukan sesuatu </p>
<p>Amanat/pesannya buat kita semua barang siapa yang benar2 bekarja dengan tulus maka berutunglah dia, karna isi cerita ini mengajarkan kita untuk melakukan sesuatu dengan jujur.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Unisma: Menyimak Sastra (A) by masita</title>
		<link>http://kataberkata.com/?page_id=295#comment-23</link>
		<dc:creator>masita</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 03 Dec 2011 01:03:11 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?page_id=295#comment-23</guid>
		<description>Nama	: Masita
NPM	: 2110710005

Cerpen Laila Majnun adalah sebuah kisah dari cerita rakyat arab, yang menceritakan tentang kecantikan seorang gadis yang bernama Laila yang jatuh cinta kepada seoarang pemuda yang bernama Qais. Namun cinta mereka kandas karena adat melarang mereka mengekspresikan gelora cintanya.
Cerpen tersebut adalah cerita roman yang penuh puisi cinta dan pengorbanan bagi para pemuja cinta. Syair dan puisi yang ditulis untuk mengapresiasikan perasaan yang terpendam menambah menarik isi cerpen, sehingga pembaca terbui oleh kata-kata dalam syair dan puisi tersebut, dan muncul niat untuk menjiblak/menirunya.
Namun dalam cerpen tersebut terlalu mendewakan/mentuhankan cinta, walaupun nilai religi terlihat diawal cerita saat kepala suku (ayah Qais) memohon kepada Allah SWT, supaya dikaruniai seorang anak, itu hanyalah bentuk suatu pengantar cerita, dan selanjutnya nilai religinya hampir tidak ada, seperti bersyukur, tawakkal, berdoa, dan lain-lain.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Nama	: Masita<br />
NPM	: 2110710005</p>
<p>Cerpen Laila Majnun adalah sebuah kisah dari cerita rakyat arab, yang menceritakan tentang kecantikan seorang gadis yang bernama Laila yang jatuh cinta kepada seoarang pemuda yang bernama Qais. Namun cinta mereka kandas karena adat melarang mereka mengekspresikan gelora cintanya.<br />
Cerpen tersebut adalah cerita roman yang penuh puisi cinta dan pengorbanan bagi para pemuja cinta. Syair dan puisi yang ditulis untuk mengapresiasikan perasaan yang terpendam menambah menarik isi cerpen, sehingga pembaca terbui oleh kata-kata dalam syair dan puisi tersebut, dan muncul niat untuk menjiblak/menirunya.<br />
Namun dalam cerpen tersebut terlalu mendewakan/mentuhankan cinta, walaupun nilai religi terlihat diawal cerita saat kepala suku (ayah Qais) memohon kepada Allah SWT, supaya dikaruniai seorang anak, itu hanyalah bentuk suatu pengantar cerita, dan selanjutnya nilai religinya hampir tidak ada, seperti bersyukur, tawakkal, berdoa, dan lain-lain.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Unisma: Menyimak Sastra (B) by Bidayatul Hidayah</title>
		<link>http://kataberkata.com/?page_id=297#comment-22</link>
		<dc:creator>Bidayatul Hidayah</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 03 Dec 2011 00:09:14 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?page_id=297#comment-22</guid>
		<description>Hukum merupakan permainan dan penentuan kebenaran seseorang. Hal ini diungkapkan pada cerita Putu Wijaya yang berjudul “Keadilan Rakyat”. Di sini hukum dibuat permainan oleh suatu Negara, mengapa demikian? Sebut pengacara muda yang professional. Pengacara tersebut diberi amanah oleh Negara untuk membela seorang penjahat yang mana penjahat tersebut telah melakukan banyak kejahatan dan hampir semua kejahatannya diketahui oleh semua rakyat. Pada awalnya pengacara muda itu menolak tawaran tersebut, karena pengacara itu yakin Negara tidak benar-benar menugaskan dirinya untuk membelanya. penjahat itupun tak kehabisan akal dia langsung mendatangi dengan hormat pengacara muda itu di rumahnya. Al-hasil, pengacara muda tersebut menerima tawaran penjahat itu, atas dasar seorang pengacara haruslah membantu seorang yang membutuhkannya dan demi memuliakan proses hukum. Pengacara muda itu  membanatu menyelesaikan kasus penjahat kelas kakap itu (klien) tanpa adanya sogokan ataupun yang lainnya, dan akhirnya pengacara muda itupun mempecundangi Negara dan memenangkan kasus penjahat tersebut dengan mudah, penjahat itupun tertawa terkekeh-kekeh dan merayakan pesta kembang api semalam suntuk lalu meloncat kemancaNegara. dampaknya Negarapun hancur, kerusuhan terjadi dimana-mana gedung pengadilan diserbu dan dibakar, hakim-hakimnya diburu-buru.  pengacara muda itu diculik, disiksa dan akhirnya dikembalikan setelah menjadi mayat. Tetapi itupun belum cukup. Rakyat terus mengaum dan hendak menggulingkan pemerintahan yang sah. itu semua disebabkan karena adanya hukum yang kurang  tegas yang mampu dihancurkan hanya karena uang sogokan.
 
Niat seorang pengacara muda itu sudah benar ingin memberi pelajaran kepada Negara bahwa pencarian keadilan tak boleh menjadi sebuah teather dan kejahatan haruslah ditegakkan bukan dibuat sandiwara untuk memanipulasi kejahatan, tapi kejahatan dibela oleh siapapun tetap kejahatan, karena niat yang menurut kita benar belum tentu membuat yang lain senang 
	Apabila suatu Negara Berjaya hanya untuk orang-orang jahat dan uang, maka Negara lambat laun hanya akan menunggu suatu kehancuran. Apalah gunanya hukum kalau hanya dibuat sebuah permainan tarik ulur orang-orang yang beruang dan pejabat yang beribawa, yang tidak untuk mengayomi masyarakat.
	Suatu Negara harusnya memiliki hukum yang kuat, berlandaskan bukti-bukti yang benar dan mampu mengayomi masyarakat, bukan memanipilasi bukti oleh pengacara yang professional.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Hukum merupakan permainan dan penentuan kebenaran seseorang. Hal ini diungkapkan pada cerita Putu Wijaya yang berjudul “Keadilan Rakyat”. Di sini hukum dibuat permainan oleh suatu Negara, mengapa demikian? Sebut pengacara muda yang professional. Pengacara tersebut diberi amanah oleh Negara untuk membela seorang penjahat yang mana penjahat tersebut telah melakukan banyak kejahatan dan hampir semua kejahatannya diketahui oleh semua rakyat. Pada awalnya pengacara muda itu menolak tawaran tersebut, karena pengacara itu yakin Negara tidak benar-benar menugaskan dirinya untuk membelanya. penjahat itupun tak kehabisan akal dia langsung mendatangi dengan hormat pengacara muda itu di rumahnya. Al-hasil, pengacara muda tersebut menerima tawaran penjahat itu, atas dasar seorang pengacara haruslah membantu seorang yang membutuhkannya dan demi memuliakan proses hukum. Pengacara muda itu  membanatu menyelesaikan kasus penjahat kelas kakap itu (klien) tanpa adanya sogokan ataupun yang lainnya, dan akhirnya pengacara muda itupun mempecundangi Negara dan memenangkan kasus penjahat tersebut dengan mudah, penjahat itupun tertawa terkekeh-kekeh dan merayakan pesta kembang api semalam suntuk lalu meloncat kemancaNegara. dampaknya Negarapun hancur, kerusuhan terjadi dimana-mana gedung pengadilan diserbu dan dibakar, hakim-hakimnya diburu-buru.  pengacara muda itu diculik, disiksa dan akhirnya dikembalikan setelah menjadi mayat. Tetapi itupun belum cukup. Rakyat terus mengaum dan hendak menggulingkan pemerintahan yang sah. itu semua disebabkan karena adanya hukum yang kurang  tegas yang mampu dihancurkan hanya karena uang sogokan.</p>
<p>Niat seorang pengacara muda itu sudah benar ingin memberi pelajaran kepada Negara bahwa pencarian keadilan tak boleh menjadi sebuah teather dan kejahatan haruslah ditegakkan bukan dibuat sandiwara untuk memanipulasi kejahatan, tapi kejahatan dibela oleh siapapun tetap kejahatan, karena niat yang menurut kita benar belum tentu membuat yang lain senang<br />
	Apabila suatu Negara Berjaya hanya untuk orang-orang jahat dan uang, maka Negara lambat laun hanya akan menunggu suatu kehancuran. Apalah gunanya hukum kalau hanya dibuat sebuah permainan tarik ulur orang-orang yang beruang dan pejabat yang beribawa, yang tidak untuk mengayomi masyarakat.<br />
	Suatu Negara harusnya memiliki hukum yang kuat, berlandaskan bukti-bukti yang benar dan mampu mengayomi masyarakat, bukan memanipilasi bukti oleh pengacara yang professional.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Unisma: Menyimak Sastra (A) by fatimatuz zahro 2110710007</title>
		<link>http://kataberkata.com/?page_id=295#comment-21</link>
		<dc:creator>fatimatuz zahro 2110710007</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 02 Dec 2011 16:49:53 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?page_id=295#comment-21</guid>
		<description>Judul: laila majnun
Penulis: syeh hakim
Tema: pengorbanan cinta
Alur: alurnya maju,tapi ceritanya seperti tarik ulur, manjun menunggu laila sedangkan laila menikah dengan ibnu salam, dan laila mehrapkan kedatangan majnun sedangkan majnun berpesta dengan gadids-gadis desa, majnun,ketika ayah majnun setuju dengan hubungan anaknya malah ayah laila yang tidak setuju.  
Setting: sekolah, desa, padang pasir, kuburan
Tokoh: &quot;kais(majnun)&quot;wataknya tidak pernah putus asa dan setia. &quot;ayah dan ibu kais&quot;, &quot;laila&quot;wataknya setia tidak mudah luluh, &quot;ayah dan ibu laila&quot;,  &quot;kepala suku&quot;, &quot;ibnu salam&quot; wataknya sabar menunggu,
Amanat: jangan lah memandang orang dari luarnya saja, seperti kais karena kais selalu berpuisi dan menyebut-nyebut nama lalila dimanapun ia berada bukan berarti kais gila atau (majnun),dan teguh lah pada pendirian seperti kais dan laila walau laila dan kais terpisah tapi mereka retap teguh pada pendirian mereka untuk saling mencintai.
Sudut pandang: orang ketiga, sudah jelas bahwa penulis(pengarang) tidak masuk dalam cerita menggunakan nama orang.
Nilai-nilai: agama, orang tua kais(majnun berdo&#039;a kepada allah agar mereka diberi anak.nilai sosisal,pesta jamuan makan malam yang dihadiri oleh wanita desa.
Konflik: perjodohan antara laila dan ibnu salam,
Konflik: renggangnya hubungan antara ibnu salam dan laila, 
Konflik: kesengsaraan yang dihada oleh laila, majun, ibnu salam, 
Konflik:bersetrunya kedua orang tua majnun damlaila
konlik-komflik diatas tidak ada penyelesaiaanya yang ada hanya masalah-masalah, hanya ada satu penyalasaian pada konflik dibawah ini.
Konflik: cinta laila dan kais (majnun) tidak direstui oleh orang tua laila,
penyelesaian: laila meninggal karena batuk yang dideritanya dan kais punterpuruk tas kematian laila yang akhirnya kais menemani laila dengan berada di kuburan laila, dan tidak lama kemudian kais pun meninggal di atas kuburan laila, akhirnya kaispun dikubur bersebelahan dengan laila.
Pesan:perjuangkanlah sesuatu yang kita harapkan karena tanpa perjuangan sesuatu itu tidak akan terjadi, dan jangan memaksakan kehendak jika memang bukan jodoh kita maka jangan di paksakan, karena kita sendiri yang akan mersakan hasil dari paksaan itu seperti ibnu salam yang selalu kesepian meskipun menikah dengan laila.
Gaya penulisan:penulisan yang sangat ssederhana sehingga pembaca mudah mengerti ap yang di maksudkan oleh penulis, tidak ada kata-kata sulit yang membuat pembaca bingung,</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Judul: laila majnun<br />
Penulis: syeh hakim<br />
Tema: pengorbanan cinta<br />
Alur: alurnya maju,tapi ceritanya seperti tarik ulur, manjun menunggu laila sedangkan laila menikah dengan ibnu salam, dan laila mehrapkan kedatangan majnun sedangkan majnun berpesta dengan gadids-gadis desa, majnun,ketika ayah majnun setuju dengan hubungan anaknya malah ayah laila yang tidak setuju.<br />
Setting: sekolah, desa, padang pasir, kuburan<br />
Tokoh: &#8220;kais(majnun)&#8221;wataknya tidak pernah putus asa dan setia. &#8220;ayah dan ibu kais&#8221;, &#8220;laila&#8221;wataknya setia tidak mudah luluh, &#8220;ayah dan ibu laila&#8221;,  &#8220;kepala suku&#8221;, &#8220;ibnu salam&#8221; wataknya sabar menunggu,<br />
Amanat: jangan lah memandang orang dari luarnya saja, seperti kais karena kais selalu berpuisi dan menyebut-nyebut nama lalila dimanapun ia berada bukan berarti kais gila atau (majnun),dan teguh lah pada pendirian seperti kais dan laila walau laila dan kais terpisah tapi mereka retap teguh pada pendirian mereka untuk saling mencintai.<br />
Sudut pandang: orang ketiga, sudah jelas bahwa penulis(pengarang) tidak masuk dalam cerita menggunakan nama orang.<br />
Nilai-nilai: agama, orang tua kais(majnun berdo&#8217;a kepada allah agar mereka diberi anak.nilai sosisal,pesta jamuan makan malam yang dihadiri oleh wanita desa.<br />
Konflik: perjodohan antara laila dan ibnu salam,<br />
Konflik: renggangnya hubungan antara ibnu salam dan laila,<br />
Konflik: kesengsaraan yang dihada oleh laila, majun, ibnu salam,<br />
Konflik:bersetrunya kedua orang tua majnun damlaila<br />
konlik-komflik diatas tidak ada penyelesaiaanya yang ada hanya masalah-masalah, hanya ada satu penyalasaian pada konflik dibawah ini.<br />
Konflik: cinta laila dan kais (majnun) tidak direstui oleh orang tua laila,<br />
penyelesaian: laila meninggal karena batuk yang dideritanya dan kais punterpuruk tas kematian laila yang akhirnya kais menemani laila dengan berada di kuburan laila, dan tidak lama kemudian kais pun meninggal di atas kuburan laila, akhirnya kaispun dikubur bersebelahan dengan laila.<br />
Pesan:perjuangkanlah sesuatu yang kita harapkan karena tanpa perjuangan sesuatu itu tidak akan terjadi, dan jangan memaksakan kehendak jika memang bukan jodoh kita maka jangan di paksakan, karena kita sendiri yang akan mersakan hasil dari paksaan itu seperti ibnu salam yang selalu kesepian meskipun menikah dengan laila.<br />
Gaya penulisan:penulisan yang sangat ssederhana sehingga pembaca mudah mengerti ap yang di maksudkan oleh penulis, tidak ada kata-kata sulit yang membuat pembaca bingung,</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Unisma: Menyimak Sastra (B) by anggun indrawati</title>
		<link>http://kataberkata.com/?page_id=297#comment-20</link>
		<dc:creator>anggun indrawati</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 02 Dec 2011 14:11:47 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?page_id=297#comment-20</guid>
		<description>NAMA :ANGGUN INDRAWATI
NPM :2110710041
JURUSAN :PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
MATA KULIAH :MENYIMAK SASTRA
SEMESTER : I (SATU)                    
                    Mengkritik sebuah cerpen
UNSUR INTRINSIK :
tema      : Kehidupan dalam dunia
penokohan : 1. pengacara tua
            2. pengacara muda
            3. hakim
            4. sekretaris
            5. rakyat
            6. penjahat
alur : maju
setting : di gedung peradilan
perwatakan :
1. pengacara tua :baik
2. pengacara muda : baik,bijakasana
3. hakim : adil
4, sekretaris : baik,lemah lembut
5. rakyat : keras kepala
6. penjahat : jahat
Amanat : cerita ini menceritakan tentang peradilan rakyat yang disertai dengan  suatu moment/usaha yang baik tentang rakyatnya tersebut juga tentang kehidupan kehidupan seterusnya.dan peradilan rakyat tetap ada sampai akhir nanti.

  KRITIK DAN SARAN :
     cerpen ini menceritakan taentang kehidupann yang harus dipahami oleh pembaca juga yang menyimak harus sungguh sungguh untuk memahaminya agar juga  bisa memberi kritik yang baik tapi hanya saja cerpennya agak sulit di pahami untuk kita menkritiknya tapi tidak sesulit cerpen cerpen yang sebelumnya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>NAMA :ANGGUN INDRAWATI<br />
NPM :2110710041<br />
JURUSAN <img src='http://kataberkata.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> ENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA<br />
MATA KULIAH :MENYIMAK SASTRA<br />
SEMESTER : I (SATU)<br />
                    Mengkritik sebuah cerpen<br />
UNSUR INTRINSIK :<br />
tema      : Kehidupan dalam dunia<br />
penokohan : 1. pengacara tua<br />
            2. pengacara muda<br />
            3. hakim<br />
            4. sekretaris<br />
            5. rakyat<br />
            6. penjahat<br />
alur : maju<br />
setting : di gedung peradilan<br />
perwatakan :<br />
1. pengacara tua :baik<br />
2. pengacara muda : baik,bijakasana<br />
3. hakim : adil<br />
4, sekretaris : baik,lemah lembut<br />
5. rakyat : keras kepala<br />
6. penjahat : jahat<br />
Amanat : cerita ini menceritakan tentang peradilan rakyat yang disertai dengan  suatu moment/usaha yang baik tentang rakyatnya tersebut juga tentang kehidupan kehidupan seterusnya.dan peradilan rakyat tetap ada sampai akhir nanti.</p>
<p>  KRITIK DAN SARAN :<br />
     cerpen ini menceritakan taentang kehidupann yang harus dipahami oleh pembaca juga yang menyimak harus sungguh sungguh untuk memahaminya agar juga  bisa memberi kritik yang baik tapi hanya saja cerpennya agak sulit di pahami untuk kita menkritiknya tapi tidak sesulit cerpen cerpen yang sebelumnya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Unisma: Menyimak Sastra (B) by SUMIYATUN_2110710044</title>
		<link>http://kataberkata.com/?page_id=297#comment-19</link>
		<dc:creator>SUMIYATUN_2110710044</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 02 Dec 2011 13:35:28 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?page_id=297#comment-19</guid>
		<description>NAMA : SUMIYATUN
NPM : 2110710044
KLS : 1B / PBSI

CERPEN Yang dibacakan langsung oleh kelompok 8
“PERADILAN RAKYAT” Oleh : Putu Wijaya
Tema : Menegakkan Keadilan
Penokohan : 
	Pengacara Muda
	Pengacara Tua (ayah)
	Wanita cantik (sekretaris pengacara tua)

Watak Tokoh : 
	Pengacara Muda : baik, ingin bersikap adil tapi tak tau dimana ia harus menegakkan keadilan
	Pengacara Tua : Sabar, professional,bijaksana
Plot / Alur : Maju
Latar atau Setting : 
a.	Latar tempat : - rumah
b.	Latar waktu : - malam hari
Sudut Pandang : menggunakan sudut pandang orang pertama
Gaya Bahasa : Personifikasi
”Negara terus juga mendesak”
Teknik Penceritaan : 
Seorang pengacara Muda yang cemerlang ditugaskan oleh Negara untuk membela seorang penjahat besar, yang sepantasnya mendapat hukuman mati. Tapi pengacara muda itu menolak mentah-mentah karena ia yakin Negara tidak benar-benar menugaskan untuk membelanya. Negara hanya ingin mempertunjukkan sebuah teater spektakuler, bahwa dinegara yang telah tercela sudah ada kebangkitan baru. Itu merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi seorang pengacara muda. Namun ia tidak sadar bahwa di balik itu ia telah melakukan kesalahan besar. Ia terima permintaan sipenjahat bajingan yang seharusnya di hukum mati itu ketika menemuinya langsung di tempat kediamannya, ia melakukan itu karena ia merasa bahwa dirinya adalah seorang yang professional. Pengacara muda itu berkata “sebagai seorang pengacara aku tidak bisa menolak siapapun orangnya yang meminta agar aku melaksanakan kewajibanku sebagai pembela, aku mengabdi kepada mereka yang membutuhkan keahlianku untuk membantu pengadilan menjalankan proses peradilan sehingga tercapai keputusan yang seadil-adilnya” ia merasa bahwa keputusannya adalah benar membela seorang penjahat yang seharusnya di hukum mati dan ia yakin bahwa ia akan menang di pengadilan nanti tanpa ia sadari bahwa dibalik semua itu malapetaka akan terjadi.
Apa yang diyakini pengacara muda itu kemudian menjadi kenyataan. Dengan gemilang dan mudah ia mempecundangi negara di pengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu. Bangsat itu tertawa terkekeh-kekeh. Ia merayakan kemenangannya dengan pesta kembang api semalam suntuk, lalu meloncat ke mancanegara, tak mungkin dijamah lagi. Rakyat pun marah. Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan, menyerbu dengan yel-yel dan poster-poster raksasa. Gedung pengadilan diserbu dan dibakar. Hakimnya diburu-buru. Pengacara muda itu diculik, disiksa dan akhirnya baru dikembalikan sesudah jadi mayat. 
Mendengar berita-berita keganasan yang merebak diseluruh Negara, meneteslah air mata pengacara tua (ayah dari pengacara muda) di pipinya yang sudah tampak keriput.   
Amanat : Peradilan yang tidak ditegakkan akan membawa bencana yang sangat besar bagi Negara dan rakyat.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>NAMA : SUMIYATUN<br />
NPM : 2110710044<br />
KLS : 1B / PBSI</p>
<p>CERPEN Yang dibacakan langsung oleh kelompok 8<br />
“PERADILAN RAKYAT” Oleh : Putu Wijaya<br />
Tema : Menegakkan Keadilan<br />
Penokohan :<br />
	Pengacara Muda<br />
	Pengacara Tua (ayah)<br />
	Wanita cantik (sekretaris pengacara tua)</p>
<p>Watak Tokoh :<br />
	Pengacara Muda : baik, ingin bersikap adil tapi tak tau dimana ia harus menegakkan keadilan<br />
	Pengacara Tua : Sabar, professional,bijaksana<br />
Plot / Alur : Maju<br />
Latar atau Setting :<br />
a.	Latar tempat : &#8211; rumah<br />
b.	Latar waktu : &#8211; malam hari<br />
Sudut Pandang : menggunakan sudut pandang orang pertama<br />
Gaya Bahasa : Personifikasi<br />
”Negara terus juga mendesak”<br />
Teknik Penceritaan :<br />
Seorang pengacara Muda yang cemerlang ditugaskan oleh Negara untuk membela seorang penjahat besar, yang sepantasnya mendapat hukuman mati. Tapi pengacara muda itu menolak mentah-mentah karena ia yakin Negara tidak benar-benar menugaskan untuk membelanya. Negara hanya ingin mempertunjukkan sebuah teater spektakuler, bahwa dinegara yang telah tercela sudah ada kebangkitan baru. Itu merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi seorang pengacara muda. Namun ia tidak sadar bahwa di balik itu ia telah melakukan kesalahan besar. Ia terima permintaan sipenjahat bajingan yang seharusnya di hukum mati itu ketika menemuinya langsung di tempat kediamannya, ia melakukan itu karena ia merasa bahwa dirinya adalah seorang yang professional. Pengacara muda itu berkata “sebagai seorang pengacara aku tidak bisa menolak siapapun orangnya yang meminta agar aku melaksanakan kewajibanku sebagai pembela, aku mengabdi kepada mereka yang membutuhkan keahlianku untuk membantu pengadilan menjalankan proses peradilan sehingga tercapai keputusan yang seadil-adilnya” ia merasa bahwa keputusannya adalah benar membela seorang penjahat yang seharusnya di hukum mati dan ia yakin bahwa ia akan menang di pengadilan nanti tanpa ia sadari bahwa dibalik semua itu malapetaka akan terjadi.<br />
Apa yang diyakini pengacara muda itu kemudian menjadi kenyataan. Dengan gemilang dan mudah ia mempecundangi negara di pengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu. Bangsat itu tertawa terkekeh-kekeh. Ia merayakan kemenangannya dengan pesta kembang api semalam suntuk, lalu meloncat ke mancanegara, tak mungkin dijamah lagi. Rakyat pun marah. Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan, menyerbu dengan yel-yel dan poster-poster raksasa. Gedung pengadilan diserbu dan dibakar. Hakimnya diburu-buru. Pengacara muda itu diculik, disiksa dan akhirnya baru dikembalikan sesudah jadi mayat.<br />
Mendengar berita-berita keganasan yang merebak diseluruh Negara, meneteslah air mata pengacara tua (ayah dari pengacara muda) di pipinya yang sudah tampak keriput.<br />
Amanat : Peradilan yang tidak ditegakkan akan membawa bencana yang sangat besar bagi Negara dan rakyat.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Unisma: Menyimak Sastra (B) by SANTI WAHYUFI DININGSIH</title>
		<link>http://kataberkata.com/?page_id=297#comment-18</link>
		<dc:creator>SANTI WAHYUFI DININGSIH</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 02 Dec 2011 13:27:27 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?page_id=297#comment-18</guid>
		<description>NAMA    : SANTI WAHYUFI DININGSIH
NPM     : 2110710042
JURUSAN : PBSI 
SMESTER : 1(SATU.B)
M. KUL  :MENYIMAK SASTRA.


TUGAS : MENGKRITIK CERPEN.

JUDUL : &quot;PERADILAN RAKYAT&quot;

UNSUR INTRINSIK:
1. TEMA: TENTANG KEHIDUPAN
2:ALUR : maju
3.SETTING: Di gedung peradilan
4.PENOKOHAN: 1)Pengacara Tua
             2)Pengacara Muda
             3)Sekretaris
             4)Hakim
             5)Rakyat
             6)Penjahat
5)WATAK:     1)Pengacara Tua: Bijaksana,proesional,penyayang
             2)pengacara Muda:Adil, profesional,bijaksana
             3)Sekretaris:Lemah lembut
             5)Hakim:Adil
             6)Penjahat: jahat,
             7)Rakyat: Egois
6)Amanat: Bahwasanya suattu usaha pengejaran untuk hal kebaikan dan kebenaran 
          penegakan suatu keadilan itu sangat sulit untuk dibuktikan, karena    
          tidak ada kemenangan didalam pemburuan keadilan yang adahanya usaha 
          untuk mendekati apa yang lebih yang benar. sebab kebenaran sejati 
          adalah kebenaran yang paling besar hanya mungkin hanyalah mimpi kita
          yang tak pernah tercapai ,kalah menang bukan masalah lagi, dan upaya
          untuk mencapai itu paling penting hanyalah kehidupan bersama.

UNSUR EKSTRENSIK
1) Kehidupan sosial budaya: Hubungan interaksi sesama manusia&#039;

KRITI SAYA: Dalam penceritaan sangat memberikan asas manfaat bagi pembaca, namun disini kenapa tokoh rakyat yang selalu memiliki ciri egoisme,,,
padahal dalam kehidupan nyata , seorang pejabat tinggilah yang selalu memiliki sifat ketidak adilan dan egoisme yang mendalam... 
tapi sangat lah baik cerpen ini di terbitkan , semoga saja di negara kita bisa tercipta seorang pejabat tinggi yang mencontoh seperti pengacara tua dan pengacara muda.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>NAMA    : SANTI WAHYUFI DININGSIH<br />
NPM     : 2110710042<br />
JURUSAN : PBSI<br />
SMESTER : 1(SATU.B)<br />
M. KUL  :MENYIMAK SASTRA.</p>
<p>TUGAS : MENGKRITIK CERPEN.</p>
<p>JUDUL : &#8220;PERADILAN RAKYAT&#8221;</p>
<p>UNSUR INTRINSIK:<br />
1. TEMA: TENTANG KEHIDUPAN<br />
2:ALUR : maju<br />
3.SETTING: Di gedung peradilan<br />
4.PENOKOHAN: 1)Pengacara Tua<br />
             2)Pengacara Muda<br />
             3)Sekretaris<br />
             4)Hakim<br />
             5)Rakyat<br />
             6)Penjahat<br />
5)WATAK:     1)Pengacara Tua: Bijaksana,proesional,penyayang<br />
             2)pengacara Muda:Adil, profesional,bijaksana<br />
             3)Sekretaris:Lemah lembut<br />
             5)Hakim:Adil<br />
             6)Penjahat: jahat,<br />
             7)Rakyat: Egois<br />
6)Amanat: Bahwasanya suattu usaha pengejaran untuk hal kebaikan dan kebenaran<br />
          penegakan suatu keadilan itu sangat sulit untuk dibuktikan, karena<br />
          tidak ada kemenangan didalam pemburuan keadilan yang adahanya usaha<br />
          untuk mendekati apa yang lebih yang benar. sebab kebenaran sejati<br />
          adalah kebenaran yang paling besar hanya mungkin hanyalah mimpi kita<br />
          yang tak pernah tercapai ,kalah menang bukan masalah lagi, dan upaya<br />
          untuk mencapai itu paling penting hanyalah kehidupan bersama.</p>
<p>UNSUR EKSTRENSIK<br />
1) Kehidupan sosial budaya: Hubungan interaksi sesama manusia&#8217;</p>
<p>KRITI SAYA: Dalam penceritaan sangat memberikan asas manfaat bagi pembaca, namun disini kenapa tokoh rakyat yang selalu memiliki ciri egoisme,,,<br />
padahal dalam kehidupan nyata , seorang pejabat tinggilah yang selalu memiliki sifat ketidak adilan dan egoisme yang mendalam&#8230;<br />
tapi sangat lah baik cerpen ini di terbitkan , semoga saja di negara kita bisa tercipta seorang pejabat tinggi yang mencontoh seperti pengacara tua dan pengacara muda.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Unisma: Menyimak Sastra (A) by AGHNIAYTUL ULUM THOUSANA</title>
		<link>http://kataberkata.com/?page_id=295#comment-17</link>
		<dc:creator>AGHNIAYTUL ULUM THOUSANA</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 02 Dec 2011 13:20:12 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?page_id=295#comment-17</guid>
		<description>NAMA : AGHNIYATUL ULUM THOUSANA
NPM : 211071OO19
KOMENTAR NOVEL LAILA MAJNUN

	Tema : Percintaan antara dua sahabat
	Tokoh : Qais,Laila,Ayah laila,Ayah qais,Ibnu salam.Abu Amr
	Setting : Kota Arab,Ruang kelas,sebuah tempat di puncak bukit dekat dengan rumah laila,Gubuk,sungai kecil,Kamar laila,
	Alur : Maju              karena didalam cerita terssebut menceritaka ketika laila belum bertemu qais sampai bertemunnya kedua pasangan tersebut.
	Watak Tokoh
•	Qais : Anaknya cerdas,berbakat dalam bidang seni berperang dan memainkan alt musik,mengubah syair dan melukis.
•	Laila : Baik,senang berteman denagn siapapun,pandai dalam urusan pelajaran,tapi semenjak bertemu dengan qais dia berubah drastis.
•	Ayah Laila : Penyabar,baik,meskipun mnghadapi anaknya yang keterlaluan itu.
•	Ayah Qais : penyabar,baik,meskipun menghadapi anaknya yang selalu menjadi pembicaraan warga.
•	Ibnu salam : penolong yang baik dalam mengerjakan suatu hal
•	Abu amr : seseorang yang gagah berani,tidak takut dengan siapapun.
	Teknik penceritaan : bagus dalam cara penceritaanya,tidak berbelit-belit,mudah difahami.
	Sudut pandang : Orang ketiga jamak
	Konflik : Bahwa laila adalahyang hidup seorang siswa yang hidup di negeri arab dia dijuluki laila karena dia memiliki rambut yang sehitam malam dan wajah yang bersinar,ketika dia sudah menginjak bangku sekolah laila bertemu dengan seorang cowok yang bernama si qais,dia adalah seseorang yang tampan dan baik hati,tapi ketika qais sudah bertemu dengan laila dia menggila-nggila seakan-akan hanya laila yang ada dalam hidupnya,
	Amanat : Kita tidak boleh mencintai seseorang dengan keterlauan sampai-sampai mengorbankan pendidikan demi kekasih tersebut,jadi kita harus mengimbangi antara pacaran dengan pendidikan jangan sampai pacaran itu lebih penting dari mencari ilmu dan ilmu pendidikan itu akan dibawa sampai akhir hayat,kita juga harus memetuhi perintah orang tua karena dialah segala-galannya bagi kita semua.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>NAMA : AGHNIYATUL ULUM THOUSANA<br />
NPM : 211071OO19<br />
KOMENTAR NOVEL LAILA MAJNUN</p>
<p>	Tema : Percintaan antara dua sahabat<br />
	Tokoh : Qais,Laila,Ayah laila,Ayah qais,Ibnu salam.Abu Amr<br />
	Setting : Kota Arab,Ruang kelas,sebuah tempat di puncak bukit dekat dengan rumah laila,Gubuk,sungai kecil,Kamar laila,<br />
	Alur : Maju              karena didalam cerita terssebut menceritaka ketika laila belum bertemu qais sampai bertemunnya kedua pasangan tersebut.<br />
	Watak Tokoh<br />
•	Qais : Anaknya cerdas,berbakat dalam bidang seni berperang dan memainkan alt musik,mengubah syair dan melukis.<br />
•	Laila : Baik,senang berteman denagn siapapun,pandai dalam urusan pelajaran,tapi semenjak bertemu dengan qais dia berubah drastis.<br />
•	Ayah Laila : Penyabar,baik,meskipun mnghadapi anaknya yang keterlaluan itu.<br />
•	Ayah Qais : penyabar,baik,meskipun menghadapi anaknya yang selalu menjadi pembicaraan warga.<br />
•	Ibnu salam : penolong yang baik dalam mengerjakan suatu hal<br />
•	Abu amr : seseorang yang gagah berani,tidak takut dengan siapapun.<br />
	Teknik penceritaan : bagus dalam cara penceritaanya,tidak berbelit-belit,mudah difahami.<br />
	Sudut pandang : Orang ketiga jamak<br />
	Konflik : Bahwa laila adalahyang hidup seorang siswa yang hidup di negeri arab dia dijuluki laila karena dia memiliki rambut yang sehitam malam dan wajah yang bersinar,ketika dia sudah menginjak bangku sekolah laila bertemu dengan seorang cowok yang bernama si qais,dia adalah seseorang yang tampan dan baik hati,tapi ketika qais sudah bertemu dengan laila dia menggila-nggila seakan-akan hanya laila yang ada dalam hidupnya,<br />
	Amanat : Kita tidak boleh mencintai seseorang dengan keterlauan sampai-sampai mengorbankan pendidikan demi kekasih tersebut,jadi kita harus mengimbangi antara pacaran dengan pendidikan jangan sampai pacaran itu lebih penting dari mencari ilmu dan ilmu pendidikan itu akan dibawa sampai akhir hayat,kita juga harus memetuhi perintah orang tua karena dialah segala-galannya bagi kita semua.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Unisma: Menyimak Sastra (A) by AGHNIAYTUL ULUM THOUSANA</title>
		<link>http://kataberkata.com/?page_id=295#comment-16</link>
		<dc:creator>AGHNIAYTUL ULUM THOUSANA</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 02 Dec 2011 13:16:49 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?page_id=295#comment-16</guid>
		<description>NAMA : AGHNIYATUL ULUM THOUSANA
NPM : 211071OO19

KOMENTAR NOVEL LAILA MAJNUN

	Tema : Percintaan antara dua sahabat
	Tokoh : Qais,Laila,Ayah laila,Ayah qais,Ibnu salam.Abu Amr
	Setting : Kota Arab,Ruang kelas,sebuah tempat di puncak bukit dekat dengan rumah laila,Gubuk,sungai kecil,Kamar laila,
	Alur : Maju              karena didalam cerita terssebut menceritaka ketika laila belum bertemu qais sampai bertemunnya kedua pasangan tersebut.
	Watak Tokoh
•	Qais : Anaknya cerdas,berbakat dalam bidang seni berperang dan memainkan alt musik,mengubah syair dan melukis.
•	Laila : Baik,senang berteman denagn siapapun,pandai dalam urusan pelajaran,tapi semenjak bertemu dengan qais dia berubah drastis.
•	Ayah Laila : Penyabar,baik,meskipun mnghadapi anaknya yang keterlaluan itu.
•	Ayah Qais : penyabar,baik,meskipun menghadapi anaknya yang selalu menjadi pembicaraan warga.
•	Ibnu salam : penolong yang baik dalam mengerjakan suatu hal
•	Abu amr : seseorang yang gagah berani,tidak takut dengan siapapun.
	Teknik penceritaan : bagus dalam cara penceritaanya,tidak berbelit-belit,mudah difahami.
	Sudut pandang : Orang ketiga jamak
	Konflik : Bahwa laila adalahyang hidup seorang siswa yang hidup di negeri arab dia dijuluki laila karena dia memiliki rambut yang sehitam malam dan wajah yang bersinar,ketika dia sudah menginjak bangku sekolah laila bertemu dengan seorang cowok yang bernama si qais,dia adalah seseorang yang tampan dan baik hati,tapi ketika qais sudah bertemu dengan laila dia menggila-nggila seakan-akan hanya laila yang ada dalam hidupnya,
	Amanat : Kita tidak boleh mencintai seseorang dengan keterlauan sampai-sampai mengorbankan pendidikan demi kekasih tersebut,jadi kita harus mengimbangi antara pacaran dengan pendidikan jangan sampai pacaran itu lebih penting dari mencari ilmu dan ilmu pendidikan itu akan dibawa sampai akhir hayat,kita juga harus memetuhi perintah orang tua karena dialah segala-galannya bagi kita semua.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>NAMA : AGHNIYATUL ULUM THOUSANA<br />
NPM : 211071OO19</p>
<p>KOMENTAR NOVEL LAILA MAJNUN</p>
<p>	Tema : Percintaan antara dua sahabat<br />
	Tokoh : Qais,Laila,Ayah laila,Ayah qais,Ibnu salam.Abu Amr<br />
	Setting : Kota Arab,Ruang kelas,sebuah tempat di puncak bukit dekat dengan rumah laila,Gubuk,sungai kecil,Kamar laila,<br />
	Alur : Maju              karena didalam cerita terssebut menceritaka ketika laila belum bertemu qais sampai bertemunnya kedua pasangan tersebut.<br />
	Watak Tokoh<br />
•	Qais : Anaknya cerdas,berbakat dalam bidang seni berperang dan memainkan alt musik,mengubah syair dan melukis.<br />
•	Laila : Baik,senang berteman denagn siapapun,pandai dalam urusan pelajaran,tapi semenjak bertemu dengan qais dia berubah drastis.<br />
•	Ayah Laila : Penyabar,baik,meskipun mnghadapi anaknya yang keterlaluan itu.<br />
•	Ayah Qais : penyabar,baik,meskipun menghadapi anaknya yang selalu menjadi pembicaraan warga.<br />
•	Ibnu salam : penolong yang baik dalam mengerjakan suatu hal<br />
•	Abu amr : seseorang yang gagah berani,tidak takut dengan siapapun.<br />
	Teknik penceritaan : bagus dalam cara penceritaanya,tidak berbelit-belit,mudah difahami.<br />
	Sudut pandang : Orang ketiga jamak<br />
	Konflik : Bahwa laila adalahyang hidup seorang siswa yang hidup di negeri arab dia dijuluki laila karena dia memiliki rambut yang sehitam malam dan wajah yang bersinar,ketika dia sudah menginjak bangku sekolah laila bertemu dengan seorang cowok yang bernama si qais,dia adalah seseorang yang tampan dan baik hati,tapi ketika qais sudah bertemu dengan laila dia menggila-nggila seakan-akan hanya laila yang ada dalam hidupnya,<br />
	Amanat : Kita tidak boleh mencintai seseorang dengan keterlauan sampai-sampai mengorbankan pendidikan demi kekasih tersebut,jadi kita harus mengimbangi antara pacaran dengan pendidikan jangan sampai pacaran itu lebih penting dari mencari ilmu dan ilmu pendidikan itu akan dibawa sampai akhir hayat,kita juga harus memetuhi perintah orang tua karena dialah segala-galannya bagi kita semua.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Unisma: Menyimak Sastra (A) by FATHURRAHMAN. (NPM) 211710003</title>
		<link>http://kataberkata.com/?page_id=295#comment-15</link>
		<dc:creator>FATHURRAHMAN. (NPM) 211710003</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 02 Dec 2011 11:45:06 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?page_id=295#comment-15</guid>
		<description>KOMENTAR NOVEL LAYLA MAJNUN
Struktur Novel
1. Tema 
Temanya bersifat tradisional yang mengisahkan antara Laila Majnun yaitu cinta yang terhalang atau kasih yang tak sampai.jadi temanya sangat bagus sehingga pembaca tertarik untuk membacaya dengan memberikan antusias yang sangat luar biasa.
2. Alur
Alur yang digunakan dalam cerita novel ini adalah:
a. pengarang mulai melukiskan suatu kejadian.
b. keadaan mulai memunjak.
c. peristiwa-peristiwa mencapai puncaknya.
d. alur cerita yang bersifat maju.
3. Karakter
Banyak tokoh yang yang berperan dalam cerita novel ini, tetapi penulis tidak menganalisis semua karakter tokoh. dalam novel ini tokoh utamanya yang paling banyak memegang peranannya adalah layla, majnun, syad omri, ayah layla, ibnu salam, dan Qays.
4. Bahasa
Gaya bahasa yang digunakan dalam novel ini, benar-benar membuat pembaca terbuai, dimana semua dilukiskan dengan sempurna. kekayaan dan kedermawaan syed omri, kecantikan layla, ketampanan majnun, keperkasaan naufal, semua digambarkan dengan gaya bahasa yang menarik. juga mengedepankan bahasa yang berkerangka spiritual. pembaca bisa menemukan pesan moral dalam novel ini. novel ini juga mengunakan bahasa yang santun, sehingga tidak tutup kemungkinan semua kalangan bisa untuk membacanya.
5. Latar
 a. latar sosial yaitu gambaran masyarakat, kelompok-kelompok sosial, sikap, adat kebiasaan dan lain-lain.
 b. latar fisik yaitu bangunan, daerah dan lain-lain.
6. konflik
Refresentasi perilaku manusia yang dilihat melalui tokoh majnun, layla, syed omri yang mengalami frustasi. majnun dan layla frustasi karna cinta mereka tidak dapat terwujud di dunia. cinta mereka terhalangi karena kesombongan orang tua layla dan adat yang meningkat. sedangkan syed omri frustasi karna gagal membahagiakan layla. mereka mengalami frustasi yang kronis sehingga berakhir dengan kematian.
7. Penyelesaian konflik
Cara untuk mengatasi frustasi itu, mereka mengadakan penyusaian diri atau yang disebut dengan mekanisme pertahanan. penyesuaian diriyang dilakukan adalah berhayal, pengalihan, dan peningkatan diri. layla dan mejnun melakukan penyesuaian tersebut, sedangkan syad omri tidak melakukan pengalihan. syad omri tidak mau marah kepaa siapapun karna ia adalah seorang pemimpin yang arif dan bijaksana.
8. Amanat.
cinta merupakan kebutuhan hidup manusia. semua orang akan haus akan cinta. melihat dari novel ini mengambarkan kisah cinta antara dua manusia. didalamnya dapat dilihat perjuangan yang bukan saja menembus batas harga diri, status soaial, tetapi mengorbankan harta dan nyawa. penderitaan yang timbul oleh cinta yang penuh halangan, bukan saja pecinta oleh dan orang yang mencintai tetapi juga orang lain yang ada di sekitarnya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>KOMENTAR NOVEL LAYLA MAJNUN<br />
Struktur Novel<br />
1. Tema<br />
Temanya bersifat tradisional yang mengisahkan antara Laila Majnun yaitu cinta yang terhalang atau kasih yang tak sampai.jadi temanya sangat bagus sehingga pembaca tertarik untuk membacaya dengan memberikan antusias yang sangat luar biasa.<br />
2. Alur<br />
Alur yang digunakan dalam cerita novel ini adalah:<br />
a. pengarang mulai melukiskan suatu kejadian.<br />
b. keadaan mulai memunjak.<br />
c. peristiwa-peristiwa mencapai puncaknya.<br />
d. alur cerita yang bersifat maju.<br />
3. Karakter<br />
Banyak tokoh yang yang berperan dalam cerita novel ini, tetapi penulis tidak menganalisis semua karakter tokoh. dalam novel ini tokoh utamanya yang paling banyak memegang peranannya adalah layla, majnun, syad omri, ayah layla, ibnu salam, dan Qays.<br />
4. Bahasa<br />
Gaya bahasa yang digunakan dalam novel ini, benar-benar membuat pembaca terbuai, dimana semua dilukiskan dengan sempurna. kekayaan dan kedermawaan syed omri, kecantikan layla, ketampanan majnun, keperkasaan naufal, semua digambarkan dengan gaya bahasa yang menarik. juga mengedepankan bahasa yang berkerangka spiritual. pembaca bisa menemukan pesan moral dalam novel ini. novel ini juga mengunakan bahasa yang santun, sehingga tidak tutup kemungkinan semua kalangan bisa untuk membacanya.<br />
5. Latar<br />
 a. latar sosial yaitu gambaran masyarakat, kelompok-kelompok sosial, sikap, adat kebiasaan dan lain-lain.<br />
 b. latar fisik yaitu bangunan, daerah dan lain-lain.<br />
6. konflik<br />
Refresentasi perilaku manusia yang dilihat melalui tokoh majnun, layla, syed omri yang mengalami frustasi. majnun dan layla frustasi karna cinta mereka tidak dapat terwujud di dunia. cinta mereka terhalangi karena kesombongan orang tua layla dan adat yang meningkat. sedangkan syed omri frustasi karna gagal membahagiakan layla. mereka mengalami frustasi yang kronis sehingga berakhir dengan kematian.<br />
7. Penyelesaian konflik<br />
Cara untuk mengatasi frustasi itu, mereka mengadakan penyusaian diri atau yang disebut dengan mekanisme pertahanan. penyesuaian diriyang dilakukan adalah berhayal, pengalihan, dan peningkatan diri. layla dan mejnun melakukan penyesuaian tersebut, sedangkan syad omri tidak melakukan pengalihan. syad omri tidak mau marah kepaa siapapun karna ia adalah seorang pemimpin yang arif dan bijaksana.<br />
8. Amanat.<br />
cinta merupakan kebutuhan hidup manusia. semua orang akan haus akan cinta. melihat dari novel ini mengambarkan kisah cinta antara dua manusia. didalamnya dapat dilihat perjuangan yang bukan saja menembus batas harga diri, status soaial, tetapi mengorbankan harta dan nyawa. penderitaan yang timbul oleh cinta yang penuh halangan, bukan saja pecinta oleh dan orang yang mencintai tetapi juga orang lain yang ada di sekitarnya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Unisma: Menyimak Sastra (B) by SUPANDA AMRULLAH</title>
		<link>http://kataberkata.com/?page_id=297#comment-14</link>
		<dc:creator>SUPANDA AMRULLAH</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 02 Dec 2011 06:34:57 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?page_id=297#comment-14</guid>
		<description>RINGKASAN CERITA

    Cerpen “Peradilan Rakyat” karya Putu Wijaya ini berawal dari sebuah dialog seorang anak dan juga ayahnya. Kedatangan seorang anak pada ayahnya ini bukan sekedar hubungan Ayah dan anak melainkan seorang pengacara yang sudah senior kepada pengacara muda. 
    Kedatangan pengacara muda untuk berdialog masalah hukum di negara yang dirasakan lemah oleh mereka. Pengacara muda ini sedang menangani suatu kasus dipersidangan, pengacara muda ini ditugaskan oleh negaranya untuk membela seorang penjahat yang telah merugikan negara. Penjahat yang mendapatkan seorang pengacara yang hebat. Penjahat itu juga meminta pengacara muda itu untuk membelanya. Karena pengacara muda itu adalah seorang pengacara yang professional maka dia menerimanya dengan membela penjahat di persidangan, penjahat yang harusnya menjadi musuh negara dan juga rakyat.
    Pengacara muda tersebut kemudian membela penjahat itu dipersidangan bukan karena uang, bukan pula ancaman, bukan karena mengharapkan balas jasa kelak dari penjahat itu ataupun untuk meraih publikasi karena kehebatannya dalam menangani suatu kasus, melainkan karena tuntutan profesinya. Pengacara muda yang meninggikan profesionalitas diatas emosionalitas itu, tidak bisa menolak karena hal itu adalah kewajiban seorang pengacara untuk membela siapapun diperadilan ketika diminta mejadi seorang pembela. 
    Dalam dialog itu sudah tergambarkan kemengan persidangan ada di pihak pengacara muda dan penjahat negara itu, karena bukti-bukti yang diberikan oleh negara masih sangat sedikit dan lemah, pengadilan itu juga terkesan tergesa-gesa sehingga pengacara itu bisa menang dengan mudah. Namun pengacara tua itu berpesan untuk berhati-hati untuk tidak meremehkan jaksa-jaksa yang diangkat oleh negara, negara juga akan menurunkan sebuah tim untuk menyelesaikan perkara itu. Peradilan saat itu sudah bisa tergambarkan meskipun sidang belum dimulai karena memang hukum di negara itu masih lemah.
    Pengadilan akhirnya dimenangkan oleh pengacara muda. Penjahat itupun bebas. Dengan tertawa lepas penjahat itu menerima kebebasannya dan dengan cepat dia pergi keluar negeri dan sudah sulit untuk menjamahnya kembali. Mengetahui hal itu rakyat menjadi marah, mereka turun ke jalan. Demonstrasi dimana-mana, gedung pengadilan dibakar, para hakimnya dikejar, dan pengacara muda itu diculik dan disiksa. Hingga akhirnya, pengacara muda pun mati. 

1.	Tema: Keadilan di Masyarakat
2.	Alur: Maju
3.	Latar

Pada cerpen tersebut latar tempat ditunjukan pada kutipan cerpen sebagai berikut:
“Seorang pengacara muda yang cemerlang mengunjungi ayahnya, seorang pengacara senior yang sangat dihormati oleh para penegak hukum”.
Latar tempat yang dimaksud, merupakan kantor pengacara senior.
4.	Penokohan
     1.	Pengacara Muda (anak): merupakan seorang pemuda yang kritis, tekun, bersemangat cerdas dan profesional terhadap pekerjaannya sebagai seorang pengacara. 
Ia mencermati keadaan dan situasi, seorang pengacara muda yang bersikap adil dan profesional pada pekerjaannya sebagai pengacara.
     2.	Pengacara Senior (ayah): tua, lemah dan sakit. Memiliki bijaksana, penyayang, rendah hati. 
Karakter tokoh ayah yang menyayangi dan merindukan putranya. Pengacara senior sudah tampak lemah dan tua.
     3.	Sekretaris: perhatian, baik, cantik jelita. 

5.	Sudut Pandang
Sudut pandang yang terdapat dalam cerpen Peradilan Rakyat adalah Sudut pandang orang ketiga yaitu sudut pandang  yang biasanya pengarang menggunakan tokoh “ia”, atau “dia”. 
6.	Gaya Bahasa
1.	Gaya Bahasa Perbandingan
•	Gaya bahasa perumpamaan
-	Mereka menyebutku Singa Lapar.
-	Jangan membunuh diri dengan deskripsi-deskripsi yang menjebak kamu ke dalam doktrin-doktrin beku, mengalir sajalah sewajarnya bagaikan mata air, bagai suara alam
-	Keadilan tak boleh menjadi sebuah taeter, tetapi mutlak hanya pencari keadilan yang kalau perlu dingin dan beku.
•	Metafora
      -	Dengan gemilang dan mudah ia mempencundangi negara dipengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu.
•	Depersonikfikasi
      -	Rakyat pun marah. Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan, menyerbu dengan yel-yel dan poster-poster raksasa.
•	Personifikasi
      -	Sementara sekretaris jelitanya membacakan berita-berita keganasan yang merebak diseluruh wilayah negara dengan suaranya yang empuk, air mata menetes di pipi pengacara besar itu.
2.	Gaya Bahasa Pertentangan
      •	Hiperbola
      -	Tetapi kamu sebagai ujung tombak pencarian keadilan di negeri yang sedang, dicabik-cabik korupsi ini.
      -	Namun yang lebih buas dan keji ketika memperoleh kesempatan menginjak-injak keadilan dan kebenaran yang dulu diberhalakannya.
      -	Jangan membunuh diri dengan deskripsi-deskripsi yang menjebak kamu ke dalamdoktrin-doktrin beku, mengalir sajalah sewajarnya bagaikan mata air, bagai suara alam
      -	Tapi aku tolak mentah-mentah.
      -	Keadilan tak boleh menjadi sebuah taeter, tetapi mutlak hanya pencari keadilan yang kalau perlu dingin dan beku.
      -	Yang tua memicingkan mata dan mulai menembak lagi.
      -	Juga bukan ingin memburu publikasi dan bintang-bintang penghargaan dari organisasi kemanusian di mancanegara yang benci negaramu, bukan?
      -	Entah luluh oleh senyum dibibir wanita yang memiliki mata yang sangat indah itu.
      -	membebaskan bajingan yang ditakuti oleh seluruh rakyat dinegeri ini untuk terbang lepas kembali seperti burung diudara.
      -	Ia merayakan kemenangan dengan pesta kembang semalam suntuk, lalu meloncat ke mancanegara, tak mungkin dijamah lagi.
      -	Rakyat terus mengaum dan hendak menggulingkan pemerintahan yang sah.
      -	Penjahat besar yang akan terbebaskan akan menyulut peradilan rakyat.
      •	Gaya bahasa Sinisme
      -	Tidak seperti pengacara sekarang yang kebanyakan berdagang. Maksudnya, saat ini banyak pengacara yang bekerja dengan tidak profesional. Menjual kejujuran demi kepentingan pribadi atau kelompok.
7.	Pesan
Dari cerpen “Peradilan Rakyat” karya Putu Wijaya ini dapat diambil hikmah, dalam mengambil sebuah keputusan, seharusnya kita menggunakan pikiran serta perasaan. Sehingga keputusan yang kita ambil tersebut tidak merugikan diri sendiri dan orang lain. Banyaknya mafia-mafia kasus yang terjadi saat ini adalah bukti kebrobrokan moral yang terjadi di negeri ini. Hukum seperti masa pisau, tajam kebawah dan tumpul keatas. Hukum pun bisa dibeli. Kita sebagai manusia yang mempunyai akhlak, hendaknya dalam menjalani sebuah pekerjaan haruslah sesuai dengan norma-norma yang berlaku, sehingga hal-hal yang merugikan dan menyengsarakan orang lain, bisa di hindari. Bukan tidak mungkin bila rakyat telah marah, mereka akan lupa diri dan bisa melakukan hal-hal yang di luar batas kewajaran.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>RINGKASAN CERITA</p>
<p>    Cerpen “Peradilan Rakyat” karya Putu Wijaya ini berawal dari sebuah dialog seorang anak dan juga ayahnya. Kedatangan seorang anak pada ayahnya ini bukan sekedar hubungan Ayah dan anak melainkan seorang pengacara yang sudah senior kepada pengacara muda.<br />
    Kedatangan pengacara muda untuk berdialog masalah hukum di negara yang dirasakan lemah oleh mereka. Pengacara muda ini sedang menangani suatu kasus dipersidangan, pengacara muda ini ditugaskan oleh negaranya untuk membela seorang penjahat yang telah merugikan negara. Penjahat yang mendapatkan seorang pengacara yang hebat. Penjahat itu juga meminta pengacara muda itu untuk membelanya. Karena pengacara muda itu adalah seorang pengacara yang professional maka dia menerimanya dengan membela penjahat di persidangan, penjahat yang harusnya menjadi musuh negara dan juga rakyat.<br />
    Pengacara muda tersebut kemudian membela penjahat itu dipersidangan bukan karena uang, bukan pula ancaman, bukan karena mengharapkan balas jasa kelak dari penjahat itu ataupun untuk meraih publikasi karena kehebatannya dalam menangani suatu kasus, melainkan karena tuntutan profesinya. Pengacara muda yang meninggikan profesionalitas diatas emosionalitas itu, tidak bisa menolak karena hal itu adalah kewajiban seorang pengacara untuk membela siapapun diperadilan ketika diminta mejadi seorang pembela.<br />
    Dalam dialog itu sudah tergambarkan kemengan persidangan ada di pihak pengacara muda dan penjahat negara itu, karena bukti-bukti yang diberikan oleh negara masih sangat sedikit dan lemah, pengadilan itu juga terkesan tergesa-gesa sehingga pengacara itu bisa menang dengan mudah. Namun pengacara tua itu berpesan untuk berhati-hati untuk tidak meremehkan jaksa-jaksa yang diangkat oleh negara, negara juga akan menurunkan sebuah tim untuk menyelesaikan perkara itu. Peradilan saat itu sudah bisa tergambarkan meskipun sidang belum dimulai karena memang hukum di negara itu masih lemah.<br />
    Pengadilan akhirnya dimenangkan oleh pengacara muda. Penjahat itupun bebas. Dengan tertawa lepas penjahat itu menerima kebebasannya dan dengan cepat dia pergi keluar negeri dan sudah sulit untuk menjamahnya kembali. Mengetahui hal itu rakyat menjadi marah, mereka turun ke jalan. Demonstrasi dimana-mana, gedung pengadilan dibakar, para hakimnya dikejar, dan pengacara muda itu diculik dan disiksa. Hingga akhirnya, pengacara muda pun mati. </p>
<p>1.	Tema: Keadilan di Masyarakat<br />
2.	Alur: Maju<br />
3.	Latar</p>
<p>Pada cerpen tersebut latar tempat ditunjukan pada kutipan cerpen sebagai berikut:<br />
“Seorang pengacara muda yang cemerlang mengunjungi ayahnya, seorang pengacara senior yang sangat dihormati oleh para penegak hukum”.<br />
Latar tempat yang dimaksud, merupakan kantor pengacara senior.<br />
4.	Penokohan<br />
     1.	Pengacara Muda (anak): merupakan seorang pemuda yang kritis, tekun, bersemangat cerdas dan profesional terhadap pekerjaannya sebagai seorang pengacara.<br />
Ia mencermati keadaan dan situasi, seorang pengacara muda yang bersikap adil dan profesional pada pekerjaannya sebagai pengacara.<br />
     2.	Pengacara Senior (ayah): tua, lemah dan sakit. Memiliki bijaksana, penyayang, rendah hati.<br />
Karakter tokoh ayah yang menyayangi dan merindukan putranya. Pengacara senior sudah tampak lemah dan tua.<br />
     3.	Sekretaris: perhatian, baik, cantik jelita. </p>
<p>5.	Sudut Pandang<br />
Sudut pandang yang terdapat dalam cerpen Peradilan Rakyat adalah Sudut pandang orang ketiga yaitu sudut pandang  yang biasanya pengarang menggunakan tokoh “ia”, atau “dia”.<br />
6.	Gaya Bahasa<br />
1.	Gaya Bahasa Perbandingan<br />
•	Gaya bahasa perumpamaan<br />
-	Mereka menyebutku Singa Lapar.<br />
-	Jangan membunuh diri dengan deskripsi-deskripsi yang menjebak kamu ke dalam doktrin-doktrin beku, mengalir sajalah sewajarnya bagaikan mata air, bagai suara alam<br />
-	Keadilan tak boleh menjadi sebuah taeter, tetapi mutlak hanya pencari keadilan yang kalau perlu dingin dan beku.<br />
•	Metafora<br />
      -	Dengan gemilang dan mudah ia mempencundangi negara dipengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu.<br />
•	Depersonikfikasi<br />
      -	Rakyat pun marah. Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan, menyerbu dengan yel-yel dan poster-poster raksasa.<br />
•	Personifikasi<br />
      -	Sementara sekretaris jelitanya membacakan berita-berita keganasan yang merebak diseluruh wilayah negara dengan suaranya yang empuk, air mata menetes di pipi pengacara besar itu.<br />
2.	Gaya Bahasa Pertentangan<br />
      •	Hiperbola<br />
      -	Tetapi kamu sebagai ujung tombak pencarian keadilan di negeri yang sedang, dicabik-cabik korupsi ini.<br />
      -	Namun yang lebih buas dan keji ketika memperoleh kesempatan menginjak-injak keadilan dan kebenaran yang dulu diberhalakannya.<br />
      -	Jangan membunuh diri dengan deskripsi-deskripsi yang menjebak kamu ke dalamdoktrin-doktrin beku, mengalir sajalah sewajarnya bagaikan mata air, bagai suara alam<br />
      -	Tapi aku tolak mentah-mentah.<br />
      -	Keadilan tak boleh menjadi sebuah taeter, tetapi mutlak hanya pencari keadilan yang kalau perlu dingin dan beku.<br />
      -	Yang tua memicingkan mata dan mulai menembak lagi.<br />
      -	Juga bukan ingin memburu publikasi dan bintang-bintang penghargaan dari organisasi kemanusian di mancanegara yang benci negaramu, bukan?<br />
      -	Entah luluh oleh senyum dibibir wanita yang memiliki mata yang sangat indah itu.<br />
      -	membebaskan bajingan yang ditakuti oleh seluruh rakyat dinegeri ini untuk terbang lepas kembali seperti burung diudara.<br />
      -	Ia merayakan kemenangan dengan pesta kembang semalam suntuk, lalu meloncat ke mancanegara, tak mungkin dijamah lagi.<br />
      -	Rakyat terus mengaum dan hendak menggulingkan pemerintahan yang sah.<br />
      -	Penjahat besar yang akan terbebaskan akan menyulut peradilan rakyat.<br />
      •	Gaya bahasa Sinisme<br />
      -	Tidak seperti pengacara sekarang yang kebanyakan berdagang. Maksudnya, saat ini banyak pengacara yang bekerja dengan tidak profesional. Menjual kejujuran demi kepentingan pribadi atau kelompok.<br />
7.	Pesan<br />
Dari cerpen “Peradilan Rakyat” karya Putu Wijaya ini dapat diambil hikmah, dalam mengambil sebuah keputusan, seharusnya kita menggunakan pikiran serta perasaan. Sehingga keputusan yang kita ambil tersebut tidak merugikan diri sendiri dan orang lain. Banyaknya mafia-mafia kasus yang terjadi saat ini adalah bukti kebrobrokan moral yang terjadi di negeri ini. Hukum seperti masa pisau, tajam kebawah dan tumpul keatas. Hukum pun bisa dibeli. Kita sebagai manusia yang mempunyai akhlak, hendaknya dalam menjalani sebuah pekerjaan haruslah sesuai dengan norma-norma yang berlaku, sehingga hal-hal yang merugikan dan menyengsarakan orang lain, bisa di hindari. Bukan tidak mungkin bila rakyat telah marah, mereka akan lupa diri dan bisa melakukan hal-hal yang di luar batas kewajaran.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Unisma: Menyimak Sastra (A) by SUPANDA AMRULLAH</title>
		<link>http://kataberkata.com/?page_id=295#comment-13</link>
		<dc:creator>SUPANDA AMRULLAH</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 02 Dec 2011 06:30:18 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?page_id=295#comment-13</guid>
		<description>RINGKASAN CERITA
Cerpen “Peradilan Rakyat” karya Putu Wijaya ini berawal dari sebuah dialog seorang anak dan juga ayahnya. Kedatangan seorang anak pada ayahnya ini bukan sekedar hubungan Ayah dan anak melainkan seorang pengacara yang sudah senior kepada pengacara muda. 
Kedatangan pengacara muda untuk berdialog masalah hukum di negara yang dirasakan lemah oleh mereka. Pengacara muda ini sedang menangani suatu kasus dipersidangan, pengacara muda ini ditugaskan oleh negaranya untuk membela seorang penjahat yang telah merugikan negara. Penjahat yang mendapatkan seorang pengacara yang hebat. Penjahat itu juga meminta pengacara muda itu untuk membelanya. Karena pengacara muda itu adalah seorang pengacara yang professional maka dia menerimanya dengan membela penjahat di persidangan, penjahat yang harusnya menjadi musuh negara dan juga rakyat.
Pengacara muda tersebut kemudian membela penjahat itu dipersidangan bukan karena uang, bukan pula ancaman, bukan karena mengharapkan balas jasa kelak dari penjahat itu ataupun untuk meraih publikasi karena kehebatannya dalam menangani suatu kasus, melainkan karena tuntutan profesinya. Pengacara muda yang meninggikan profesionalitas diatas emosionalitas itu, tidak bisa menolak karena hal itu adalah kewajiban seorang pengacara untuk membela siapapun diperadilan ketika diminta mejadi seorang pembela. 
Dalam dialog itu sudah tergambarkan kemengan persidangan ada di pihak pengacara muda dan penjahat negara itu, karena bukti-bukti yang diberikan oleh negara masih sangat sedikit dan lemah, pengadilan itu juga terkesan tergesa-gesa sehingga pengacara itu bisa menang dengan mudah. Namun pengacara tua itu berpesan untuk berhati-hati untuk tidak meremehkan jaksa-jaksa yang diangkat oleh negara, negara juga akan menurunkan sebuah tim untuk menyelesaikan perkara itu. Peradilan saat itu sudah bisa tergambarkan meskipun sidang belum dimulai karena memang hukum di negara itu masih lemah.
Pengadilan akhirnya dimenangkan oleh pengacara muda. Penjahat itupun bebas. Dengan tertawa lepas penjahat itu menerima kebebasannya dan dengan cepat dia pergi keluar negeri dan sudah sulit untuk menjamahnya kembali. Mengetahui hal itu rakyat menjadi marah, mereka turun ke jalan. Demonstrasi dimana-mana, gedung pengadilan dibakar, para hakimnya dikejar, dan pengacara muda itu diculik dan disiksa. Hingga akhirnya, pengacara muda pun mati. 

1.	Tema: Keadilan di Masyarakat
2.	Alur: Maju
3.	Latar
Pada cerpen tersebut latar tempat ditunjukan pada kutipan cerpen sebagai berikut:
“Seorang pengacara muda yang cemerlang mengunjungi ayahnya, seorang pengacara senior yang sangat dihormati oleh para penegak hukum”.
Latar tempat yang dimaksud, merupakan kantor pengacara senior.
4.	Penokohan
1.	Pengacara Muda (anak): merupakan seorang pemuda yang kritis, tekun, bersemangat cerdas dan profesional terhadap pekerjaannya sebagai seorang pengacara. 
Ia mencermati keadaan dan situasi, seorang pengacara muda yang bersikap adil dan profesional pada pekerjaannya sebagai pengacara.
2.	Pengacara Senior (ayah): tua, lemah dan sakit. Memiliki bijaksana, penyayang, rendah hati. 
Karakter tokoh ayah yang menyayangi dan merindukan putranya. Pengacara senior sudah tampak lemah dan tua.
3.	Sekretaris: perhatian, baik, cantik jelita. 

5.	Sudut Pandang
Sudut pandang yang terdapat dalam cerpen Peradilan Rakyat adalah Sudut pandang orang ketiga yaitu sudut pandang  yang biasanya pengarang menggunakan tokoh “ia”, atau “dia”. 
6.	Gaya Bahasa
1.	Gaya Bahasa Perbandingan
•	Gaya bahasa perumpamaan
-	Mereka menyebutku Singa Lapar.
-	Jangan membunuh diri dengan deskripsi-deskripsi yang menjebak kamu ke dalam doktrin-doktrin beku, mengalir sajalah sewajarnya bagaikan mata air, bagai suara alam
-	Keadilan tak boleh menjadi sebuah taeter, tetapi mutlak hanya pencari keadilan yang kalau perlu dingin dan beku.
•	Metafora
-	Dengan gemilang dan mudah ia mempencundangi negara dipengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu.
•	Depersonikfikasi
-	Rakyat pun marah. Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan, menyerbu dengan yel-yel dan poster-poster raksasa.
•	Personifikasi
-	Sementara sekretaris jelitanya membacakan berita-berita keganasan yang merebak diseluruh wilayah negara dengan suaranya yang empuk, air mata menetes di pipi pengacara besar itu.
2.	Gaya Bahasa Pertentangan
•	Hiperbola
-	Tetapi kamu sebagai ujung tombak pencarian keadilan di negeri yang sedang, dicabik-cabik korupsi ini.
-	Namun yang lebih buas dan keji ketika memperoleh kesempatan menginjak-injak keadilan dan kebenaran yang dulu diberhalakannya.
-	Jangan membunuh diri dengan deskripsi-deskripsi yang menjebak kamu ke dalamdoktrin-doktrin beku, mengalir sajalah sewajarnya bagaikan mata air, bagai suara alam
-	Tapi aku tolak mentah-mentah.
-	Keadilan tak boleh menjadi sebuah taeter, tetapi mutlak hanya pencari keadilan yang kalau perlu dingin dan beku.
-	Yang tua memicingkan mata dan mulai menembak lagi.
-	Juga bukan ingin memburu publikasi dan bintang-bintang penghargaan dari organisasi kemanusian di mancanegara yang benci negaramu, bukan?
-	Entah luluh oleh senyum dibibir wanita yang memiliki mata yang sangat indah itu.
-	membebaskan bajingan yang ditakuti oleh seluruh rakyat dinegeri ini untuk terbang lepas kembali seperti burung diudara.
-	Ia merayakan kemenangan dengan pesta kembang semalam suntuk, lalu meloncat ke mancanegara, tak mungkin dijamah lagi.
-	Rakyat terus mengaum dan hendak menggulingkan pemerintahan yang sah.
-	Penjahat besar yang akan terbebaskan akan menyulut peradilan rakyat.
•	Gaya bahasa Sinisme
-	Tidak seperti pengacara sekarang yang kebanyakan berdagang. Maksudnya, saat ini banyak pengacara yang bekerja dengan tidak profesional. Menjual kejujuran demi kepentingan pribadi atau kelompok.
7.	Pesan
Dari cerpen “Peradilan Rakyat” karya Putu Wijaya ini dapat diambil hikmah, dalam mengambil sebuah keputusan, seharusnya kita menggunakan pikiran serta perasaan. Sehingga keputusan yang kita ambil tersebut tidak merugikan diri sendiri dan orang lain. Banyaknya mafia-mafia kasus yang terjadi saat ini adalah bukti kebrobrokan moral yang terjadi di negeri ini. Hukum seperti masa pisau, tajam kebawah dan tumpul keatas. Hukum pun bisa dibeli. Kita sebagai manusia yang mempunyai akhlak, hendaknya dalam menjalani sebuah pekerjaan haruslah sesuai dengan norma-norma yang berlaku, sehingga hal-hal yang merugikan dan menyengsarakan orang lain, bisa di hindari. Bukan tidak mungkin bila rakyat telah marah, mereka akan lupa diri dan bisa melakukan hal-hal yang di luar batas kewajaran.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>RINGKASAN CERITA<br />
Cerpen “Peradilan Rakyat” karya Putu Wijaya ini berawal dari sebuah dialog seorang anak dan juga ayahnya. Kedatangan seorang anak pada ayahnya ini bukan sekedar hubungan Ayah dan anak melainkan seorang pengacara yang sudah senior kepada pengacara muda.<br />
Kedatangan pengacara muda untuk berdialog masalah hukum di negara yang dirasakan lemah oleh mereka. Pengacara muda ini sedang menangani suatu kasus dipersidangan, pengacara muda ini ditugaskan oleh negaranya untuk membela seorang penjahat yang telah merugikan negara. Penjahat yang mendapatkan seorang pengacara yang hebat. Penjahat itu juga meminta pengacara muda itu untuk membelanya. Karena pengacara muda itu adalah seorang pengacara yang professional maka dia menerimanya dengan membela penjahat di persidangan, penjahat yang harusnya menjadi musuh negara dan juga rakyat.<br />
Pengacara muda tersebut kemudian membela penjahat itu dipersidangan bukan karena uang, bukan pula ancaman, bukan karena mengharapkan balas jasa kelak dari penjahat itu ataupun untuk meraih publikasi karena kehebatannya dalam menangani suatu kasus, melainkan karena tuntutan profesinya. Pengacara muda yang meninggikan profesionalitas diatas emosionalitas itu, tidak bisa menolak karena hal itu adalah kewajiban seorang pengacara untuk membela siapapun diperadilan ketika diminta mejadi seorang pembela.<br />
Dalam dialog itu sudah tergambarkan kemengan persidangan ada di pihak pengacara muda dan penjahat negara itu, karena bukti-bukti yang diberikan oleh negara masih sangat sedikit dan lemah, pengadilan itu juga terkesan tergesa-gesa sehingga pengacara itu bisa menang dengan mudah. Namun pengacara tua itu berpesan untuk berhati-hati untuk tidak meremehkan jaksa-jaksa yang diangkat oleh negara, negara juga akan menurunkan sebuah tim untuk menyelesaikan perkara itu. Peradilan saat itu sudah bisa tergambarkan meskipun sidang belum dimulai karena memang hukum di negara itu masih lemah.<br />
Pengadilan akhirnya dimenangkan oleh pengacara muda. Penjahat itupun bebas. Dengan tertawa lepas penjahat itu menerima kebebasannya dan dengan cepat dia pergi keluar negeri dan sudah sulit untuk menjamahnya kembali. Mengetahui hal itu rakyat menjadi marah, mereka turun ke jalan. Demonstrasi dimana-mana, gedung pengadilan dibakar, para hakimnya dikejar, dan pengacara muda itu diculik dan disiksa. Hingga akhirnya, pengacara muda pun mati. </p>
<p>1.	Tema: Keadilan di Masyarakat<br />
2.	Alur: Maju<br />
3.	Latar<br />
Pada cerpen tersebut latar tempat ditunjukan pada kutipan cerpen sebagai berikut:<br />
“Seorang pengacara muda yang cemerlang mengunjungi ayahnya, seorang pengacara senior yang sangat dihormati oleh para penegak hukum”.<br />
Latar tempat yang dimaksud, merupakan kantor pengacara senior.<br />
4.	Penokohan<br />
1.	Pengacara Muda (anak): merupakan seorang pemuda yang kritis, tekun, bersemangat cerdas dan profesional terhadap pekerjaannya sebagai seorang pengacara.<br />
Ia mencermati keadaan dan situasi, seorang pengacara muda yang bersikap adil dan profesional pada pekerjaannya sebagai pengacara.<br />
2.	Pengacara Senior (ayah): tua, lemah dan sakit. Memiliki bijaksana, penyayang, rendah hati.<br />
Karakter tokoh ayah yang menyayangi dan merindukan putranya. Pengacara senior sudah tampak lemah dan tua.<br />
3.	Sekretaris: perhatian, baik, cantik jelita. </p>
<p>5.	Sudut Pandang<br />
Sudut pandang yang terdapat dalam cerpen Peradilan Rakyat adalah Sudut pandang orang ketiga yaitu sudut pandang  yang biasanya pengarang menggunakan tokoh “ia”, atau “dia”.<br />
6.	Gaya Bahasa<br />
1.	Gaya Bahasa Perbandingan<br />
•	Gaya bahasa perumpamaan<br />
-	Mereka menyebutku Singa Lapar.<br />
-	Jangan membunuh diri dengan deskripsi-deskripsi yang menjebak kamu ke dalam doktrin-doktrin beku, mengalir sajalah sewajarnya bagaikan mata air, bagai suara alam<br />
-	Keadilan tak boleh menjadi sebuah taeter, tetapi mutlak hanya pencari keadilan yang kalau perlu dingin dan beku.<br />
•	Metafora<br />
-	Dengan gemilang dan mudah ia mempencundangi negara dipengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu.<br />
•	Depersonikfikasi<br />
-	Rakyat pun marah. Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan, menyerbu dengan yel-yel dan poster-poster raksasa.<br />
•	Personifikasi<br />
-	Sementara sekretaris jelitanya membacakan berita-berita keganasan yang merebak diseluruh wilayah negara dengan suaranya yang empuk, air mata menetes di pipi pengacara besar itu.<br />
2.	Gaya Bahasa Pertentangan<br />
•	Hiperbola<br />
-	Tetapi kamu sebagai ujung tombak pencarian keadilan di negeri yang sedang, dicabik-cabik korupsi ini.<br />
-	Namun yang lebih buas dan keji ketika memperoleh kesempatan menginjak-injak keadilan dan kebenaran yang dulu diberhalakannya.<br />
-	Jangan membunuh diri dengan deskripsi-deskripsi yang menjebak kamu ke dalamdoktrin-doktrin beku, mengalir sajalah sewajarnya bagaikan mata air, bagai suara alam<br />
-	Tapi aku tolak mentah-mentah.<br />
-	Keadilan tak boleh menjadi sebuah taeter, tetapi mutlak hanya pencari keadilan yang kalau perlu dingin dan beku.<br />
-	Yang tua memicingkan mata dan mulai menembak lagi.<br />
-	Juga bukan ingin memburu publikasi dan bintang-bintang penghargaan dari organisasi kemanusian di mancanegara yang benci negaramu, bukan?<br />
-	Entah luluh oleh senyum dibibir wanita yang memiliki mata yang sangat indah itu.<br />
-	membebaskan bajingan yang ditakuti oleh seluruh rakyat dinegeri ini untuk terbang lepas kembali seperti burung diudara.<br />
-	Ia merayakan kemenangan dengan pesta kembang semalam suntuk, lalu meloncat ke mancanegara, tak mungkin dijamah lagi.<br />
-	Rakyat terus mengaum dan hendak menggulingkan pemerintahan yang sah.<br />
-	Penjahat besar yang akan terbebaskan akan menyulut peradilan rakyat.<br />
•	Gaya bahasa Sinisme<br />
-	Tidak seperti pengacara sekarang yang kebanyakan berdagang. Maksudnya, saat ini banyak pengacara yang bekerja dengan tidak profesional. Menjual kejujuran demi kepentingan pribadi atau kelompok.<br />
7.	Pesan<br />
Dari cerpen “Peradilan Rakyat” karya Putu Wijaya ini dapat diambil hikmah, dalam mengambil sebuah keputusan, seharusnya kita menggunakan pikiran serta perasaan. Sehingga keputusan yang kita ambil tersebut tidak merugikan diri sendiri dan orang lain. Banyaknya mafia-mafia kasus yang terjadi saat ini adalah bukti kebrobrokan moral yang terjadi di negeri ini. Hukum seperti masa pisau, tajam kebawah dan tumpul keatas. Hukum pun bisa dibeli. Kita sebagai manusia yang mempunyai akhlak, hendaknya dalam menjalani sebuah pekerjaan haruslah sesuai dengan norma-norma yang berlaku, sehingga hal-hal yang merugikan dan menyengsarakan orang lain, bisa di hindari. Bukan tidak mungkin bila rakyat telah marah, mereka akan lupa diri dan bisa melakukan hal-hal yang di luar batas kewajaran.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Unisma: Menyimak Sastra (B) by ummul hasanah 2110710069</title>
		<link>http://kataberkata.com/?page_id=297#comment-12</link>
		<dc:creator>ummul hasanah 2110710069</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 02 Dec 2011 05:11:30 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?page_id=297#comment-12</guid>
		<description>Nama :ummul hasanah
Npm: 2110710069
Semester:1b

1.      Tema: Peradilan di Masyarakat
2.      Alur: Maju (progesif)
a. Plausibilitas, yaitu hal-hal yang dipercaya sesuai logika cerita.
Dalam cerpen ini terdapat alur cerita yang sesuai dengan logika, contohnya pada kutipan berikut ini :
Pengacara tua yang bercambang dan jenggot memutih itu, tidak terkejut. Ia menatap putranya dari kursi rodanya, lalu menjawab dengan suara yang tenang dan agung.
&quot;Apa yang ingin kamu tentang, anak muda?&quot;
Pengacara muda tertegun. &quot;Ayahanda bertanya kepadaku?&quot;
&quot;Ya, kepada kamu, bukan sebagai putraku, tetapi kamu sebagai ujung tombak pencarian keadilan di negeri yang sedang dicabik-cabik korupsi ini.&quot;
b. Suspense, yaitu cerita mampu membangkitkan rasa ingin tahu pembaca.
Dalam cerpen ini terdapat alur cerita yang mampu membangkitkan rasa ingin tahu pembaca, contohnya pada kutipan berikut ini :
&quot;Tidak apa. Jangan surut. Katakan saja apa yang hendak kamu katakan,&quot; sambung pengacara tua menenangkan, sembari mengangkat tangan, menikmati juga pujian itu, &quot;jangan membatasi dirimu sendiri. Jangan membunuh diri dengan diskripsi – diskripsi yang akan menjebak kamu ke dalam doktrin – doktrin beku, mengalir sajalah sewajarnya bagaikan mata air, bagai suara alam, karena kamu sangat diperlukan oleh bangsamu ini.
Pengacara muda diam beberapa lama untuk merumuskan diri. Lalu ia meneruskan ucapannya dengan lebih tenang.&quot;Aku datang kemari ingin mendengar suaramu. Aku mau berdialog.&quot;&quot;Baik. Mulailah. Berbicaralah sebebas-bebasnya.&quot;
c. Surprise, yaitu cerita mampu memberikan kejutan kepada pembaca sehingga pembaca ingin mengetahui kelanjutan cerita tersebut.
Dalam cerpen ini terdapat alur cerita yang mampu memberikan kejutan kepada pembaca, contohnya pada kutipan berikut ini :
Apa yang dibisikkan pengacara muda itu kemudian menjadi kenyataan. Dengan gemilang dan mudah ia mempecundangi negara di pengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu. Bangsat itu tertawa terkekeh-kekeh. Ia merayakan kemenangannya dengan pesta kembang api semalam suntuk, lalu meloncat ke mancanegara, tak mungkin dijamah lagi. Rakyat pun marah. Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan, menyerbu dengan yel-yel dan poster – poster raksasa. Gedung pengadilan diserbu dan dibakar. Hakimnya diburu-buru. Pengacara muda itu diculik, disiksa dan akhirnya baru dikembalikan sesudah jadi mayat. Tetapi itu pun belum cukup. Rakyat terus mengaum dan hendak menggulingkan pemerintahan yang sah.
d. Unity (kepaduan), yaitu peristiwa yang ditampilkan dalam cerita memiliki keterkaitan satu dengan lainnya.  
Dalam cerpen ini terdapat keterkaitan dalam setiap kisahnya.

3.      Latar 
         Latar tempat : Pada cerpen, latar tempat ditunjukan pada kutipan cerpen sebagai berikut:
“Seorang pengacara muda yang cemerlang mengunjungi ayahnya, seorang pengacara senior yang sangat dihormati oleh para penegak hukum.”
Latar tempat yang dimaksud, merupakan kantor pengacara dimana tempat ayahnya seorang pengacara senior.
         Latar Sosial, yaitu yang mengacu pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi. Tata cara kehidupan sosial masyarakat mencakup berbagai masalah dalam lingkup yang cukup kompleks serta dapat berupa kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara berpikir dan bersikap. Selain itu latar sosial juga berhubungan dengan status sosial tokoh yang bersangkutan.

4.  Penokohan dan Perwatakan
a)  Pengacara Muda (anak): merupakan seorang pemuda yang kritis, tekun, bersemangat cerdas dan profesional terhadap pekerjaannya sebagi seorang pengacara. Hal tersebut berdasarkan kutipan dibawah ini:
“Aku tidak datang untuk menentang atau memuji Anda. Anda dengan seluruh sejarah Anda memang terlalu besar untuk dibicarakan. Meskipun bukan bebas dari kritik. Aku punya sederetan koreksi terhadap kebijakan-kebijakan yang sudah Anda lakukan. Dan aku terlalu kecil untuk menentang bahkan juga terlalu tak pantas untuk memujimu. Anda sudah tidak memerlukan cercaan atau pujian lagi. Karena kau bukan hanya penegak keadilan yang bersih, kau yang selalu berhasil dan sempurna, tetapi kau juga adalah keadilan itu sendiri”
Dari kutipan diatas menunjukkan bahwa pengacara muda tersebut cerdas, dan berpikir kritis. Ia mencermati keadaan dan situasi, seorang pengacara muda yang bersikap adil dan profesional pada pekerjaannya sebagai pengacara.
b) Pengacara Senior (ayah): tua, lemah dan sakit. Memiliki bijaksana, penyayang, rendah hati. Hal tersebut berdasarkan kutipan:
“Aku kira tak ada yang perlu dibahas lagi. Sudah jelas. Lebih baik kamu pulang sekarang. Biarkan aku bertemu dengan putraku, sebab aku sudah sangat rindu kepada dia.”
Pengacara muda itu jadi amat terharu. Ia berdiri hendak memeluk ayahnya. Tetapi orang tua itu mengangkat tangan dan memperingatkan dengan suara yang serak. Nampaknya sudah lelah dan kesakitan.
Dari kutipan diatas, karakter tokoh ayah yang menyayangi dan merindukan putranya. Pengacara senior sudah tampak lemah dan tua.
c) Sekretaris, perhatian, baik, cantik jelita. Hal tersebut berdasarkan kutipan dibawah ini:
“Sekretarisnya yang jelita, kemudian menyelimuti tubuhnya. Setelah itu wanita itu menoleh kepada pengacara muda.”
“Maaf, saya kira pertemuan harus diakhiri di sini, Pak. Beliau perlu banyak beristirahat. Selamat malam.”
Dikemukakan, bahwa sekretaris yang cantik dan dan perhatian. Ia mengatakan bahwa pengacara senior hendak beristirahat.
d) Sudut Pandang
          Sudut pandang adalah cara memandang tokoh-tokoh cerita dengan menempatkan dirinya pada posisi tertentu. Sudut pandang yang terdapat dalam cerpen Peradilan Rakyat adalah Sudut pandang orang ketiga yaitu sudut pandang  yang biasanya pengarang menggunakan tokoh “ia”, atau “dia”. Atau bisa juga dengan menyebut nama tokohnya; Contohnya pada kutipan dibawah ini
“Pengacara tua yang bercambang dan jenggot memutih itu, tidak terkejut. Ia menatap putranya dari kursi rodanya, lalu menjawab dengan suara yang tenang dan agung,
…. Pengacara muda diam beberapa lama untuk merumuskan diri. Lalu ia meneruskan ucapannya dengan lebih tenang.”
          Berdasarkan pada kutipan diatas, diketahui penggunaan tokoh “ia” dan subjek lain dengan kata ganti pengacara muda.
5. Gaya Bahasa
Bahasa dalam cerpen memilki peran ganda, bahasa tidak hanya berfungsi sebagai penyampai gagasan pengarang. Namun juga sebagai penyampai perasaannya. Beberapa cara yang ditempuh oleh pengarang dalam memberdayakan bahasa cerpen ialah dengan menggunakan perbandingan, menghidupkan benda mati, melukiskan sesuatu dengan tidak sewajarnya, dan sebagainya. Melebih-lebihkan kata sehingga menampilkan unsur-unsur sasta yang indah dan menarik. Itulah sebabnya, terkadang dalam karya sastra sering dijumpai kalimat-kalimat khas. Putu Wijaya juga menggunakan majas dalam karyanya, antara lain :
Majas perumpamaan pada kutipan berikut :
    Mereka menyebutku Singa Lapar.
  Jangan membunuh diri dengan deskripsi-deskripsi yang menjebak kamu ke dalam doktrin-doktrin beku, mengalir sajalah sewajarnya bagaikan mata air, bagai suara alam
  Keadilan tak boleh menjadi sebuah taeter, tetapi mutlak hanya pencari keadilan yang kalau perlu dingin dan beku.
Majas metafora, pada kutipan berikut :
Dengan gemilang dan mudah ia mempencundangi negara dipengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu.
Majas hiperbola pada kutipan berikut :
  Tetapi kamu sebagai ujung tombak pencarian keadilan di negeri yang sedang, dicabik-cabik korupsi ini.
  Namun yang lebih buas dan keji ketika memperoleh kesempatan menginjak-injak keadilan dan kebenaran yang dulu diberhalakannya.
  Jangan membunuh diri dengan deskripsi-deskripsi yang menjebak kamu ke dalam doktrin-doktrin beku, mengalir sajalah sewajarnya bagaikan mata air, bagai suara alam
  Tapi aku tolak mentah-mentah.
  Keadilan tak boleh menjadi sebuah taeter, tetapi mutlak hanya pencari keadilan yang kalau perlu dingin dan beku.
Majas personifikasi  pada kutipan berikut :
Sementara sekretaris jelitanya membacakan berita-berita keganasan yang merebak diseluruh wilayah negara dengan suaranya yang empuk, air mata menetes di pipi pengacara besar itu.
6.  Amanat
Dari cerpen “Peradilan Rakyat” karya Putu Wijaya ini dapat diambil hikmah, dalam mengambil pilihan hidup itu kita seharusnya sebagai manusia, harus menggunakan pikiran serta perasaan. Sehingga pilihan yang kita ambil tersebut tidak merugikan diri sendiri dan orang lain. Banyaknya mafia – mafia kasus yang terjadi saat ini adalah bukti kebrobrokan moral yang terjadi di Negara ini, yang dimana hokum bisa dibeli di negeri ini. Kita yang sebagai manusia mempunyai akhlak hendaknya dalam menjalani sebuah pekerjaan haruslah sesuai dengan norma – norma yang berlaku, sehingga hal – hal yang merugikan orang lain apalagi menyengsarakan orang lain tersebut bisa di hindari. Bukan tidak mungkin bila rakyat telah marah, mereka akan lupa diri dan bisa melakukan hal – hal yang di luar batas kewajaran.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Nama :ummul hasanah<br />
Npm: 2110710069<br />
Semester:1b</p>
<p>1.      Tema: Peradilan di Masyarakat<br />
2.      Alur: Maju (progesif)<br />
a. Plausibilitas, yaitu hal-hal yang dipercaya sesuai logika cerita.<br />
Dalam cerpen ini terdapat alur cerita yang sesuai dengan logika, contohnya pada kutipan berikut ini :<br />
Pengacara tua yang bercambang dan jenggot memutih itu, tidak terkejut. Ia menatap putranya dari kursi rodanya, lalu menjawab dengan suara yang tenang dan agung.<br />
&#8220;Apa yang ingin kamu tentang, anak muda?&#8221;<br />
Pengacara muda tertegun. &#8220;Ayahanda bertanya kepadaku?&#8221;<br />
&#8220;Ya, kepada kamu, bukan sebagai putraku, tetapi kamu sebagai ujung tombak pencarian keadilan di negeri yang sedang dicabik-cabik korupsi ini.&#8221;<br />
b. Suspense, yaitu cerita mampu membangkitkan rasa ingin tahu pembaca.<br />
Dalam cerpen ini terdapat alur cerita yang mampu membangkitkan rasa ingin tahu pembaca, contohnya pada kutipan berikut ini :<br />
&#8220;Tidak apa. Jangan surut. Katakan saja apa yang hendak kamu katakan,&#8221; sambung pengacara tua menenangkan, sembari mengangkat tangan, menikmati juga pujian itu, &#8220;jangan membatasi dirimu sendiri. Jangan membunuh diri dengan diskripsi – diskripsi yang akan menjebak kamu ke dalam doktrin – doktrin beku, mengalir sajalah sewajarnya bagaikan mata air, bagai suara alam, karena kamu sangat diperlukan oleh bangsamu ini.<br />
Pengacara muda diam beberapa lama untuk merumuskan diri. Lalu ia meneruskan ucapannya dengan lebih tenang.&#8221;Aku datang kemari ingin mendengar suaramu. Aku mau berdialog.&#8221;"Baik. Mulailah. Berbicaralah sebebas-bebasnya.&#8221;<br />
c. Surprise, yaitu cerita mampu memberikan kejutan kepada pembaca sehingga pembaca ingin mengetahui kelanjutan cerita tersebut.<br />
Dalam cerpen ini terdapat alur cerita yang mampu memberikan kejutan kepada pembaca, contohnya pada kutipan berikut ini :<br />
Apa yang dibisikkan pengacara muda itu kemudian menjadi kenyataan. Dengan gemilang dan mudah ia mempecundangi negara di pengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu. Bangsat itu tertawa terkekeh-kekeh. Ia merayakan kemenangannya dengan pesta kembang api semalam suntuk, lalu meloncat ke mancanegara, tak mungkin dijamah lagi. Rakyat pun marah. Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan, menyerbu dengan yel-yel dan poster – poster raksasa. Gedung pengadilan diserbu dan dibakar. Hakimnya diburu-buru. Pengacara muda itu diculik, disiksa dan akhirnya baru dikembalikan sesudah jadi mayat. Tetapi itu pun belum cukup. Rakyat terus mengaum dan hendak menggulingkan pemerintahan yang sah.<br />
d. Unity (kepaduan), yaitu peristiwa yang ditampilkan dalam cerita memiliki keterkaitan satu dengan lainnya. <br />
Dalam cerpen ini terdapat keterkaitan dalam setiap kisahnya.</p>
<p>3.      Latar<br />
         Latar tempat : Pada cerpen, latar tempat ditunjukan pada kutipan cerpen sebagai berikut:<br />
“Seorang pengacara muda yang cemerlang mengunjungi ayahnya, seorang pengacara senior yang sangat dihormati oleh para penegak hukum.”<br />
Latar tempat yang dimaksud, merupakan kantor pengacara dimana tempat ayahnya seorang pengacara senior.<br />
         Latar Sosial, yaitu yang mengacu pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi. Tata cara kehidupan sosial masyarakat mencakup berbagai masalah dalam lingkup yang cukup kompleks serta dapat berupa kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara berpikir dan bersikap. Selain itu latar sosial juga berhubungan dengan status sosial tokoh yang bersangkutan.</p>
<p>4.  Penokohan dan Perwatakan<br />
a)  Pengacara Muda (anak): merupakan seorang pemuda yang kritis, tekun, bersemangat cerdas dan profesional terhadap pekerjaannya sebagi seorang pengacara. Hal tersebut berdasarkan kutipan dibawah ini:<br />
“Aku tidak datang untuk menentang atau memuji Anda. Anda dengan seluruh sejarah Anda memang terlalu besar untuk dibicarakan. Meskipun bukan bebas dari kritik. Aku punya sederetan koreksi terhadap kebijakan-kebijakan yang sudah Anda lakukan. Dan aku terlalu kecil untuk menentang bahkan juga terlalu tak pantas untuk memujimu. Anda sudah tidak memerlukan cercaan atau pujian lagi. Karena kau bukan hanya penegak keadilan yang bersih, kau yang selalu berhasil dan sempurna, tetapi kau juga adalah keadilan itu sendiri”<br />
Dari kutipan diatas menunjukkan bahwa pengacara muda tersebut cerdas, dan berpikir kritis. Ia mencermati keadaan dan situasi, seorang pengacara muda yang bersikap adil dan profesional pada pekerjaannya sebagai pengacara.<br />
b) Pengacara Senior (ayah): tua, lemah dan sakit. Memiliki bijaksana, penyayang, rendah hati. Hal tersebut berdasarkan kutipan:<br />
“Aku kira tak ada yang perlu dibahas lagi. Sudah jelas. Lebih baik kamu pulang sekarang. Biarkan aku bertemu dengan putraku, sebab aku sudah sangat rindu kepada dia.”<br />
Pengacara muda itu jadi amat terharu. Ia berdiri hendak memeluk ayahnya. Tetapi orang tua itu mengangkat tangan dan memperingatkan dengan suara yang serak. Nampaknya sudah lelah dan kesakitan.<br />
Dari kutipan diatas, karakter tokoh ayah yang menyayangi dan merindukan putranya. Pengacara senior sudah tampak lemah dan tua.<br />
c) Sekretaris, perhatian, baik, cantik jelita. Hal tersebut berdasarkan kutipan dibawah ini:<br />
“Sekretarisnya yang jelita, kemudian menyelimuti tubuhnya. Setelah itu wanita itu menoleh kepada pengacara muda.”<br />
“Maaf, saya kira pertemuan harus diakhiri di sini, Pak. Beliau perlu banyak beristirahat. Selamat malam.”<br />
Dikemukakan, bahwa sekretaris yang cantik dan dan perhatian. Ia mengatakan bahwa pengacara senior hendak beristirahat.<br />
d) Sudut Pandang<br />
          Sudut pandang adalah cara memandang tokoh-tokoh cerita dengan menempatkan dirinya pada posisi tertentu. Sudut pandang yang terdapat dalam cerpen Peradilan Rakyat adalah Sudut pandang orang ketiga yaitu sudut pandang  yang biasanya pengarang menggunakan tokoh “ia”, atau “dia”. Atau bisa juga dengan menyebut nama tokohnya; Contohnya pada kutipan dibawah ini<br />
“Pengacara tua yang bercambang dan jenggot memutih itu, tidak terkejut. Ia menatap putranya dari kursi rodanya, lalu menjawab dengan suara yang tenang dan agung,<br />
…. Pengacara muda diam beberapa lama untuk merumuskan diri. Lalu ia meneruskan ucapannya dengan lebih tenang.”<br />
          Berdasarkan pada kutipan diatas, diketahui penggunaan tokoh “ia” dan subjek lain dengan kata ganti pengacara muda.<br />
5. Gaya Bahasa<br />
Bahasa dalam cerpen memilki peran ganda, bahasa tidak hanya berfungsi sebagai penyampai gagasan pengarang. Namun juga sebagai penyampai perasaannya. Beberapa cara yang ditempuh oleh pengarang dalam memberdayakan bahasa cerpen ialah dengan menggunakan perbandingan, menghidupkan benda mati, melukiskan sesuatu dengan tidak sewajarnya, dan sebagainya. Melebih-lebihkan kata sehingga menampilkan unsur-unsur sasta yang indah dan menarik. Itulah sebabnya, terkadang dalam karya sastra sering dijumpai kalimat-kalimat khas. Putu Wijaya juga menggunakan majas dalam karyanya, antara lain :<br />
Majas perumpamaan pada kutipan berikut :<br />
    Mereka menyebutku Singa Lapar.<br />
  Jangan membunuh diri dengan deskripsi-deskripsi yang menjebak kamu ke dalam doktrin-doktrin beku, mengalir sajalah sewajarnya bagaikan mata air, bagai suara alam<br />
  Keadilan tak boleh menjadi sebuah taeter, tetapi mutlak hanya pencari keadilan yang kalau perlu dingin dan beku.<br />
Majas metafora, pada kutipan berikut :<br />
Dengan gemilang dan mudah ia mempencundangi negara dipengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu.<br />
Majas hiperbola pada kutipan berikut :<br />
  Tetapi kamu sebagai ujung tombak pencarian keadilan di negeri yang sedang, dicabik-cabik korupsi ini.<br />
  Namun yang lebih buas dan keji ketika memperoleh kesempatan menginjak-injak keadilan dan kebenaran yang dulu diberhalakannya.<br />
  Jangan membunuh diri dengan deskripsi-deskripsi yang menjebak kamu ke dalam doktrin-doktrin beku, mengalir sajalah sewajarnya bagaikan mata air, bagai suara alam<br />
  Tapi aku tolak mentah-mentah.<br />
  Keadilan tak boleh menjadi sebuah taeter, tetapi mutlak hanya pencari keadilan yang kalau perlu dingin dan beku.<br />
Majas personifikasi  pada kutipan berikut :<br />
Sementara sekretaris jelitanya membacakan berita-berita keganasan yang merebak diseluruh wilayah negara dengan suaranya yang empuk, air mata menetes di pipi pengacara besar itu.<br />
6.  Amanat<br />
Dari cerpen “Peradilan Rakyat” karya Putu Wijaya ini dapat diambil hikmah, dalam mengambil pilihan hidup itu kita seharusnya sebagai manusia, harus menggunakan pikiran serta perasaan. Sehingga pilihan yang kita ambil tersebut tidak merugikan diri sendiri dan orang lain. Banyaknya mafia – mafia kasus yang terjadi saat ini adalah bukti kebrobrokan moral yang terjadi di Negara ini, yang dimana hokum bisa dibeli di negeri ini. Kita yang sebagai manusia mempunyai akhlak hendaknya dalam menjalani sebuah pekerjaan haruslah sesuai dengan norma – norma yang berlaku, sehingga hal – hal yang merugikan orang lain apalagi menyengsarakan orang lain tersebut bisa di hindari. Bukan tidak mungkin bila rakyat telah marah, mereka akan lupa diri dan bisa melakukan hal – hal yang di luar batas kewajaran.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Unisma: Menyimak Sastra (B) by dewi anita sari 2110710058</title>
		<link>http://kataberkata.com/?page_id=297#comment-11</link>
		<dc:creator>dewi anita sari 2110710058</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 02 Dec 2011 05:08:05 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?page_id=297#comment-11</guid>
		<description>kata katanya sangat sulit di pahami karena terlalu singkat ceritanya</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>kata katanya sangat sulit di pahami karena terlalu singkat ceritanya</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Unisma: Menyimak Sastra (B) by Maila Ulfa Abidah (2110710066)</title>
		<link>http://kataberkata.com/?page_id=297#comment-8</link>
		<dc:creator>Maila Ulfa Abidah (2110710066)</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 01 Dec 2011 04:42:08 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kataberkata.com/?page_id=297#comment-8</guid>
		<description>Tema :Peradilan rakyat
Alur :Maju
Setting :Kantor pengacara
Penokohan :Pengacara muda (anak),pengacara senior(ayah),sekretaris
Watak:
a.Pengacara muda(anak)merupakan seorang pemuda yang kritis,tekun,bersemangat,cerdas dan profesional terhadap pekerjaannya sebagai seorang pengacara
b.Pengacara Senior(ayah):Bijaksana,penyayang,rendah hati
c.Sekretaris:Perhatian,baik,dan cantik jelita
6.Sudut pandang:Orang ketiga
7.Amanat:Mencari aspirasi rakyat yang sampai saat ini menemukan keadilan
8.Tekhnik penceritaan:Berpikir rasional antara anak pada bapak sebagai pengacara,bagaimana untuk mencari keadilan yang sebenarnya</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Tema <img src='http://kataberkata.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> eradilan rakyat<br />
Alur :Maju<br />
Setting :Kantor pengacara<br />
Penokohan <img src='http://kataberkata.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> engacara muda (anak),pengacara senior(ayah),sekretaris<br />
Watak:<br />
a.Pengacara muda(anak)merupakan seorang pemuda yang kritis,tekun,bersemangat,cerdas dan profesional terhadap pekerjaannya sebagai seorang pengacara<br />
b.Pengacara Senior(ayah):Bijaksana,penyayang,rendah hati<br />
c.Sekretaris:Perhatian,baik,dan cantik jelita<br />
6.Sudut pandang:Orang ketiga<br />
7.Amanat:Mencari aspirasi rakyat yang sampai saat ini menemukan keadilan<br />
8.Tekhnik penceritaan:Berpikir rasional antara anak pada bapak sebagai pengacara,bagaimana untuk mencari keadilan yang sebenarnya</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

